Pria Kejam Dan Gadis Jujur

Pria Kejam Dan Gadis Jujur
Bab 44 - Mencuri Di Rumah Harsya


__ADS_3

Malam harinya dikediaman Harsya yang utama...


Malam telah larut, suara jangkrik saling bersahutan. Udara dingin menusuk tulang belulang. Para karyawan yang bekerja di rumah Harsya telah memejamkan matanya karena seharian telah bekerja.


Namun, tidak dengan sepasang suami istri yang menjual nama keponakannya agar dapat bekerja di salah satu rumah mewah Harsya.


Widuri dan suaminya memanfaatkan kepergian kepala pengawal untuk menjalankan aksinya.


Keduanya secara mengendap-endap dan memakai penutup wajah menyusuri lorong-lorong rumah mewah milik suaminya Anaya.


Mereka mencari ruangan sepi yang tak ada penjagaan agar dapat memudahkan mengambil barang berharga. Akhirnya, Widuri dan suaminya memilih ruangan khusus tempat penyimpanan sepatu, tas wanita dan jam tangan mewah.


"Wow!" Widuri tampak takjub dengan barang-barang yang ada di ruangan itu.


"Kita ambil yang mana?" tanya Alan pelan.


"Tas saja, Mas."


"Itu sangat besar kita akan ketahuan," jelas Alan.


"Tas ini sangat mahal, Mas. Aku ingin memilikinya," ucap Widuri memegang tas tangan berharga ratusan juta.


"Tidak, Widuri. Lebih baik kita pilih jam tangan saja!" Alan mengambil 2 buah arloji pria.


"Ini pasti harganya sangat mahal," tebak Widuri.


"Dari merek sepertinya memang mahal," ucap Alan.


"Ambil lagi, Mas. Setelah ini kita kabur dan menjauh dari keponakan pembawa sial itu!"


"Tapi, aku tidak mau jauh dari Anaya!"


"Mas, kenapa kamu selalu ingin dekat dengan Anaya? Apa kamu menyukainya?" tuding Widuri.


"Aku sudah menganggapnya sebagai keponakan ku sendiri, mana mungkin menyukainya," Alan menyangkal.


"Alah, aku yakin kamu menyukai keponakan aku tuh 'kan makanya bersikeras ingin bekerja di sini!"


"Tidak, Widuri. Aku sama sekali tak menyukai Anaya. Sekarang daripada berdebat lebih baik cepat ambil dan kita jual!"


Widuri mengambil sepasang high heels dan satu buah arloji wanita.


Keduanya pun kembali ke kamar, mereka berencana akan pergi pagi-pagi ketika pintu pagar telah terbuka.


****


Keesokan paginya, benar saja keduanya pun kabur. Jika mereka tertangkap oleh anak buahnya Harsya, Widuri dan suaminya akan memasang wajah sedih serta memelas agar dimaafkan apalagi Anaya sangat begitu baik kepadanya.


Seorang pelayan hendak membersihkan barang-barang yang ada di ruangan khusus tersebut. Matanya membulat ketika melihat high heels hilang di rak dan 3 buah arloji.


Pelayan tersebut segera melaporkannya kepada senior lalu dilanjutkan menghubungi Alpha.


Setelah mendapatkan laporan dari rekan kerja sekaligus bawahannya, Alpha memeriksa kamera pengawas.


Alpha mengepalkan tangannya menatap layar monitor yang ada dihadapannya.


Ya, Alpha baru saja kembali ke rumah majikannya itu pagi-pagi sekali karena kemarin sore ia pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya.


Begitu sampai, ia diberitahu jika barang-barang mewah milik Harsya raib. Ia bergegas ke ruangan khusus monitor kamera pengawas. Ia begitu geram melihat paman dan bibinya Anaya.


Harsya menerima laporan dari Alpha melalui Biom yang berbisik di telinganya, menggebrak meja. Hal itu membuat Anaya dan Rissa tersentak kaget.


Anaya tampak ketakutan melihat ekspresi marah di wajah suaminya, tubuhnya gemetaran.


"Harsya, apa yang terjadi?" tanya Rissa penasaran.


"Cari mereka!" titah Harsya dengan dingin.

__ADS_1


"Baik, Tuan!" Biom pun berlalu.


Harsya berdiri lalu melangkah ke arah istrinya, ia menarik tangan Anaya secara paksa.


Rissa ikutan berdiri mendekati sepasang suami istri itu lalu menahan tangan Harsya. "Ada apa?"


Harsya tak menjawab, ia tetap menarik tangan istrinya dan membawanya ke kamar.


Harsya melepaskan genggamannya secara kasar.


"Apa yang terjadi, suamiku?" tanyanya gugup.


"Paman dan bibi yang selalu kau bela itu telah mencuri di rumahku!" Harsya menekankan kata-katanya.


"Apa!" Anaya begitu terkejut, ia tak menyangka Alan dan Widuri mencuri.


"Kau mau tahu benda apa yang telah mereka ambil dari rumahku? Arloji kesayangan Andin!" Harsya berkata lantang.


"Saya minta maaf, Tuan!" ucap Anaya terbata-bata.


"Aku harus menghukum mereka!"


Anaya memegang tangan suaminya, "Jangan tahan mereka!" mohonnya mengiba.


Harsya menyentak tangan istrinya.


"Suamiku, hukum saya saja!"


"Jangan bodoh, Ana!" sentak Harsya.


"Saya memang bodoh, tapi mereka yang selalu membela dan membantu saya dari amukan dan makian ayah dan ibu."


"Buka matamu, Ana! Mereka hanya memanfaatkan kepolosan dan kejujuranmu!"


Anaya terdiam dengan mimik wajah sedih.


"Mereka telah lancang bermain-main dengan ku!" Harsya membalikkan badannya, melangkah ke arah pintu.


Harsya berhenti ia menoleh, "Tetap tinggal di rumah, aku ingin bertemu dengan mereka!"


"Saya mau ikut!"


"Kau ingin melihat dua orang yang kau sayangi mendapatkan hukuman?"


Anaya mengangguk pelan, padahal dalam hati ia ingin mencegah suaminya melakukan penyiksaan.


Harsya akhirnya membawa Anaya menemui Widuri dan Alan.


Sejam setelah mereka kabur, Alpha dan anak buahnya mencari keberadaannya tak membutuhkan waktu 20 menit Widuri dan suaminya telah di tangkap.


Harsya dan Anaya tiba di sebuah gedung. Keduanya berjalan ke arah lift, mereka sampai di lantai paling atas gedung itu.


Anaya berjalan beriringan dengan suaminya namun tidak menggenggam tangan.


Pintu terbuka, Anaya melihat Widuri dan Alan dengan tangan terikat terduduk dilantai.


"Ana, tolong kami!" Widuri memasang wajah memelas.


"Ana, mereka menculik dan menahan kami seperti ini!" sahut Alan.


Anaya hanya diam.


"Kalian pikir bisa selamat dengan memohon padanya?" tanya Harsya dengan tatapan tajam.


"Harsya, kami ini adalah keluargamu. Kenapa tega menuduh kami?" Widuri kembali berakting.


"Kalian pikir aku bodoh! Di seluruh sudut ruangan memiliki kamera pengawas!" Harsya menyeringai.

__ADS_1


Widuri dan Alan tak berpikir terlalu jauh.


"Apa kalian sudah menjual barang-barang itu?" tanya Harsya.


"Belum!" jawab keduanya.


"Di mana barang itu?" tanya Harsya lagi.


"Masih di rumah kami!" jawab Alan.


Harsya mengarahkan pandangannya kepada Alpha. Pria dengan tinggi 180 centimeter itu pun paham dan mengerti tentang tatapan atasannya, ia lantas menyuruh 4 anak buahnya untuk menggeledah rumah Alan dan Widuri.


"Kami belum menjualnya, maka tolong lepaskan kami!" mohon Widuri.


"Aku tidak akan melepaskan kalian!"


"Ana, tolong kami!" Widuri kali ini memohon pada keponakannya.


"Suamiku, saya mohon lepaskan Bibi dan Paman!" pinta Anaya.


"Ciih, aku benci sekali dia memanggilnya dengan sebutan itu!" Alan membatin.


"Paman dan Bibi telah mengaku salah dan barang curian itu juga belum dijual," jelas Anaya.


"Mereka telah berani melawanku, maka aku harus menghukumnya!" ucap Harsya. Pandangannya ia arahkan kepada Alpha, "Cambuk mereka!" perintahnya.


"Baik, Tuan!" Alpha menundukkan kepalanya.


Seorang anak buah Harsya mendekat ke arah Widuri dan Alan dengan memakai topeng serta memegang cambuk berukuran 1 meter.


"Tutup mulut mereka!" perintah Alpha pada dua anak buahnya lagi.


"Kalian mau apa?" tanya Widuri ketakutan.


Alan terus memberontak agar anak buah Harsya tak menutup mulutnya.


Meskipun kedua tahanan berusaha memberontak akhirnya mulut Widuri dan Alan di tutup dengan lakban hitam.


Algojo pun mulai mencambuk Alan.


Suara teriakan Alan, membuat Widuri keringat dingin dan takut. Hal yang sama dirasakan Anaya.


Giliran Widuri yang mendapatkan cambukan.


"Tunggu!" teriak Anaya.


Algojo pun menghentikan tugasnya.


"Jangan lakukan!" mohonnya.


"Ana, apa yang kau lakukan?" tanya Harsya tak senang.


Anaya berlutut di kaki suaminya, "Saya mohon, jangan cambuk Bibi dan Paman!"


Harsya mengeraskan rahangnya, ia begitu marah melihat sikap istrinya.


"Apa pun akan saya lakukan, suamiku. Saya mohon, tolong lepaskan mereka!"


"Lanjutkan hukumannya!" Harsya memberi peringatan.


"Tidak, suamiku. Tolong, hentikan!" Anaya berdiri lalu mengatupkan kedua telapak tangannya dengan air mata menetes.


Harsya yang kesal, menarik tangan istrinya keluar dari ruangan itu.


Anaya masih mengeluarkan air matanya.


"Aku tidak suka melihat kau menangis karena orang-orang jahat seperti mereka!" ucap dengan dingin ketika berada di dalam lift.

__ADS_1


Anaya segera menghapus air matanya.


"Biarkan mereka mendapatkan hukumannya setelah itu akan mencampakkannya dari pulau ini!"


__ADS_2