
Alesha menghampiri tamu yang dikatakan manajer toko di parkiran. Alesha memperhatikan tubuh pria itu dari belakang, ia masih berpikir siapa gerangan yang mencarinya.
"Permisi, apa Tuan mencari saya?"
Pria itu membalikkan badannya dan tersenyum.
Sontak, Alesha membulatkan matanya. "Kamu!" ucapnya terbata.
"Kamu pikir dapat kabur dari aku," kata Aidan tertawa menyeringai.
"Tuan, maafkan saya!" Alesha menunjukkan wajah sedihnya.
"Kenapa baru minta maaf?"
"Saya tidak punya uang untuk membayar ganti rugi."
"Jika tak mampu, jangan mencari masalah!"
"Saya minta maaf, Tuan. Lain waktu saya tidak akan melakukannya lagi!" Alesha tersenyum dan merapatkan jari manis dan telunjuk lalu mengangkatnya.
"Kamu pikir aku mau bertemu denganmu lagi!" kata Aidan.
"Saya juga, Tuan!"
"Makanya kamu harus ganti rugi atau aku akan melaporkanmu!" ancam Aidan.
Alesha memegang tangan Aidan, "Jangan tahan saya, Tuan!" mohonnya.
Aidan menghentak tangan Alesha.
"Saya tidak memiliki apa-apa untuk membayar ganti rugi!" kata Alesha dengan mata berkaca-kaca.
Aida melihat keseluruhan barang yang dikenakan Alesha.
"Berikan kalungmu itu!"
Alesha dengan cepat memegang lehernya.
"Kalung itu menjadi jaminan kamu!"
"Jangan, Tuan. Kalung ini sangat begitu berharga bagi saya!"
"Aku tidak peduli, cepat berikan!"
"Tapi Tuan...."
"Cepat! Aku tidak memiliki waktu lagi!"
Alesha terpaksa membuka kalung pembelian ayahnya 3 tahun lalu dan memberikannya kepada Aidan.
"Siapa namamu?" tanya Aidan tetapi matanya tertuju pada kalung di genggamannya.
__ADS_1
"Alesha, Tuan."
"Jika kamu sudah memiliki uang, maka kalung ini akan saya kembalikan!" kata Aida lalu mengantongkan benda tersebut ke dalam saku celananya.
Alesha tak dapat berbuat apa-apa, ia hanya menghela napas pasrah.
Aidan masuk ke dalam mobil dan berlalu.
***
Sepulang kerja, Alesha dijemput oleh kekasihnya yang sudah bersama dengannya selama 2 tahun.
Ya, kekasih Alesha bernama Daka Bimantara. Dia seorang pengacara, meskipun hubungan mereka tak restui orang tuanya Daka namun keduanya tetap menjalankan hubungan secara diam-diam.
"Hari ini aku sangat kesal sekali!" ucap Alesha sembari menyeruput es jeruk kesukaannya di sebuah kafe.
"Kesal kenapa?" Daka mengelus punggung tangan kekasihnya.
"Pria aneh itu datang ke toko dan mengambil kalung pemberian ayahku," jawabnya dengan wajah cemberut.
"Buat apa dia mengambilnya?"
"Katanya untuk jaminan, kamu tahu 'kan kalau kalung itu kenang-kenangan sebelum ayah meninggal."
Daka mengangguk paham.
"Aku harus bagaimana, sayang?" rengeknya.
"Aku juga tidak tahu, dia tak menyebutnya."
"Apa kamu menyimpan nomor ponselnya?"
"Tidak."
"Bagaimana aku bisa menemuinya," kata Daka.
"Aku tahu alamat rumahnya," ucap Alesha.
"Di mana?"
Alesha lalu menyebut alamat rumah yang kemarin ia datangi saat mengantarkan kue.
Daka yang mendengarnya terdiam.
"Apa kamu ingin ke sana menemani aku untuk mengambil kalung itu?" tanya Alesha.
Daka tak menjawab.
"Sayang.."
"Itu rumah pengusaha terkenal dan kaya raya. Apa kamu yakin putranya yang mengambil kalungnya?"
__ADS_1
"Buat apa aku berbohong, sayang."
"Jika ada waktu, aku akan ke sana mengambilnya!" janji Daka.
Alesha tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
-
Alesha lalu diantar pulang oleh Daka. Di perjalanan menuju rumah, ponsel Daka terus berbunyi.
"Kenapa tidak diangkat?"
"Aku lagi menyetir."
"Kita berhenti, lalu kamu jawab teleponnya," saran Alesha.
"Nanti saja aku telepon balik lagi jika sudah mengantarkanmu!"
Alesha pun tak berbicara lagi.
Begitu sampai, Alesha lalu turun dan Daka menghubungi kembali nomor yang sedari tadi membuat ponselnya berdering.
Alesha masuk ke rumah tak lupa mengucapkan salam, ia mencari keberadaan sang ibu yang tak ada di dapur. Lalu ia melangkah ke kamar dan melihat wanita paruh baya itu tergeletak di ranjang dengan wajah pucat.
Alesha berlari kecil menghampirinya, raut cemas terpancar di wajahnya. "Ibu sakit lagi?"
Wanita itu mengangguk pelan.
"Kita ke rumah sakit, ya!" ajak Alesha.
"Tidak usah, Sha. Besok juga Ibu sudah sehat," tolaknya.
"Kenapa Ibu selalu menolak aku ajak ke Dokter atau rumah sakit?" tanya Alesha.
"Karena Ibu tidak mau menyusahkan kamu," jawabnya.
"Bu, aku tidak merasa di susahkan atau repot. Ibu sehat saja itu lebih dari cukup!" kata Alesha.
"Lebih baik uang kamu ditabung buat masa depanmu!"
"Masa depan aku adalah Ibu, harta paling berharga hanya Ibu tak ada yang mampu menggantikannya!" kata Alesha dengan mata berkaca-kaca.
...----------------...
Hai Semua, Mami AL Bawa Cerita Baru Dijamin Kalian Suka.
Cerita Mami AL Yang Baru Berjudul, 'TERJERAT CINTAMU.'
Jangan Lupa Mampir Dan Baca...
Aku Tunggu Like dan Komentar Kalian Di sana, ya.
__ADS_1