Pria Kejam Dan Gadis Jujur

Pria Kejam Dan Gadis Jujur
Bab 35 - Apakah Kau Mencintaiku, Anaya?


__ADS_3

Dua hari berlalu....


Harsya kembali ke rumah pada sore hari, ia tiba bersama dengan Rama. Selama ia pergi tak ada kabar yang membuat Anaya terancam.


"Di mana dia?" tanya Harsya pada pelayan wanita yang menyambutnya.


"Nona sedang memasak, Tuan."


Harsya melangkah ke dapur begitu juga dengan Rama.


Keduanya mendelikkan matanya ketika melihat dapur begitu berantakan. Sebenarnya tidak, hanya beberapa wadah tampak berjejer di atas meja begitu juga dengan sampah sayuran berserakan di lantai.


"Apa yang kalian lakukan di dapurku?" Rama bertanya dengan lantang.


Anaya dan Intan tersentak kaget, keduanya menoleh lalu berdiri menghadap Harsya dan Rama dengan wajah ketakutan.


"Rama!" tegur Harsya dengan suara pelan.


"Maaf, Tuan!" Rama menundukkan kepalanya, ia tak sadar jika dirinya memarahi istri atasannya.


"Tuan sudah pulang? Kami tidak tahu jika anda akan pulang hari ini," Anaya berkata terbata-bata.


"Sedang apa kalian?" Harsya menatap wajah istrinya.


"Kami hanya ingin masak makanan buat makan malam," jawab Anaya.


Harsya mengangkat tangannya dan melihat arlojinya, "Makan malam sejam lagi, aku menunggu masakan kalian di meja."


Rama, Anaya, Intan dan beberapa pelayan tampak tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Harsya.


"Tuan yakin mau mencicipi masakan kami," ucap Anaya.


"Bukan kami, Tuan. Tapi masakan Kak Ana, saya hanya membantunya saja," Intan memotong.


"Aku mau mandi, pastikan semua makanan yang kalian masak telah terhidang di meja," Harsya berkata tanpa ekspresi.


"Tapi, Tuan...." Rama hendak berbicara.


"Ana, apa kau sudah mandi?" Harsya menatap istrinya yang memakai apron.


Anaya menggelengkan kepalanya.


"Pergilah mandi, kita akan makan malam bersama. Biarkan mereka yang menghidangkannya kepada kita," ucap Harsya.


"Iya, Tuan."


Harsya membalikkan badannya melangkah ke kamarnya, Anaya bergegas membuka apron lalu menyusul suaminya.


Di dalam kamar, Harsya membuka jas yang ia gunakan tanpa menatap ia bertanya pada istrinya, "Bagaimana dengan dirimu? Apa tidak ada sesuatu yang membuatmu terganggu?"


"Tidak, Tuan."


"Buatkan air hangat untukku!"


"Baik, Tuan." Anaya bergegas ke kamar mandi.


Selesai mengisi bak mandi dengan air hangat, Anaya keluar dan memberitahu suaminya, "Tuan, silahkan mandi!"


"Aku ingin mandi bersamamu!"


"Hah!"


"Aku hanya bercanda," Harsya tertawa kecil.


Harsya melangkah ke kamar mandi dan Anaya mempersiapkan pakaian buat suaminya.


Beberapa menit kemudian, Harsya selesai mandi. Ia melangkah ke ranjang, memperhatikan pakaian yang disediakan istrinya.


"Apa salah, Tuan?"


"Tidak, apapun warna pakaian yang kamu pilihkan tetap akan ku pakai," jawab Harsya.


Anaya mengerutkan keningnya, tampak heran dengan perubahan sikap suaminya.


"Kenapa masih berdiri? Pergilah mandi!" berkata tanpa menoleh ke arah istrinya.


"Baik, Tuan." Anaya bergegas ke kamar mandi.


-


Jam 7 malam, Harsya dan istrinya kini berada di meja makan. Seperti biasa Rama akan menghidangkan dan menyalin makanan yang akan dikonsumsi atasannya di piring.


Harsya mulai mencicipi masakan yang dibuat istrinya.

__ADS_1


Sementara Anaya belum mulai makan, ia memperhatikan suaminya menikmati makanan yang dimasaknya.


Harsya memakannya dengan begitu santai dan tak ada protes sama sekali.


Anaya memberanikan diri bertanya, "Apa makanannya enak, Tuan?"


"Ya."


"Tuan tidak bercanda, kan?"


"Makanan ini memang enak," jawab Harsya seraya mengunyah.


"Terima kasih, Tuan." Anaya tersenyum senang.


"Rama, aku ingin setiap seminggu sekali masakan lauk ini," ucap Harsya pada pelayan koki.


"Bukankah Tuan tidak menyukai olahan daging ayam?" tanya Rama.


"Ini sangat enak sekali," ujar Harsya memakan sop sayur dengan toping bakso ayam.


"Oh, baiklah. Nanti saya akan buatkan," ucap Rama.


-


Selesai makan, Anaya dan Harsya berada di kamar. Harsya tidak mengizinkan istrinya itu mengobrol dengan Intan karena beberapa hari ini waktunya sudah bersama dengan gadis itu.


"Tuan, apakah pelaku yang menculik saya telah tertangkap?" tanya Anaya hati-hati di tengah suaminya yang sibuk dengan ponselnya di atas ranjang.


"Sudah, dia adik angkatnya Cindy."


"Hah! Apa!"


"Ya, dia sakit hati karena aku menikahimu dan memenjarakan kakaknya." Harsya mengarahkan pandangannya kepada istrinya.


"Apakah dia orang yang dimaksud oleh kedua orang tuaku?"


"Ya," jawab Harsya.


"Apakah dia juga ada hubungannya dengan pria menarik kaki saya di kolam?"


"Tidak, pria yang menarikmu di kolam juga memang suruhan seseorang. Biom masih menyelidikinya."


"Benarkah?"


"Ya, dia tak bisa menyakitiku makanya mengincarmu!"


"Maaf karena aku, kau jadi terlibat dalam masalah ini."


"Seandainya saya lepas dari Tuan, apakah saya akan merasa lebih aman?"


Harsya menatap istrinya sedikit lama membuat Anaya segera menundukkan pandangannya.


"Apa kau ingin berpisah denganku untuk kedua kalinya?"


Anaya mengangkat wajahnya dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Apa kau tidak mau menemaniku?" Harsya meletakkan ponselnya di nakas, lalu menatap lagi istrinya.


Anaya hanya terdiam.


"Aku tidak akan melepaskanmu karena kau belum mampu melunasi utangmu kepadaku."


"Bagaimana saya bisa melunasi utang Tuan, jika tidak diizinkan bekerja diluar?"


"Kau tidak boleh keluar, kau adalah milikku dan kau hanya boleh melayaniku saja."


"Sampai berapa lama, Tuan?"


"Kau ingin berapa lama?"


"Kenapa bertanya pada saya, Tuan?"


"Kau mampu jadi pelayan aku berapa lama?"


"Dua tahun, Tuan."


"Terlalu lama."


"Lalu berapa tahun, Tuan?"


"Bagaimana setahun?"


"Saya mau," jawab Anaya dengan cepat.

__ADS_1


"Tapi, kau harus memiliki anak dariku." Harsya tersenyum menyeringai.


Anaya dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Ibuku menginginkan aku menikah dan memiliki anak."


"Tapi, saya belum pernah tahu seperti apa ibu mertua. Apakah dia mau menerima cucu dari rahim saya?" Anaya sengaja berkata begitu agar Harsya membatalkan rencananya.


"Aku mengetahui semua pembicaraan kau dengan Rissa di kolam renang. Beberapa hari yang lalu, kau mencoba merayuku," ungkap Harsya.


"Tuan, saya minta maaf. Waktu itu saya dan Dokter Rissa hanya sekedar mengobrol, dia memberitahu saya cara menaklukkan hati Tuan saja. Saya tidak bermaksud apa-apa, karena saya tak mau disiksa lagi."


"Dengan menaklukkan aku dan membuatku mencintaimu, kau tidak akan mendapatkan hukuman dariku meskipun melakukan kesalahan," Harsya memotong penjelasan istrinya.


Anaya mengangguk kepalanya dengan cepat.


Harsya lantas tertawa kecil.


Anaya mengernyitkan dahinya.


"Astaga, kenapa kau begitu jujur?"


"Saya hanya tidak ingin terjadi salah paham saja, Tuan."


"Ya, aku tahu makanya ku memaksamu kembali menikah denganku."


"Tuan..."


Harsya menutup mulut Anaya dengan jari telunjuknya.


Anaya terdiam melirik jemari suaminya.


"Apa sebelumnya kau memiliki kekasih?" Harsya mengusap bibir istrinya dengan jemarinya.


Anaya menggeleng.


"Apa kau pernah jatuh cinta?" Harsya mengarahkan jemarinya di pipi istrinya.


Anaya menggelengkan kepalanya lagi.


"Apa ada pria lain yang menyukaimu?" Harsya memainkan rambut Anaya.


"Saya tidak tahu, Tuan."


"Jika ada, katakan pada pria itu siapa suamimu," Harsya menurun tangannya.


"Iya, Tuan."


"Apa kau mencintaiku?"


Anaya terdiam.


"Apa kau mencintaiku, Anaya?" tanyanya sekali lagi.


"Tidak, Tuan."


Harsya tampak tak senang dengan jawaban istrinya.


"Saya minta maaf, Tuan."


Harsya lantas menarik pinggang istrinya mendekat padanya.


Anaya menelan salivanya tatkala matanya dan Harsya saling bertemu.


"Aku tidak suka penolakan!" Berkata dengan nada dingin.


"Maaf, Tuan."


Harsya semakin mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. "Aku ingin meminta hak ku malam ini."


Jantung Anaya berdetak kencang.


Perlahan Harsya memiringkan kepalanya, bibirnya mendekati bibir Anaya.


Tanpa penolakan, Harsya melahap bibir istrinya.


Anaya yang tak pernah berciuman, mendadak kesulitan bernapas.


Harsya melepaskan tautan bibirnya, ia merebahkan tubuh istrinya. Jemarinya menyusuri bagian tubuh Anaya yang tertutupi oleh pakaian.


Anaya menggelinjang, ia menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.


Harsya yang sangat lapar, akhirnya melahap tubuh istrinya dengan lembut.

__ADS_1


Anaya pun menikmati setiap sentuhan permainan yang dilakukan suaminya.


Dan keduanya saling beradu di atas ranjang di keheningan malam.


__ADS_2