
Ketiga wanita sedang mengobrol di taman belakang. Intan bercerita jika ia mengalami sakit perut, dia juga menuding kalau Rama adalah dalangnya.
"Masa sih' Tuan Pelayan begitu?" Anaya tak percaya.
"Aku tidak memiliki riwayat alergi dengan makanan, entah kenapa ketika waktu itu ku memakannya perutku sangat begitu mulas. Pasti itu 'kan sengaja, apalagi dia tak menyukai aku berada di sini!" ungkap Intan.
"Aku bilang jangan membenci seseorang nanti bisa jadi kau menyukainya," sahut Rissa.
"Aku tidak membencinya atau menyukainya, ku bersikap biasa saja. Hanya dia yang menganggap aku sebagai masalah," ujar Intan.
"Bisa jadi Tuan Pelayan menyukaimu," celetuk Rissa.
Anaya tertawa mendengarnya.
"Aku tidak mau dengannya," ucap Intan.
"Siapa pula yang mau dengan anda!" Rama tiba-tiba muncul di antara para wanita itu.
Rissa menundukkan wajahnya dan mengulum senyum, sementara Anaya memijit keningnya serta membuang wajahnya.
Dan Intan memasang wajah sinis ketika Rama menyajikan 2 gelas jus jeruk.
Rama tanpa permisi meninggalkan ketiga wanita itu.
"Kak Rissa, Kak Ana, lihatlah. Dia hanya memberikan dua gelas saja, aku tidak dia beri," ujar Intan.
"Iya, dia memang sangat aneh. Entah kenapa dia begitu padamu?" tanya Rissa.
"Entah apa salahku?" Intan memasang wajah sendu.
"Aku sudah pernah bilang, jika ingin sesuatu ambil saja sendiri. Dan harus menuruti peraturan rumah ini," ujar Anaya.
"Aku pernah mencoba mengambilnya sendiri, tapi ku dimarahi dan dibentaknya," ungkap Intan.
"Kamu harus sabar, ya!" ucap Rissa mengelus punggung Intan.
Gadis itu hanya tersenyum nyengir.
-
Malamnya, Harsya dan istrinya menikmati makan malam bersama dengan Rissa serta Biom dan Rama tanpa Intan.
Temannya Anaya itu hanya diantarkan makanan ke kamarnya oleh pelayan wanita.
Anaya pernah meminta pada Harsya untuk mengajak Intan makan satu meja dengan mereka, namun Harsya menolaknya dengan alasan tak terbiasa semeja dengan orang lain tak ia kenal secara dekat.
Harsya menganggap Intan hanya teman mengobrol istrinya agar tak bosan serta mengawasi orang-orang yang mencurigakan di sekeliling Anaya.
Selesai makan malam, Harsya mengajak istrinya ke kamar. Ya, akhir-akhir ini semenjak dirinya membuka hatinya untuk Anaya ia lebih senang menghabiskan waktu berduaan bersama wanita itu.
Sementara Rissa yang belum tertidur, menghampiri Biom yang asyik membaca buku di ruang perpustakaan kecil milik Harsya yang boleh dikunjungi oleh para karyawannya.
Rissa duduk berhadapan dengan pria yang fokus menatap buku. "Kau belum tidur?"
"Nona tidak lihat saya sedang apa?"
"Baca buku."
"Jalan-jalan ke taman belakang, yuk!"
"Saya tidak bisa menemani Nona!" tolaknya tanpa menatap.
__ADS_1
"Aku belum bisa tertidur," ucap Rissa.
Biom tak membalas ucapan wanita yang ada dihadapannya.
"Kau tidak bisa menemani aku, ya?"
Biom tak menjawab.
"Baiklah, aku akan keluar sendiri!" Rissa melangkah meninggalkan ruang perpustakaan.
Rissa berjalan ke arah taman meskipun diterangi beberapa lampu namun tampak sepi karena memang bukan tempat umum.
Rissa duduk seorang diri dan melamun, ia mengingat kedua orang tuanya ketika dirinya masih berusia dibawah 10 tahun selalu dibawa bermain ke taman.
Hujan pun turun cukup lebat, Rissa masih duduk di bangku taman. Ia tak peduli air yang membasahi tubuhnya. Ia menarik ujung bibirnya, mengingat kembali saat hujan ia sering bermain dengan sang ayah yang telah meninggalkannya 15 tahun lalu.
Biom yang mendengar suara hujan menutup bukunya, ia lalu melangkah ke kamarnya. Sesampainya ia hendak menutup jendela dengan gorden, namun netra matanya melihat Rissa seorang diri duduk di taman.
"Apa yang dilakukannya di tengah hujan begini? Seperti tidak ada pekerjaan saja!" gerutunya.
Biom lantas menutup gorden jendelanya dan melangkah ke ranjang. Ia pun memejamkan matanya. Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi.
Biom membuka matanya dan melihat ponselnya, tertera nama Harsya. "Halo, Tuan!"
"Bisakah kau menyuruh Rissa untuk masuk ke rumah? Aku sangat kasihan dengannya seorang diri di taman dalam keadaan hujan begini."
"Bukankah Nona Rissa sudah dewasa, Tuan?"
"Biom, kau tidak tahu jika Rissa sangat menyukai dan membenci hujan."
Biom mengernyitkan keningnya.
"Cepat suruh dia masuk, aku tak mau dia sakit dan tidurnya mengigau!"
"Apa kau mendengarkan aku?"
"Dengar, Tuan."
"Cepat lakukan perintahku!"
"Iya, Tuan."
Harsya menutup ponselnya.
Biom meletakkan ponsel di nakas, ia bergegas keluar kamarnya tak lupa membawa payung. Ia berteriak memanggil nama Rissa namun wanita itu tak menoleh.
Biom mendekatinya lalu memayunginya.
Rissa mendongakkan kepalanya, lalu menoleh ke samping. Ia menatap wajah pria yang menolak ajakannya.
"Saya disuruh Tuan Harsya untuk menyuruh Nona masuk ke rumah!"
"Aku mau di sini!"
"Nona, jangan membuat saya repot dengan tingkah ke kanak-kanakan anda!"
"Apa kau tahu rasanya kehilangan, hah?" Rissa berdiri.
Biom diam.
"Kau tidak pernah tahu, kan?"
__ADS_1
Biom tetap diam.
"Hujan di malam hari yang telah mengambil ayahku!" ucapnya dengan emosi.
Biom tetap berdiri dan menatap wajah Rissa dengan wajah dingin.
Rissa kembali terduduk dan menangis, sejak kedua orang tuanya meninggal dia tak memiliki teman lagi.
Di rumah sakit, teman-temannya tak menganggapnya spesial. Sebagian beranggapan jika mereka takut berteman dengannya karena sepupunya Harsya.
Cuma Anaya dan Intan yang tak melihat statusnya.
"Pergilah!" Rissa mulai mereda. "Sebentar lagi aku akan masuk!" lanjutnya lagi, ia kembali duduk.
Biom tak lantas pergi, ia masih berdiri.
"Kenapa masih di sini? Bukankah kau tidak ingin menemani aku? Katakan pada Harsya aku tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja!"
Biom melangkah satu langkah semakin dekat dengan Rissa yang menutup wajahnya dan menangis.
Rissa kembali mendongakkan wajahnya, "Pergilah!" usirnya.
Biom menarik tangan Rissa sehingga wanita bangkit dari tempat duduknya.
Dengan cepat, Biom memeluk pinggang Rissa menggunakan tangan kirinya.
Wajah Rissa menyentuh dada Biom.
"Saya hanya menjalankan perintah dari Tuan Muda. Jika tidak ingin saya dipecat, lebih baik turuti permintaan saya!" Biom berkata dengan tatapan lurus ke depan.
"Maafkan aku!" lirihnya.
"Apa Nona ingin masuk?"
Rissa mengangguk.
Biom dan Rissa berjalan beriringan menuju rumah karena hanya menggunakan satu payung saja.
Biom mengambil handuk yang memang sengaja ia letakkan di kursi teras, ia lalu menyodorkannya kepada Rissa.
"Terima kasih!"
Biom mengangguk pelan.
Rissa mengelap wajah dan tangannya dengan handuk lalu ia selimutkan tubuhnya.
"Mari saya antar ke kamar, Nona!"
Rissa mengiyakan.
Sesampainya di depan kamar Rissa, Biom lantas berkata, "Semoga Nona bermimpi yang indah!"
Rissa mengernyitkan keningnya.
"Saya tidak ingin setelah ini anda sakit dan saat tidur mengigau," ujar Biom.
"Pasti Harsya telah memberitahumu!" tebaknya.
"Iya, Nona. Saya tidak ingin direpotkan jika sesuatu hal buruk menimpa anda!"
"Aku akan pastikan kalau nanti ku tidur nyenyak dan takkan mengigau karena kau telah datang membujukku. Seandainya dari awal kau mau ku ajak, tentunya ku takkan mandi hujan seperti ini!" Rissa berkata dengan tersenyum.
__ADS_1
Biom mengerutkan dahinya.
"Selamat malam, sampai jumpa besok pagi!" Rissa membuka pintu kamar lalu masuk dan menutupnya kembali.