
Harsya begitu mendengar kabar Anaya pingsan di kolam segera pulang meskipun jarak dari kota yang di datanginya dan tempat tinggal dirinya dan Anaya sekarang membutuhkan waktu perjalanan selama 8 jam menggunakan kendaraan roda empat.
Harsya menaiki pesawat jet agar cepat sampai ke rumahnya.
Harsya tiba di rumah, ketika jam dinding menunjukkan pukul 7 malam. Karena Anaya di kabarkan pingsan pada pukul 4 lewat 30 menit.
Sesampainya, Harsya berlari kecil ke kamarnya. Ia begitu sangat khawatir dengan istrinya itu. Pelayan membuka pintu, bergegas masuk dan duduk di samping Anaya yang belum sadar.
"Siapa pelayan yang menemaninya berenang?"
"Sa..saya, Tuan." Jawab seorang wanita berusia 27 tahun gemetaran dan ketakutan.
Harsya berdiri lalu melangkah keluar kamarnya, diikuti Rama, Biom dan seorang pelayan wanita yang menjadi saksi.
Harsya membalikkan badannya tepat di depan kamarnya yang pintunya telah tertutup.
"Kenapa dia sampai pingsan di dalam kolam?" tanyanya dengan nada dingin.
"Sebelum saya tinggal pergi membuatkan jus, Nona Anaya tampak sehat dan tidak mengeluh. Tetapi, ketika saya kembali menghampirinya tiba-tiba Nona Anaya sudah telungkup di dalam kolam."
Harsya menarik napas.
"Berapa lama kamu meninggalkan Nona Anaya di dalam kolam?" tanya Biom.
"Tidak sampai sepuluh menit, Tuan."
"Pergilah dan kembali bekerja," perintah Harsya.
Pelayan wanita tersebut menundukkan kepalanya, ia bisa bernapas lega. "Iya, Tuan. Permisi!" ia pun berlalu.
Harsya melangkah ke ruang kerja pribadinya, hanya dirinya, Biom dan Rama yang boleh masuk ke ruangan tersebut.
"Tuan, sepertinya ada seseorang yang mengkhianati kita," ujar Rama.
"Ya, apa hukuman aku kepada pelayan sebelumnya tidak cukup membuat mereka jera?" tanya Harsya.
"Saya yakin, seseorang ingin melenyapkan Nona Anaya orang yang berbeda." Tebak Biom.
"Kenapa kamu begitu yakin?" tanya Harsya menatap asistennya.
"Nona Chintya belum kita ketahui keberadaannya, tidak mungkin dia kembali memunculkan genderang perang lagi," ujar Biom.
"Maksudmu, ada musuhku yang memanfaatkan situasi ini untuk menghancurkan aku?" tanya Harsya.
"Bisa jadi, Tuan. Mungkin mereka pikir dengan menyakiti Nona Anaya, mampu membuat anda tersiksa. Karena mereka tidak berani menyentuh Tuan secara langsung," jelas Biom.
"Itu artinya Nyonya Madya dan Nona Elia juga dalam bahaya?" tanya Rama.
"Ya, bisa saja mereka mengincar Nyonya Besar dan Nona Muda," jawab Biom.
"Perketat penjagaan untuk adik dan ibuku!" perintahnya kepada Biom.
"Baik, Tuan!" Biom menundukkan sedikit kepalanya.
"Rama, awasi dan selidiki satu persatu anggotamu!"
"Baik, Tuan!" hal sama juga dilakukan Rama seperti yang dilakukan oleh Biom.
"Kembalilah bekerja!"
"Baik, Tuan!" ucap keduanya serempak.
Biom dan Rama meninggalkan ruangan, Harsya mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahangnya.
-
Sejam setelah kepulangannya, Anaya membuka matanya. Harsya yang duduk di sisi sang istri tersenyum lega.
Anaya tampak bingung karena dirinya berada di dalam kamar.
Harsya membantu Anaya bangkit dan duduk dengan memegang tubuhnya.
__ADS_1
"Apa saya sudah tertidur selama dua hari, Tuan?"
"Aku pergi saja belum sampai dua puluh empat jam."
"Hah."
"Pelayan menemukan kau pingsan di dalam kolam."
Anaya mengingat apa yang terjadi di kolam renang.
"Ana!"
"Tuan, ketika berenang seperti ada seseorang menarik kaki saya," ungkap Anaya.
"Apa kau tahu wajahnya?"
"Saya kurang tahu wajahnya secara pasti tapi dia seorang pria."
"Kau harus membantuku menemukan pelakunya," pinta Harsya.
"Baik, Tuan."
"Sekarang makanlah!" Harsya mengambil piring. "Aku akan menyuapkanmu!" lanjutnya.
"Tidak perlu, Tuan."
"Aku tidak apa-apa," ucap Harsya, ia memberikan istrinya minum terlebih dahulu.
Anaya membuka mulutnya perlahan, ia mengunyah makanan yang masuk ke mulutnya.
Harsya tersenyum ketika menyuapkan istrinya.
"Semoga selamanya Tuan Harsya begini," Anaya membatin.
"Mulai sekarang, kemanapun aku pergi ku harus membawamu," ujar Harsya.
"Tuan tidak malu membawa saya? Bagaimana jika orang-orang bertanya?"
"Saya akan memberitahu mereka bahwa kau adalah istriku."
Harsya menggerakkan dagunya pelan.
Anaya tersenyum mendengarnya.
"Jangan besar kepala, meskipun ku memberitahu mereka tapi tidak sepenuhnya hatiku untukmu!"
"Ya, saya paham."
"Habiskan makanannya, setelah ini aku akan mempertemukanmu dengan para pelayan siapa tahu kau mengenal atau mengingat pelakunya," ujar Harsya.
"Iya, Tuan."
-
Selesai makan, Harsya membawa Anaya ke ruangan khusus pelayan.
Beberapa pelayan wanita dan pria berdiri berjajar.
Anaya dan Harsya berdiri dihadapan mereka.
"Perhatikan baik-baik, apa kau mengenal salah satu pelakunya?"
Anaya mulai memperhatikan wajah 3 pelayan wanita dan 4 pelayan pria secara satu persatu.
"Apa kamu mengenal salah satu pelakunya?" tanya Harsya.
"Tidak," jawab Anaya.
"Rama, ada berapa anggotamu?" tanya Harsya.
"Ada sembilan di rumah ini, Tuan." Jawab Rama. "Tetapi, dua orang pelayan pria tidak masuk kerja hari ini," lanjutnya.
__ADS_1
"Besok pagi suruh mereka temui aku!" perintah Harsya.
"Baik, Tuan!"
Harsya mengajak Anaya meninggalkan ruang istirahat para pelayan dan pengawal.
Ketujuh pelayan menghembuskan napas lega, mereka pun membubarkan diri.
"Kita bertemu dengan para pengawal," ajak Harsya.
Anaya melangkah di samping suaminya.
Mereka kini di teras rumah mewah Harsya, dihadapan keduanya 10 pengawal.
Harsya juga meminta istrinya untuk memperhatikan wajah para lelaki di hadapannya satu persatu.
Anaya menggelengkan kepalanya juga.
Harsya meminta para pengawal kembali bekerja.
"Kau sama sekali tidak mengenal wajahnya?"
"Di dalam air tidak terlalu jelas, apalagi saya dalam keadaan panik," ujarnya.
Harsya pun paham.
****
Keesokan paginya, selesai sarapan Anaya dan Harsya melakukan hal yang sama seperti kemarin.
Dua orang pelayan yang tidak datang kemarin di periksa dan diamati wajahnya. Lagi-lagi Anaya menggelengkan kepalanya.
Harsya curiga dengan 2 orang pria yang dihadapannya namun ia belum memastikan apa salah satu diantaranya pelaku yang membuat Anaya pingsan.
Harsya memerintahkan keduanya kembali bekerja.
Harsya menyuruh istrinya untuk beristirahat di kamar, ia dan Biom bertemu di ruang kerja pribadinya.
"Ciri-ciri yang tertangkap kamera pengawas mengarah kepada salah satu karyawan kita, Tuan."
"Apakah dua orang yang tadi pagi?" tanya Harsya.
"Iya, Tuan."
"Selidiki dia!"
"Baik, Tuan."
"Apa kalian sudah menemukan keberadaan Chintya?"
"Sudah, Tuan."
"Tangkap dia dan serahkan kepadaku!"
Biom mengangguk.
"Kapan Rissa akan kembali ke sini?"
"Dokter Rissa mengatakan jika dalam dua hari ini, ia begitu sibuk karena harus menangani pasiennya."
"Aku tidak mungkin terus membawa Anaya pergi kemanapun, aku takut musuh-musuhku akan menyakitinya."
"Bagaimana jika Nona Anaya tinggal bersama dengan Nyonya Besar, Tuan?" usul Biom.
"Tidak, Ibu tidak menyukainya."
"Kalau begitu, bagaimana jika teman Nona Anaya di suruh tinggal di sini untuk menemaninya?"
"Tapi, siapa temannya?"
"Teman Nona Anaya ketika bekerja di Kota B, Tuan."
__ADS_1
Harsya sejenak berpikir, kemudian berkata, "Cari dia dan paksa dia ke sini!"
"Baik, Tuan!"