
Harsya dan Anaya tidur di ranjang yang sama. Namun, keduanya saling diam dan tak bertegur sapa.
Anaya memiringkan tubuhnya membelakangi suaminya.
Harsya tak marah atau menegurnya, biasanya pria itu akan murka tetapi kali ini tidak. Entah kenapa, sejak istrinya mengungkapkan isi hati perasaannya menjadi iba dan kasihan.
Harsya memandangi punggung Anaya cukup lama, terdengar di telinganya jika istrinya itu masih menangis.
Harsya perlahan mengangkat tangannya mendekati bahu Anaya dan ingin membalikkan tubuh itu.
Harsya mengurungkan niatnya, ia kemudian memiringkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
Tak lama kemudian Anaya turun dari ranjang, ia keluar dari kamar dengan melangkah pelan.
Harsya membuka matanya ketika mendengar suara derit pintu. Ia lantas bangkit lalu duduk, "Mau ke mana dia?" gumamnya.
Anaya berjalan ke arah balkon, meskipun udara malam begitu dingin. Anaya berdiri di pagar pembatas memandangi bintang dan bulan. Ya, dia akan melakukan hal itu jika merasa sedih dan lelah hati.
Tak memperdulikan tubuhnya diterpa angin malam yang begitu sangat dingin karena jam telah menunjukkan pukul 11 malam. Apalagi rumah suaminya dikelilingi banyak pepohonan dan jauh dari pemukiman serta jalan raya.
Harsya menyusul istrinya, ia tak lupa menggunakan jaket jubah. Melangkah ke balkon tempat ia biasa menikmati secangkir kopi dan mengobrol dengan asisten pribadinya.
Anaya tidak mengetahui kehadiran suaminya.
Harsya menghentikan langkahnya tak lantas mendekati istrinya, ia hanya memperhatikan dari belakang.
Anaya berkali-kali mengusap lengannya dengan kedua telapak tangannya untuk mengusir rasa dingin.
Harsya membuka jaket jubah melangkah menghampiri dan memakaikannya ke tubuh istrinya.
Anaya terkejut, ketika seseorang menyentuh bahunya. Ia dengan cepat menoleh, matanya membulat ketika melihat wajah suaminya dihadapannya, "Tuan!" lirihnya.
"Udara malam sangat dingin, kenapa kamu tidak memakai pakaian tebal?"
Anaya tak bisa menjawab.
"Kenapa malam-malam begini masih di sini?"
"Saya tidak bisa tidur, Tuan."
"Maaf!" Harsya berkata lirih.
Anaya tampak tidak percaya mendengar permintaan maaf suaminya.
"Perdebatan kita tadi siang membuatmu jadi bersedih begini," Harsya berkata dengan lembut.
"Astaga, mimpi apa aku ini? Kenapa dia bisa selembut ini?" Anaya membatin.
Harsya mengangkat dagu Anaya dengan jemarinya secara lembut, "Masih ingin menangis?"
Anaya menggelengkan kepalanya.
"Apa kau masih ingin di sini?"
"Sebentar lagi saya akan masuk, Tuan." Jawab Anaya dengan suara parau.
"Aku akan menemanimu," ucap Harsya menatap Anaya.
"Pasti ini hanya mimpi," batin Anaya.
Harsya mengalihkan pandangannya menatap langit malam.
"Kenapa Tuan tidak tidur?" tanya Anaya dengan hati-hati.
"Aku tidak bisa tidur karena mendengarmu menangis."
__ADS_1
"Maafkan saya karena tangisan Tuan tidak dapat tidur dengan nyenyak," ujar Anaya.
Harsya tertawa kecil.
Anaya yang menatap lagi-lagi dibuat tak percaya, pria yang begitu kejam bisa tertawa.
"Aku hanya bercanda, lagian aku sering membuatmu menangis."
"Sangat sering pun, Tuan."
"Apa kau membenciku?"
Anaya menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa ingin pergi dariku?"
"Saya hanya takut di siksa, Tuan. Saya tidak membenci Tuan, saya malah berterima kasih pada Tuan karena telah membeli saya dengan harga tinggi dan kedua orang tua saya bisa melunasi utang-utangnya meskipun sekarang mereka harus menjalankan hukuman."
"Kau sering di siksa mereka tapi masih memikirkannya."
"Meskipun mereka menganggap saya pembawa sial tapi mereka masih memiliki hati, Tuan. Buktinya mereka memberi makan dan tumpangan hidup hingga saya dewasa. Sekarang, mereka juga meminta Tuan untuk melindungi saya. Itu tandanya mereka sangat menyayangi saya."
Harsya tampak terkesima dengan penjelasan Anaya.
****
Keesokan paginya, Anaya dan Harsya menikmati sarapan pagi bersama namun tanpa Biom. Sejak mengantarkan Rissa kembali, pria itu tak menampakkan hidungnya di rumah ini.
Anaya sarapan dengan pelan, ia takut melakukan kesalahan meskipun semalam ia dan suaminya mengobrol hangat.
"Aku akan pergi bersama Rama untuk dua hari ke depan. Jadi, selama ku tinggal kau jangan berbuat ulah atau masalah. Kau boleh melakukan apapun di rumah ini tapi tidak akan ku izinkan keluar rumah meskipun hanya sampai pagar utama."
Anaya mengangguk.
"Jangan mencoba kabur!"
Harsya mengakhiri sarapannya, ia kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berlalu. Rama berjalan di belakangnya.
"Tuan yakin meninggalkan Nona Anaya sendirian di sini?"
"Ada beberapa pelayan dan penjaga keamanan di sini."
"Tapi, saya ragu."
Harsya menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah kepala pelayan.
"Tuan, tidak Nona Rissa dan Biom di sini. Saya takut jika Nona Anaya berbuat nekat," ujar Rama.
"Saya yakin Anaya tidak mungkin melakukannya."
"Semoga saja, Tuan."
Harsya menaiki mobil dan Rama duduk di kursi depan bagian penumpang.
Anaya akhirnya memilih menonton televisi di ruang keluarga, ia duduk sembari menikmati cemilan meskipun sudah sarapan entah kenapa perutnya terasa lapar. Mungkin karena ia tak melakukan kegiatan apapun.
Sejam lebih, Anaya yang bosan menonton melangkah ke kamarnya sekedar membaca buku.
Anaya membaca beberapa buku sehingga lupa waktu.
Seorang pelayan mengetuk pintu kamarnya.
Anaya gegas membukanya.
"Nona, ini sudah lewat waktu makan siang," ujarnya.
__ADS_1
"Saya akan turun dan makan siang," ucap Anaya.
"Baik, Tuan." Pelayan tersebut pun berlalu.
Anaya makan siang seorang diri, ia sempat mengajak para pelayan untuk makan bersama namun semuanya menolak. Tentunya penolakan itu karena takut Harsya marah.
Selesai makan, Anaya kembali ke kamar melanjutkan aktivitasnya membaca buku.
Karena dirasakannya mengantuk, ia pun akhirnya tertidur.
-
-
Dua jam kemudian, Anaya terbangun. Karena bosan di kamar, ia pun melangkah ke kebun. Ia memperhatikan tanaman yang kemarin di tanamnya. Tadi pagi ia tak mengunjunginya, jadi pelayan yang menyirami seluruh tanaman di kebun itu pun karena perintah Harsya.
Anaya kembali ke kamarnya, ia mengganti pakaiannya.
Setelah dari kamar, ia berjalan ke kolam renang. Ya, sore ini ia akan berenang meskipun sendirian.
Anaya mulai berendam, perlahan ia menyusuri kolam.
Seorang pelayan wanita yang tahu Anaya berenang, duduk memperhatikan istri majikannya menikmati olahraga air tersebut.
Anaya menonjolkan kepalanya di air.
Pelayan wanita itu berdiri kemudian mendekati Anaya yang telah berada di pinggir kolam, "Nona, ingin minum apa?"
"Terserah kamu," jawab Anaya dengan sopan.
"Bagaimana kalau saya buatkan jus jeruk?"
"Boleh juga."
"Baiklah, Nona. Saya akan membuatnya," ujar pelayan.
Anaya melanjutkan aktivitas renangnya, di tengah kolam tiba-tiba kakinya ditarik seseorang.
Anaya berusaha melepaskan, namun dirinya semakin tertarik menjauh.
Anaya terus memberontak, bahkan ia berusaha menimbulkan kepalanya untuk meminta tolong. Namun, usahanya untuk naik ke permukaan tidak berhasil.
Pelayan wanita itu telah membawa segelas jus jeruk, ia tak melihat Anaya di kolam. Bahkan air tampak tenang.
"Nona!" teriaknya memanggil.
"Nona Anaya, di mana?" tanyanya dengan suara lantang.
Pelayan wanita tersebut semakin takut karena tak menemukan Anaya.
Pelayan pun mengelilingi kolam dan terus berteriak memanggil nama istri Tuan-nya.
Pelayan membulat matanya ketika melihat Anaya dengan posisi telungkup di dalam air.
"Nona!" panggilnya.
Anaya tak merespon.
Pelayan tersebut berlari dan berteriak minta tolong.
Beberapa pelayan dan pengawal datang menghampiri wanita itu.
Sebelum rekan kerjanya bertanya, ia segera berbicara, "Nona Anaya tenggelam!"
Panik..
__ADS_1
Mereka pun berlari ke arah kolam dan menolong Anaya yang pingsan.