
Mendengar pertanyaan dengan nada dingin, membuat Intan menoleh ke asal suara.
"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini?" tanya Rama dengan wajah menyelidik.
"Sa..saya hanya meletakkan piring kotor, terus mau kembali ke kamar tapi tidak tahu jalannya," Intan berkata dengan terbata-bata.
"Kamu tidak ingin mencuri atau merencanakan sesuatu?" tudingnya.
"Tidak, Tuan. Saya memang meletakkan piring kotor, sepertinya saya benar-benar nyasar di rumah ini," jelas Intan.
"Jangan bohong!" Rama menekankan kata-katanya.
"Saya berkata jujur, Tuan!" Intan menundukkan wajahnya, tubuhnya gemetaran.
"Jika berani berbohong, kamu akan tahu akibatnya!"
Intan tak berani berkata-kata.
"Mari aku antar ke kamar!"
Intan mendongakkan wajahnya.
Rama berjalan terlebih dahulu dan Intan dibelakangnya.
Begitu di depan kamar, Rama berhenti, "Ingat jalan yang kamu lalui tadi!"
"Iya, Tuan. Terima kasih," ucap Intan.
Rama tak membalas ucapan gadis itu, ia memilih berlalu.
"Cih, sombong sekali dia!" gumamnya.
Rama menoleh, "Kamu bilang apa tadi?"
"Tidak ada, Tuan." Intan bergegas masuk kamar.
Di balik pintu, Intan memegang dadanya.
***
Keesokan paginya, Intan terbangun dari tidurnya. Ia mencari kamar Anaya tentunya ingin mengajaknya mengobrol.
Intan celingak-celinguk memperhatikan kamar yang pintunya semua sama.
Langkahnya terhenti ketika suara pintu terbuka, ia melihat Harsya dan Anaya keluar dari sebuah ruangan.
"Kak Ana!" panggilnya dengan suara pelan.
Anaya tak mendengarnya dan terus berjalan.
Intan hendak melangkah namun tepukan dibahunya menghentikan langkahnya.
"Mau ke mana?"
Intan bergegas menoleh.
"Saya mau menemui Kak Ana, Tuan."
"Nona Anaya dan Tuan Muda akan sarapan, tunggulah di kamar. Jika Nona ingin mengajak anda mengobrol, pelayan akan datang memanggil."
"Baiklah," ucap Intan. "Tapi, saya lapar!" lanjutnya.
__ADS_1
"Pelayan akan mengantarkannya."
Intan pun mengangguk.
Rama melangkah pergi.
Intan kembali ke kamarnya.
-
Anaya dan Harsya menikmati sarapan berdua.
"Tuan akan pergi untuk beberapa hari ke depan, bolehkah saya tidur bersama dengan Intan di kamarnya?"
"Tidak."
"Saya takut tidur sendirian," ujar Anaya.
"Kenapa takut?"
"Saya tidak ingin orang yang ingin mencelakakan saya di kolam kembali berbuat jahat."
Harsya sejenak berpikir.
"Jika terjadi sesuatu dengan saya, Tuan juga yang repot. Tuan akan buru-buru pulang hanya untuk memastikan saya baik-baik saja," tutur Anaya.
"Baiklah, tapi ingat kamu hanya boleh bersama dengannya. Pastikan kalian selalu berdua!"
"Terima kasih, Tuan."
"Hem."
Harsya kembali ke luar rumah bersama dengan Biom.
Intan membuka pintu dan tersenyum.
"Apa aku boleh masuk?"
"Tentunya."
Anaya masuk ke kamar dengan wajah sumringah.
"Kenapa Kakak bisa ke kamarku?"
"Aku sudah meminta izin pada suamiku."
"Oh," ucap Intan dan melanjutkan sarapannya.
"Kenapa makan di kamar?"
"Aku tidak diizinkan oleh pria dingin itu makan di luar kamar."
"Dia sungguh aneh."
"Kak, rumah ini sangat besar sekali. Aku sampai nyasar buat cari dapurnya."
"Aku juga, pertama kali ke rumah ini."
"Tapi, di sini sangat seram. Penghuninya sedikit," Intan bergidik ngeri.
Anaya tersenyum.
__ADS_1
"Apa Tuan Harsya sudah pergi ke kantor?"
"Sudah, dia akan pulang beberapa hari lagi. Jadi aku akan tidur bersamamu."
"Wah, benarkah? Aku senang sekali, kita bisa mengobrol bersama sampai larut malam," jawab Intan.
Sementara di lain tempat, Harsya telah tiba disebuah gedung kosong miliknya. Seorang wanita, terduduk dengan tangan terikat dan mulut tertutup sapu tangan.
"Angkat wajahnya!" perintah Harsya kepada seorang pria di samping Chintya.
Pria tersebut mengangkat dagu Chintya secara kasar.
Harsya mendekat dan tersenyum menyeringai. "Kau pikir semudah itu lepas dariku?"
"Kenapa kau melakukan itu kepada istriku?" Harsya mendekatkan wajahnya, menatap tajam dan menekankan kata-katanya.
Harsya mengangkat kepalanya dan memperbaiki posisi berdirinya. "Aku ingin mendengar alasannya, buka penutup mulutnya!"
Anak buah Harsya membuka penutup mulut Chintya.
"Sekarang kau mengakuinya sebagai seorang istri, Harsya Abraham."
"Memangnya kenapa? Aku dan dia sudah menikah!" ucap Harsya.
"Semudah itu melupakan Andin," Chintya tersenyum mengejek.
Harsya mengepalkan tangannya.
"Orang tua wanita itu adalah pembunuh ayahmu, kau masih membelanya?" Chintya tertawa menyeringai.
Harsya mendaratkan telapak tangannya di wajah Chintya.
Wanita itu malah semakin tertawa.
"Dia bukan pembunuh, dia hanya korban fitnah kakak angkatmu!" Harsya meninggikan suaranya.
"Tapi, dia putri dari seorang pembunuh!"
"Diam!" sentaknya.
"Kau sudah jatuh cinta padanya, sehingga membela harga dirinya!"
Harsya mencengkeram rahang Chintya secara kasar. "Dia memang tidak bersalah!"
Chintya semakin mengejek Harsya dengan senyumannya.
"Aku tidak akan segan memasukkanmu juga ke penjara!"
"Silahkan!"
"Oh, kau menantangku?"
"Aku tidak akan membiarkan hidupmu bahagia!"
Harsya semakin kesal. "Siksa dia!"
Pria bertubuh besar di samping Chintya menutup mulutnya kembali.
Chintya terus memberontak.
"Jika dia mengaku salah dan berjanji pergi menjauh dari pulau ini. Lepaskan dia!" titahnya.
__ADS_1
"Baik, Tuan!"
Harsya meninggalkan Chintya sendirian bersama dengan beberapa anak buahnya.