
Harsya hendak pergi ke kantor tak lupa ia mengecup kening Anaya membuat wanita itu tercengang.
"Aku tidak akan pulang malam ini, jadi ku harap jangan tidur terlalu malam. Apalagi menceritakan tentang aku bersama kedua wanita itu," ujar Harsya.
"Baik, Tuan."
"Jangan kotori dapur Rama, ia akan marah besar jika ruang kerjanya berantakan," ucap Harsya.
"Baik, Tuan."
Harsya tersenyum, ia pun kemudian berlalu.
Intan menghampiri Anaya, "Kakak!"
Anaya terperangah, "Intan!"
"Maaf, Kak. Jika aku mengejutkanmu," Intan tersenyum.
"Tuan Muda sudah pergi?" tanyanya dengan suara pelan.
"Sudah."
"Kenapa dia tidak pergi dengan pria dingin itu?"
"Pria dingin siapa?"
"Tuan Rama."
"Tidak, Tuan Muda pergi bersama dengan kepala pengawal."
"Oh."
"Ayo kita mengobrol di kamarmu!"
"Kenapa di kamar, Kak?"
Anaya lantas berbisik, "Di sini banyak kamera pengawas, pembicaraan kita bisa di dengar Tuan Muda."
Intan membulatkan matanya dengan cepat menoleh ke arah Anaya, "Benarkah, Kak?"
Anaya mengiyakan.
"Ayo kita ke kamar saja!"
Kedua wanita itu melangkah ke arah kamarnya, belum sampai tujuan Intan menghentikan langkah kakinya.
"Kenapa?"
"Aku ingin meminta minuman dan makanan, Kakak tunggulah di kamarku!"
"Baiklah," Anaya melangkah ke kamar Intan.
"Waktunya memberikan pelajaran padanya!" Intan membatin seraya tersenyum menyeringai.
Intan melangkah ke arah dapur, ia menanyakan pelayan keberadaan Rama.
Begitu melihat pria itu, ia bergegas menghampirinya, "Tuan kejam!"
Rama yang sedang mengolah daging ayam menjadi bakso tak menggubris sapaan gadis di sebelahnya.
"Saya dan Kak Ana sedang di kamar, bisakah Tuan mengantarkan dua gelas jus buah naga, sepiring kentang goreng dan dua porsi spaghetti."
Rama menghentikan kegiatannya. "Memangnya kamu siapa?"
"Saya temannya Nona Anaya."
"Aku hanya akan melayani Tuan Harsya dan keluarganya."
"Saya juga keluarganya."
"Pergilah, jangan mengganggu pekerjaan ku!"
"Tuan, ingin saya laporkan kepada Tuan Muda!" ancam Intan.
"Silahkan jika berani!"
"Mana mungkin aku berani melaporkannya," batinnya.
__ADS_1
"Pergilah ke kamar dan temani Nona Anaya, jika kamu tidak ingin Tuan Muda marah."
"Saya akan kembali ke kamar, jangan lupa antar makanan untuk kami!"
"Iya."
Intan pun bergegas melangkah ke kamarnya.
Sejam kemudian, 2 orang pelayan mengetuk pintu kamar Intan.
"Nona, ini pesanannya!" ucap salah seorang pelayan kepada Intan.
"Letakkan di meja, Mba!" Intan menunjuk ke arah nakas.
Intan melihat nampan hanya berisi sepiring spaghetti, satu porsi kentang goreng, segelas jus dan 2 gelas air putih.
"Hanya ini?" tanya Intan pada 2 orang pelayan membuat Anaya menoleh ke arah ketiganya.
"Iya, Nona. Tuan Rama hanya memberikan ini saja!" ucap pelayanan satunya.
Intan memaksakan tersenyum lalu berkata, "Terima kasih!"
"Sama-sama, Nona!" Kedua pelayan pamit.
Intan mengepalkan tangannya, "Dia ingin mencari masalah denganku!"
"Kenapa cepat sekali memesan makanan?" tanya Anaya. "Aku baru saja selesai sarapan, makan siang juga masih lama," lanjut menjelaskan.
Intan menoleh lalu menyengir, "Kita akan mengobrol pastinya perut terasa lapar, makanya ku pesan makanan."
"Kamu ingin mengerjai Tuan Pelayan, ya?" Anaya menebaknya.
Intan tersenyum mengiyakan.
"Jangan mencari masalah dengannya, bisa saja kamu diusir dari sini dan sulit mendapatkan pekerjaan. Rama termasuk salah satu orang kepercayaan Tuan Muda," ungkapnya.
"Aku kesal sekali dengannya, Kak. Semalam ku hanya pergi ke balkon saja dilarangnya," Intan berkata menggebu.
"Ikuti saja peraturan di rumah ini."
"Kalau kamu mau makan, silahkan. Aku ingin bermain dengan ponselmu!" ucapnya.
Anaya tak memiliki ponsel karena memang ia tak memerlukan itu, dia tak memiliki teman atau saudara yang bisa diajak bertukar nomor.
Dari dulu kedua orang tuanya memang menjauhkan dirinya dari orang-orang. Hanya Intan teman kerja yang telah dianggapnya keluarga.
Dan sejak menikah dengan Harsya, seluruh akses tentang dirinya juga ditutup. Harsya melarang ia memiliki ponsel agar wanita itu tak mendapatkan pengaruh buruk dari barang elektronik tersebut.
Intan sempat dilarang Biom membawa ponsel, namun ia memohon agar diperbolehkan dengan alasan kedua orang tuanya akan khawatir jika sulit menghubunginya.
Biom pun memperbolehkannya dengan syarat hanya menggunakan ponsel di dalam kamar dan tidak membawanya keluar kamar.
Selama Intan berada di rumah Harsya tentunya membuat Anaya senang karena ia memiliki teman dan ia bisa menggunakan ponsel milik sahabatnya itu.
"Tidak, Kak. Ini buat Kakak saja, aku akan bicara dengan Tuan Pelayan yang sombong itu!"
"Lebih baik jangan, makan saja punyaku."
"Bagaimana jika dia bertanya?"
"Aku akan katakan padanya jika masih kenyang makanya ku berikan padamu," ujar Anaya.
"Baiklah, kalau begitu." Intan memakan sepiring spaghetti dan jus buah naga akan ia berikan kepada Anaya.
Anaya dan Intan tertawa ketika melihat tontonan di ponsel.
Anaya yang sadar segera memberikan isyarat kepada Intan. "Nanti para pelayan mendengar suara kita!"
"Iya, Kak. Aku lupa jika kita diawasi,"ucap Intan berbicara pelan.
Anaya yang semalam tak dapat tidur dengan nyenyak dan juga karena kelelahan melayani Harsya tertidur di ranjang Intan.
Suara ketukan pintu terdengar, Intan bergegas membukanya, "Ada apa?" tanyanya dengan ramah.
"Waktunya makan siang buat Nona Anaya," jawab pelayan wanita.
"Nona Anaya sedang tidur," ucap Intan dengan suara pelan.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan katakan pada Tuan Rama!"
"Iya."
Pelayan pun berlalu, ia melaporkan apa yang ia dapatkan dari Intan kepada Rama.
Tak lama kemudian pintu kembali diketuk, Intan berdecak kesal. Ia membuka pintu dan terperangah, ia berpikir jika pelayan yang datang ternyata Rama.
"Ada apa? Kak Ana lagi tidur," Intan berkata dengan pelan.
Rama menarik tangan Intan keluar kamar, dengan cepat ia menutup pintu. Agar Anaya tidak tergganggu tidurnya.
"Apa kurang jelas ucapan ku tadi?"
"Siapa yang makan spaghetti dan jus-nya?"
"Spaghetti aku yang makan dan jus Kak Ana."
"Sudah aku tebak pasti kau akan memakannya."
"Siapa suruh tidak membuat dua porsi? Lagian juga Kak Ana mengizinkannya."
"Jadi, Nona Anaya tidur dengan perut lapar?"
"Aku tidak tahu, tapi tadi dia bilang kalau sudah kenyang," tuturnya.
Rama mendengus kesal.
"Mau marah?" Intan bersedekap dada.
Rama mengangkat kedua tangannya mengarahkan ke wajah Intan, lalu mengepalnya. Memasang muka marah dan kesal.
"Lebih baik kembali ke dapur, lakukan tugas anda!"
"Kalau bukan temannya Nona Anaya, aku akan memberi perhitungan kepadamu!"
"Silahkan, aku tidak takut!" Intan tersenyum menyeringai.
Rama pun berlalu.
...----------------...
Jangan Lupa Like dan Komentar Terbaik 😊
Mampir Juga Ke Karyaku Lainnya....
- Mengejar Cinta si Tampan
- Jangan Mengejarku, Cantik!
- Ibu Pilihan Aku
- Bertahan Walau Terluka
- Penculik Hati
- Dijodohkan Dengan Musuh
- Melupakan Sang Mantan
- Pesona Ayahku
- Dikejar Cinta Putri Atasan
- Menikahi Putri Konglomerat
- Bisnis, Benci dan Cinta
- Fall in Love From The Sky
- Salah Jatuh Cinta
- Calon Istriku Musuhku
- Marsha, Milik Bara
- Marry The Star
__ADS_1