
Rissa baru saja keluar dari rumah sakit, Biom telah menunggunya di parkiran dengan posisi berdiri menyandarkan tubuhnya di mobil.
Rissa menghampirinya dan melemparkan senyuman kepada pria berwajah tampan dan dingin.
"Apa kau sudah lama menunggu?"
"Menurut Nona?"
"Aku tidak tahu."
"Cepatlah masuk, saya ingin menjemput Tuan Harsya lagi," ujar Biom membukakan pintu untuk wanita yang ada dihadapannya.
Rissa pun masuk ke mobil.
Biom menyalakan mesin, lalu melesat ke rumah sang dokter.
Rissa turun mengambil koper dan Biom membantunya.
Di dalam mobil seraya memakai safety belt, Biom bertanya, "Apa Nona ingin makan atau membeli sesuatu?"
"Tidak, aku masih kenyang."
"Baiklah." Biom menghidupkan mesin mobil dan melesat ke rumah Harsya.
Begitu sampai, Rissa turun lalu berlari kecil. Ia berteriak memanggil nama Anaya.
"Nona Anaya ada di taman belakang, Dok!" ucap seorang pelayan pria menghampirinya.
"Terima kasih," Rissa tersenyum lalu melangkah ke arah taman
Anaya melemparkan senyumnya ketika Rissa muncul dihadapannya, ia pun berjalan mendekati wanita itu dan keduanya saling berpelukan.
Rissa melonggarkan pelukannya, "Apa kabar?"
"Aku baik, Kak."
"Harsya tidak kejam lagi, kan?"
Anaya tersenyum lalu mengangguk.
"Syukurlah, aku senang jika hubungan kamu dan Harsya membaik."
"Kak, perkenalkan ini teman ku namanya Intan," ucap Anaya.
"Hai, aku Rissa!" mengulurkan tangannya.
Intan tersenyum lalu meraih uluran tangan Rissa.
"Kak Rissa ini seorang dokter, dia juga sepupunya Tuan Muda," jelas Anaya.
"Salam kenal, Nona!" Intan sedikit menundukkan kepalanya.
"Panggil aku Kakak saja," ucap Rissa.
"Baik, Kak Rissa." Intan tersenyum.
Biom meninggalkan ketiga wanita itu mengobrol di taman. Ia lalu melangkah ke dapur menemui Rama.
"Hai, kau tidak menjemput Tuan Muda?"
"Sebentar lagi, aku akan menyusulnya."
"Apa malam ini dia akan pulang karena tadi pagi dia mengatakan tidak?" tanya Rama, seraya menuangkan jus jeruk ke dalam gelas lalu menyodorkannya kepada Biom.
"Aku tidak tahu, Tuan Muda hanya bilang ia akan ke rumah lama."
"Kau meninggalkanku sendirian menghadapi ketiga wanita itu," ucap Rama.
"Sepertinya hanya Nona Rissa saja yang selalu mencari masalah," ujar Biom.
"Bukan hanya dia tapi temannya Nona Anaya juga," ungkap Rama.
"Benarkah?" tanya Biom.
"Hanya Nona Anaya yang tidak banyak permintaan," jelas Rama.
"Ya, memang sangat pantas Nona Anaya dengan Tuan Muda yang saling melengkapi," ucap Biom.
"Rama!" Rissa menghampiri kepala pelayan di dapur.
"Ya, Nona."
"Aku haus dan lapar," ujarnya.
"Rama, aku pergi dulu 'ya. Selamat pusing," Biom tersenyum kemudian berlalu.
Rissa mengerutkan keningnya, ia mengarahkan pandangannya pada Rama, "Apa kau sedang sakit?"
"Tidak, Nona."
__ADS_1
"Tapi kenapa dia bilang pusing?"
"Biom hanya bilang jika dia pusing memikirkan wanita," Rama memberikan alasan berbohong.
"Memangnya dia sudah punya kekasih?" Rissa penasaran.
"Saya tidak tahu, Nona. Dia hanya mengatakan jika ada satu wanita yang membuatnya pusing."
"Benarkah? Siapa dia?"
"Saya tidak tahu, Nona."
"Pasti wanita itu aku," tebak Rissa.
"Nona, mau minuman dan makanan apa?"
"Es jeruk nipis di tambah madu dan spaghetti."
"Baik, saya akan buatkan."
"Terima kasih, Rama."
"Sama-sama, Nona."
-
Malam harinya...
Ketiga wanita menikmati makan malam di belakang rumah karena meja utama hanya khusus untuk Tuan Muda dan istrinya serta keluarganya.
Sementara Anaya tidak mau makan seorang diri di meja yang panjang dan lebar itu.
Ketiganya makan bersama ditemani bintang yang bertaburan di langit.
"Aku senang jika tiap hari berkumpul seperti ini," ungkap Anaya.
Intan mengisyaratkan jemari telunjuknya di bibir.
Anaya gegas menutup mulutnya.
Rissa tampak heran, "Kenapa? Ada yang salah?"
"Kak di sini ada Tuan Pelayan Kejam yang memata-matai kita, belum lagi kamera pengawas bisa merekam percakapan kita," Intan berkata dengan suara berbisik.
"Benarkah?" Rissa tak percaya.
"Obrolan kita di kolam renang terdengar oleh Tuan Muda, Kak." Anaya menimpali.
Anaya dan Intan mengangguk.
-
Tepat jam 10, beberapa penerangan padam. Penghuni isi rumah telah masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat.
Anaya yang berada di kamar seorang diri mencoba memejamkan matanya. Namun, ia kembali membukanya.
"Apa lebih baik aku tidur di kamar Intan?" gumamnya.
"Tidak, aku belum meminta izin pada Tuan Muda," lirihnya.
Anaya mencoba lagi memejamkan mata. Beberapa menit kemudian ia membukanya kembali.
Anaya lantas turun dari ranjang, "Mungkin dengan aku memandang langit lebih cepat mengantuk," gumamnya.
Anaya membuka pintu kamar, ia melangkah ke balkon tak lupa memakai jaket jubah.
Anaya berdiri dengan memegang pembatas pagar dan tersenyum.
Tak sampai 15 menit, Anaya mengakhiri kegiatannya. Ia melangkahkan kakinya kembali ke kamar. Belum sampai tujuan, langkahnya terhenti.
"Dari mana?"
"Tuan!" lirihnya.
"Kenapa tidak tidur?"
"Saya dari balkon dan ini mau kembali ke kamar dan tidur. Tuan tadi mengatakan tidak akan pulang."
"Aku berubah pikiran, entah kenapa aku tidak bisa jauh darimu."
"Mungkin aku hanya mimpi," Anaya membatin.
"Ayo tidur, aku sangat mengantuk!" ajak Harsya.
"Apa Tuan sudah makan malam?"
"Sudah."
Anaya tersenyum singkat.
__ADS_1
Harsya menarik lembut tangan istrinya dan membawanya ke kamar.
"Apa kau akan melakukan hal sama jika aku tidak di rumah?"
"Sebenarnya saya ingin tidur bersama Intan, tetapi saya belum meminta izin pada Tuan."
"Kenapa harus minta izin?"
"Tuan adalah suami saya."
Harsya terdiam, ia begitu kagum dengan tutur dan sikap Anaya.
"Apa Tuan ingin mandi air hangat?"
"Tidak, aku tadi sudah mandi."
Anaya tersenyum tipis lalu menundukkan pandangannya.
"Aku ingin mengenalkanmu kepada ibu dan adikku. Apa kau mau?"
"Jika Tuan mengizinkannya, saya mau bertemu dengan mereka," jawab Anaya dengan lembut.
"Mulai malam ini jangan panggil aku Tuan."
"Saya harus memanggil apa?"
"Terserah yang penting jangan gendut!" Harsya tersenyum.
Anaya yang mendengarnya tertawa kecil.
"Kau bisa panggil suami, sayang atau apalah."
"Saya tidak terbiasa, Tuan."
"Kau harus terbiasa."
"Baiklah, suamiku."
Harsya tersenyum mendengarnya.
****
Keesokan harinya ketika sarapan, Harsya menikmati sarapan bersama istrinya. Tak ada pelayan yang mengelilinginya. Semua permintaannya hanya dilayani Anaya.
Rissa lalu berbisik di telinga Biom, "Tuanmu telah banyak berubah, ya!"
Biom menoleh ke arah Rissa. "Ya."
"Kau tidak ingin seperti mereka?" tanya Rissa yang meja makannya jauh dari meja utama tepatnya berada di ruang dapur.
"Belum kepikiran."
"Kenapa?" tanya Rissa.
"Saya menunggu Nona Rissa lebih dahulu menikah," jawab Biom membuat Rama mengulum senyum.
"Ya, saya maunya begitu."
"Kau tidak mau denganku?" tanya Rissa tanpa basa-basi.
Rama yang sedang minum menjadi tersedak.
Biom dan Rissa mengalihkan perhatiannya kepada Rama.
"Lanjutkanlah pembicaraan kalian!"
Biom mengakhiri sarapannya.
Rissa yang sedang menggigit roti, menatap Biom yang beranjak berdiri, "Mau ke mana?"
"Mau mempersiapkan mobil buat Tuan Muda." Biom pun berlalu.
"Apa aku salah, Rama?"
Rama menaikkan kedua bahunya.
Harsya dan Anaya selesai sarapan, bergegas beberapa pelayan mendekatinya.
"Panggilkan Biom dan Kepala Pelayan?" perintahnya.
"Baik, Tuan!" salah satu pelayan bergegas mencari dan memanggil Rama dan Biom.
Tak lama kemudian kedua orang yang dicari pun datang menghampiri Harsya.
"Ya, Tuan. Ada apa?" tanya Biom.
"Aku dan istriku akan ke rumah ibu. Jadi Biom kamu ajak Rissa juga. Dan Rama, tetap di rumah karena Intan tak ikut," ucap Harsya.
"Baik, Tuan!" Rama menundukkan sedikit kepalanya.
__ADS_1
"Biom, tolong beritahu Rissa!"
"Baik, Tuan."