
Sebulan berlalu, Astrid mendatangi kediaman Harsya lagi. Namun kali ini ia tak menemui sang pemilik rumah.
Astrid menghampiri Anaya yang sedang asyik mengobrol dengan Rissa.
"Maaf mengganggu!" Astrid menyapa dengan ramah.
Anaya dan Rissa menoleh, tampak raut wajah dari kedua wanita itu tak suka.
"Apa aku boleh bertemu dengan Harsya?"
"Dia lagi di kantor," jawab Rissa.
"Baiklah, aku akan menemuinya di sana."
"Memang seharusnya kau menemuinya di sana, jika memang ada urusan pekerjaan. Tapi, jika tentang urusan yang lain. Kau akan berhadapan denganku!" ucap Rissa.
Astrid tak ingin berdebat lantas berkata, "Kalau begitu aku akan menemuinya di sana!"
Astrid pun berlalu.
"Ada saja alasan dia untuk menemui Harsya?" Rissa menggerutu.
"Mungkin memang benar ada urusan pekerjaan, Kak. Harsya lebih banyak di rumah daripada di kantor," ujar Anaya.
"Jangan percaya dengannya, bisa saja dia ingin menggoda suamimu!"
Sementara itu, Astrid berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman.
Alpha yang baru saja pulang dari kantornya Harsya melihat mobilnya Astrid segera menghampiri wanita yang sedang menuju kendaraannya.
Langkah Astrid terhenti ketika melihat Alpha berjalan ke arahnya.
"Sendirian?"
"Iya."
"Kenapa menyetir sendiri?"
"Sopir yang biasa mengantarkan aku lagi cuti."
"Oh."
"Apa Harsya ada di kantornya?"
"Ada."
"Baiklah kalau begitu aku akan menemuinya di kantor," ucap Astrid.
"Maaf aku tidak bisa mengantarkanmu, karena Tuan Muda menyuruh ku menjaga Nona Muda."
"Tidak apa, tak masalah," Astrid berkata sembari tersenyum, ia menarik kenop pintu.
"Hati-hati, kabarin aku jika sampai di kantor," Alpha tersenyum.
Astrid tersenyum lalu sedikit menunduk, ia lantas segera memasuki mobil. Tak lupa ketika mesin menyala, ia membunyikan klakson.
Alpha bergegas mengangkat tangan kanannya.
Mobil Astrid pun pergi.
Rissa dan Anaya menyaksikan pemandangan yang tak biasa antara Alpha dan Astrid.
"Menurutmu apa mereka memiliki hubungan?" tanya Rissa.
"Mungkin, Kak. Mereka sangat begitu akrab," jawab Anaya.
"Apa kamu penasaran dengan hubungan mereka?"
"Ya."
"Kalau begitu, ayo kita tanya!" ajak Rissa.
Keduanya pun melangkah menghampiri Alpha yang masih berdiri meskipun mobil telah pergi.
"Kenapa masih berdiri saja?" tanya Anaya.
Alpha yang terkejut segera membalikkan badannya, "Nona, ada yang bisa saya bantu?" sedikit menundukkan kepalanya.
"Kalian sangat akrab, ya!" Rissa menyinggung hubungan keduanya.
__ADS_1
Alpha memilih diam.
"Apa dia kekasihmu?" tanya Anaya tanpa basa-basi.
Rissa lantas menyikut lengan Anaya yang pertanyaannya blak-blakan.
"Tidak, Nona."
"Kenapa tidak jadian saja?" tanya Anaya.
"Ana!" tegur Rissa tanpa membuka mulutnya.
"Saya tidak mau wanita yang menjadi kekasih saya kecewa."
"Kenapa begitu? Apa kau tidak baik? Atau bagaimana?" cecar Rissa.
"Apa karena pekerjaan kamu?" tanya Anaya.
Alpha mengangguk.
"Saya akan bicara pada Tuan Muda, jika kamu ingin kebebasan juga menjalin hubungan dengan seorang wanita," janji Anaya.
"Nona, tidak perlu. Saya tak ingin anda dan Tuan Muda bertengkar karena hal sepele," ujar Alpha.
"Ini bukan hal sepele, tapi serius. Kamu juga ingin menikah, kan?" tanya Anaya.
Alpha mengangguk.
"Nanti saya akan sampaikan, kembalilah bekerja!" ucap Anaya kemudian membalikkan badannya melangkah memasuki rumah.
Rissa yang mengikutinya dari belakang, mensejajarkan posisinya. "Nanti kamu bilang juga dengan Harsya berikan waktu aku dan Biom berkencan."
Anaya berhenti lalu menoleh, "Kak Rissa menyukai Tuan Biom?"
Rissa mengangguk.
"Sejak kapan?"
"Sejak dia mulai bekerja dengan Harsya."
"Apa dia menyukai Kak Rissa?"
"Aku tidak tahu, dia terlalu dingin."
-
-
Malam harinya menjelang tidur, Anaya bergelayut manja di lengan sang suami di atas ranjang.
"Apa ada yang mau kau katakan?" tanya Harsya lembut.
Anaya menjawabnya, "Iya."
"Katakanlah!"
"Kita sudah menikah tetapi Biom, Alpha dan Rama belum menikah. Apa kamu tidak ingin memberikan kesempatan pada mereka untuk menjalin hubungan serius?"
"Kenapa kau tiba-tiba berkata begitu?"
"Aku kasihan saja dengan mereka," jawab Anaya. "Mereka selalu ada waktu untuk kita, tapi tidak pernah memikirkan masa depannya," lanjutnya.
"Mereka juga belum memiliki kekasih, bagaimana mau menikah?"
"Bagaimana mau punya kekasih, sedangkan kamu tidak mengizinkan mereka mencarinya."
"Jadi, aku harus bagaimana?"
"Kamu suruh mereka untuk mencari pasangan hidup."
Harsya tampak tak rela, orang-orang kepercayaannya itu akan menghabiskan separuh waktunya dengan orang lain.
"Kasih kesempatan mereka untuk bahagia," ucap Anaya.
"Baiklah, besok aku akan menyuruh mereka mencari pasangan."
"Begitu dong!" Anaya mengecup pipi suaminya.
Harsya pun membalas kecupan istrinya di kening.
__ADS_1
"Aku lupa satu lagi."
"Apa?"
"Bisakah kamu menyuruh Biom menemani Kak Rissa pergi ke sebuah kafe?"
"Kenapa aku yang harus menyuruhnya?"
"Kamu 'kan atasannya, jadi Biom akan tunduk pada perintahmu," jawab Anaya.
"Baiklah, aku akan menyuruhnya!"
"Terima kasih, suamiku!" Anaya mengecup bibir suaminya.
"Sepertinya kau sengaja memancingku!"
Anaya tertawa mendengarnya.
Harsya lantas mematikan lampu di nakas, menarik selimut dan mereka bertempur di baliknya.
***
Keesokan paginya....
Saat sarapan, Harsya sengaja menyuruh ketiga orang kepercayaannya menikmati sarapan bersama dengannya.
Harsya duduk di samping kanan kirinya Anaya dan Rissa.
Biom, Alpha dan Rama duduk berderetan dengan Rissa. Karena tidak mungkin duduk bersebelahan dengan Anaya.
"Silahkan makan, setelah ini aku akan memberitahu sesuatu pada kalian!" ucap Harsya memotong roti dan menyuapkannya ke mulut.
Ketiga pria saling pandang.
Anaya dan Rissa saling mengulum senyum.
Beberapa menit kemudian Harsya mengakhiri sarapannya, ia mengelap bibirnya dengan tisu lalu berkata, "Aku sudah menikah dan istriku sebentar lagi akan melahirkan. Jadi, ku ingin kalian memiliki pasangan juga."
Ketiga pria itu pun kembali saling pandang.
"Pasti Nona sudah bicara." Alpha membatin.
"Jika ada wanita yang kalian sukai, katakan segera padanya. Kalau perlu lamar dia," lanjut Harsya berucap.
"Tapi, Tuan....." Rama hendak berbicara.
Harsya segera memotong, "Biom, nanti malam temani sepupuku pergi ke kafe. Jangan meninggalkannya seorang diri di sana!"
Biom sekilas menoleh ke arah Rissa yang tersenyum padanya, kemudian mengiyakan permintaan Harsya.
"Jadi, mulai sekarang kalian boleh mengejar mereka!" Harsya berkata sembari tersenyum pada istrinya.
Selesai makan Harsya dan istrinya meninggalkan meja makan termasuk juga Rissa.
"Ada apa dengan Tuan Muda? Kenapa tiba-tiba dia berkata seperti tadi?" tanya Rama.
"Tuan Muda mengikuti bujukan Nona Anaya," jawab Alpha.
"Kenapa begitu?" tanya Biom.
"Kemarin dia bertanya padaku, apakah aku ingin memiliki pasangan. Ku bilang ya, lalu dia berjanji akan bicara pada Tuan Muda dan pagi ini kita dengar sendiri 'kan," ucap Alpha.
"Memangnya kalian sudah punya wanita incaran?" tanya Rama.
"Aku sudah," jawab Alpha.
"Kamu sudah?" tanya Rama dan Biom bersamaan.
Alpha mengiyakan.
"Siapa?" Rama penasaran.
"Rahasia," Alpha tersenyum.
"Aku tidak punya calon kekasih," ucap Biom.
"Hei, bukankah Nona Rissa menyukaimu?" celetuk Rama.
"Aku tidak tertarik padanya," jawab Biom.
__ADS_1
"Masa tidak tertarik?" tanya Alpha.
"Entahlah," jawab Biom