
Pagi ini Harsya bangun lebih awal karena istrinya masih tertidur. Semalaman wanita itu tak dapat tidur dengan nyenyak.
Bayi mungil Harsya tampak membuka matanya ketika melihat wajah sang ayah yang sedang menggendongnya.
"Biarkan ibumu tidur, sekarang kamu bersama ayah saja, ya."
Hana menggerakkan mulutnya.
"Kamu tersenyum?" Harsya begitu bahagia.
Hana memejamkan matanya.
"Ayo kita berjemur!" ajaknya.
Harsya keluar kamar menuju taman, 2 orang pelayan pria bergegas menghampirinya dengan membawa payung dan stroller bayi.
Harsya duduk di kursi, ia meminta pelayan untuk menutup payungnya.
Rissa yang masih berada di rumah sepupunya, melihat keponakannya keluar kamar bergegas menghampirinya.
Rissa lantas duduk di sebelahnya, "Pagi keponakan Tante yang cantik!"
Harsya menoleh lalu tersenyum. "Pastikan dirimu sudah mandi jika ingin menciumnya!"
"Ya ampun, sepupuku. Aku tuh walaupun tidak mandi tetap cantik dan wangi."
"Tapi, aku tidak suka jika putriku di cium."
"Baiklah, aku takkan menciumnya. Karena sedang flu juga."
Mendengar kata flu, Harsya segera berdiri dan menjauhkan putrinya dari Rissa.
"Aku janji takkan menciumnya," ucapnya.
"Pergilah dan sembuhkan sakitmu baru dekati putriku!"
Rissa pun berdiri, "Baiklah, Tuan Muda. Hana, Tante pergi dulu 'ya. Nanti kita main-main, tapi jangan bawa ayahmu yang kejam itu!"
Harsya menyipitkan matanya.
Rissa pun bergegas pergi sebelum Harsya marah besar.
Anaya terbangun dan melihat suaminya tak ada di sampingnya, menyibak selimutnya lalu turun dari ranjang.
Anaya melangkah menuju tempat tidur khusus bayi. "Di mana dia?" gumamnya.
Mengikat rambutnya, Anaya melangkah keluar kamar mencari keberadaan putri dan suaminya.
Anaya menarik ujung bibirnya, ketika melihat Harsya mengajak mengobrol Hana.
Anaya berdiri di dekat kedua orang yang disayanginya itu.
"Kamu sudah bangun," Harsya berkata tanpa menatap.
"Waktunya Hana menyusui," ujar Anaya.
"Apa kamu sudah mandi?"
"Belum."
"Pergilah mandi!"
"Suamiku, nanti saja ku mandi kalau selesai menyusui Hana."
Harsya menoleh ke arah istrinya.
"Kamu mau marah padaku?" Anaya melipat kedua tangannya di dada.
Harsya menggelengkan kepalanya.
"Ayo ke kamar, waktunya Hana menyusui!"
"Iya," Harsya berdiri meletakkan putrinya di stroller dan membawanya menuju kamar.
Di depan pintu kamar, Harsya mengangkat tubuh bayi mungilnya. Mereka pun masuk ke kamar.
Harsya menyerahkan Hana Kepada Anaya yang telah berada di ranjang. Wanita itu pun mulai menyusui putrinya.
Harsya masih menunggui sang istri menyusui putrinya.
"Kamu tidak ke kantor?"
"Sebentar lagi."
"Oh."
Harsya terus menatapi kedua wanita yang dicintainya itu.
__ADS_1
"Aku dengar Rama akan melamar Intan, apa kamu sudah memberikan izin kepadanya?"
"Sudah, mereka ku berikan izin secara bergantian."
"Kenapa begitu?"
"Jika mereka libur secara serentak, siapa yang akan menjagamu dan Hanya ketika lagi bekerja?"
"Anak buah kamu 'kan banyak."
"Memang banyak tapi mereka bertiga yang dapat ku percaya menjalankan tanggung jawab, meskipun karyawan lainnya juga bekerja dengan baik dan sempurna."
"Jika mereka menikah, apa kamu akan datang?"
"Apa kamu mau ikut?"
Anaya mengangguk semangat.
"Baiklah nanti kita akan ke sana!"
Ponsel Harsya berdering tertera nama Elia.
"Halo, El!"
"Kakak, kapan kalian ke sini? Aku dan Ibu sangat merindukan Hana."
"Kami akan ke sana nanti sore. Jika Kakak tidak ada rapat di kantor."
"Kami tunggu kedatangan kalian," ucap Elia.
"Siapkan makanan kesukaan Kak Ana dan Kakak!"
"Baik, Kak. Aku akan bilang pada Ibu."
Elia menutup teleponnya.
"Ibu menyuruh kita ke rumahnya, nanti sore kamu duluan 'ya ke sana bersama Alpha."
"Iya, suamiku."
-
-
Elia menunggu kedatangan kakak iparnya dan keponakannya di bangku taman.
Ditengah waktu menunggunya, Elia mendapatkan sebuah paket lagi.
"Dia hanya menyebut nama R."
"R?"
"Iya, Nona."
"Saya permisi!" Kurir pun berlalu.
Mobil yang ditumpangi Anaya dan Hana memasuki halaman rumah.
Anaya turun dan putrinya digendong seorang baby sitter.
Elia seraya memegang paket, melangkah menghampiri Anaya dan putrinya.
"Kakak kamu akan menyusul dari kantor," Anaya berkata sebelum iparnya itu bertanya.
"Oh."
"Ibu di rumah, kan?" tanya Anaya.
"Iya, Kak."
Anaya lantas melangkah ke dalam bersama beberapa karyawan suaminya.
"Kak Alpha!" panggil Elia dengan suara pelan.
Alpha menoleh, "Iya, Nona."
"Aku butuh bantuan Kak Alpha!" ucapnya dengan suara rendah.
"Apa yang bisa saya bantu?"
"Ikut aku, Kak." Ajak Elia.
Alpha mengikuti langkah Elia menuju taman depan rumah.
"Kak, ada seseorang yang mengirimkan paket padaku. Tapi ku tak tahu namanya."
"Mungkin itu penggemar, Nona."
__ADS_1
"Aku bukan artis, Kak. Aku takut saja kalau dia ingin berbuat jahat padaku."
"Apa ada paket yang mengerikan yang Nona dapat?"
Elia menggelengkan kepalanya.
"Jika masih aman, Nona tak perlu khawatir. Namun kalau mendapatkan paket teror beritahu saya segera!"
"Iya, Kak. Tapi tolong jangan beritahu Kak Harsya, pasti dia akan khawatir.
"Baik, Nona."
***
Keesokan harinya....
Elia berangkat ke sekolah, begitu dirinya di depan pagar. Salah satu temannya yang laki-laki menghampirinya, "Buat kamu!" menyodorkan paper bag ukuran kecil berwarna merah.
"Dari siapa?"
"Dia!" teman sekolah Eli menunjuk ke arah pemuda yang berjalan pelan menjauh.
Elia pun dengan cepat berlari mengejarnya, "Hai, tunggu!" teriaknya.
Pemuda itu menoleh dan mempercepat langkahnya.
Elia yang tak mau kehilangan sosok tersebut, semakin berlari kencang.
Elia akhirnya berhasil menemukan pemuda itu, ia berdiri di hadapannya. Dengan napas ngos-ngosan, ia pun bertanya, "Siapa kamu sebenarnya?"
Pemuda itu menundukkan wajahnya.
Elia yang tak sabar membuka topi yang dikenakan pemuda itu.
Pemuda itu mencoba mengambil topi dari tangan Elia.
Gegas Elia memegang lengan pemuda tersebut, "Siapa namamu? Apa tujuanmu?"
Pemuda yang mulutnya tertutup masker, menurunkan tangan Elia dari lengannya. Dengan cepat mendorong tubuh gadis yang ada dihadapannya, ia kemudian berlari.
Elia yang sangat kelelahan tak sanggup mengejarnya. Akhirnya ia kembali ke sekolah.
Mitha menghampiri Elia, "Kau dari mana saja?"
"Aku mengejar laki-laki yang memberikan paket selama ini."
"Benarkah? Apakah dia sudah tua?"
"Sepertinya masih muda."
"Apa kau belum melihat wajahnya?"
"Belum."
"Aku yakin pasti dia pemuda yang tampan," tebak Mitha.
"Di kepalamu selalu saja kata tampan dan ganteng," ujar Elia.
Mitha menyengir.
"Dia baru saja memberikan aku ini!" menunjukkan paper bag.
"Apa isinya?"
"Parfum."
"Coba lihat!"
Elia menunjukkannya.
"Ini parfum kesukaanmu!" ucap Mitha.
"Ya."
"Dia benar-benar penggemarmu, El."
"Dia memang sangat aneh, aku harus menangkapnya dan mencari tahu sebenarnya."
Sementara itu, pemuda yang hampir saja ketahuan wajahnya bernapas lega.
Ia kini berada di dalam mobil, "Kau harus merasakan apa yang di rasakan keluargaku saat ini Elia Abraham," gumamnya.
"Aku harus merebut hatimu lalu menghancurkanmu!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cerita Cinta Anaya dan Harsya Berakhir Sampai di Sini...
__ADS_1
Sampai jumpa di cerita selanjutnya..
Terima Kasih 🌹