
Intan terbangun ketika jarum jam ke angka 2, ia turun dari ranjang lalu berjalan ke kamarnya Rissa. Biasanya wanita itu belum tertidur, siapa tahu mereka dapat mengobrol lagi.
Intan mengetuk pintu kamar Rissa tetapi tak ada jawaban. Ia ingin berteriak memanggil tapi takut jika seluruh penghuni rumah terbangun karena mendengar suaranya.
Berkali-kali mengetuk namun sang penghuni kamar tak kunjung keluar juga.
Intan akhirnya memilih memutar balik tubuhnya menuju kamar, seketika langkahnya terhenti ketika melihat sosok yang dihadapannya bersedekap dada.
Intan menggaruk rambutnya dan tersenyum nyengir, "Eh, Tuan. Belum tidur, ya?" tanyanya berbasa-basi.
"Kenapa kau sering kali berkeliaran di malam hari?"
"Saya sudah kenyang tidur, Tuan."
"Kau bisa di dalam kamar tak perlu keluar."
"Maaf kalau begitu," ucap Intan. "Tuan, kenapa tidak tidur?" tanyanya balik.
"Aku tadi belum tidur, tapi karena mendengar pintu kamarmu terbuka aku segera mendatanginya."
"Tuan perhatian sekali dengan saya," Intan menampilkan senyumnya.
"Aku hanya ingin memastikan tak ada orang lain yang berbuat kesalahan di rumah ini," ungkap Rama, padahal ia sebenarnya khawatir dengan gadis itu. Ya, dia takut ada pelayan yang berbuat tak senonoh pada Intan.
"Oh," ucapnya singkat.
"Kembalilah ke kamarmu, jangan mengganggu waktu istirahat orang lain!"
"Baik, Tuan!"
Tiba-tiba penerangan di rumah Harsya padam. Refleks, Intan memeluk Rama yang ada dihadapannya. Ia begitu ketakutan hingga membenamkan wajah di dada Rama seraya memicingkan kedua matanya.
Sepuluh detik kemudian, lampu-lampu kembali menyala.
Intan masih memeluk erat tubuh Rama.
"Apa kau ingin terus memelukku?"
"Aku takut, Tuan."
Rama mendorong tubuh Intan dengan pelan.
Intan lantas membuka matanya, "Eh, sudah hidup, ya!" tampak malu.
__ADS_1
"Kau sengaja mencuri kesempatan dariku, ya?"
Intan dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Balik ke kamar, jangan ulangi kebiasaanmu!"
"Baik, Tuan." Intan bergegas melangkah meninggalkan Rama.
***
Keesokan paginya, sebelum sarapan. Intan dan Rissa berolahraga di taman.
Hanya Anaya dan suaminya yang belum keluar kamar meskipun matahari telah menunjukkan wajahnya.
"Kakak, semalam aku datang ke kamarmu," ucap Intan.
"Mau apa kau ke kamarku?"
"Aku ingin mengajak mengobrol."
"Jam berapa kau ke kamar?"
"Jam dua."
"Aku pikir Kakak belum tidur. "
"Aku baru tidur jam sebelas setelah mandi hujan."
"Kenapa Kakak mandi hujan? Apa kemarin malam lagi keluar rumah?"
"Tidak, aku duduk di taman ini seorang diri terus ada seorang pria yang membujukku," Rissa berkata dengan senyuman.
"Wah, pasti seperti cerita di drama," tebak Intan.
"Iya, hampir begitu. Tapi, aku senang dia merangkul dan memayungi ku," Rissa kembali bercerita dengan wajah sumringah.
"Memangnya siapa pria itu?"
Rissa membisikkan sesuatu di telinga Intan, membuat gadis itu tak menyangka.
"Kak Rissa menyukainya?"
Rissa mengangguk.
__ADS_1
"Semoga saja dia membalas cinta Kak Rissa, ya!"
"Semoga," Rissa tersenyum.
"Semalam ketika aku ke kamar Kak Rissa, pria dingin itu menegurku. Aku heran dengannya, setiap malam apa dirinya selalu patroli," ujar Intan.
"Maksud kau Rama?"
"Ya."
"Mungkin memang ingin mengawasimu, di kamar dia dan asistennya Harsya ada monitor. Jadi, setiap gerak-gerik kita diawasi. Itu mulai dipasang ketika Anaya mendapatkan teror di kolam renang."
"Oh, begitu."
"Meskipun Tuan Pelayan itu sering di dapur, bau badannya begitu harum sekali," Intan berkata lagi.
"Kenapa tahu? Apa kau sengaja dekat dan mencium aroma tubuhnya, ya?" Rissa tersenyum menyelidik.
"Diih, mana mungkin aku serendah itu dekat-dekat dengannya. Semalam aku tak sengaja memeluknya karena lampu padam."
"Wah, pasti dia marah besar kau peluk?" tebak Rissa.
"Iya, Kak. Sepertinya Tuan Pelayan itu sering berolahraga makanya tubuhnya sangat ideal," ucap Intan.
"Ya, kau lihat saja di sana!" Rissa mengarahkan pandangannya kepada dua orang pria tak jauh dari mereka yang sedang menggerakkan badan dengan memakai pakaian olahraga.
Intan mengikuti arah pandangan Rissa.
"Lihatlah, kenapa tubuh mereka begitu bagus," ucapnya.
"Iya, Kak. Sangat sempurna!" puji Intan sembari tersenyum.
"Ayo pergi dari sini, nanti mereka mendengar pembicaraan kita!" ajak Rissa.
"Ayo, Kak!"
Mereka berdua pun pergi menjauh dari Rama dan Biom.
"Mau ke mana mereka?" tanya Rama ketika melihat Rissa dan Intan pergi.
"Biarkan saja, mereka mau ke mana. Sekarang kita nikmati waktu berolahraga, mumpung Tuan Muda masih berada di kamarnya!"
Harsya memberitahu kepada Biom dan Harsya kalau jadwal sarapan paginya terlambat. Karena ia tidak ingin membangunkan istrinya yang sangat terlelap tidur.
__ADS_1
Dan Harsya juga meminta pelayan wanita yang mengantarkan sarapan ke kamarnya. Dia tak mau kedua orang kepercayaannya itu melihat tubuh istrinya yang berbalut selimut.