Pria Kejam Dan Gadis Jujur

Pria Kejam Dan Gadis Jujur
Bab 46 - Tak Senang Jika Anaya Hamil


__ADS_3

Rissa tiba setelah dijemput Biom, ia memasuki kamar Harsya dan mulai memeriksa kondisi Anaya.


Harsya berdiri tak jauh dari ranjang, ia memperhatikan sepupunya bekerja.


Rissa mengarahkan alat stetoskop ke bagian dada dan perut, ia lalu menurunkan benda tersebut dari telinganya. Kemudian melemparkan senyuman kepada Anaya, "Tak ada penyakit, ini hal biasa jika sedang hamil."


"Apa!" Anaya dan Harsya tampak tak percaya.


"Hei, kenapa ekspresi kalian seperti itu?" tanya Rissa.


"Apa benar dia hamil?" tanya Harsya.


"Kau pikir aku berbohong!" ketusnya.


Harsya menarik kedua ujung bibirnya.


"Anaya harus banyak beristirahat," ucap Rissa.


"Dia memang tidak melakukan pekerjaan apapun di rumah ini!" ungkap Harsya.


"Iya, aku tahu. Akan tetapi, sepertinya Anaya sangat begitu tertekan," celetuk Rissa.


"Tertekan?" tanyanya lagi.


"Coba saja tanya pada istrimu, apakah dia bahagia atau tidak," ujar Rissa melirik Anaya.


Harsya menarik napas dan membuangnya, ia kemudian berkata dengan nada rendah, "Kau boleh keluar sekarang!"


"Baiklah," Rissa melemparkan senyumnya kemudian berlalu.


Harsya menyeret pelan kakinya menuju istrinya yang hanya diam seraya memainkan kedua telapak tangan.


"Saya minta maaf," Anaya menundukkan wajahnya, ia tak berani menatap suaminya.


"Maaf untuk apa?" Harsya mengangkat lembut dagu istrinya dan mengarahkan padanya.


"Seharusnya saya tidak hamil," jawab Anaya.


"Aku senang jika kau hamil," Harsya tersenyum lembut.


Anaya menggelengkan kepalanya.


"Kau tidak senang?" tanyanya.


"Saya senang akan memiliki bayi, tetapi...."


"Kau takut aku meninggalkanmu?" Harsya menatap istrinya.


Anaya mengangguk.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu," janji Harsya.


Anaya kembali diam.


"Kau ingin makan apa?" tanya Harsya.


"Saya tidak lapar."


"Makanlah sedikit, aku akan menyuapkanmu!" Harsya menatap lembut.


Anaya pun mengiyakan.


Tak menunggu lama, seorang pelayan datang mengantarkan makanan. Perlahan tangan Harsya menyuapi istrinya.

__ADS_1


Anaya membuka mulutnya, baru satu suapan ia mual. Anaya bergegas turun dan berlari ke kamar mandi.


Anaya kembali ke kamar, ia naik ke ranjang dan berbaring. "Saya tidak ingin makan lagi," berkata tanpa menatap.


Harsya mengiyakan, ia lalu beranjak keluar dan menemui Rissa.


"Apa dia mau makan?"


"Tidak, dia semakin lemas saja. Apakah ada obat khusus untuknya?"


"Ada, tapi aku tidak membawanya. Kau bisa membelinya, jika tubuhnya semakin lemah kita harus membawanya ke rumah sakit."


-


Seharian Anaya hanya berbaring di ranjang, beberapa kali ia harus berlari ke kamar mandi untuk membuang isi perutnya. Wajahnya juga semakin pucat.


Harsya meletakkan segelas jus jeruk di nakas dan beberapa potong buah seperti apel merah pir hijau, bengkoang dan semangka di dalam satu piring.


"Besok pagi kita akan ke rumah sakit untuk memeriksa berapa usia kandunganmu," ucap Harsya.


Anaya mengangguk.


"Makanlah sedikit!" Harsya menusuk potongan buah apel dengan garpu lalu di arahkan ke mulut istrinya.


"Saya tidak mau makan apapun," tolaknya.


"Jika kau tidak mau makan sedikitpun, tubuhmu akan semakin lemas. Kasihan calon bayiku," ujar Harsya.


Anaya lalu bangkit dan duduk, "Saya lupa jika ini calon anak kamu."


Harsya sadar jika ucapannya itu salah, "Maaf!"


"Biar saya makan sendiri!" Anaya meraih piring dari pegangan suaminya. Ia pun memaksa memakannya.


Anaya tertegun dengan sikap lembut suaminya.


-


Dikediaman Abraham Syahbana..


Madya kelihatan cemas ketika mendapatkan kabar dari putranya jika Anaya hamil.


Elia yang baru saja tiba di ruang makan, melihat sikap ibunya seperti sedang memikirkan sesuatu, "Kenapa, Bu?"


"Kakakmu tadi menelepon Ibu, dia mengatakan jika istrinya lagi hamil," jawab Madya.


"Apa? Kak Ana hamil? Asyik aku punya keponakan!" Elia tersenyum bahagia.


"Ibu tak suka jika dia hamil," jawab Madya lagi.


"Kenapa, Bu?"


"Wanita itu tak sebanding dengan kita. Bagaimana mungkin dia bisa melahirkan keturunan Syahbana," ungkap Madya.


"Bu, Kak Harsya mencintai Kak Ana biarkan mereka bahagia. Lagian juga itu memang sudah keputusan mereka bersama, makanya Kak Ana hamil."


"Kamu anak kecil tahu apa tentang rumah tangga, Harsya tidak pantas dengan dia. Ibu berencana ingin mengenalkan kakakmu pada seseorang."


"Ibu tak boleh melakukannya, itu hanya membuat Kak Ana terluka."


"Biarkan saja," ucap Madya.


"Bagaimana jika itu terjadi padaku, Bu?"

__ADS_1


Madya terdiam.


"Hukum balasan itu ada, Bu. Begitu sih' kata-kata orang," ujar Elia.


****


Keesokan paginya....


Selesai sarapan, Anaya dan suaminya pergi ke rumah sakit. Keduanya di temani Rissa.


Begitu sampai, Anaya di dudukkan di kursi roda karena tubuhnya sangat lemas tak mampu berjalan.


Tak menunggu, Harsya dan Anaya masuk ke ruang dokter spesialis kandungan.


Anaya berbaring di ranjang dan dokter memeriksa kondisi calon bayi.


Dokter menjelaskan hasil pemeriksaan tak lupa ia menunjukkan layar monitor yang memperlihatkan perkembangan embrio yang kini berusia 6 minggu.


"Selama kehamilan, saya harap Nona Anaya tidak stress karena itu akan mempengaruhi calon buah hati kalian. Pastikan Nona Anaya tetap tenang dan harus happy," jelas Dokter.


Harsya yang kejam mendengarkan semua penjelasan sang dokter.


"Jangan lupa tetap makan, Nona!"


"Iya, Dok." Anaya mencoba tersenyum meskipun tubuhnya begitu lemas.


-


Selesai berkonsultasi dengan dokter, Harsya memutuskan pulang ke rumah utama karena lebih dekat dari rumah sakit. Jika harus ke rumah yang kedua, ia takut istrinya akan merasa lelah.


Begitu tiba di rumah Harsya, Rissa yang mendorong kursi roda lantas setengah berdiri, mendekati wajah Anaya dan berbisik, "Ini waktunya kamu balas dendam!"


Anaya mendongakkan wajahnya menatap Rissa yang telah berdiri tegak sempurna lalu mengangguk pelan.


Rissa mendorong kursi ke kamar Anaya yang pindah ke lantai bawah karena tak memungkinkan wanita itu harus naik turun menggunakan tangga.


Rissa masuk ke kamar, gegas ia mengunci pintu. Karena tadi ia membujuk Harsya agar semua urusan Anaya dirinya yang mengatur, setelah dari rumah sakit Harsya pergi ke kantornya.


Rissa mendorong kursi roda ke ranjang dan membantu Anaya berdiri.


Anaya merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Jadikan kehamilanmu untuk membuat Harsya tunduk padamu!"


"Bagaimana caranya, Kak?"


"Ya, kamu bersikap manja atau apalah. Dan kamu bilang sangat sakit hati ketika Harsya melarangmu memakai barang-barang mantan kekasihnya. Jadi, sekarang waktunya kamu gunakan saja barang-barang itu!"


"Bagaimana kalau dia marah dan membenciku?"


"Aku akan datang membelamu."


"Tubuhku masih lemas, belum mampu untuk marah-marah," Anaya tertawa nyengir.


"Dokter tadi sudah memberikan obat anti mual dan obat penambah selera makan. Kemungkinan beberapa hari lagi tubuhmu akan kembali fit meskipun tidak seperti hari-hari biasanya karena ada calon bayi kalian di perutmu."


"Iya, Kak. Aku akan menjalankan rencana kita, jika dia memang masih mencintai mantan kekasihnya itu untuk apa menikahiku."


"Dan juga menghamilimu!" sambung Rissa. "Sekarang aku akan meminta pelayan untuk membuatkan sop ayam dan buah potong. Tunggulah sebentar di sini!" lanjutnya.


"Iya, Kak."


Rissa pun lantas keluar kamar dan berjalan ke arah dapur.

__ADS_1


__ADS_2