
Henzie dan Aditya memulai pemanasan dengan melakukan latih tanding, mereka berdua menggunakan ilmu bela diri silat cukup baik hingga Aditya sempat kaget ketika melihat wanita seperti diri-nya memiliki tenaga yang sangat besar, Aditya sempat terdorong ke belakang dan mengenai pohon yang ada dibelakang-nya.
"Ilmu bela diri hebat juga, kau dapat mempelajari silat dengan baik... Sepertinya kita mulai dengan meningkatkan ilmu bela diri-mu terlebih dahulu, Aditya. Kau pasti mengetahui tentang teknik dasar pencak silat 'kan?"
"Tentu saja---" Aditya melebarkan mata-nya ketika melihat Henzie bergerak secepat angin menuju arah diri-nya lalu ia mengangkat tubuh-nya, ia menggunakan teknik guntingan, teknik ini dilakukan dengan cara tendangan dan jepitan seperti menggunting bagian tubuh lawan yang bertujuan untuk menjatuhkan sekaligus menguncinya.
"O-Oi...! A-Apa yang kau lakukan...?!" Aditya merasa sesak di bagian dada-nya ketika Henzie menjatuhkan diri-nya, "Fisik-mu masih belum cukup, ternyata kau masih belum begitu mengerti dalam memperkuat fisik-mu menggunakan Mana."
Henzie berhenti mengunci tubuh-nya lalu ia membantu Aditya untuk berdiri sambil memulihkan beberapa tulang-nya yang retak berkat teknik tadi, Aditya merasa kecewa terhadap diri-nya sendiri... Dia masih jauh dari kata kuat, melawan seorang wanita saja ia bisa merasakan kesakitan sehebat itu sampai tulang-nya retak.
Aditya melompat ke belakang ketika merasakan hawa yang mematikan di dalam tubuh Henzie, Henzie sendiri terkekeh pelan karena Aditya sekarang dapat merasakan pergerakan musuh yang belum dilakukan, awal-nya Henzie berniat untuk menggunakan teknik kuncian kepada Aditya tetapi ia segera menyadari-nya berkat bantuan dari Mana yang meningkatkan indra-nya.
Henzie bergerak secepat angin hingga kedua mata Aditya ia alirkan Mana untuk bisa melihat pergerakan yang mulai melambat, Aditya menangkis semua serangan-nya dengan mudah hingga ia menendang perut-nya dan mampu mendorong Henzie mundur. Kedua lengan dan kaki-nya ia alirkan Mana agar daya serangan bertambah kuat.
"Aditya, apa yang harus ketahui tentang Mana dapat meningkatkan fisik-mu itu penting... Bayangkan saja tubuh-mu itu seperti air yang mengalir, aliran itu dapat meningkatkan fisik-mu bahkan... Jika tingkatan Mana berada di tingkat yang sangat tinggi maka kau bisa mendapatkan ilmu kebal karena kau murni Indonesia 'kan?" Henzie terkekeh.
Aditya memejamkan kedua mata-nya, tubuh-nya dipenuhi dengan aliran Mana yang meningkatkan fisik-nya... Henzie bisa membaca pikiran Aditya dan saat ini dia berpikir cukup tenang, tidak ada beban yang menghalangi-nya... Mungkin saja dia cepat tenang karena dia ingin segera bertambah kuat untuk bisa melindungi tanah air ini.
Mana Aditya mulai terkuras dengan cepat dan Henzie bisa menyadari-nya, dia masih belum bisa menggunakan kemampuan Mana yang dapat mengalirkan seluruh makhluk hidup termasuk tumbuhan untuk memberi diri-nya sendiri sumber Mana, jika dia dapat menggunakan kemampuan itu maka dia tidak perlu khawatir lagi tentang kehabisan Mana.
__ADS_1
"Kalau begitu, mari kita coba latih tanding lagi, Aditya!" Henzie memasang kuda-kudanya, "Apakah kau sudah mengerti cara untuk meningkatkan kecepatan-mu menggunakan Mana...? Mana yang sudah kau alirkan di seluruh tubuh dapat menciptakan sebuah faktor lain-nya untuk meningkatkan kecepatan, kekuatan, pertahanan, dan kegesitan."
"Kita mulai dengan pelan-pelan dulu, Aditya. Mari kita bangkitkan kemampuan Mana yang belum kau ketahui... [Mana Burst I], hanya kemampuan itu yang dapat kita gunakan dengan normal... Kau dapat menggunakan kemampuan Mana tersebut untuk meningkatkan apapun yang kau mau tetapi dengan satu syarat." Henzie mengangkat jari-nya.
"Jangan sekali-sekali kau mencoba untuk menggunakan-nya terlalu berlebihan, apalagi jika kau menggunakan-nya sebanyak dua kali maka tubuh-mu akan hancur atau Mana yang ada di dalam diri-nya kau paksa keluar dari tubuh-mu hingga menyebabkan tubuh-mu dipenuhi lubang yang akan mengalirkan banyak sekali darah."
"Aku mengerti... Mana Burst I!" Tubuh Aditya dipenuhi dengan garis Mana yang bersinar selama beberapa detik lalu semua garis itu menghilang hingga tubuh Aditya terasa ringan sekarang, dengan ini... Ia sudah meningkatkan kecepatan yang sama dengan Henzie.
Tubuh mereka terasa ringan hingga kecepatan mereka sekarang menyamai kecepatan angin, mereka saling bertarung menggunakan ilmu bela diri silat... Tidak ada satupun dari mereka yang mampu menggunakan teknik mengunci dan juga guntingan karena mereka dapat menghindari cukup baik.
Henzie bisa melihat proses perkembangan Aditya yang cukup baik, dia benar-benar terlihat seperti seorang pemula dalam menggunakan kemampuan Mana tetapi berkat diri-nya yang sudah memiliki pengalaman tentang bertarung... Dia belajar dengan cepat tanpa harus bersikap keras kepala, Aditya sudah dapat mempelajari semua-nya dengan cepat.
"... ...!" Henzie melebarkan mata-nya ketika ia mencoba untuk melayangkan beberapa pukulan yang sudah dilapisi dengan Mana, semua pukulan itu tidak mampu melukai Aditya karena ia sekarang dapat menggunakan kemampuan Mana untuk meningkatkan fisik dan pertahanan-nya sampai ia membuka ilmu kekebalan.
"Hahhhh!!! Teknik Kuncian Pertama!!!" Aditya menargetkan bagian lengan atas Henzie. Ketika Henzie mengarahkan dari depan, maka Aditya langsung menghindarinya dengan menangkap lengan bagian atas lawan kemudian menguncinya sehingga ia tidak dapat bergerak.
"Aku menyerah... Seperti-nya kau dapat menggunakan teknik kuncian itu... Kau belajar dengan cepat, Aditya..." Henzie tersenyum kecil, Aditya melepasnya lalu membantu-nya berdiri.
Mereka beristirahat di bawah pohon sambil menikmati makan siang yang dimasak oleh Henzie, ia memberikan-nya kepada Aditya lalu ia segera memakan-nya sampai makanan itu terasa sangat lezat dan membuat Henzie tersenyum hingga tersipu sebentar. Dengan pencak silat yang ia pelajari berkat pengalaman, ia dapat menghentikan lawan sesama bangsa dengan teknik kuncian saja.
__ADS_1
"Aku penasaran, Aditya. Kau tadi terlihat seperti seorang pemula ketika menggunakan ilmu bela diri silat, tetapi sekarang... Kau cukup mahir juga, apakah itu juga bisa disebut sebagai kemampuan Mana?" Tanya Henzie.
"Bisa saja sih... Yahhh... Waktu itu, ketika aku mencoba untuk melawan penjajah, oh... aku harap kau tidak tersinggung ya..." Aditya baru saja ingat bahwa penjajah itu adalah Belanda dan Henzie sendiri itu wanita yang bisa disebut sebagai keturunan Belanda, "Santai saja, yang lalu biarlah berlalu."
"Waktu itu... Sebelum aku maju ke medan perang, seorang gadis misterius datang berhadapan dengan-ku... Ia menyentuh kepala-ku hingga pikiran-ku terasa ringan... pikiranku sekarang dapat mengingat apapun serta mempelajari sesuatu yang baru, intinya aku dapat belajar dengan cepat dan juga beradaptasi cukup cepat... Kesalahan yang aku buat juga, semoga saja aku dapat memperbaiki-nya." Aditya tersenyum kecil.
"Hebat juga ya... Mungkin saja Dewi memberkati dirimu dengan sebuah kemampuan yang dapat membantu-mu mempelajari sesuatu dengan cepat."
"Walaupun aku diberkati hal seperti itu... Pengalaman-ku lebih membantu, sekarang aku sudah mengerti cara untuk menggunakan Mana ini. Dapat meningkat fisik dan hal-hal lainnya... Aku merasa penasaran, bagaimana kau bisa membaca pikiran diri-ku dengan Mana itu?" Tanya Aditya.
"Dengan mengalirkan Mana-mu kepada kedua mata-mu ini, kau juga dapat melihat kebohongan seseorang dengan aliran itu, butuh proses dan latihan... Intinya kau harus bisa menyempurnakan Mana tingkat-mu yang rendah, lebih baik kita belajar tentang kemampuan Mana yang dapat menyerap sumber Mana dari makhluk hidup." Henzie memberi Aditya segelas air dan Aditya langsung meminum-nya.
"Baiklah, Aditya. Waktu istirahat sudah habis, kita lanjutkan lagi dengan melatih kemampuan Mana agar kau bisa mengumpulkan sumber Mana di sekitar-mu." Henzie mundur beberapa langkah lalu ia melompat hingga mendarat di atas pohon yang cukup besar.
"Kali ini kita akan bertarung di atas pohon, bukan hanya bertarung saja... Kita juga akan mencoba untuk bersatu dengan alam agar alam dapat mengetahui keberadaan kita kemanapun kita pergi, jika kita sudah bersatu dengan alam maka alam akan memberi kita sumber Mana sedikit demi sedikit. Bukan-nya itu cukup membantu?"
"Tentu saja, baiklah. Latihlah aku lagi, Henzie. Masih banyak lagi yang harus aku pelajari tentang sumber Mana ini!" Aditya melompat ke atas lalu ia mendarat di atas pohon sambil menatap Henzie dengan ekspresi serius.
"Mari kita mulai latihan selanjutnya...!"
__ADS_1