Pride of Indonesia

Pride of Indonesia
POI 51 - Kisah Sejak Itu


__ADS_3

Aditya's POV


Sosok ibu begitu kuat mempengaruhi pembentukan sikap masa kanak-kanaknya, Satria dan teman dekatku yaitu seorang Presiden Indonesia pertama mengatakan hal itu berkali-kali kepada diriku tetapi semua yang mereka katakan itu cukup bertentangan dengan apa yang aku lihat karena Ibuku selalu saja memperlakukan diriku dengan buruk.


"...Aku tidak punya apa-apa di dunia ini selain ibuku, aku melekat kepadanya karena ia adalah satu-satunya sumber pelepas kepuasan hatiku," itu yang dikatakan oleh dekatku, kata-katanya sungguh menyentuh hati siapapun bahkan diriku yang tidak memiliki tujuan apapun kecuali berjuang.


Sebagai anak yang hidup di kota kecil seperti Blitar, hiburan satu-satunya baginya adalah dongeng sang ibu tentang kepahlawanan leluhurnya melawan penjajahan Belanda, Satria juga sama tetapi dia lebih menyukai ibunya karena terlalu lembut bahkan bisa dijadikan sebagai sumber penyemangat untuk dirinya sendiri.


"Ibu selalu menceritakan kisah-kisah kepahlawanan. Kalau ibu sudah mulai bercerita, aku lalu duduk di dekat kakinya dan dengan haus meneguk kisah-kisah yang menarik tentang pejuang-pejuang kemerdekaan dalam keluarga kami," katanya, Satria dan teman dekatku selalu saja mengatakan hal yang sama kepadaku.


Aku juga ingin merasakan itu, kisah yang selalu diceritakan oleh seorang ibu tetapi ibuku tidak begitu mengetahuinya dan Ayahku sendiri tidak pernah pulang, hanya Satria dan teman dekatku saja yang mau menceritakan tentang kisah kepahlawanan yang terjadi sejak dulu sekali, mereka benar-benar teman berharga untuk diriku.


Aku dan Satria mendapatkan ilmu pengetahuan yang begitu luas dari Ayah teman baik kita yang begitu hebat, ayahnya adalah guru yang keras yang selalu mengajari kami membaca dan menulis tanpa kenal lelah walau berjam-jam lamanya. Kita terus menghafal apa yang disebutkan oleh beliau, jasanya sebagai guru memang hebat sampai kami selalu datang untuk belajar.


Tak kalah menariknya adalah cara teman dekatku merefleksikan siapa dirinya sebagai seorang anak bangsawan yang terpanggil untuk memimpin rakyatnya, termasuk dengan Satria yang diangkat sebagai jenderal yang memimpin seluruh pasukan Indonesia untuk mengajak mereka menuju puncak kemenangan.


"Ibuku, asalnya dari keturunan bangsawan. Bapak asalnya dari keturunan Sultan Kediri... merupakan suatu kebetulan atau pun suatu takdir padaku bahwa aku dilahirkan dalam lingkungan kelas yang berkuasa...pengabdianku untuk kemerdekaan rakyatku bukan suatu keputusan yang tiba-tiba. Aku mewarisinya," ujar temanku.


Entah kenapa aku dan Satria tidak pernah bosan mendengarnya, beliau memberikan banyak inspirasi untuk kami berdua. Mereka adalah cahaya penerang kehidupan untukku, aku ingin bisa berjuang dan menjadi sesosok laki-laki yang hebat dan bermakna seperti mereka walaupun tidak memiliki orang tua yang pantas.


Seperti biasanya hari ini di akhiri dengan penutup cerita yaitu matahari terbenam, Satria dan teman dekatku segera pergi meninggalkan diriku yang hanya bisa berdiri tegak di tengah lapangan dan senyuman pahit yang sudah terpasang.


Satria bisa menyadari diriku yang kesepian, ia sempat melihatnya bahkan teman dekatku menyuruh dirinya untuk datang dan menyemangati diriku yang tidak ingin pulang dan bertemu dengan kedua orang tuaku. Satria mulai memukul bahu kananku, mencoba untuk menyemangati diriku seperti biasanya.


"Oi, Aditya, kenapa diam saja disini? Tidak mau pulang ya...? Seperti biasanya, kita akan menghabiskan waktu bersama dengan membuat bambu runcing!" Ujar Satria, mencoba untuk menyemangati diriku dan aku hanya bisa mengangguk lalu mengikuti dirinya yang mengambil dua bambu yang cukup panjang.

__ADS_1


Ia mulai memotong bambu bagian atas untuk menciptakan sebuah senjata hebat yang digunakan oleh seluruh pejuang ketika melawan penjajah, aku juga tidak menyangka ia menyimpan sebuah pisau di dalam sakunya itu, mungkin untuk berjaga-jaga ketika melihat seseorang yang jahat.


"Apakah kau tahu, Aditya? Semua pejuang menggunakan senjata ini sebagai alat untuk bertahan, senjata yang cukup mematikan bahkan satu tusukan sudah mampu untuk membunuh musuh." kata Satria, ia terus memotong bambu itu dengan rapi agar bisa mendapatkan bambu runcing yang terlihat keren.


"Ada banyak cerita yang mesti kita tuliskan, untuk sekedar dikenang, atau untuk disobek dan dilupakan. Kita lahir di dunia ini untuk melakukan suatu hal yang terbaik agar bisa terus berjuang..."


"Perjuangan akan semakin berat manakala kita mulai mengeluh dan mulai membandingkannya dengan beban orang lain yang terlihat lebih ringan," Satria terus mengatakan perkataan yang bermakna sampai aku terus mendalaminya satu-satu, dia adalah sahabat yang hebat dan mau menerimaku.


Masa kecil kami cukup hebat dan penuh rasa keberanian untuk bisa menggunakan bambu runcing ini sebagai permainan untuk memperkuat keberanian kita nanti, kita juga sebagai anak yang sudah berumur 6 tahun harus memiliki keberanian tinggi untuk terjun di medan perang dan berperang.


Kami selalu bermain malam-malam, dengan membunuh beberapa hewan liar dengan bambu runcing itu bahkan Satria lah yang terus mengajarkan diriku bagaimana cara menjadi seorang pejuang yang hebat. Intinya aku mendapatkan banyak pelajaran penting dari Satria dan teman dekatku itu.


"Aditya."


"Apakah kau tidak ingin pulang? Kau selalu saja menantang orang tuamu itu, kau bisa mendapatkan luka yang jauh lebih parah lagi..."


"Tidak apa... aku ingin tetap di hutan ini, jika kau ingin pulang maka aku tidak akan melarangnya. Aku merasa aman di tempat ini, semua rasa negatif yang diberikan mereka kepadaku... seolah-olah menghilang begitu saja."


Aku mengatakan itu dengan ekspresi datar, Satria dan teman dekatku sepertinya menyadari sebuah perubahan tentang diriku yang jarang sekali tersenyum untuk menunjukkan perasaan, semua yang aku rasakan tentang rasa positif itu sudah berubah menjadi rasa negatif karena Ayah dan Ibuku.


Mereka menginginkan diriku menjadi seorang pejuang yang sangat hebat bahkan bisa mengalahkan seluruh penjajah yang mencoba untuk menyerang, semua yang mereka inginkan itu terkandung rasa paksa di dalamnya bahkan aku tidak bisa mengikuti apa yang mereka mau karena dulunya, aku hanya sekedar laki-laki yang tinggal di keluarga kecil.


Sampai sekarang aku hanya menginginkan hidup yang tenang dan damai tetapi orang tuaku memaksa diriku untuk melatih tubuh dan mental agar bisa terjun langsung menuju medan perang, Ayahku benar-benar gila dan serius soal ini sampai aku terus diberi pelatihan dan pelajaran penyiksaan yang berjalan selama berjam-jam bahkan seharian saja bisa.


Ketika aku gagal dan tidak bisa melakukannya, mereka akan memberi diriku hukuman yang begitu keras seperti menghantam tubuhku, sampai sekarang tubuh ini dipenuhi dengan bekas luka orang tuaku tetapi aku tidak bisa menangis karena sejak kecil, aku memang diperlakukan seperti itu.

__ADS_1


Tidak ada yang bisa membantu bahkan seluruh anak-anak menganggap diriku orang miskin yang tidak berguna, seorang laki-laki yang akan mati di pertempuran dengan mudah karena tidak memiliki bakat atau sesuatu yang menonjol di dalam dirinya. Hanya Satria dan teman dekatku yang menerima diriku apa adanya.


"Aditya? Kau dengar?"


"Ahh... Maaf, sepertinya aku melamun sebentar tadi..."


"Lagi-lagi kau memikirkan sesuatu yang tidak-tidak, seharusnya kau pikirkan sesuatu yang dapat membuat hatimu merasa bersinar. Contohnya seperti rasa semangat yang besar untuk mengalahkan seluruh penjajah itu..."


"Aku sedang mencoba... hanya saja, aku pasti tidak bisa berada di titik ini tanpa kalian yang sudah mau berteman denganku." ucapku pelan sambil menatap bambu runcing yang dipenuhi dengan darah karena sudah menusuk beberapa hewan liar yang begitu besar.


"Tidak juga, kau sendiri yang membawa dirimu menuju titik yang kau maksud itu, aku disini hanya membantu dirimu untuk berkembang... bertambah semangat untuk nanti agar kita bisa menulis sejarah, Aditya. Bisa dikenang sebagai seorang pahlawan itu hebat..." 


"Tidak pernah ada perang yang baik atau perdamaian yang buruk, Aditya... aku juga menginginkan kehidupan yang begitu enak dan damai tetapi aku sendiri sadar, justru dia yang membawa diriku menuju jawaban yang benar."


"Apapun yang terjadi, tetaplah hidup karena semua ini adalah contoh... kehidupan yang kita miliki itu cukup berharga, kita dapat melihat dunia yang begitu indah walaupun perang sedang terjadi dimana-mana. Besok adalah hari yang baru, hari ini bisa dijadikan kenangan yang begitu indah..."


Perkataan Satria selalu memiliki banyak makan dan arti, mataku sampai terbuka ketika mendengar dirinya yang awalnya selalu mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku mengerti tetapi sekarang aku dapat mengetahui apa yang coba ia sampaikan. Bukan hanya itu saja tetapi dia adalah alasan kenapa diriku ingin menjadi seorang pejuang yang dapat mengakhiri perang.


"Tengah malam... sepertinya sudah memasuki hari yang baru, perkataan yang aku katakan sebelumnya bisa dijadikan kenangan. Sekarang, mari kita tidur. Pejuang juga membutuhkan istirahat tetapi dengan aman." Satria mulai berbaring di atas tanah dan menyelimuti tubuhnya dengan daun dan ranting.


"Tidur seperti ini... tidak akan ada satu pun orang atau hewan yang dapat mendeteksi kita, bau yang kita miliki bahkan sudah tercampur dengan tanah dan daun bau ini." Satria terkekeh.


"Kau ada benarnya juga... terima kasih karena sudah mau menemani diriku..."


"...Satria."

__ADS_1


__ADS_2