Pride of Indonesia

Pride of Indonesia
POI 39 - Pemulihan


__ADS_3

Wilhelm tercengang ketika melihat Mana Burst Aditya terlihat seperti senapan otomatis tetapi menembakkan peluru yang terbuat dari bambu runcing, semua bambu runcing itu bahkan melaju lebih cepat dari peluru apapun itu dan Aditya masih terus menembak-nya tanpa henti sehingga Wilhelm mencoba untuk menyuruh-nya berhenti karena ia terlalu berlebihan menggunakan Mana Burst-nya itu.


"Hah... hah... hah... kekuatan besar sekali, aku hampir tidak bisa mengendalikan-nya." Aditya dapat dengan mudah menghentikan Mana Burst-nya, ia mulai memegang erat lengan kiri-nya yang terasa sangat lemas.


"Potensi dari Mana Burst-mu itu cukup hebat sekali, kau terlihat seperti memegang senapan tetapi tidak karena bambu runcing itu muncul dengan sendiri-nya. Pertahanan apapun itu, aku yakin tidak ada yang bisa menembus serangan bambu runcing yang terus menusuk secara bertubi-tubi." Kata Wilhelm, ia senang bisa membantu Aditya untuk menggunakan Mana Burst dan sekarang mereka hanya harus terus berlatih.


Beberapa menit kemudian, Wilhelm memilih untuk beristirahat dulu selama sepuluh menit untuk memulihkan Mana-nya dengan meminum air. Aditya yang dipenuhi dengan keringat mulai pergi meninggalkan Wilhelm untuk mengambil sapu tangan dan air minum yang ia tinggal di kamar-nya, ia melewati beberapa lorong dan melihat Andrian sedang berbicara bersama Putri dan Daisy.


Sepertinya Andrian mulai memberitahu mereka tentang persembunyian preman itu dan ia meminta bantuan kepada mereka karena Daisy dan Putri memiliki kemampuan Mana yang dapat memulihkan seseorang, Daisy juga bahkan dapat menciptakan obat dan makanan yang dapat memulihkan tubuh serta menambahkan efek menguntungkan ketika bertarung.


Aditya menghampiri kamar-nya dan ia tidak lupa untuk membuka kunci-nya karena Henzie masih tertidur di dalam kamar, ia bisa melihat Henzie yang masih tertidur dengan nyenyak. Aditya tersenyum tipis lalu ia mengambil botol minum-nya dan mulai meminum-nya sambil menatap Henzie yang dipenuhi dengan keringat... cuaca hari ini cukup panas sih dan ia memakai baju yang terlihat ketat.


Karena Aditya merasa bersalah melihat diri-nya berkeringat seperti itu, setelah ia menyelesaikan minum-nya ia menempatinya kembali di atas meja lalu menghampiri Henzie untuk menarik selimut-nya dan menatap tubuhnya, "Kenapa kamu memakai baju seperti ini di cuaca panas seperti ini sih...?" Aditya dengan polos-nya membuka kancing baju Henzie sehingga ia bisa melihat sesuatu yang berwarna hitam menghalangi dada-nya.


"Apakah ini yang aku rasakan dengan lengan-ku waktu itu...? Kelembutan dan keempukan?" Aditya mulai menyentuh dada Henzie, "L-Lembut sekali... sebenarnya apa ini?! Keindahan yang dimaksud oleh Satria...?" Aditya melihat Henzie dan ia tidak bangun, ia berpikir bahwa sesuatu yang menghalangi dada-nya itu adalah alasan yang membuat dirinya berkeringat seperti itu.


"Henzie, seharusnya kau tidak memakai baju ketat seperti ini... biar aku bantu..." Aditya menyentuh kedua dada-nya sehingga Henzie mengerang pelan, "Hah... hah..." Ia mulai bernafas berat entah kenapa, Aditya terlihat kebingungan karena ia mencari cara untuk membuka sesuatu yang menghalangi dada-nya itu, sepertinya ia harus membuka-nya dari depan... ia mulai menyentuh-nya tetapi seseorang mulai mengetuk pintu.


"Aditya, kamu di kamar?" Terdengar suara Daisy di, "Oh, Daisy... Tunggu sebentar."  Ketika Aditya menghampiri pintu, untungnya Henzie mengganti posisi tidur jadi dada-nya yang terbuka itu tidak terlihat dan beberapa sentuhan tadi tidak mampu untuk membangunkan-nya melainkan ia memimpikan Aditya.


"Aditya... kamu mesum..." Ucap Henzie pelan.

__ADS_1


Aditya membuka pintu kamar-nya lalu ia melihat Daisy yang sedang tersenyum, "Apakah Henzie sudah merasa baikan?" Tanya Daisy, ia menatap Henzie yang masih tertidur dari jarak yang jauh, ia tidak ingin menghampiri-nya lebih dekat karena itu hanya akan menghabiskan banyak waktu untuk diri-nya karena ia memiliki tugas penting bersama Putri.


"Dia dipenuhi dengan keringat tetapi dia terlihat baik-baik saja." Aditya mengangguk lalu ia mendekati Daisy dan mulai menutup pintu-nya, ia tidak lupa untuk mengunci-nya karena ia juga ingin melanjutkan latihan-nya bersama Wilhelm.


"Berlatih lagi?"


"Begitulah." Aditya meninggalkan Daisy tetapi ia memanggil-nya, "Aditya!"


Aditya berhenti lalu ia menoleh ke belakang dan menerima sebuah kecupan di kening-nya, "Hati-hati..." Daisy tersenyum lalu ia pergi meninggalkan Aditya terlebih dahulu dengan wajah yang merah, Aditya menyentuh pipi-nya lalu ia tersenyum karena kecupan itu seolah-olah membangkitkan semangat-nya dalam menjalankan tujuan-nya untuk menghancurkan semua hal yang merugikan tanah air tercinta-nya.


Daisy tiba di dapur dan ia melihat Putri yang sedang memotong beberapa sayuran, "Aditya?" Putri tersenyum ketika ia mendengar suara langkah kaki Daisy, ia langsung kaget dan menunjukkan ekspresi yang terlihat malu. Putri terkekeh lalu ia mengusap kepala-nya pelan-pelan, "Aku harap kalian bisa jadi tunangan secepat-nya ya tetapi ketika kalian sudah bertunangan, kalian harus memberitahu kami kapan kalian akan membuat keturunan."


"B-Bertunangan...? M-Membuat keturunan...? D-Dengan Aditya...?" Daisy menutup wajah-nya tetapi ia tersenyum karena ia merasa senang sekali bisa membagi Aditya dengan Henzie, itu artinya mereka berdua akan memiliki pria yang sama dan juga anak yang akan diberikan oleh Aditya suatu saat nanti ketika mereka melakukan bulan madu.


"Begitulah... sejak aku umur empat tahun, Henzie sudah menjadi penjaga-ku dan dia berumur delapan tahun. Awalnya kita berjanji untuk saling berjuang ketika mencoba untuk mendapatkan laki-laki yang kita cintai tetapi sepertinya aku terlalu bersikap seperti anak kecil karena ingin memiliki Aditya tetapi Henzie langsung mencari jalan yaitu poligami." Daisy tersenyum dan ia mulai memotong beberapa sayuran sampai menjadi bubuk-bubuk kecil.


"Wahhh... itu artinya kalian bersama-sama akan melaksanakan bulan madu...?"


"Hmm... seperti-nya begitu, membuat keturunan dengan Aditya... aku yakin anak kita pasti akan sehat dan kuat seperti ayah-nya." Daisy tersenyum.


"Wah-wah, Aditya cukup beruntung juga ya, ia dapat membuat kalian hamil jika saja Aditya menyadari cinta sejak awal maka dia sudah pasti akan bertunangan dengan-mu." Putri terkekeh dan itu membuat Daisy merasa sangat malu sehingga ia menutup wajah-nya, mereka terus berbicara sambil membuat sebuah makanan, obat-obatan, dan juga cemilan.

__ADS_1


Putri merasa penasaran dengan kemampuan Mana yang dimiliki oleh Daisy dimana ia kata-nya dapat menciptakan obat dengan hanya menyentuh sayuran yang sudah dipotong menjadi bubuk kecil, Daisy mulai menunjukkan cara-nya dengan mengalirkan Mana di tapak kanan-nya lalu ia menyentuh bubuk sayuran yang ada di hadapan-nya sehingga bubuk sayuran itu mulai membentuk tablet berwarna biru.


"Aku menggunakan Mana-ku untuk memberi efek sayuran yang sudah aku ubah menjadi bubuk itu memiliki efek penyembuhan luka, darah yang hilang, dan juga Mana. Tablet ini mungkin akan sangat menguntungkan untuk mereka semua ketika bertarung di candi prambanan itu." Kata Daisy, Putri sampai terkesan melihat kemampuan hebat-nya itu dan ia ingin sekali Daisy untuk mengajarkan diri-nya.


"Ajarkan aku, Daisy~ Dengan ganti-nya aku akan mengajarkan-mu cara untuk membuat air menjadi air yang dapat menyembuhkan luka dengan meminum dan menyiram-nya!" Kedua mata Daisy mulai berbinar-binar, ia mengangguk cepat sehingga Putri mulai menunjukkan cara-nya, ia mengambil botol yang berisi dengan air lalu ia meminta Daisy untuk memegang-nya.


"Air yang dapat menyembuhkan luka lebih efektif dibandingkan memakan tablet ya? Apalagi jika tablet dulu di minum terus ditambah air yang dapat memulihkan luka itu sungguh hebat ya!" Daisy tersenyum, Putri mengalirkan jari telunjuk-nya dengan Mana lalu ia memasukkan jari telunjuk itu ke depan air sehingga Daisy mulai terkesan melihat air di dalam botol itu mulai mengandung beberapa partikel biru.


"Apakah berhasil?!"


"Tentu saja." Putri mengambil botol air itu lalu menatap Daisy dengan senyuman, "Rasakan ini!" Putri mencoba untuk menyiram tubuh Daisy.


"Tidakkk!" Daisy awal-nya berpikir bahwa tubuhnya akan basah ketika terkena siram air itu tetapi ia tidak bisa merasakan apapun, ia membuka kedua mata-nya dan tercengang ketika melihat sebuah gelembung berukuran kecil yang melayang di hadapan-nya, "Air yang sudah aku alirkan Mana akan berubah menjadi gelembung... ketika gelembung itu diminum maka luka akan kembali pulih."


"Uwaaahhhhh... Hebat-hebat! Ajarkan aku, guru!" Daisy terlihat sangat senang dan itu membuat Putri tertawa karena sikap-nya terlihat seperti anak kecil, itu terlihat sangat imut sampai ia tidak bisa menahan diri untuk memeluk-nya sambil mengusap kepala-nya.


"Kamu imut sekali, Daisy..."


"Hehhhh..."


Mereka mulai saling mengajari kemampuan Mana mereka dalam memulihkan sebuah luka, Andrian masuk ke dalam ruangan itu dan ia bisa melihat mereka dengan akur saling memasak dan membicarakan tentang kehidupan, "Baiklah..."

__ADS_1


"...sudah saatnya untuk berlatih dan menghukum semua preman sialan itu."


__ADS_2