
Pukul 12 malam, markas militer Jenderal Wahyudi.
Seorang pria mulai menyimpan gerobak baksonya di tempat yang aman agar tidak ada warga yang mencurinya, ia baru saja mendapatkan sebuah undangan dari Jenderal Wahyudi yang memimpin militer Indonesia yang sangat kuat dan hebat karena seluruh pasukan yang ia latih benar-benar keras.
"Apa yang aku inginkan adalah kehidupan yang damai dengan menjual bakso enak ini tetapi... mereka malah merekrut diriku untuk melakukan sesuatu, sebenarnya apa yang mereka mau." Pedagang itu mulai membersihkan keringatnya dengan handuk putih yang ia simpan di sekitar lehernya.
"Wah, ada bakso nih. Mas, beli dua porsi, mas." Seorang tentara mulai menghampiri pedagang itu untuk memesan bakso.
"Ahh, siap, akan saya siapkan." Pedagang itu dengan cepat mempersiapkan dua porsi bakso untuk tentara itu, ia juga tidak menyangka tentara lainnya datang untuk menikmati bakso yang ia jual.
Wahyudi berjalan keluar dari ruang kerjanya dan melihat seluruh pasukannya saat ini sedang beristirahat dengan menikmati bakso dari seorang pedagang yang ia cari, karena merasa penasaran Wahyudi juga ikut memesan tetapi ia meminta waktu sebentar kepada pedagang itu untuk mengunjungi ruang kerjanya untuk membahas tentang sesuatu.
Wahyudi bersama seluruh pasukan tentaranya menikmati bakso itu, bakso yang dibuat dengan teliti sampai isinya dipenuhi dengan daging iga yang begitu lezat. Pedagang itu hanya bisa tersenyum ketika melihat mereka menikmati dagangannya.
Istirahat berakhir selama 10 menit, Wahyudi mulai mendekati gerobak bakso itu untuk mengambil sebuah pistol dan walkie talkie, pedagang itu terkejut ketika melihatnya bahkan ia tidak menyangka Jenderal seperti dirinya akan mengetahui tempat rahasia penyimpan dari pistol dan walkie talkie itu.
"Sepertinya pekerjaanmu ini bisa dibilang sampingan ya, melihat pistol dan walkie talkie ini sekarang saya yakin bahwa anda juga mengikuti operasi kepada rakyat kriminal. Ditambah lagi, gejala hujan yang terjadi satu minggu satu bulan itu mempengaruhi dirimu."
Wahyudi mulai memeriksa kedua benda itu untuk mencari sumber mana dan itu tidak bisa menemukan apapun, sepertinya pedagang itu memiliki kemampuan yang tersembunyi dan ia harus mengetahuinya karena Wahyudi sendiri mengetahui pedagang seperti dirinya dari salah satu tentara dan korban yang terkena penembakan itu.
"Saya masih tidak mengerti... kenapa anda bisa mengetahui saya memiliki ilmu hitam atau ilmu dalam semacamnya...? Sepertinya saya tidak dapat menjalankan operasi itu dengan benar ya, sampai bisa diketahui oleh Jenderal seperti dirimu."
"Anda tidak perlu merasa bersalah seperti itu, apa yang anda lakukan adalah pilihan yang tepat untuk mengurangi populasi Indonesia yang tidak berguna. Kita membutuhkan rakyat yang benar-benar hebat dan maju." Wahyudi mulai menepuk punggung pedagang itu beberapa kali, memberitahu dirinya untuk mengikutinya ke ruang kerja.
"Apa yang anda butuhkan adalah Mana... sumber Mana yang didapatkan bukan melalui keturunan atau benda melainkan gejala yang terjadi yaitu hujan, saya menyadari anda mendapatkan kemampuan Mana yang hebat." Wahyudi membuka pintu di hadapannya dan pedagang itu mulai tercengang ketika melihat ruangan yang begitu indah dan rapi.
"Tunggu... Mana...? Apa yang bapak maksud?"
"Mana adalah sumber energi yang terdapat di dalam tubuh kita, setiap Mana yang berada di dalam tubuh anda dapat membangkitkan kemampuan berbeda... berdasarkan karakteristik dan sikap seseorang atau kebiasaan juga bisa di bilang seperti itu." Wahyudi mulai menunjukkan kedua lengannya yang diselimuti dengan garis biru yang melambang Mana.
__ADS_1
"Ternyata itu namanya ya...? Saya kira itu semacam ilmu hitam atau dalam tetapi sesuatu yang berbeda, saya tidak mengerti bagaimana bisa mendapatkan sumber yang bernama Mana ini tetapi kemampuan yang saya miliki dapat digunakan... sudah lama sekali, sejak dulu."
"Saya senang ketika mendengarnya, itu artinya anda sudah siap untuk menjalani operasi penembakan misterius ini lebih jauh dan tinggi lagi, banyak sekali rakyat Indonesia yang memiliki kemampuan Mana terutama rakyat di luar negara."
"Sebelum itu, saya ingin mengetahui nama anda, pedagang bakso. Untuk berjaga-jaga, saya takutnya mendapatkan orang yang salah di mesin ketik itu." Wahyudi menatap pedagang tersebut.
"Nama saya Agus Herdiawan..."
"Ternyata saya benar selama ini, pak Agus Herdiawan si pedagang bakso yang memiliki kemampuan Mana hebat dan menguntungkan untuk operasi ini, jika anda terus melakukan operasi ini sampai menghabisi seluruh rakyat Indonesia yang tidak berguna maka kemajuan untuk negara ini, saya bisa melihatnya."
"Dengan seluruh kemampuan Mana yang dimiliki oleh kami rakyat Indonesia maka kemajuan sudah berada di hadapan kita, kita gunakan kemampuan ini untuk menggali masa depan lebih lanjut lagi. Operasi ini sepertinya akan terus berjalan sampai seluruh rakyat Indonesia tidak akan pernah melakukan kejahatan lagi."
Agus terlihat bingung ketika Wahyudi membicarakan seperti itu, ia juga bahkan tidak perlu menjelaskan tentang dirinya lebih lanjut lagi karena Wahyudi sejak awal mengetahui pedagang bakso Agus ini sudah diperintah oleh beberapa pelaku operasi itu untuk melakukan penembakan misterius kepada rakyat yang berbuat jahat dan negatif.
Agus melakukannya untuk uang, itu yang diketahui oleh Wahyudi sehingga merekrut dirinya itu sangat mudah, uang dapat mengubah siapapun untuk manusia bahkan mereka rela untuk mengorbankan apapun demi bertahan hidup mendapatkan sebuah uang.
"Itu benar, saya memiliki istri yang memiliki kemampuan Mana juga. Dia sangat hebat karena selalu membantu diriku di keadaan apapun karena mesin ketik ini..." Wahyudi mulai menepuk mesin ketik di hadapannya yang memancar cahaya biru, seorang gadis mulai mendekati Agus lalu memberi diri secangkir kopi.
"Silahkan dinikmati kopi hangatnya, pak Agus. Masih panas."
"Ehh... iya, terima kasih, bu."
"Dialah yang aku maksud tadi, istriku yang memiliki kemampuan Mana berguna untukku. Mesin ketik ini adalah kemampuan yang dimiliki oleh istriku, Lela, mesin ketik ini dapat mengetik informasi apapun... sesuai dengan kehendakkan dari pemiliknya yaitu Istriku."
"Mengetik informasi apapun...? I-Itu sungguh hebat, saya tidak menyangka semuanya itu nyata..." Agus terkejut ketika melihatnya karena ia bisa melihat lela yang mulai mengetik di mesin ketik lagi, kali ini sebuah kertas yang berisi informasi tentang kemampuan Mananya keluar.
"Cukup hebat bukan? Mesin ketik ini juga memiliki kelemahan, Istriku tidak dapat menggali informasi secara berlebihan atau terus menerus karena itu akan menguras tenaga dan sumber Mana yang berada di dalam tubuhnya, hasilnya kertas informasi yang keluar tidak akan bisa dibaca dengan mudah."
"Saya akan mencoba untuk menunjukkannya lagi kepada anda, bu, bisa cari informasi tentang saudara Agus?" Tanya Wahyudi.
__ADS_1
"Akan saya coba." Lela mulai mengetik di mesin ketik itu, Agus awalnya terkejut ketika Wahyudi mengetahui tentang dirinya yang memiliki saudara juga.
Lela terus mengetik di mesin ketik tersebut dengan tubuh yang memancarkan cahaya biru bahkan kedua iris matanya yang hitam seketika berubah menjadi biru mudah, menandakan dirinya yang melepaskan beberapa sumber Mana di dalam tubuhnya untuk di lepaskan ke dalam mesin ketik itu.
"Bisa anda lihat, istriku memiliki kemampuan Mana yang begitu menguntungkan dan merugikan untuk tubuhnya, ia tidak bisa melakukannya secara terus menerus tetapi aku sudah membatasi dirinya dengan jadwal yang berbeda..."
"...hanya perlu memikirkan nama seseorang, kedua tangan Lela seolah-olah bergerak sendiri dan mencoba untuk mengetik sesuatu di mesin tersebut, hasilnya akan memuaskan karena terdapat informasi penting yang tertera, hanya memakan waktu satu menit saja sudah cukup."
Mesin ketik itu mengeluarkan suara kecil dan Agus bisa melihat kertas yang keluarkan dari mesin ketik itu diselimuti dengan garis biru yang perlahan-lahan menghilang selama beberapa detik, Wahyudi mulai mengambilnya lalu meniupnya, ia tersenyum kecil karena Lela berhasil untuk mengetik informasi itu.
"Sepertinya berhasil... Saudaramu dari Ayah yang berbeda, juga seorang pedagang tetapi ia menjual sate yang cukup lezat. Jauh juga ya, dia menjual sate Madura di kota Madura." Wahyudi memberikan kertas itu kepada Agus dan ia langsung membacanya lalu tercengang ketika membaca seluruh informasi yang benar itu.
"Ti-Tidak mungkin... jadi ini... jadi kita selama ini hidup di dunia yang penuh dengan hal gaib dan mistik ya, saya tidak percaya... itu artinya anda merekrut saya untuk...?"
"Saya adalah Jenderal yang memimpin tentara militer Indonesia untuk bisa menjadi militer yang terbaik dan terkuat di seluruh negara, saya hanya menerima orang-orang yang memiliki bakat Mana sekarang terutama mental yang kuat seperti dirimu..." Wahyudi mulai mendekati Agus lalu menepuk punggungnya beberapa kali.
"Anda sudah menjalani operasi penembakan misterius beberapa kali, itu artinya... ikutlah bersama saya, saya menginginkan anda untuk memajukan Indonesia dengan kemampuan Mana hebat itu."
"Apakah kau akan menerimanya? Saya sudah menyediakan banyak uang yang mampu membuat bapak Agus ini menjadi kaya raya, istri anda bahkan kedua anak anda mungkin akan senang jika Bapaknya selalu pulang tepat waktu..."
Agus mendapatkan banyak jawaban yang ia inginkan selama ini, Wahyudi sendiri bahkan sudah membawa uang, ia tidak bisa menolak permintaan itu karena ia sendiri memiliki rasa percaya tinggi seperti seorang pedagang sukses, kemampuan Mana yang ia miliki dapat membawa dirinya menuju kekayaan besar.
"Dengan senang hati, saya terima demi uang agar saya bisa memiliki toko bakso dimana-mana bersama dengan cabangnya."
"Jawaban yang tepat..." Wahyudi mulai menusuk Agus dari belakang.
"Ugghhh...!!!"
"Aagggghhhhhhhhhhhhh!!!!"
__ADS_1