
Aditya mulai melakukan beberapa lompatan ke belakang untuk menghindari serangan Andrian yang melancarkan beberapa pukulan, setiap pukulan itu mampu menghancurkan daratan dan jika Aditya tidak menghindar maka tubuh-nya bisa saja hancur. Aditya mulai mengangkat lengan kanan-nya ke atas sehingga tiga bambu runcing yang berada di belakang Andrian mulai melayang lalu melesat menuju arah Andrian.
"Aku tidak mempercayai-nya dengan mata-ku sendiri bahwa terdapat kemampuan Mana seperti itu, bukannya semua itu terlalu berlebihan? Dia dapat memanggil makhluk mitologi yang bernama Garuda juga menggunakan kekuatan itu." Henzie mulai menatap pelayan itu yang terlihat terkesan karena kemampuan Andrian terus bertambah kuat.
"Setiap pengguna Mana dari berbagai negara dan kota memiliki kemampuan Mana yang berbeda, semua-nya adil dan tidak berlebihan jika kau terus melatih sumber Mana-mu dan juga kemampuan-nya... Sultan sendiri pernah melakukan petualang yang cukup jauh dan panjang sehingga ia mendapatkan kekuatan Garuda dengan bertemu secara langsung dengan makhluk mitologi tersebut." Apa yang dikatakan oleh pelayan itu membuat mereka semua tercengang, pertarungan ini berjalan cukup berat sebelah.
"Jika terus begini maka Aditya akan kalah..." Kata Satria, ia ingin sekali membantu diri-nya tetapi Aditya sebelum-nya melarang dirinya untuk ikut campur dalam latih tanding seperti ini karena ia mengumpulkan banyak pengalaman.
Henzie menyilangkan kedua lengan-nya lalu tersenyum serius, "Aku percaya kepada Aditya pasti dia memiliki rencana... sebagai sahabat-nya, kau tidak harus mengkhawatirkan-nya seperti itu karena dia lebih berpengalaman dalam pertarungan." Satria terkejut ketika melihat Henzie dan Daisy tersenyum penuh dengan harapan kepada Aditya.
"Apa yang mereka katakan benar... bahkan ketika Aditya terluka melawan seorang polisi yang memiliki kemampuan Mana hebat, dia dapat bertahan dengan menggunakan kecerdasan-nya sendiri." Kata Wilhelm.
Andrian mulai mendekati Aditya dengan kecepatan yang ia tingkatkan dengan Mana, Aditya mencoba sekuat mungkin untuk tidak melarikan diri karena latihan ini tidak akan pernah selesai jika ia terus melarikan diri dan bertahan, Aditya mulai menciptakan dua bambu runcing di kedua tangan-nya setelah itu ia mencoba untuk menghantam-nya tetapi Andrian berhasil menahan-nya dengan sebuah pedang yang ia munculkan.
"A-Apa...? P-Pedang...?!" Aditya terkejut ketika melihat Andrian menahan serangan-nya itu dengan sebuah pedang yang tajam, dengan sekali ayunan saja kedua bambu runcing Aditya langsung terbelah menjadi dua. Aditya melompat ke belakang lalu ia memunculkan senapan otomatis yang langsung ia tarik pelatuk-nya.
Andrian langsung melindungi diri-nya dengan sayap yang berada di belakang-nya, semua peluru yang sudah Aditya alirkan Mana bisa tertahan dengan mudah karena kedua sayap Andrian sudah ia alirkan dengan Mana yang cukup besar, "... ..." Aditya melebarkan kedua mata-nya ketika peluru selanjutnya yang ia tembak mulai berubah menjadi bambu runcing yang berukuran kecil seperti penggaris.
Sayap Andrian langsung tertusuk dengan semua bambu runcing kecil itu sehingga ia sontak kaget ketika melihat-nya, kekuatan yang dimiliki oleh bambu runcing itu bisa melampaui sebuah peluru yang sudah di alirkan Mana. Bambu runcing kecil lain-nya berhasil menghancurkan sayap Andrian sehingga ia melompat ke belakang lalu memunculkan kembali Garuda.
"Aditya itu tidak buruk juga, dia dapat mengubah peluru menjadi sebuah bambu runcing. Dia memiliki kemampuan Mana yang benar-benar pas untuk seorang rakyat Indonesia yang berasal dari era penjajahan." Pelayan itu sendiri terkesan melihat Aditya, ia sampai mengangguk beberapa kali.
"Aditya tidak mengubah peluru itu melainkan dia menciptakan sebuah bambu runcing kecil untuk melindungi semua peluru itu." Henzie mulai menjelaskan kemampuan Mana yang baru saja Aditya gunakan kepada mereka, "Apa yang kau maksud dengan menciptakan sebuah bambu runcing kecil untuk melindungi peluru itu?" Tanya Wilhelm.
__ADS_1
"Bambu adalah tanaman jenis rumput-rumputan dengan rongga dan ruas di batangnya, terdapat lubang yang lumayan besar di dalam-nya... yang aku maksud adalah peluru yang Aditya tembak menggunakan senapan otomatis-nya itu berada di dalam lubang bambu tersebut." Perkataan Henzie membuat mereka terkejut karena cara itu cukup efektif juga, itu artinya Aditya dapat menyimpan serangan lain-nya di dalam bambu runcing itu.
"Bambu runcing adalah senjata yang dapat melakukan penetrasi besar jika sudah dialirkan Mana yang cukup besar, bambu runcing itu ternyata cukup untuk melakukan penetrasi terhadap sayap Andrian yang cukup tebal dan dengan bantuan dari peluru Mana juga... Aditya berhasil menghancurkan sayap-nya itu." Satria sekarang mengerti sehingga ia mulai mengangguk dan terkesan dengan teman-nya sendiri.
Kecepatan serangan dari Garuda tidak dapat Aditya hindari sehingga ia mulai menciptakan bambu runcing untuk ia jadikan sebagai pelindung tetapi tidak bisa karena satu pukulan besar yang dilancarkan oleh Garuda itu mampu menghancurkan bambu runcing yang Aditya dan membuat-nya dirinya terdorong ke belakang sehingga beberapa serpihan bambu yang hancur itu meninggalkan luka gores di pipi dan tangan-nya.
Garuda dan Andrian mulai menyerang secara bersamaan, jika Aditya memberitahu diri-nya untuk tidak menahan diri maka Andrian akan langsung mengakhiri-nya. Aditya bisa melihat Garuda itu yang melompat menuju arah-nya tetapi Aditya menunjuk-nya dengan jari telunjuk dan tengah-nya sehingga bambu runcing yang besar keluar melalui tanah lalu melesat menuju arah Garuda tersebut.
Garuda itu tertusuk dengan bambu runcing yang besar itu, Andrian mulai tersenyum melihat Aditya itu adalah lawan yang cukup tangguh juga... dia sangat mahir dalam menggunakan kemampuan Mana bambu runcing-nya itu, Andrian berada tepat di hadapan Aditya yang baru saja bangun, ia langsung mengayunkan pedang-nya itu.
Aditya mundur beberapa langkah sampai ia harus melompat-lompat ke belakang untuk menjaga jarak, bukan hanya mahir dalam menggunakan bambu runcing tetapi dia juga mahir dalam melarikan diri sehingga Andrian mengalirkan kedua kaki dan lengan-nya dengan Mana lalu ia maju ke depan dan mengayunkan pedang-nya dengan kecepatan suara.
Serangan Andrian tiba-tiba luput begitu saja dan menghancurkan dua bambu runcing secara tiba-tiba, "Apa...?" Andrian terkejut ketika melihat dua bambu runcing itu muncul entah darimana tetapi ia bisa merasakan angin yang kencang di sebelah kanan dan kiri-nya.
"Ini yang aku harapkan dari seorang pejuang masa lalu, kau hebat juga, Raden." Andrian tersenyum sambil melancarkan beberapa serangan kepada Aditya, "Kau juga... aku sangat senang untuk bisa melihat pemuda hebat seperti kau, Sultan." Kedua dari mereka mulai saling menghormati sehingga latihan ini berjalan cukup lama juga, sumber Mana Aditya terkuras dengan cepat.
Andrian sengaja untuk tidak menyerang Aditya karena ia menunggu waktu yang tepat, Aditya melayangkan sebuah pukulan ke arah atas. Saat pukulan datang, Andrian segera menghindar ke arah samping. Ketika membelokkan badan, Andrian secara bersamaan menangkap lengan bagian atas Aditya lalu ia melakukan kuncian. Dengan begini, lawan tidak akan bisa bergerak lagi.
"... ...!" Aditya melebarkan mata-nya ketika dirinya tertangkap di teknik kuncian pencak silat oleh Andrian, ternyata dia juga mahir dalam melakukan seni bela diri seperti pencak silat sehingga Aditya tidak memiliki cara untuk melarikan diri, menggunakan bambu runcing-nya saja tidak bisa karena seekor Garuda berada tepat di hadapan-nya sambil menunjuk leher-nya dengan sebuah pedang.
"Sungguh memalukan untuk diri-ku yang kalah karena Kuncian ke satu dari pencak silat..." Aditya tidak merasa malu atau menyesal, ia malah tersenyum karena pertarungan tadi cukup menyenangkan juga. Aditya menyerah dan Andrian mulai melepas-nya sehingga seorang gadis mulai menghampiri Andrian lalu mengusap keringat dan membalut luka-nya.
"Putri... tidak perlu repot-repot." Andrian terkejut ketika seorang gadis menghampiri-nya hanya untuk membalut luka dan mengusap keringat-nya dengan sapu tangan, Aditya menatap gadis yang bernama Putri dengan ekspresi yang terlihat penasaran karena sepertinya ia mengenal Andrian, "Siapa...?"
__ADS_1
"Ahh, perkenalkan... dia adalah tunangan-ku, Putri Melani." Kata Andrian.
"Salam kenal, Aditya Loka 'kan?" Aditya terkejut ketika Putri mengenal diri-nya, "Bagaimana kau bisa mengenal diri-ku?"
"Sayang sekali, nama-mu sudah bisa diketahui oleh berbagai orang yang membaca berita tentang diri-mu itu, mulai dari sekarang kau hanya perlu bersantai bersama kami saja. Nikmati wisata yang terdapat di Yogyakarta dan berlindung disini, aku jamin kau pasti aman di kota ini." Apa yang dikatakan oleh Putri setidaknya dapat membuat Aditya tenang, apa ini artinya Andrian dan Aditya sudah menjadi teman?
"Mulai dari sekarang kau tinggal di Yogyakarta saja, Aditya... aku akan menyediakan-mu sebuah kamar yang sangat besar dan juga uang untuk berwisata di berbagai tempat." Penawaran Andrian membuat Aditya merasa bersalah, "Apakah kalian tidak keberatan?"
"Tentu saja tidak, kau sekarang adalah teman-ku, Aditya." Kata Andrian sehingga Aditya tersenyum kecil lalu berterima kasih kepada diri-nya, Daisy dan Henzie datang menghampiri Aditya untuk menyembuhkan luka-nya dan menghapus keringat-nya itu.
Andrian mulai menatap Daisy dan Henzie yang terlihat seperti pacar, tunangan, atau istri Aditya. Tidak diragukan lagi sih jika Aditya yang berasal dari era penjajahan memiliki pasangan lebih dari dua. Aditya mulai berbisik kepada Henzie karena ia merasa penasaran dengan suatu hal.
"Yang Andrian maksud soal tunangan itu apa...? Kalau tidak salah aku pernah mendengar-nya sekali ketika teman lama-ku ingin bertunangan dengan satu orang gadis." Bisik Aditya kepada Henzie sehingga wajah-nya mulai berubah menjadi merah.
"Penjelasan yang panjang... nanti saja ketika aku selesai mengusap keringat-mu ini..." Kata Henzie pelan.
"Apakah kalian berdua istri Aditya?" Tanya Putri sehingga mereka berdua langsung terkejut dan panik karena Putri tiba-tiba mengatakan hal itu di depan Aditya yang sama sekali tidak mengerti apa yang ia bicarakan.
"T-Tidak, kami hanya teman-nya kok... y-ya 'kan, Henzie?" Daisy terkekeh dengan canggung, "B-Benar sekali, nona...
Putri mulai tertawa pelan karena melihat dari ekspresi mereka, sepertinya mereka berdua memiliki perasaan cinta yang sama kepada Aditya, Diam-diam Satria menghampiri Andrian sehingga ia mulai membisiki-nya, "Sultan... bisakah kau menyediakan sebuah ruangan besar untuk Aditya bersama kedua gadis itu...? Tolonglah, jika kau melakukan-nya maka Aditya akan memiliki perkembangan tentang cinta."
"Ahh... siap." Andrian mengacungkan jempol-nya sehingga mereka berdua mulai tersenyum.
__ADS_1