
"Seorang Sultan 'kah...? Cukup menarik." Satria tersenyum dan senyuman itu langsung terbalik ketika Andrian baru saja memanggil nama Aditya secara tidak sopan, semua orang seharusnya memanggil diri-nya dengan sebutan Raden, "Entah apa itu diri-mu tetapi berani sekali kau memanggil nama Raden dengan nama-nya saja, kau seharusnya memulai-nya dengan yang pertama yaitu Raden!"
"Untuk apa aku memanggil diri-nya Raden di era seperti ini? Nama-nya saja sudah cukup... setidaknya aku tidak memanggil-nya dengan sebutan yang lain." Andrian mulai bangkit dari tahta-nya setelah itu ia mendekati Aditya karena ia sangat penasaran dengan seorang rakyat Indonesia yang lahir sejak era penjajahan Belanda dan lain-nya tetapi di era orde baru ini... sepertinya Aditya diperlakukan dengan sangat buruk.
"Kau hebat juga bisa selamat, kalau tidak salah tempat asal-mu itu Jakarta 'kan? Mengalami perjalanan selama delapan jam menuju Yogyakarta disaat kau sedang diburu itu cukup mengesankan." Andrian bisa melihat beberapa teman dari Aditya seperti berwaspada, mereka berpikir bahwa Andrian bisa saja berpihak dengan Wahyudi.
"Kalian di belakang, tenang saja... aku tidak memihak Jenderal yang sedang mencari Aditya bahkan aku sendiri tidak setuju dengan operasi Petrus itu."
Aditya terkejut ketika mendengar itu karena sejak awal ia terus membaca pikiran-nya, ia mengatakan semua-nya dengan jujur sehingga Aditya bisa mempercayai-nya untuk sekarang. Henzie hanya diam dan menatap Andrian dengan ekspresi yang biasa saja karena sejak awal dia sudah mengetahui diri-nya tidak akan memiliki kaitan apapun dengan Jenderal Wahyudi bersama tentara militer-nya.
"Berita itu bahkan bisa sampai Yogyakarta, sungguh mengerikan... jika semua orang membaca koran itu maka mereka akan mengingat wajah itu dan menganggap-mu sebagai buronan, Aditya." Kata Wilhelm.
"Sebagian dari rakyat Indonesia pasti akan melihat diri-nya sebagai orang yang beruntung karena bisa lolos dari Petrus, Wahyudi tidak memiliki keberanian tinggi untuk menyebar fitnah tentang Aditya karena Presiden RI sendiri pasti akan bertindak jika Wahyudi melakukan sesuatu yang licik." Henzie mengeluarkan sebuah koran yang dilipat di dalam saku-nya, ia mulai membaca koran itu kembali sehingga ia tercengang ketika membaca-nya kembali.
"A-Apa...?" Wilhelm menoleh kepada Henzie dan ia pasti merasakan sesuatu yang beres di dalam koran tersebut, "Ada apa?! Apakah kau menemukan sesuatu?!" Henzie mengangguk pelan lalu ia memberikan koran itu kepada Wilhelm sehingga mereka semua mulai membaca kembali berita tersebut dan menemukan sesuatu yang aneh.
"I-Ini...?" Satria sendiri bahkan tidak bisa berkata-kata ketika melihat-nya, "Terdapat tulisan biru yang memancarkan cahaya biru... apakah ini disebabkan oleh Mana?" Tanya Daisy.
"Benar sekali, jika kalian dengan teliti membaca berita tentang Aditya maka kalian akan menemukan sebuah tulisan kecil yang memiliki warna biru, hanya pengguna Mana saja yang bisa membaca-nya dan aku yakin kalian pasti bisa membaca-nya." Kata Andrian yang mulai mundur beberapa langkah untuk mengambil cangkir emas-nya.
Mereka semua mulai membaca tulisan biru, apa yang tertera dalam tulisan itu mampu membuat mereka terkejut dan kesal setelah selesai membaca-nya. Tulisan itu mengatakan bahwa Wahyudi menyewa seluruh pengguna Mana yang ada di Indonesia untuk mencari rakyat Indonesia yang bernama Aditya Loka... jika seseorang berhasil membawa-nya dengan selamat maka mereka akan mendapatkan hadiah uang rupiah yang cukup banyak.
__ADS_1
"Si sialan itu... kenapa dia harus berlebih-lebihan!? Belegug emang." Satria mulai emosi dengan diri-nya sendiri, selama ini Wahyudi cukup cerdik juga dalam merancang sebuah rencana sehingga mereka baru menyadari tulisan Mana itu sekarang.
"Jika saja aku lebih teliti dan lebih lama membaca-nya maka aku bisa melihat sesuatu yang aneh di dalam koran ini, sepertinya salah satu dari tentara militer memiliki kemampuan Mana untuk menulis pesan rahasia menggunakan Mana yang bernama [Mana Words]." Henzie mengepalkan kedua tinju-nya, Aditya hanya diam ketika membaca tulisan itu... hanya amarah dan kekesalan yang ia rasakan saat ini.
"Itu artinya berita ini... aku mengerti maksud dari berita tersebut, mereka sengaja memasang wajah Aditya disini agar para warga yang tidak memiliki pengguna Mana bisa melapor kepada tentara atau polisi yang memiliki kaitan dengan tentara militer Jenderal Wahyudi." Kata Wilheim, mulai dari sekarang Aditya harus mengganti penampilan-nya.
"Aditya... sudah saatnya untuk mengganti gaya sekarang juga, beberapa warga Indonesia bisa mengenal-mu dan kemungkinan besar mereka akan melaporkan-mu loh." Ketika Satria berbicara seperti itu, Aditya menggelengkan kepala-nya karena ia tidak mau mengganti penampilan-nya yang sudah cocok seperti ini, "Aku hanya perlu menggunakan masker, kacamata, topi, atau semacam-nya. Lebih mudah bukan? Mengganti penampilan itu terlalu merepotkan."
"Kalau begitu, Aditya, ingin coba melakukan latih tanding bersama-ku? Aku ingin melihat sampai mana perkembangan yang kau miliki tentang sumber Mana!" Andrian mulai mengajak Aditya untuk bertarung seperti latihan, Aditya menatap wajah-nya dan ia langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, "Untuk menambah pengalaman, aku harus menerima penawaran itu seperti-nya."
"Oi, Aditya! Apakah kau *****!? Dia itu seorang Sultan dan pengguna Mana seorang Sultan bisa saja lebih hebat dari kau sendiri!" Seru Satria.
"Jika dia seorang Sultan maka aku adalah seorang Raden dengan kemampuan Mana yang praktis." Jawab Aditya.
"B-Benar sekali..." Daisy tersenyum dan merasa senang ketika Aditya mengusap kepala-nya.
"Aku bisa merasakan rasa percaya diri dari seorang pejuang negara Indonesia, cukup hebat. Kalau begitu biarkan aku membawa-mu menuju tempat pelatihan." Andrian mulai berjalan pergi meninggalkan tempat-nya sehingga mereka semua mulai mengikuti-nya, tempat latihan yang dimaksud oleh diri-nya adalah sebuah lapangan luas yang sangat sepi dimana tidak ada satupun rakyat Indonesia yang akan berani masuk ke wilayah tersebut.
"Apa yang aku harapkan dari Sultan... dia memiliki segala-nya." Kata Satria sehingga seorang pelayan mulai membalas perkataan itu, "Segala yang kau maksud itu... kita juga memiliki banyak pelayan cantik"
"Weh, bener juga tuh. Aku penasaran juga dengan wanita Yogyakarta." Satria terkekeh.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Aditya dan Andrian sedang berdiri di tengah lapangan sedangkan yang lain-nya menonton dari jarak jauh karena Andrian menyarankan mereka semua untuk menjauh jika tidak maka salah satu dari mereka bisa saja melukai seseorang dengan tidak sengaja, "Apakah semua-nya aman? Bagaimana jika terdengar suara ledakan atau hantaman ketika pertarungan dimulai?" Tanya Wilhelm
"Tenang saja... aku menggunakan kemampuan Mana-ku untuk menciptakan sebuah pelindung yang dapat menyaring seluruh suara yang di buat di lapangan tersebut." Kata pelayan itu, mereka semua terkejut ketika pelayan tersebut memiliki kemampuan Mana yang lumayan menguras banyak Mana.
Aditya dan Andrian mulai menatap satu sama lain, "Aku tidak ingin kau menahan diri ketika melawan-ku, gunakan lah seluruh kemampuan Mana-ku dalam latihan ini!" Aditya mulai mengeluarkan senapan otomatis melalui Mana penyimpanan-nya, setelah itu ia memegang erat kedua senapan itu.
"Kalau begitu, jangan salahkan aku jika kau terluka, Aditya!" Seekor makhluk yang terlihat seperti burung keluar melalui punggung-nya lalu menyerang Aditya, Aditya langsung tercengang bahkan tubuh-nya merinding ketika melihat seekor makhluk aneh melesat menuju arah-nya.
"A-Apa itu...?!" Daisy terkejut ketika melihat ukuran dari makhluk itu cukup besar bahkan memiliki ukuran dan besar yang sama seperti seekor gajah.
Aditya mengalirkan kedua kaki-nya dengan Mana lalu ia melompat ke atas untuk menghindari serangan makhluk tersebut, Aditya menarik kedua pelatuk-nya sehingga kedua senapan-nya menembakkan peluru dalam jumlah yang cukup banyak untuk melukai makhluk tersebut tetapi semua serangan peluru itu tidak mampu melukai makhluk tersebut sehingga Andrian menunjuk Aditya dengan jari telunjuk-nya.
Makhluk itu melesat cepat menuju arah Aditya lalu menghantam lengan kanan-nya sehingga terdengar suara tulang yang retak, "Acck...!!! Grrghhh!!!" Aditya merapatkan gigi-nya sehingga kepala, dada, dan perut makhluk itu tertusuk dengan bambu runcing yang muncul entah dimana.
Andrian sempat tidak melihat kemunculan bambu runcing-nya itu, makhluk tersebut langsung menghilang begitu saja dan Aditya mendarat di atas tanah sambil memegang lengan kanan-nya yang tidak bisa ia gerakan, tiga bambu runcing yang berada di atas langit mulai berputar lalu membidik menuju arah Andrian. Aditya melebarkan kedua mata-nya sehingga ketiga bambu runcing itu melesat menuju arah Andrian.
Andrian berhasil menghindari serangan bambu runcing itu dengan menumbuhkan dua sayap di belakang punggung-nya lalu ia terbang ke atas, hal itu membuat semua orang terkejut karena Andrian memiliki kemampuan Mana yang cukup hebat bahkan sampai bisa terbang dan menumbuhkan sayap.
"Sebenarnya kemampuan Mana-mu itu apa...?" Tanya Aditya sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal.
"Kemampuan Mana-ku itu tipe [Summoner] atau [Summoning], aku memiliki kekuatan seekor makhluk mitologi yang bernama Garuda, itu artinya aku dapat memanggil-nya dan juga menggunakan kekuatan-nya untuk melawan musuh-ku sendiri."Jawab Andrian.
__ADS_1
"S-Sungguh kemampuan Mana yang sangat mengerikan...!" Kata mereka semua.