Pride of Indonesia

Pride of Indonesia
POI 19 - Jenderal Yang Sebenarnya


__ADS_3

Henzie perlahan-lahan membuka kedua mata-nya dan ia sadar bahwa diri-nya sedang bersandar di atas bahu Daisy, ia mulai mengusap kedua mata-nya lalu sadar bahwa Aditya tiba-tiba hilang entah kemana, ketika melihat keluar jendela... bis itu melaju dengan kecepatan normal, kemungkinan besar Aditya tertinggal di Rest Area sebelum-nya tetapi ketika Henzie memikirkan-nya lagi, semua itu tidak mungkin terjadi.


"T-Tidak mungkin... Aditya..." Henzie menghampiri supir dengan langkah pelan karena ia tidak mau terjatuh, setelah ia tiba di belakang kursi supir tersebut... supir itu menatap Henzie dengan ekspresi yang terlihat panik karena kemungkinan besar dia pasti akan menanyakan seorang penumpang yang ditinggal dengan sengaja.


"Kenapa kau mengendarai bis ini...? Apakah kau tidak sadar bahwa kau baru saja meninggalkan satu penumpang...?" Tanya Henzie dengan ekspresi yang terlihat serius, supir itu mulai memikirkan sebuah alasan agar dia bisa percaya dengan apa yang dia katakan tetapi Henzie dapat membaca pikiran-nya... ia langsung melebarkan kedua mata-nya ketika seorang polisi menghampiri-nya dan menyuruh-nya untuk meninggalkan Aditya.


Itu artinya para tentara Jenderal Wahyudi telah datang, mungkin saja selama ini mereka mengikuti bis ini dan mencari waktu yang tempat untuk menyerang Aditya. Henzie mengepalkan kedua tinju-nya karena ia tidak bisa melakukan apapun, ia terlambat... menyalahkan supir itu juga tidak ada guna-nya.


Henzie berjalan kembali menuju kursi-nya sampai menunjukkan ekspresi yang terlihat khawatir, ia berharap bahwa Aditya akan selamat di Rest Area kota Semarang itu... terdapat dua hal yang ia khawatirkan saat ini, ia khawatir tentang Aditya yang terbunuh karena jumlah dari tentara itu dan ia takut diri-nya bersama Daisy tidak akan bertemu kembali di Yogyakarta, kesempatan yang sangat kecil untuk kembali bersatu.


"Sial... jika saja aku dapat mendeteksi keberadaan Mana Aditya maka aku tidak perlu khawatir tentang diri-nya..." Henzie duduk di sebelah Daisy yang masih tertidur lalu ia mulai memikirkan cara untuk bisa bertemu kembali dengan Aditya, "Sial... aku kehabisan rencana---" Henzie langsung mendapatkan sebuah ide ketika ia menatap buku Mana itu.


Henzie mengambil-nya lalu ia bisa merasakan sebuah Mana berbeda yang tertera di buku tersebut, seperti-nya Aditya membaca-nya dan tidak sengaja untuk melakukan praktek kepada buku ini... jika ia bisa memegang sebuah benda yang masih memiliki Mana Aditya maka Henzie memiliki kesempatan besar untuk mencari diri-nya.


"Baiklah... jangan menyerah..." Henzie mulai membuka buku itu dan mencari halaman tentang kemampuan Mana yang dapat mendeteksi Mana seseorang, "Apakah Nona akan panik dan kaget ketika Aditya tidak ada ya...?" Henzie mulai menatap Daisy dengan ekspresi khawatir.


***


"Selama ini aku tidak memiliki pilihan lain selain memburu-mu, Aditya... awal-nya aku hanyalah polisi yang ditugaskan untuk menjaga jalanan-nya tetapi fenomena aneh terjadi ketika tubuh-ku dipenuhi dengan garis biru yang melambangkan Mana itu..." David mulai berbicara dan Aditya dengan teliti membaca pikiran-nya untuk mencari tahu apakah dia berbohong atau tidak.


"Salah satu tentara yang dipimpin oleh Wahyudi melihat diri-ku yang memiliki garis biru itu, awal-nya dia sudah membidik kepala-ku dengan sebuah senapan tetapi ia malah membuat-ku pingsan sampai aku tiba di sebuah ruangan gelap... saling berhadapan dengan Wahyudi..." Aditya mulai terdiam ketika mendengar itu, kemungkinan besar Wahyudi sendiri menyamar sebagai Jenderal agar ia bisa mencari berbagai manusia yang memiliki kemampuan Mana hebat.

__ADS_1


"Apa yang kau bicarakan bersama-nya? Apakah dia ingin melihat kemampuan Mana itu...?" Tanya Aditya.


"Itu benar... aku menunjukkan kemampuan Mana-ku dimana aku dapat melempar tongkat polisi lalu memutar-nya agar bisa menciptakan kerusakan yang cukup besar untuk tubuh Manusia tetapi jika tongkat itu berada jauh dari-ku maka aku tidak bisa menarik-nya kembali, itulah kekurangan-ku... kemampuan Mana lain-nya itu sama seperti tentara Indonesia." Jawab David.


"Aku langsung kepada inti-nya saja, Aditya... Wahyudi memanfaatkan jabatan-nya sebagai Jenderal agar Presiden RI tidak mencurigai diri-nya, sebenarnya ia sangat tertarik dengan seluruh kemampuan Mana yang ada di seluruh kota Indonesia, dia pintar dalam menyamar sebagai tentara yang cukup hebat... Semua tentara yang ia latih itu memiliki kemampuan berbeda karena sebagian ia culik lalu menyogok mereka dengan uang." Aditya mulai membaca pikiran-nya dan David mengatakan sesuatu yang benar.


"Sialan... kemungkinan besar di akan memanfaatkan era orde baru ini apalagi operasi Petrus itu karena Presiden RI selalu saja menyuruh diri-nya untuk melakukan Petrus kepada preman dan orang-orang yang melakukan kejahatan." Aditya mengepalkan kedua tinju-nya sehingga perut-nya masih berdenyut, "Ck..."


"Maafkan aku... aku tidak memiliki pilihan lain, dia benar-benar akan memburu seseorang yang berkhianat kepada-nya jika aku gagal untuk membunuh maka Wahyudi akan melakukan Petrus kepada-ku---" Aditya menendang batang yang terdapat di depan-nya lalu ia membantu David untuk berdiri, "Aku percaya kepada-mu... sejak awal aku membaca pikiran-mu yang bertentangan, untungnya aku tidak membunuh-mu ya."


"Percuma saja, Aditya... jika kau membiarkan-ku hidup maka Wahyudi akan terus mencari diri-ku..." David mulai menarik tongkat polisi-nya, "Aku benar-benar sudah gagal, lebih baik aku tidak melanjutkan tugas-ku untuk membunuh-mu... maafkan aku..."


"Oi, apa yang kau---" Aditya melebarkan kedua mata-nya ketika David mulai menghantam kepala-nya sendiri dengan tongkat tersebut sampai darah menyembur keluar melalui kepala-nya yang sudah bocor ketika satu hantaman mengenai kepala-nya, Aditya telat untuk menghentikan-nya karena David sendiri mengalirkan kedua lengan-nya dengan aliran Mana agar pergerakan tangan-nya bisa cepat.


Dalam proses penggalian-nya itu, Wilhelm datang menghampiri-nya dengan ekspresi yang terkejut karena David terbunuh begitu saja, "Kau menemukan jawaban-nya...?" Tanya Wilhelm.


"Seperti-nya begitu..." Aditya memasukkan David ke dalam kuburan yang ia gali lalu ia menutup-nya dengan tanah yang tersisa, "Wahyudi ternyata bertingkah di dalam kegelapan, memanfaatkan keadaan sekitar sampai Presiden RI menyangka bahwa dia adalah Jenderal militer tegas yang akan selalu menjalankan tugas-nya."


Setelah Aditya selesai mengubur-nya, ia tidak lupa untuk menaikkan tapak kanan-nya untuk melakukan hormat kepada kuburan tersebut, "Semoga kau hidup tenang disana..."


"Wilhelm... bantu... aku..." Aditya mulai menatap Wilhelm dengan ekspresi yang terlihat lemas karena sekarang tubuh-nya mulai merasa kesakitan, Wilhelm mengangguk lalu membantu Aditya untuk melarikan diri, "Kau sudah menghabisi para tentara itu...?" Tanya Aditya.

__ADS_1


"Aman... mereka aku lumpuhkan." Jawab Wilhelm, Aditya mengangguk lalu tersenyum karena ia seperti-nya memiliki hati yang cukup lembut untuk tidak membunuh mereka semua. Mereka harus menanjak gunung yang besar di hadapan mereka tetapi dengan mengalirkan Mana di kedua kaki mereka maka perjalanan kembali menuju Rest Area hanya membutuhkan selama lima menit.


Ketika mereka sampai di Rest Area, Aditya sadar bahwa bis-nya telah hilang... sepertinya supir dari bus itu telah meninggalkan diri-nya sehingga mulai khawatir tentang Daisy dan Henzie, pasti mereka bingung kenapa Aditya tiba-tiba menghilang begitu saja, "Sial... apakah mereka selama ini merencanakan-nya? Henzie dan Daisy pasti akan panik ketika sadar aku menghilang..." Aditya merapatkan gigi-nya sambil mengepalkan kedua tinju-nya.


"Tenang saja, biar aku antar kau menuju mereka... sebenarnya tujuan-mu ingin pergi kemana?" Tanya Wilhelm.


"Yogyakarta, aku ingin berlindung disana bersama kedua teman-ku." Jawab Aditya.


"Kalau begitu aku akan mengantar-mu menuju Yogyakarta, siapa tahu kita juga akan melihat bis-mu itu. Sungguh kebetulan ya, aku juga ingin mengunjungi Yogyakarta dan melihat tempat wisata apa saja yang ada disana." Wilhelm menghampiri mobil-nya terlihat cukup mewah, Aditya menghampiri-nya lalu ia bisa melihat mobil-nya itu yang berwarna hitam, "Mobil-mu bagus juga ya... hahaha, apa yang aku harapkan dari Amerika."


Wilhelm terkejut ketika melihat asap rokok yang keluar melalui jendela mobil-nya, sepertinya teman-nya merokok di dalam mobil, "Ohh... aku lupa tentang diri-nya."


"Ohh, apakah kau bersama seseorang?" Tanya Aditya.


"Begitulah, dia bisa dibilang sebagai teman-ku yang lumayan gegabah sih tetapi dia cukup mahir juga dalam menggunakan Mana sehingga ia mengajari-ku beberapa hal, mari aku akan memperkenalkan-nya kepada diri-mu, dia berasal dari kota Bandung dan kadang ia suka mengatakan bahasa Sunda." Wilhelm mulai membuka pintu mobil bagian belakang-nya lalu Aditya bisa melihat seorang pria yang sedang merokok sambil meminum secangkir kopi.


"Ahhh, berak-nya lama sekali, Wilhelm... oh iya, aing ngudud dulu ya, bro" [Aing Ngudud dulu] artinya aku merokok dulu dalam bahasa Sunda.


Aditya tercengang ketika melihat pria tersebut, kalau tidak salah ia pernah melihat-nya pada masa penjajah sejak itu, "K-Kau...?" Pria yang sedang merokok itu ikut terkejut sampai ia batuk-batuk sambil mengeluarkan asap rokok dari dalam mulut-nya.


"Raden Aditya!?"

__ADS_1


"S-Satria... kau masih hidup!?"


__ADS_2