Pride of Indonesia

Pride of Indonesia
POI 11 - Salah Sasaran


__ADS_3

"Hah... hah... hah..." Aditya bernafas berat karena ia bersama Henzie sudah berlatih selama berjam-jam, mereka sudah melakukan latih tanding dalam menggunakan bermacam-macam seni bela diri. 


Aditya bisa merasakan tubuh-nya mulai terbiasa dengan sumber mana-nya sendiri, Henzie mengajarkan diri-nya semua yang ia ketahui tentang Mana dari mulai dari awal sampai akhir, sekarang Aditya mengerti untuk mempertahankan diri-nya ketika melihat orang lain mencoba untuk melawan atau membunuh-nya, ia akan membanting tubuh mereka atau menyerang anggota tubuh mereka yang dapat menghentikan mereka untuk menyerang.


[Self-Defense] itu penting sekali sampai Aditya sampai saat ini mengetahui hal seperti itu, berkat bantuan dari sumber Mana juga... semuanya menjadi mudah karena Henzie mengajarkan-nya untuk memindahkan sumber Mana-nya ke dalam kedua tapak-nya agar ia bisa menghancurkan barang yang keras juga langsung membuat seseorang pingsan dengan menghantam tengkuk mereka.


"Tidak apa-apa untuk bertarung jika kamu memiliki tujuan yang adil, Aditya... jika kamu terus diam maka mereka bisa melihat banyak celah dan memiliki banyak keuntungan untuk melawan-mu." Kata Henzie karena ia bisa melihat Aditya yang menyesal untuk membunuh bangsa-nya sendiri, ia sudah berjanji kepada teman baiknya bahwa ia tidak akan membunuh mereka.


"Aku sudah janji kepada teman baik-ku, aku mencoba sekuat mungkin untuk mencegah terjadi-nya konflik antar bangsa Indonesia, beliau memberitahu-ku bahwa perjuangan-ku akan lebih sulit ketika melawan bangsa-ku sendiri dan aku tidak ingin itu terjadi." Aditya mengepalkan kedua tinju-nya.


Henzie bisa merasakan tujuan besar di dalam diri Aditya bahwa ia mencoba sekuat mungkin untuk bertentangan dengan pikiran-nya sendiri, jika dia diam saja maka dia sendiri tahu bahwa ia akan terbunuh karena operasi yang masih berlangsung yaitu [Petrus], untung-nya dia sejak itu menyelamatkan Aditya dari operasi Petrus itu.


Melihat Aditya memiliki tujuan besar-nya itu membuat Henzie tertarik dan tak sabar untuk melihat perkembangan Aditya, untuk sekarang ia akan terus mendengarkan perkataannya dengan menjawab-nya pelan-pelan karena ia tidak mau mengatakan sesuatu yang dapat menyakiti perasaan-nya itu.


"Apakah kita akhiri latihan-nya sekarang?" Tanya Henzie.


"Ya... matahari sebentar lagi akan terbenam, lebih baik kita pulang saja dan melanjutkan-nya besok." Aditya bangkit dari atas tanah lalu ia menghabiskan botol air-nya itu.


"Ya, ayo--- Aw..." Ketika Henzie mencoba untuk berdiri, ia baru saja menyadari kedua kaki-nya lecet karena latihan yang ia lakukan bersama Aditya. Luka lecet yang terdapat di kaki-nya itu sepertinya berasal dari bambu runcing milik Aditya ketika Henzie ingin menunjukkan kemampuan Mana yang di alirkan ke dalam kedua tapak-nya yang dapat menghancurkan benda apapun.


"Apakah kau baik-baik saja...?" Tanya Aditya.


"Sial... aku sepertinya ceroboh dan melupakan serpihan bambu runcing itu ketika hancur, bambu runcing-mu itu terlalu kuat, Aditya... walaupun sudah hancur, serpihan-nya itu masih tajam." Henzie terkekeh dan ia memaksakan kedua kaki-nya tetapi tidak bisa karena luka itu terlihat cukup menyakitkan jika ia memaksanya lebih lanjut.

__ADS_1


"Tidak ada pilihan lain ya..." Aditya mengulurkan lengan kanan-nya untuk membantu Henzie berdiri, "Ehh...?"


"Ayo, biar aku bantu kau berdiri." Kata Aditya sehingga Henzie langsung tersipu ketika melihat sisi jantan-nya itu, dia ternyata seorang pria yang berbudi halus. Henzie mengangguk lalu menggenggam tangan-nya dan Aditya pelan-pelan mencoba untuk membantu diri-nya bangkit.


Henzie berhasil berdiri tetapi ia mencoba untuk jalan tetapi tidak bisa sehingga Aditya tidak memiliki pilihan lain selain menempatkan lengan kanan-nya di atas bahunya untuk membantu dirinya berjalan, "Ayo." Henzie bisa melihat ekspresi Aditya yang terlihat biasa saja, apakah dia tidak merasa malu ketika berdekatan sedekat ini dengan wanita? Henzie sendiri tidak bisa menahan rasa malu itu sampai wajah-nya memerah.


"Henzie."


"Y-Ya?" Henzie mencoba sekuat mungkin untuk menyembunyikan rasa malu-nya itu.


"Jawablah dengan jujur, bagaimana menurut-mu tentang operasi Petrus ini?"


"Sekalipun mereka penjahat, namun sebagai manusia berhak mendapatkan keadilan melalui lembaga peradilan. Dan menembak ditempat, walaupun oleh petugas Negara, jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan... itu yang aku pikirkan, kita sesama manusia loh dan penjahat lebih baik diurus dengan keadilan yang benar." Kata Henzie.


"T-Tidak... Aku baik-baik saja." Jawab Henzie.


Petrus cukup sensitif dengan rakyat Indonesia yang melakukan kejahatan bahkan jika orang itu memiliki tato di tubuh-nya maka dia akan menjadi sasaran peluru bagi mereka semua, keadaan ini tak hanya membuat para preman yang menamakan dirinya Gali alias gabungan liar resah, orang-orang biasa, tetapi mempunyai tato juga ketakutan. Mereka khawatir menjadi korban keganasan Petrus.


Pengguna Mana juga memiliki tato berwarna biru muda yang memancarkan cahaya biru muda, Henzie memberitahu Aditya bahwa beberapa rakyat Manusia yang diberkahi dengan sumber Mana itu telah terbunuh oleh Petrus... padahal itu adalah tindakan yang tidak adil karena mereka sendiri memiliki sumber Mana tersendiri untuk menjalani operasi ini lebih mudah lagi.


"Jika usaha pemberantasan kejahatan dilakukan hanya dengan main tembak tanpa melalui proses pengadilan maka hal itu tidak menjamin adanya kepastian hukum dan keadilan. Padahal kedua masalah tersebut merupakan tuntutan hakiki yang diperjuangkan orang sejak zaman Romawi Kuno. Jika cara-cara seperti itu terus dilakukan maka lebih baik lembaga pengadilan dibubarkan saja. Jika ada pejabat apapun pangkatnya dan kedudukannya, mengatakan tindakan main dor-doran itu benar, saya tetap mengatakan hal itu adalah salah." Kata Aditya sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal.


Perjalanan mereka menuju desa cukup lama juga karena kaki Henzie yang terluka, Aditya berharap bahwa tidak ada satupun rakyat Indonesia yang berasal dari kota datang hanya untuk memantau dan melakukan operasi Petrus itu, jika desa ini sudah ternodai dengan hal itu maka ia tidak memiliki pilihan lain selain pindah ke kota lain selain Jakarta.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, mereka bisa melihat desa itu dari atas gunung tersebut, kedua mata Aditya mulai ia alirkan Mana karena ia sudah mempelajari suatu kemampuan yang dapat melihat sesuatu dari jauh karena bantuan Mana-nya, ia mencari rumah Daisy dan ternyata ia melihat apa yang ditakutkan dimana Daisy digusur keluar oleh para tentara.


"Nona Daisy...!" Henzie melebarkan kedua mata-nya, ia mencoba untuk lari dan mengejar semua tentara itu tetapi ia terjatuh, "Apa yang kau pikirkan?! Kau masih terluka---"


"Nona Daisy...!!! Dia tidak berdaya dan tidak bisa melakukan apapun, dia tidak bisa bertarung...! Sebagai penjaga-nya aku harus mengejarnya mereka semua sebelum terlambat...!!!" Henzie terus memaksa diri sehingga kedua kaki Aditya ia alirkan Mana, setelah itu ia menggendong Henzie lalu melompat tinggi menuju rumah Daisy dimana para tentara itu sudah membawa-nya pergi.


"Pergilah duluan, Aditya! Selamatkan Daisy sebelum terlambat...!" Seru Henzie, Aditya mengangguk lalu menempati Henzie di belakang halaman rumah itu, ia mulai mengejar mobil itu sehingga para tentara itu bisa melihat Aditya lalu tersenyum bahwa ia benar-benar bersembunyi di desa kecil ini bersama seorang gadis Belanda kaya yang melakukan usaha rempah-rempah.


"Lihatlah dia... ternyata selama ini dia benar-benar bersembunyi di desa itu, Jendral Wahyudi." Kata salah satu tentang yang saat ini sedang menghubungi diri-nya melalui kemampuan Mana yang sama seperti telepati dimana ia dapat berkomunikasi dengan siapapun walaupun jangkau-nya jauh.


Mobil itu melaju cukup cepat sampai Aditya menyadari keempat ban dari mobil itu telah dialirkan dengan sebuah Mana, "Pengguna Mana juga...?!" Aditya langsung melihat atap mobil tersebut terbuka dan menunjukkan seorang tentara yang mengalirkan kedua Mana-nya untuk menciptakan senapan otomatis yang menembakkan peluru yang sangat banyak.


Aditya menginjak daratan sekuat mungkin untuk menghentikan pergerakan-nya yang cepat itu, ia langsung menciptakan dua bambu runcing dengan menggunakan aliran Mana yang dapat menciptakan sebuah objek ketika sang pengguna menyentuh objek tersebut. Aditya sempat untuk menciptakan kedua bambu runcing-nya lalu ia mulai menangkis semua peluru itu.


Ia berhasil menangkis semua peluru itu dengan kedua bambu runcing-nya yang mengandung Mana tetapi Aditya bisa melihat salah satu dari peluru itu menggunakan kedua mata-nya yang bersinar biru karena ia alirkan Mana juga, salah satu dari peluru itu memiliki garis Mana dimana pergerakan-nya sungguh cepat sampai mengenai kening Aditya dan membuat diri-nya terjatuh di atas tanah.


"Kena kau..." Tentara itu tersenyum.


"Jendral, sepertinya operasi kita telah selesai untuk membunuh Manusia itu..."


"Baiklah, sudah saatnya kalian kembali dan membawa gadis kaya itu pada-ku, ekonomi Indonesia dapat melonjak besar jika dia membantu kita." Kata Wahyudi.


"Siap, pak."

__ADS_1


__ADS_2