
[Mana Battlefield] adalah kemampuan Mana yang dapat menciptakan sebuah dunia yang sama persis seperti dunia sali tetapi hanya orang yang memiliki Mana dapat mengunjungi tempat tersebut, lebih tepatnya wilayah itu lebih pantas untuk bertarung tanpa harus takut menghancurkan kota-kota dan membunuh Manusia yang tidak memiliki Mana.
Seseorang yang terbunuh di wilayah ini maka mereka tidak akan bisa kembali di dunia asli, itu artinya kuburan mereka adalah wilayah dari Mana Battlefield. Wilhelm dan Satria tercengang ketika melihat banyak sekali kehancuran dan juga Manusia yang sedang bertarung menggunakan kemampuan Mana mereka tersendiri.
Wilhelm dan Satria membuka pintu mobil itu lalu Wilhelm mulai menunjuk mobil tersebut sehingga ia dapat memasukkan-nya ke dalam Mana penyimpanan agar mobil itu tidak dihancurkan oleh orang-orang tidak waras yang sedang berperang. Satria melihat banyak sekali bangunan yang hancur, ini adalah sisi gelap dari Mana Battlefield dimana hanya kehancuran saja yang dapat dilihat.
"Kita harus lari menuju ujung dari lingkaran Mana ini... kita bisa bebas dari neraka ini---" Wilhelm melihat beberapa panah yang melesat menuju arah-nya tetapi Wilhelm berhasil menghancurkan semua panah itu menggunakan dua pistol yang ia munculkan.
"Sepertinya kita harus bertarung, Wilhelm. Membunuh atau dibunuh, semua preman dan rakyat Indonesia tidak berguna seperti mereka pantas dihukum mati karena sudah membunuh banyak sekali warga tak bersalah yang memiliki Mana." Satria merapatkan gigi-nya karena ia melihat banyak sekali mayat dan bahkan dari jarak jauh, ia bisa melihat seorang yang memakai topeng Kelana yang sedang duduk di atas piramida mayat.
"Kalau begitu... aku siap untuk membunuh kapan-pun...!" Wilhelm mengeluarkan pisau yang sangat tajam lalu ia mengalirkan kedua kaki-nya dengan Mana, ia mencoba untuk melarikan diri tetapi banyak sekali manusia yang menghalang-nya dan mencoba untuk membunuhnya.
Wilhelm tidak akan bisa bergerak jika dia terus ditahan oleh beberapa manusia yang membidik diri-nya dengan busur, ia mulai mengarah mereka semua lalu melempar pedang-nya dengan kecepatan tinggi sampai pisau itu menusuk leher mereka. Wilhelm menarik pisau itu kembali lalu ia melihat beberapa Manusia yang mulai mendekati dirinya sambil memegang pisau dan juga tongkat yang sudah dialirkan Mana.
Satria bisa melihat Wilhelm yang ditahan oleh banyak sekali orang, preman seperti mereka sudah pasti akan mengincar seseorang yang berasal dari luar negara demi mencuri dompet mereka tetapi sepertinya Wilhelm dapat melindungi dirinya sendiri dengan mengalahkan mereka dengan pisau. Satria mulai melihat sekeliling dimana ia melihat banyak sekali orang jahat dan preman berkeliaran dan saling bertarung demi merebut uang.
Satria bahkan bisa melihat dua belah pihak berbeda yang sedang bertarung, ia bisa melihat jelas tato di kedua lengan mereka yang berotot itu. Mana Battlefield ini benar-benar dimanfaatkan oleh para preman itu agar mereka bisa menghindari operasi Petrus, Satria mulai berhati-hati karena ia pernah membaca sebuah berita bahwa terdapat banyak sekali preman dan penjahat kuat di sana karena kemampuan Mana mereka.
__ADS_1
Tetapi seseorang yang sangat menarik perhatian-nya adalah pria yang memakai topeng Kelana itu, ia dengan sombong-nya duduk di atas piramida mayat itu, Satria berpikir bahwa dia adalah bos-nya sehingga beberapa preman yang memakai topeng Kelana mulai menghampiri Satria, "Berani sekali kau menatap bos dari jarak jauh seperti itu, dasar orang miskin...!"
Topeng Kelana menggambarkan seseorang yang suka bekelana dan mengembara untuk menemukan jati dirinya. Topeng Kelana memiliki karakter yang penuh dengan dinamika dan hawa nafsu. Warna topeng merah tua menunjukkan watak angkuh dan kejam, mata membelalak, mulut menyeringai, kumis melingkar, berjambang serta berjanggut. Kelana digambarkan figur gagah dengan hidung panjang, mata melotot, mulut monyong menganga, rambut godekan.
Mereka sepertinya menggunakan topeng itu dengan cara yang salah, sangat tidak pantas orang Indonesia memakai topeng itu demi berbuat kejahatan sehingga Satria mulai mengingat sebuah perkataan Presiden RI yang pertama, perjuangan yang sangat sulit adalah melawan bangsa-mu sendiri, "Sepertinya uang mengubah segala-nya ya..."
"Apa kau bilang tadi--- Guooooggghhh..." Beberapa preman yang mengepung Satria tiba-tiba mengalami pendarahan yang besar melalui leher mereka, pendarahan itu berasal dari luka tipis dan sangat dalam di bagian tengah leher mereka.
"Diam... aku memperingati kalian semua bahwa aku tidak akan pernah bermain hakim sendiri, aku hanya akan menjalani hukum yang sebenarnya untuk kalian. Tubuh kalian dipenuhi dengan darah itu artinya kalian sudah melakukan banyak kejahatan disini..." Satria mengangkat lengan kanan-nya ke atas sehingga lima silet mulai ia rapatkan menggunakan jari-jarinya.
Wilhelm melihat dari jauh kemampuan Mana yang dimiliki oleh Satria, dia dapat menggerakkan silet sampai tidak bisa dilihat oleh mata untuk sekejap, serangan yang sangat menyusahkan dan seseorang harus tetap fokus ketika melihat silet itu yang bergerak. Satria sendiri dapat melempar silet itu lalu mengontrol-nya dengan mudah, ia juga tidak dapat membuat-nya melayang untuk bisa dijadikan pertahanan untuk diri-nya.
"Jika kalian ingin kaya maka ambil uang ini...!" Satria menyimpan dompet itu kembali ke dalam saku-nya lalu ia melempar sepuluh silet yang ia rapatkan dengan jari-jari-nya ke arah yang berbeda. Para preman itu tidak bisa melihat pergerakan silet itu, silet yang berputar dan bergerak cepat itu seperti berkamuflase dengan udara sampai tidak bisa dilihat.
Karena pergerakan-nya yang begitu cepat dan juga bentuk-nya yang begitu kecil juga tipis, silet itu berhasil membunuh mereka dengan menusuk leher mereka cukup dalam. Wilhelm bertarung sambil melihat cara bertarung Satria, apakah kemampuan Mana-nya itu memiliki sebuah kekurangan? Ketika Wilhelm melihat-nya dengan teliti, ia bisa melihat kedua mata Satria yang lemas.
Kekurangan dari kemampuan Mana itu adalah kedua mata akan melihat sesuatu yang gelap sehingga Satria tidak dapat melihat apapun karena penglihatan-nya berpindah ke setiap silet yang ia lempar itu... jika silet itu sempat dihancurkan maka mata-nya akan mengalami kebutaan selama lima menit dan itu cukup berbahaya tetapi ketika ia mengambil kembali semua silet yang ia lemparkan maka penglihatan-nya akan kembali.
__ADS_1
"Sungguh resiko yang mengerikan... jika salah satu dari resiko itu hancur maka dia akan buta selama lima menit, itu waktu yang cukup lama!" Wilhelm berputar lalu menebas leher preman yang berada di hadapan-nya.
Satria tentu saja tidak bodoh karena ia sudah memiliki banyak pengalaman sejak masa penjajahan, ia mengembalikan semua silet-nya sehingga ia sadar bahwa jarak diri-nya dengan bos topeng Kelana itu sudah dekat tetapi preman yang memakai topeng Kelana lain-nya mulai mengincar Satria agar ia tidak bisa mendekati bos mereka.
Satria hanya diam sehingga beberapa peluru mulai melesat menuju arah-nya tetapi Satria berhasil menghindari semua itu dengan refleks-nya yang cepat, tubuhnya mulai ia alirkan Mana setelah itu ia mulai melakukan ilmu bela diri-nya dan berhasil melumpuhkan mereka semua dalam waktu sekejap, "Lebih baik kau mati atau membiarkan kami pergi? Atau pilihan baik lain-nya adalah tinggal di dalam sel penjara."
"Hmph... tidak buruk juga untuk seorang pemula yang memiliki kemampuan Mana keberuntungan." Bos itu mulai turun dari piramida mayat tersebut lalu ia mulai menatap Satria sehingga jantung-nya mulai berdetak cepat karena ia bisa merasakan tekanan Mana besar di dalam diri-nya, "Kau cukup kuat juga... aku harus berhati-hati denganmu itu."
"Biarkan aku memperkenalkan diri-ku, namaku adalah Marco... bos yang mendirikan geng bernama [Topeng Kelana]."
"Kau adalah rakyat Indonesia yang pantas untuk dihukum, lebih baik kalian menciptakan geng yang lebih baik dibandingkan menggunakan topeng-topeng itu." Satria mencoba untuk tidak menanggung resiko menggunakan serangan silet-nya sampai ia mengetahui kemampuan Mana apa saja yang ia miliki.
Wilhelm melihat dari jauh bahwa Satria dengan bodoh-nya langsung menghampiri bos-nya tetapi ia mempercayai diri-nya karena dia adalah seorang rakyat Indonesia yang berasal dari zaman penjajahan, jadi ia tidak terlalu mengkhawatirkan diri-nya karena ia bisa melihat beberapa preman yang menggunakan topeng berbeda mulai menghampiri-nya.
"Kami tidak memiliki banyak waktu... apakah kalian bisa membiarkan kami pergi?" Tanya Wilhelm baik-baik.
"Sekali kau masuk ke neraka maka kau tidak akan bisa keluar... medan pertarungan ini adalah rumah terakhir-mu yaitu kuburan.
__ADS_1
"I see..."