Pride of Indonesia

Pride of Indonesia
POI 38 - Mana Burst


__ADS_3

Apa yang dibicarakan oleh Aditya sempat membuat mereka percaya karena mereka sudah mengetahui jelas sikap-nya itu yang benar-benar menyebalkan dan menginginkan tentara militer yang penuhi dengan pengguna Mana, itu artinya mereka harus waspada dengan tentara yang memiliki Mana juga. Pembicaraan telah selesai dan mereka mulai melakukan aktivitas mereka sendiri yaitu berlatih ditambah dengan kerja.


Aditya menghampiri kamar-nya sambil menggendong Henzie, ia mulai menempati-nya di atas kamar sehingga ia mendengar seseorang mulai mengetuk pintu, "Masuklah." Seorang pria membuka pintu dan Aditya bisa melihat pria itu adalah Wilhelm dengan seragam olahraga-nya, sepertinya dia ingin berlatih tetapi kenapa harus mengunjungi Aditya dulu?


"Sesuatu terjadi kepada Henzie?" Tanya Wilhelm.


"Dia baik-baik saja, terlalu berlebihan dalam menggunakan Mana jadi dia tertidur." Jawab Aditya ia mulai menyelimuti tubuh Henzie dengan selimut, setelah itu ia menatap Wilhelm dan menanyakan tentang keperluan Wihelm, Aditya sudah mengenal seluruh sikap dan karakteristik teman mereka... dan Wilhelm sendiri jika datang pasti ia memiliki sebuah urusan atau keperluan dengan Aditya.


"Jika tidak keberatan dan tidak sibuk, apakah kau mau ikut berlatih dengan-ku? Henzie sudah memberitahu-ku beberapa kemampuan yang belum ia ajarkan kepada-mu dan sebagian kemampuan Mana... ia sendiri tidak tahu cara untuk mengajari-mu, sepertinya aku akan mengajarkan-mu beberapa hal." Wilhelm mengajak Aditya untuk berlatih dan ia dengan senang hati ingin menerima-nya karena ia tidak memiliki seseorang yang mau melatih-nya karena Henzie saat ini sedang tidur.


Mereka mulai pergi menuju lapangan untuk berlatih, kali ini Aditya harus benar-benar berlatih dan bertambah kuat untuk bisa memberi hukuman kepada seluruh preman bertopeng itu. Mereka memulai pemanasan dengan saling berhadapan di lapangan, Aditya tersenyum serius ketika melihat Wilhelm memiliki kemampuan seni bela diri yang mampu membuat diri-nya langsung serius.


Mereka melakukan pemanasan terlalu lama karena menikmati pertarungan menggunakan tangan kosong, setiap serangan yang mereka lancarkan dapat ditahan dengan mudah dan Aditya sendiri bahkan tidak mampu melakukan teknik kuncian kepada Wilhelm karena refleks-nya yang begitu cepat. Mereka sama sekali tidak menggunakan Mana karena mereka ingin bertarung secara adil... hanya menggunakan pengalaman dan seni bela diri.


Aditya sendiri mulai berkeringat sampai kedua lengan-nya menonjolkan sebuah urat ketika mencoba untuk mengenai serangan kepada tubuh-nya itu, Wilhelm dengan mudah menahan seluruh serangan itu menggunakan tapak kanan-nya dan pergerakan-nya cukup cepat sampai Aditya terkejut karena ia tidak menggunakan Mana sama sekali.


"K-Kecepatan apa ini...?! Apakah kau benar-benar manusia!?" Tanya Aditya dengan ekspresi yang terlihat terkejut sehingga Wilhelm menendang kaki-nya sampai ia terjatuh di atas tanah, "Aku manusia kok, tenang saja. Tetapi kau harus menetapkan fokus-mu itu agar kau tidak lengah ketika menerima serangan orang lain."


Wilhelm membantu-nya untuk berdiri dan sekarang Aditya menyarankan diri-nya untuk bertarung menggunakan Mana, Wilhelm awalnya tidak yakin karena Aditya masih belum cukup siap untuk melawan diri-nya ketika menggunakan Mana. Aditya terus memaksa-nya sehingga mereka mulai bertarung, Wilhelm sempat terkejut dengan kecepatan Aditya tetapi dalam waktu lima menit, ia terjatuh karena refleks Wilhelm yang cukup hebat.


"Inilah yang aku harapkan dari orang Amerika, untungnya aku tidak melawan penjajah Amerika seperti-mu, kau terlalu kuat." Aditya kembali bangkit dan menggerakkan leher-nya yang terasa pegal, Wilhelm setidaknya merasa terhormat untuk bisa bertarung dengan seorang pejuang negara yang membawa negara-nya menuju puncak kemerdekaan. 

__ADS_1


Aditya mencoba untuk melawan-nya lagi tetapi Wilhelm menghentikan-nya karena ia tidak perlu lagi belajar tentang ilmu bela diri, ia hanya harus fokus tentang kemampuan Mana dan juga kemampuan dalam menggunakan bambu runcing dengan benar. Wilhelm menyuruh-nya untuk menciptakan bambu runcing sebanyak-banyaknya.


Sepuluh bambu runcing muncul secara tiba-tiba di belakang-nya, Wilhelm mulai memegang dagu-nya karena ia juga melatih Aditya sambil mengumpulkan beberapa informasi tentang kemampuan Mana-nya yang hebat itu. Bambu runcing saja sudah dapat membunuh lawan dengan perlahan-lahan, memberi mereka luka infeksi dan sekarang jika di alirkan dengan Mana maka serangan itu dapat menembus apapun.


Wilhelm hanya perlu melatih Aditya agar ia bisa memanggil bambu yang berada di alam dan hutan dengan mengontrol kemampuan Mana-nya lebih jauh lagi, ia lebih menyarankan Aditya untuk menggunakan bambu runcing-nya itu karena serangan dari bambu runcing memang kuat sampai Aditya dapat melindungi apapun dengan bambu runcing termasuk peluru yang sudah dialirkan Mana.


Aditya menunjukkan seluruh proses dan kemampuan Mana-nya dalam menggunakan bambu runcing, Wilhelm terkesan dan terkejut ketika ia melihat beberapa kemampuan baru seperti memunculkan bambu runcing dari dalam tanah untuk menjebak musuh, Aditya sendiri bahkan meminta Wilhelm untuk menghindar jika tidak maka bambu runcing itu akan menusuk pantat-nya dan keluar melalui mulut-nya.


"Jawablah pertanyaan-ku dengan jujur, apa yang kau rasakan... Mana-mu, apakah kau merasakan pengurangan drastis dari Mana-mu itu ketika kau mencoba untuk menggunakan kemampuan Mana-mu terhadap bambu runcing itu? Semisalnya membuat semua benda itu melayang dan bergerak dengan cepat." Tanya Wilhelm, Aditya menggelengkan kepala-nya. Ia memberitahu Wilhelm bahwa pengguna Mana jika terlalu fokus dengan satu kemampuan maka kemampuan yang ia fokuskan tidak akan terlalu menguras Mana bahkan ketika serangan dari kemampuan Mana itu mengenai musuh-nya maka Mana mereka akan bertambah.


Wilhelm mendapatkan informasi baru dari Aditya, sepertinya dia juga suka membaca tentang buku Mana itu, ia mengeluarkan buku kecil-nya lalu menuliskan beberapa informasi yang ia dapatkan. Mungkin sudah saatnya ia mempelajari tentang [Mana Burst] karena salah satu dari kemampuan Mana-nya sudah hampir mencapai tingkat paling tinggi, masih jauh dalam kata sempurna.


"Baiklah, Aditya, apakah kau tahu tentang potensi kemampuan Mana yang bernama [Mana Burst]?" Tanya Wilhelm.


"Mana Burst...?"


"Mana Burst adalah potensi dari kemampuan Mana yang kau telah fokuskan itu, jika kau baru saja memberitahu-ku tentang kemampuan Bambu Runcing-mu itu yang tidak lagi menguras Mana-mu maka kau sudah siap untuk mempelajari Mana Burst, potensi yang dapat mengubah kemampuan Mana-mu menjadi lebih hebat dengan daya serangan yang lebih dahsyat dari sebelumnya." Wilhem sejak awal bertemu Aditya memang sudah penasaran dan tidak sabar untuk melihat Mana Burst dari kemampuan bambu runcing-nya itu.


Aditya tidak membutuhkan penjelasan untuk kedua kali-nya karena ia pernah membaca Mana Burst itu dibuka tetapi informasi-nya tidak dapat ia mengerti tetapi sekarang ia sepenuh-nya mengerti, "Mana Burst itu memiliki resiko tersendiri dimana kau harus menggunakan Mana Burst ini sekali saja sampai Mana-mu kembali pulih, Mana Burst ini sangat menyerap seluruh Mana-mu sampai habis."


Aditya mengangguk, "Aku akan coba untuk menggunakan-nya dengan baik."

__ADS_1


Wilhelm menjelaskan informasi lain-nya tentang Mana Burst, latihan pertama yang harus ia lakukan hanya memfokuskan sumber Mana-nya ke dalam dirinya dan juga seluruh tubuhnya, terus fokus sampai warna garis biru yang menyelimuti tubuh-mu berubah menjadi warna yang berbeda. Aditya mulai memejamkan kedua mata-nya lalu ia menatap ke depan sambil menunjuk ke depan menggunakan tapak kiri-nya.


"... ..."


"Kosongkan dan tenang-kan pikiranmu itu, pindahkan semua Mana-mu ke seluruh tubuh dan juga jiwa-mu... bayangkan saja jika kau melihat jiwa-mu di dalam diri-mu, jantung dan organ tubuh-mu juga harus kau alirkan dengan Mana untuk mengambil seluruh sumber Mana yang masih tersembunyi di dalam diri-mu itu!" Kata Wilhelm.


Aditya melakukan apa yang dikatakan oleh Wilhelm agar ia bisa menggunakan Mana Burst, Wilhelm bisa merasakan jumlah Mana besar di dalam diri-nya dan semua garis Mana yang memenuhi tubuh-nya berubah menjadi warna hijau... warna yang melambangkan kemampuan dari bambu runcing-nya itu, Wilhelm memiliki prediksi tinggi untuk Aditya memiliki kemampuan Mana dengan alam itu sendiri.


"Aku merasakan-nya, Wilhelm... aku merasakan alam... aku merasakan suara alam..." Aditya membuka kedua mata-nya sehingga kedua pupil matanya berubah menjadi hijau lalu memancarkan cahaya dengan warna yang sama.


"Itu adalah proses... bagus, kau sekarang sudah siap untuk menggunakan-nya!" Seru Wilhelm, apa yang Aditya bicarakan... sudah tidak jauh lagi dia dalam waktu yang dekat akan memiliki kemampuan tipe sihir yang berkaitan dengan alam atau daun.


"Sekarang...! Tahap yang terakhir adalah menyebutkan Mana Burst!!!" 


"Mana Burst!!!" Aditya melebarkan kedua mata-nya sehingga daun mulai melindungi diri-nya seperti aura, "S-Sensasi baru apa ini...?"


"Kau sekarang dapat melakukan---" Wilhelm tercengang ketika melihat Aditya menunjuk ke depan menggunakan jari tengah dan telunjuk-nya seperti pistol, bambu runcing muncul di sebelah lengan kiri-nya lalu melesat ke depan seperti senapan otomatis.


Wilhelm bisa melihat kemampuan dari Mana Burst milik Aditya, ia dapat menembakkan bambu runcing-nya seperti senapan otomatis dan semua bambu runcing yang ia luncurkan ke depan mampu menembus pohon besar yang berada di hadapan mereka dengan meninggalkan lubang di batang-batang itu.


"Sungguh kemampuan Mana Burst yang mengerikan...!"

__ADS_1


__ADS_2