
Aditya saat ini sedang berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh-nya, mandi dengan air dingin juga cukup membuat diri-nya tenang dengan semua beban yang ia angkat sejak dulu sampai sekarang, ia mulai menoleh ke atas dan menyiram diri-nya dengan air yang dingin agar bisa kembali semangat dan senang karena sekarang ia sudah aman di kota Yogyakarta juga ia memiliki banyak teman yang dapat dipercayai.
Andrian dan Putri saat ini sedang menyuruh seluruh pelayan-nya untuk menyiapkan sebuah ruangan yang sangat besar untuk dijadikan sebagai tempat tidur, tiga ruangan kamar tidur yang sedang disiapkan oleh para pelayan itu. Saat ini Satria dan Wilhelm pergi untuk mencari bahan makanan karena Putri akan menyiapkan makan siang dan makan malam yang cukup lezat.
Henzie dan Daisy mengelilingi wisata keraton itu bersama dengan para turis lain-nya, sebagai orang Belanda yang belum pernah mengunjungi satupun wisata yang ada di kota Indonesia... hal kecil apapun itu mereka sampai terkesan, mereka menghabiskan waktu yang cukup lama juga untuk melihat-lihat isi Keraton Yogyakarta yang begitu besar.
Aditya selesai mandi, ia mulai keluar dari kamar mandi dan melihat sebuah pakaian yang sudah disediakan oleh pelayan. Aditya mengambil baju-nya dan ia langsung terkejut bahwa baju yang memiliki motif baik, ia sangat menyukai sehingga ia langsung berpakaian dan pergi keluar untuk mencari Andrian.
Aditya mengelilingi Keraton Yogyakarta sampai ia tersesat dan tidak melihat siapapun, ia mulai khawatir bahwa musuh bisa saja menyerang tetapi ketika ia memikirkan-nya lagi... tidak mungkin mereka menyerang di kawasan wisata seperti ini, mereka akan menakuti seluruh turis. Aditya melewati koridor di Kedhaton dengan latar belakang Gedhong Jene dan Gedhong Purworetno.
Ia bisa melihat Andrian yang sedang berbicara dengan seorang pelayan, ia menghampiri-nya lalu mulai menepuk punggung sehingga Andrian menatap diri-nya, "Kau terlihat seperti orang yang baru, Aditya. Benar-benar orang yang berasal dari era orde baru ini." Andrian terkekeh.
"Aku menghormati pujian-mu itu, Sultan."
"Sudahlah, panggil saja nama-ku, tidak perlu memanggil-ku dengan sebutan seorang Sultan." Andrian mulai mengajak Aditya untuk mengelilingi Keraton Yogyakarta agar ia bisa menenangkan diri, beristirahat seperti melihat berbagai hal yang terdapat di Keraton itu bisa dijadikan sebagai latihan untuk meningkatkan jumlah sumber Mana karena ketenangan dalam pikiran dan juga jiwa.
Ketika mereka mengelilingi Keraton itu, Aditya bisa melihat Henzie dan Daisy sedang berada di Bangsal Sri Manganti tempat pertunjukan tari dan seni karawitan gamelan di Kraton Yogyakarta. Daisy tersenyum ketika melihat Aditya kembali, ia mulai mengajak Henzie untuk menonton-nya bersama Aditya.
"Aditya... motif batik benar-benar cocok untukmu." Daisy terkekeh sambil menatap baju Aditya, "Kau terlihat semakin gagah." Daisy mengacungkan jempol-nya dan Aditya mulai terkekeh pelan lalu ia bersama Henzie dan Daisy mulai melihat beberapa tarian tradisional yang berasal dari Yogyakarta. Andrian mulai meninggalkan karena beberapa pelayan baru saja memanggil-nya.
Mereka mulai menikmati wisata Keraton ini, seorang pemandu mulai mengajak seluruh turis untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang akan menunjukkan berbagai tarian yang berasal dari Yogyakarta. Aditya mencari sebuah tempat duduk yang nyaman untuk bisa melihat semua tarian itu, Putri tiba-tiba melihat mereka lalu menghampiri mereka untuk mengajak duduk di tempat VIP agar mereka bisa berbicara sambil melihat semua tarian itu.
Tempat VIP itu cukup nyaman karena mereka duduk di bagian paling atas, "Ngomong-ngomong soal Keraton Yogyakarta ini, benar-benar hebat loh! Aku semakin menyukai Indonesia." Kata Daisy, Putri langsung terkekeh karena ia senang mendengar hal itu dari orang yang berasal dari luar Negara.
__ADS_1
Pertunjukan dimulai dan memperlihatkan tarian yang pertama bernama Tari Beksan Lawung Ageng... karena Daisy dan Henzei tidak mengetahui tarian tradisional jadi Putri harus menjelaskan-nya kepada mereka sedangkan Aditya hanya diam dan menikmati pertunjukan itu karena kepala-nya masih terasa pusing ketika selesai bertarung melawan Andrian.
"Tarian adat Yogyakarta ini juga sering disebut dengan tari beksan lawung yang menjadi tari tradisional Keraton Yogyakarta. Tarian ini biasanya akan ditampilkan oleh 16 orang penari yang semuanya pria terdiri dari 4 orang jajar, 2 orang botoh, 4 orang pengampil, 4 orang lurah dan juga 2 orang salaotho." Tarian itu dimulai, Henzie dan Daisy melihat tarian itu sambil mendengarkan penjelasan dari Putri.
Putri juga bahkan memberitahu Daisy dan Henzie bahwa pengguna Mana akan mendapatkan efek berguna jika melakukan tarian tradisional, misalnya seperti peningkatan kekuatan dan juga sumber Mana, setiap tarian memiliki efek beruntung masing-masing berdasarkan sejarah mereka jadi Putri harus menjelaskan-nya kepada mereka berdua karena tarian ini hanya efektif kepada gadis.
"Apakah pria tidak bisa mendapatkan efek menguntungkan itu ketika menari?" Tanya Aditya.
"Ada sih beberapa tarian tetapi untuk mendapatkan efek menguntungkan itu sulit loh, aku jamin... kau harus benar-benar fokus dan tenang di dalam hati juga jiwa-mu itu. Jika kau melakukan-nya dengan kesenangan sendiri maka efek itu tidak akan muncul bahkan mencampurkan perasaan lain seperti malu dan lain-lain akan menggagalkan efek itu juga." Hanya Henzie saja yang mendengarkan penjelasan itu dengan teliti.
Tarian tradisional ini terdengar cukup membantu dalam pertarungan, Daisy tidak terlalu mendengarkan-nya karena saat ini ia sedang merasa takjub melihat tarian tersebut. Henzie bahkan sampai harus mengeluarkan sebuah catatan dan menulis apa yang dibicarakan oleh Putri.
"Sepertinya kau tertarik untuk mempelajari tarian ini ya?" Tanya Putri, Henzie terkejut dan ia langsung mengangguk pelan, "Aku adalah seorang gadis yang menjaga seorang bangsawan maka harus bisa bertambah kuat demi melindungi Nona... dan... setidaknya aku juga... bisa melindungi keluarga-ku nanti..." Henzie mulai tersipu sambil menatap Aditya yang sedang menatap ke depan.
"Langsung kepada inti-nya saja ya... Beksan terinspirasi dari kondisi kegiatan para prajurit sebagai abdi dalem raja yang secara rutin melakukan latihan watangan, latihan watangan adalah latihan ketangkasan dalam berkuda dengan membawa sebuah lawing atau watang yakni tongkat panjang berukuran sekitar 3 meter yang bagian ujungnya tumpul dan saling menyodok untuk menjatuhkan lawan." Putri mulai menjelaskan, ketika mendengar sejarah tersebut Henzie mulai yakin bahwa tarian itu pantas untuk seseorang yang bertarung menggunakan tongkat atau tombak.
"Aku harap kamu tidak tersinggung ya... tarian Yogyakarta ini menjadi bentuk usaha Sang Sultan untuk mengalihkan perhatian para penjajah Belanda pada kegiatan prajurit di Keraton Yogyakarta sebab ketika itu Sultan harus tunduk dengan kekuasaan belanda." Henzie terkejut ketika sejarah itu ternyata memiliki nama Belanda di dalam, Henzie tidak merasa keberatan sih sehingga ia mulai menatap Putri dengan ekspresi yang terlihat serius.
"Apakah efek menguntungkan yang aku dapatkan adalah kecepatan dan refleks dalam menggunakan sebuah tombak atau tongkat?" Tanya Henzie, ia mulai menatap ke depan dan melihat tarian tersebut, "A-Apakah aku juga harus menggunakan pakaian terbuka seperti itu?"
"Tidak juga... pertanyaan yang sebenarnya adalah apakah kau bisa menahan rasa malu jika menari seperti itu?" Tanya Putri, Henzie mulai berpikir dua kali lalu ia menundukkan kepala-nya, "Sepertinya mustahil... untuk orang Belanda seperti-ku yang tidak terlalu mengerti tentang budaya Indonesia.
"Oh ayolah, nanti aku ajarkan... kau harus mengenal budaya Indonesia loh untuk bisa mendapatkan hati-nya." Putri tersenyum dan Henzie langsung menyilangkan kedua lengan-nya dan mengalihkan pandangan-nya, "Hentikan..."
__ADS_1
"Ahahaha, maaf-maaf."
***
Di siang cerah seperti ini, Wilhelm dan Satria baru saja selesai berbelanja beberapa bahan makanan untuk makan siang dan malam. Suasana kota Yogyakarta ini cukup ramai sampai mereka tidak bisa berhenti melihat sekeliling, "Sudah saatnya untuk pulang sekarang, Wilhelm. Aku lapar... hayang nyatu." [Hayang Nyatu] bahasa Sunda dari [Ingin makan].
Beberapa menit kemudian, mereka masuk ke dalam mobil Wilhelm lalu Wilhelm mulai menyalakan mesin mobil-nya setelah itu menginjak gas untuk mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan rata-rata karena ia melihat beberapa polisi. Satria mengeluarkan satu batang rokok lalu ia menyalakan-nya sehingga jantung-nya mulai berdetak cepat.
"...Wilhelm."
"Ya, kau merasakan-nya juga?" Wilhelm dan Satria bisa merasakan banyak sekali pengguna Mana berada di jalanan tetapi Satria tidak bisa melihat orang-orang yang mencurigai, detak jantung-nya yang cepat itu memperingati dirinya bahwa terdapat banyak sekali pengguna Mana yang sedang bertarung... entah itu dimana.
Wilhelm mulai mengalirkan kedua mata-nya dengan Mana sehingga ia bisa melihat sebuah bulat yang berwarna biru, ia bisa merasakan sesuatu yang buruk terjadi dan ia tidak bisa belok atau putar balik karena terdapat banyak mobil dan motor dibelakang-nya.
"Kau melihatnya...?" Tanya Wilhelm.
"Begitulah, kenapa di saat-saat seperti ini terdapat kerusuhan sih." Satria mulai mempersiapkan diri karena di balik bentuk bulat itu terdapat sesuatu yang mengerikan menunggu.
"[Mana Battlefield], semua pengguna Mana memiliki kemampuan tersebut jika mereka terus berlatih. Tempat yang tidak akan bisa dilihat begitu saja oleh seorang manusia yang tidak memiliki Mana..."
"...pengguna Mana yang masuk ke dalam medan perang itu, mereka akan melihat kerusuhan yang disebabkan oleh seseorang." Mobil itu masuk ke dalam lingkaran tersebut sehingga Wilhelm dan Satria bisa melihat kerusuhan besar dimana mereka melihat beberapa rakyat Manusia yang sedang berperang.
"Ini neraka... Banyak sekali preman dan orang jahat sedang bertarung..." Kata Satria sampai ia bisa melihat beberapa mayat yang berserakan dimana-mana.
__ADS_1