Pride of Indonesia

Pride of Indonesia
POI 16 - Terus Mencari


__ADS_3

Presiden rakyat Indonesia kali ini mulai menghubungi Jendral Wahyudi karena ia ingin memberitahu-nya bahwa tugas-nya untuk melakukan operasi Petrus kepada Aditya lebih baik dihentikan saja karena menghabiskan banyak waktu, ia sendiri sadar bahwa dia itu manusia dan juga rakyat Indonesia yang sudah berjuang habis-habisan mencoba untuk mengalahkan para penjajah.


"Lebih baik kau hentikan operasi itu kepada-nya, Wahyudi... lebih baik mencari mangsa lain seperti preman atau seseorang yang melakukan kejahatan, ia akan aku maafkan walaupun dia sudah membunuh beberapa prajurit-mu itu." Kata presiden itu.


"Tidak bisa... dia sudah melakukan kejahatan lebih besar dan dia pantas untuk dihukum mati, seluruh tentara yang sudah aku latih demi melindungi negara ini malah terbunuh oleh si sialan itu... era ini bukan era dia lagi, pak presiden, walaupun dia pernah menyingkirkan para penjajah dan menjadi pahlawan, dia pantas untuk menerima hukum-hukum yang tertera dimasa ini." Ketika mendengar perkataan itu dari Wahyudi, Presiden RI menyesal karena menyuruh diri-nya untuk melakukan operasi Petrus.


Awal-nya memang dia yang sudah melukai Aditya beberapa kali juga membunuh teman-temannya sejak itu, membalas nyawa dengan nyawa itu terdengar buruk dan Indonesia lebih mementingkan kemanusiaan dibandingkan berbalas dengan membunuh nyawa rakyat yang sama, itu yang ditakutkan oleh Presiden pertama, perjuangan mereka akan lebih keras ketika melawan bangsa sendiri.


Terlambat untuk menghentikan Wahyudi karena dia memiliki kemampuan Mana, presiden tersebut pernah dengar bahwa ia itu mesin pembunuh dan juga Jendral yang sangat tegas... ia akan melakukan tugas-nya sampai selesai, "Kalau begitu terserah, lakukan operasi itu kepada seseorang yang salah... jika kau melihat preman dan orang yang melakukan kejahatan... tembak saja."


"Aku senang mendengar-nya darimu, pak... tetapi saat ini kondisi-nya berubah, Aditya itu berhasil melarikan diri bersama dua gadis belanda itu." Kata Wahyudi.


"Ironis sekali... pahlawan Indonesia yang mengusir Belanda melarikan diri bersama dua gadis belanda."


"Benar sekali, salah satu dari gadis belanda itu sangat kaya karena usaha rempah-rempahnya itu, pak, jika kita dapat bekerja sama atau membawa gadis itu untuk membantu kita mengembangkan ekonomi Indonesia maka kita bisa menjadi negara paling kaya dengan usaha rempah-rempah dari berbagai negara." Wahyudi tersenyum.


"Lebih baik kau pikirkan terlebih dahulu, kemana pergi-nya Aditya sekarang bersama kedua gadis itu? Masalah ini sepertinya tidak bisa kau cantumkan dengan diri-ku, sekarang ini adalah masalah-mu karena dia sudah membunuh beberapa tentara militer dan kau juga sudah membunuh teman-temannya... ini seperti perang antar bangsa." 


"Jadi...?"


"Pikirkan sendiri, jenderal... lakukan apa yang kau anggap benar asalkan kau tidak merugikan Indonesia, jika kau sekali melakukan kerusuhan atau kehancuran maka aku akan mencari-mu." 

__ADS_1


***


Setelah beristirahat di Rest Area yang berada di kota Cirebon, semua penumpang termasuk supir bis itu masuk ke dalam bis lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju Semarang, supir itu sepertinya akan beristirahat di Rest Area yang berada di kota Semarang jadi di tengah malam seperti ini kedua mata-nya terasa segar karena sudah minum kopi, para penumpang kembali beristirahat.


Termasuk Aditya bersama Henzie dan Daisy yang sedang memeluk lengan-nya itu tanpa sadar, kali ini Aditya yang tertidur duluan kemudian Daisy dimana Henzie masih bangun dan melihat Daisy yang sedang memeluk lengan-nya seperti biasa... ia bisa melihat kesempatan besar ketika Aditya tertidur jadi dia mulai pelan-pelan memeluk lengan kiri-nya lalu tertidur.


Menghabiskan waktu lebih dari tiga jam karena supir itu tidak mengetahui jalan pintas sampai ia terjebak di dalam kemacetan yang cukup panjang, untung-nya pada pukul [03:58] bis itu telah masuk ke wilayah kota Semarang. Sekarang supir itu hanya perlu mencari Rest Area yang dekat untuk beristirahat karena di kemacetan tadi ia ingin sekali buang air kencing.


Beberapa menit kemudian, pukul [04:15] supir itu menemukan Rest Area dimana ia menghentikan bus-nya di tempat parkir yang dipenuhi dengan mobil dan berbagai macam bis, sejak pukul tiga malam Aditya sudah bangun dan ia tidak bisa melanjutkan tidur-nya kedua gadis di sebelah-nya terus memeluk-nya erat, "Hahhh... sudah sampai." Aditya mulai menutup buku yang ia baca tentang Mana.


Aditya ingin pergi menuju WC umum tetapi kedua lengan-nya di tahan, "Aku masih tidak mengerti, keempukan apalagi yang aku rasakan... entah kenapa milik Henzie terasa lebih empuk dan kenyal." Aditya perlahan-lahan bangkit lalu menarik kedua lengan-nya dengan aman, ia mulai memindahkan posisi duduk Henzie di sebelah Daisy agar ia bisa melindungi diri-nya itu.


Aditya turun dari bis-nya lalu ia mulai mencari WC umum itu, jika dia sudah tiba di Semarang maka pemberhentian selanjut-nya adalah Yogyakarta dan itu adalah hal yang baik karena ia sudah tidak tahan duduk di kursi selama berjam-jam, leher-nya juga terasa pegal karena tidak bisa bersandar dengan sesuatu yang empuk. 


"Bu, Lumpia sepuluh." Kata Aditya, ia mengeluarkan dompet-nya. Ibu pedagang itu mulai memasukkan Lumpia yang Aditya pesan ke dalam kantung lalu setelah itu ia memberikan-nya kepada Aditya dan Aditya memberikan diri-nya beberapa uang, ia juga tidak lupa untuk menanyakan letak WC umum itu.


"Lurus terus saja maka anda akan melihat WC Umum disana." Kata pedagang itu yang mulai menunjuk arah-nya kepada Aditya, "Terima kasih." Aditya pergi menghampiri arah yang ditunjuk oleh ibu itu sehingga ia bisa melihat WC umum tersebut, ia segera lari menghampiri WC itu karena ia sudah tidak bisa menahan perasaan untuk buang air kecil.


Penjaga WC itu menatap wajah Aditya dan ia langsung merasa bahwa dia itu terlihat cukup tidak asing, ia tersenyum lalu melihat beberapa tentara yang mulai menghampiri WC itu, sejak awal tentara itu mengikuti Aditya dari belakang dan mencari waktu yang pas untuk membunuh-nya karena mereka harus berhati-hati untuk tidak menakuti warga atau membuat kerusuhan.


"Apakah laki-laki yang bernama Aditya Loka itu masuk ke dalam WC itu?" Tanya salah satu dari tentara itu sehingga penjaga WC tersebut mulai menarik meja-nya lalu mengambil senapan dan juga topi tentara-nya karena selama ini ia menyamar untuk menunggu kedatangan Aditya, Wahyudi sudah memberitahu mereka berkat bantuan dari teman-nya yang dapat melacak lokasi pengguna Mana.

__ADS_1


"Mari kita habisi orang itu, hadiah-nya lumayan juga loh..." Kata penjaga WC tersebut.


Aditya yang baru saja menyiram toilet di hadapan-nya mulai mendengar suara langka yang terdengar cukup waspada, firasat-nya mulai terasa tidak enak... ia mengingat suatu hal tentang buku Mana yang baru saja ia baca bahwa jika firasat-nya tidak enak maka itu artinya Mana yang berada di dalam diri-nya mendeteksi seseorang yang mencoba untuk membunuh-nya dan memperingati diri-nya untuk berhati-hati.


"[Mana Consciousness], kemampuan yang aku miliki juga ya... terima kasih, jika aku tidak memiliki kemampuan ini maka aku sudah terbunuh." Aditya mulai menunggu waktu yang tepat dimana para tentara itu menunggu diri-nya di depan pintu-nya itu.


"Apakah mereka berencana untuk menembak-ku langsung...? Tidak... aku yakin mereka tidak akan berani untuk menembak senjata yang memiliki suara keras, suara itu dapat memancing beberapa orang yang sedang berada di Rest Area." Aditya menggerakkan lengan-nya perlahan-lahan untuk menyentuh pintu yang ada di belakang-nya, ia harus bergerak dengan pelan-pelan karena ia takut bahwa salah satu dari tentara itu memiliki kemampuan Mana yang dapat mendeteksi pergerakan.


"Baiklah, Aditya... jangan sampai kau membunuh mereka, mereka itu adalah tentara yang terlalu mendalami hukum yang tidak kemanusiaan, aku harus membuat mereka pingsan dan segera pergi menuju bis itu!" Aditya menendang pintu di belakang-nya sehingga pintu itu langsung mendorong dua tentara yang berdiri di hadapan pintu tersebut.


Aditya berjalan keluar tetapi ia dikejutkan dengan tentara lain-nya yang memegang senapan otomatis dengan [Suppressor] untuk menghilang suara bunyi bising yang dikeluarkan dari senapan tersebut, Aditya dengan cepat menggunakan kemampuan Mana di mata-nya untuk melihat semua pergerakan peluru itu yang lambat.


"Sial... jika begini aku tidak memiliki jalan keluar---" Tentara itu menarik pelatuk senapan-nya sehingga beberapa peluru mulai tertembak ke arah Aditya, ia mulai mengambil pintu yang sudah ia alirkan Mana lalu menahan semua peluru itu sambil berjalan mundur dengan berhati-hati.


"Tidak ada jalan keluar bagi-mu, Aditya!!! Tidak ada yang bisa lolos dari operasi Petrus Jenderal kami semua yaitu Wahyudi!!!" Tentara itu mulai mengalirkan senapan-nya dengan Mana agar amunisi-nya bisa terisi sendiri dan juga juga tembakan beruntun-nya bisa terus bertambah sampai pintu yang melindungi Aditya mulai retak dan hancur pelan-pelan.


Aditya terus mundur ke belakang sehingga punggung-nya mulai menyentuh tembok, ia tidak memiliki jalan lari karena kedua tentara yang baru saja terkena hantam oleh pintu itu bangkit lalu mengeluarkan pisau tajam untuk langsung menghabisi Aditya, tentara yang saat ini menembaki Aditya mulai berhenti karena ia menyerahkan sisa-nya kepada kedua tentara yang sedang memegang pisau itu.


"Sial...!" Aditya merapatkan gigi-nya sehingga ia bisa melihat pintu yang tidak jauh berada di depan-nya mulai memiliki garis biru, pintu itu terbuka lebar dan mendorong kedua tentara itu ke belakang sampai terjatuh.


"Oh my god, apakah orang Indonesia selalu berisik seperti ini di dalam WC?" Tanya seorang pria yang baru saja keluar dari toilet.

__ADS_1


Aditya merasa lega ketika seseorang menyelamatkannya secara tidak sengaja, "Terima kasih..."


"Apakah sedang terjadi Petrus disini?"


__ADS_2