Pride of Indonesia

Pride of Indonesia
POI 52 - Penjajahan


__ADS_3

Normal's POV


Setelah semua latihan dan perkataan yang diberikan Satria kepada Aditya, hari yang tidak bisa dibilang positif datang, Aditya terjun menuju medan perang untuk mempertahankan negaranya dari negara belanda yang mencoba untuk menjajah. Dengan perlawanan, seluruh pejuang indonesia maju untuk mempertahankan tanah air yang mereka cintai.


"Aditya, apapun yang terjadi... gunakan pengalaman sebagai gurumu itu, persenjataan Indonesia hanya mengandalkan bambu runcing ini dan senjata yang tidak bisa dibilang canggih tetapi kita dapat mencurinya!" seru Satria, ia mengangkat dua senapan lalu melemparnya satu kepada Aditya yang berlindung di balik pohon.


Dengan cepat Aditya mengambil senapan tersebut lalu mengisinya dengan cepat, ia juga bisa melihat pasukan belanda berada tepat di belakang pohon itu dan jumlah mereka banyak sekali. Hanya Satria dan Aditya yang berpisah dari pejuang lainnya tetapi mereka bisa melihat Satria dan Aditya yang kesulitan.


Untungnya terdapat satu pejuang yang memegang sebuah busur, ia menggunakan busur itu untuk mengurangi jumlah pasukan Belanda bahkan sampai membuat mereka berpencar dan waspada dengan setiap pohon, mereka baru saja mengetahui bahwa salah satu pasukan Indonesia baru saja bersembunyi di atas pohon.


"Aditya... gunakan senapan ini untuk menunjukkan siapa yang pantas untuk meraih kedamaian tersebut, mencuri senjata canggih seperti ini adalah cara yang cukup baik untuk meriah kemerdekaan." Satria mulai membidik salah satu prajurit Belanda yang sedang melihat arah lain dan ia berhasil menembak kepalanya sampai hancur.


Aditya melakukan hal yang sama dengan menembak salah satu prajurit Belanda yang lengah, mereka berhasil bertahan dan seluruh pasukan Belanda yang mereka lihat mulai berkurang tetapi Aditya mulai meminta Satria untuk melarikan diri karena ia melihat bala bantuan yang datang, Satria mulai menghampiri beberapa warga yang tidak bersalah lalu mengajak mereka menuju tempat yang aman.


Pasukan Belanda lainnya datang, mereka mulai menembak beberapa warga yang tidak bersalah bahkan sampai membuat Aditya terkejut ketika melihatnya, ia mencoba untuk menyerang tetapi Satria menghentikan dirinya dengan menghampirinya lalu menurunkan senapan yang hampir saja ia bidik ke salah satu prajurit.


"Kita harus tenang... jika kita ingin menang maka lakukan semua ini dengan pelan, proses itu dibutuhkan dan akan lebih baik lagi jika kita membunuh mereka secara diam-diam... satu per satu..." Apa yang baru saja dikatakan oleh Satria membuat Aditya terdiam sesaat.


Satria dan Aditya mulai melarikan diri ke tempat yang aman, beberapa prajurit belanda mulai menyadari Satria dan Aditya yang mencoba untuk melarikan diri, seluruh prajurit Belanda itu langsung membidik mereka dan mencoba untuk menembak mereka tetapi tidak ada satupun peluru yang mengenai tubuh mereka karena Satria dan Aditya terus lari dengan cara zig-zag dan berlindung di balik pohon yang begitu besar.


Aditya mulai membidik beberapa prajurit Belanda di belakangnya menggunakan senapan itu dan ia mulai menembaknya dengan asal agar bisa menahan semua pasukan itu, nafas mereka mulai terasa berat ketika mencoba untuk melarikan diri sejauh mungkin dari pasukan belanda itu. Aditya tidak memiliki pilihan lain selain melompat ke jurang di hadapannya yang memiliki air terjun.


"Satria, kau ikut aku?"

__ADS_1


"Kau merencanakan sesuatu?"


"Ya..." Aditya mulai melompat ke depan dan ia bisa melihat air sungai yang begitu besar tetapi tujuannya tidak jatuh menuju sungai itu, ia sempat menggunakan bambu runcing yang ia bawah di belakang punggungnya dengan menusuk salah satu batu yang memiliki celah besar.


Bambu runcing itu mulai masuk ke dalam celah itu, dengan cepat Aditya memegangnya erat dan ia mulai membantu Satria yang baru saja jatuh dengan meraih tangan kanannya, Satria terkejut ketika melihat Aditya yang dipenuhi dengan keringat karena mencoba untuk menahan beban tubuh Satria dan mencoba untuk memperkuat genggam tangannya.


Sekali saja ia melepaskan bambu runcing itu maka ia bersama Satria akan terjatuh menuju batu-batu yang begitu besar, menyebabkan kedua kaki mereka patah. Dengan cepat Satria mulai memegang sebuah batu yang aman untuk di genggam sehingga ia memanjat ke tempat yang lebih aman.


Pikiran cepat Aditya berhasil menyelamatkan diri bersama Satria dari seluruh pasukan Belanda itu yang menyangka bahwa dirinya dan Satria masuk ke dalam sungai itu, mereka tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan cara yang lebih mudah untuk menghampiri sungai yang berada di dalam jurang itu.


"Pikiran cepat yang bagus, Aditya... aku tidak percaya bahwa kau akan memikirkan semua ini dengan cepat."


"Jika aku tidak melihat celah tadi... kita mungkin akan masuk ke dalam sungai tetapi aku memiliki cara yang lebih baik, musuh sepertinya menyangka kita jatuh ke dalam sungai. Itu artinya mereka memiliki banyak celah di bagian belakang." Aditya melihat Satria yang mencoba untuk membantu dirinya naik menuju permukaan.


"Teu nyangka lah (Tidak disangka lah), sahabatku memang pantas menjadi seorang Raden dan pemimpin pasukan."


Mendengar suara yang bising itu saja membuat Aditya yakin bahwa bala bantuan pasukan Indonesia datang dengan mengejutkan mereka, dengan cepat Satria dan Aditya mulai menghampiri kembali medan perang yang dahsyat itu dan mereka dikejutkan dengan banyak sekali mayat.


Bukan mayat prajurit saja bahkan mayat penduduk yang tidak bersalah berserakan dimana-mana, membuat Satria kesal sehingga ia bergerak lebih dekat untuk membunuh seluruh prajurit belanda itu sedangkan Aditya menjaga di bagian belakang dengan menghabiskan sisanya, ia juga dikejutkan dengan beberapa prajurit Belanda yang membawa truk Infanteri.


Semua prajurit yang berada di truk itu bersenjata kuat bahkan sampai menghabiskan sebagian dari pasukan Indonesia yang baru saja datang, dengan cepat Aditya mulai menghampiri salah satu truk itu dan mencoba untuk menghancurkannya menggunakan senapan yang ia bawa dan bambu runcing lain yang ia ambil dari prajurit yang gugur.


Kebetulan truk itu berada tepat di hadapan Aditya, jadi ia bisa menyerangnya dari belakang dengan menusuk punggung seorang pasukan yang memegang senapan api otomatis itu, setelah prajurit yang baru saja ia bunuh mati, dengan cepat ia merampas sebuah granat lalu menyalakan-nya dan menyimpannya tepat di belakang kursi truk tersebut.

__ADS_1


Ia melompat ke belakang dan terjatuh, melihat truk di hadapannya meledak sampai perlahan-lahan mundur menuju dirinya dan mencoba untuk melindasnya. Aditya mencoba untuk tidak panik, ia mundur ke belakang tetapi dikejutkan dengan pasukan Belanda yang berada tepat di dekatnya.


"Sial---" Aditya melebarkan matanya ketika melihat Satria berhasil membunuh pasukan Belanda yang berada dekat dengannya.


"Tenang saja, aku akan membantu--- Agghhh!!!" Satu tembakan mengenai pinggang Satria, membuat dirinya terjatuh di atas tubuh Aditya bahkan sampai membuat dirinya tidak bisa berkata-kata.


"Sa-Satria...?!"


Aditya bisa melihat prajurit yang menembak Satria itu mengenai pakaian seperti pemimpin pasukan, prajurit itu terlihat terluka karena terkena ledakan dari truk tadi tetapi ia masih bisa bertahan dan senapan yang pegang kehabisan peluru, prajurit itu mengisi ulang amunisi senapan itu lalu mencoba untuk membidik Aditya.


Aditya dengan cepat meraih senapan yang dipegang oleh Satria dan berhasil menembak kaki prajurit Belanda itu sampai terjatuh di sebelah Aditya, ia masih hidup tetapi Aditya mengakhiri hidupnya dengan mengeluarkan sebuah silet di saku celana Satria lalu memasukkannya ke dalam mata prajurit tersebut, membuat dirinya kehabisan darah dan mati.


"Satria...!" Aditya mulai mendorong tubuh Satria pelan-pelan dan melihat kondisinya, ia langsung bersyukur ketika melihat dirinya masih bertahan tetapi ia mendapatkan luka yang begitu fatal di bagian pinggangnya.


Pasukan Indonesia lainnya mulai mendekati Aditya dan Satria untuk menyerang pasukan Belanda yang mendekat, Aditya mencoba untuk memeriksa kondisinya dan Satria sendiri sudah pasrah bahwa tembakan tadi sudah cukup untuk membuat dirinya tidak bisa melanjutkan kehidupannya untuk menulis sejarah kemerdekaan.


"Aku... aku tidak akan bisa bertahan, Aditya... tinggalkan aku..."


"Aku berada di sisimu, teman, tenang!" Aditya mulai menggusur tubuh Satria dan membawa dirinya ke tempat yang lebih aman agar pendarahan yang ia dapatkan di bagian pinggangnya bisa berhenti.


Seorang prajurit Indonesia mulai memberikan Aditya sebuah pistol dan ia menggunakannya untuk menembak beberapa pasukan Belanda yang berdatangan dari depan, ia juga bisa mendengar salah satu prajurit Indonesia yang meminta seluruh pasukan untuk mundur karena jumlah mereka yang begitu banyak.


"Aditya... tidak ada gunanya..."

__ADS_1


"...kau sudah berjuang. Kita berjuang bersama..."


"...Indonesia harus berani mati untuk mencoba mencapai kemerdekaan!"


__ADS_2