Pride of Indonesia

Pride of Indonesia
POI 20 - Keindahan?


__ADS_3

"Astaga, aku tidak menyangka akan bertemu dengan-mu lagi...!" Satria terlihat senang ketika melihat Aditya karena ia terlihat cukup sehat sekarang, entah kenapa melihat diri-nya membuat Satria terharu sampai ia langsung memeluk diri-nya dan menepuk punggung-nya beberapa kali, "Sakit...!!! Tubuh-ku masih sakit...!"


"Ahh, hampura." [Hampura] bahasa Sunda dari Maaf.


"Wahhh... apakah ini kebetulan juga?! Oh my god! Lebih baik kita berbicara di dalam mobil saja agar kita bisa mengejar bis yang meninggalkan-mu itu, Aditya." Wilhelm membuka pintu depan lalu ia masuk dan menyalakan mesin-nya sedangkan Satria mengajak Aditya untuk duduk disebelah-nya karena banyak sekali hal yang ingin ia bicarakan bersama teman lam-nya.


Beberapa menit kemudian, Wilhelm menginjak gas dan menaikkan kecepatan mobil itu pelan-pelan, ia mulai menatap ke depan sambil berwaspada melihat jalan juga kaca spion-nya karena ia sekarang bersama seorang buronan yang dicari-cari jika Wilhelm melihat sebuah mobil yang berisi para tentara atau seseorang yang mencurigakan maka ia akan menggunakan listrik-nya untuk mematikan mesin mereka.


"Apakah kau benar-benar, Raden Aditya?!" Tanya Satria dengan ekspresi yang terlihat senang.


"Menurut-mu?" 


"Ternyata benar... jawaban yang dingin itu adalah Raden Aditya, pahlawan-ku yang terhebat dan tergagah!" Satria mencoba untuk menepuk punggung-nya tetapi Aditya berhasil menghindari-nya karena tubuhnya berada di fase pemulihan dari luka yang ia terima dari David, "Banyak sekali darah, aku lupa bahwa kau terluka... kenapa kau bisa terluka seperti ini?" Tanya Satria yang mulai mengambil tas-nya untuk mencari suntikan atau perban yang dapat menyembuhkan luka-nya.


"Bagaimana kau bisa terluka seperti ini...?" Tanya Satria.


"Inilah kenapa kau jarang melihat berita yang sedang terkini, Satria, Aditya telah diburu oleh seorang Jenderal yang bernama Wahyudi... Wahyudi bersama tentara-nya mencoba untuk melakukan operasi Petrus demi membunuh diri-nya, Aditya berasal dari Jakarta dan saat ini ia masih terus dikejar oleh mereka semua." Kata Wilhelm yang mulai menjelaskan itu, Satria terkejut ketika mendengar-nya... tidak mungkin Aditya teman lama-nya akan melakukan kejahatan.


"Ahh... aku pasti tahu penyebab-nya, garis Mana yang terlihat seperti tato 'kan? Lagipula Jenderal sialan itu sudah memburu banyak sekali pengguna Mana untuk dijadikan sebagai tentara militer yang melindungi Indonesia tetapi cara yang ia gunakan salah juga, aku pernah mendengar banyak gosip tentang diri-nya ketika di bandung." Satria mengeluarkan sebuah suntikan lalu ia menatap Aditya dengan ekspresi yang terlihat serius.


"Aku sudah mengetahui identitas-nya yang asli dari polisi yang ditugaskan untuk membunuh-ku, rakyat Indonesia seperti diri-nya lah yang dapat menyebabkan kerusuhan atau konflik antar bangsa..." Aditya mengepalkan kedua tinju-nya erat dan Satria mulai mengingat perkataan teman baik-nya yaitu Presiden RI yang pertama.


"Wajah-mu dan juga perkataan itu hanya membuat-ku mengingat masa penjajahan, Raden... hentikan, aing terharu dengar-nya..." Satria menahan air mata-nya karena ia tidak menerima kematian Presiden RI yang meninggal karena sebuah penyakit, "Kau merasa sedih ya...? Kau bayangkan jika beliau masih hidup dan mengetahui soal Petrus ini."


"Raden... hentikan!" Aditya terkekeh ketika melihat teman lama-nya yang masih memiliki sikap yang sama, mudah emosional dan juga gampang merasakan kesedihan dengan mudah. Aditya mulai menyuruh-nya untuk menggunakan suntikan itu untuk memulihkan diri-nya, "Apakah suntikan itu aman?"


"Tentu saja, aku mendapatkan suntikan ini dari doktor yang cukup hebat di bandung, dia sangat seksi bro!" Satria mulai menyuntik leher Aditya sampai ia melebarkan kedua mata-nya, tubuhnya terasa ringan untuk sekejap sehingga semua luka dan kerusakan yang berada di dalam-nya hilang tiba-tiba.

__ADS_1


"Seksi...?" Aditya terlihat kebingungan ketika mendengar-nya, "Ahhh... Raden, raden, kau masih tidak mengerti definisi hebat wanita ya, kau terlalu fokus dengan pertempuran dan perang sejak itu sampai tidak memperdulikan tentang cinta dan keindahan seorang wanita!"


Wilhelm terkejut ketika mendengar Aditya yang tidak mengetahui banyak tentang seorang wanita dan juga cinta, kemungkinan besar dia menganggap wanita itu sama derajat-nya dengan seorang Pria? Itu terdengar cukup berbahaya, di era seperti ini Aditya harus belajar dengan suatu hal yang baru... bukan hanya pertarungan atau sumber Mana saja.


"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan tentang cinta dan keindahan seorang Wanita, kalau cinta sih... aku pernah melihat teman baik-ku memiliki sembilan wanita yang mendampingi hidup-nya, banyak sekali ya... apakah itu yang kau maksud dengan cinta?" Tanya Aditya.


"Astaga, inilah kenapa kau terlalu fokus dan serius dengan pertempuran bahkan ketika Indonesia sudah merdeka kau lebih mementingkan untuk berlatih, kau sendiri bahkan belum menikah..." Satria menepuk wajah-nya, ia kira Aditya akan mengalami perubahan yang besar di era orde baru ini tetapi ternyata dia masih tetap sama.


"Apa yang kau harapkan... aku tidak memiliki banyak waktu, aku lebih memilih untuk belajar tentang Mana ini, kau sendiri meninggalkan-ku dan pergi entah kemana... tetapi sekarang aku mengerti, kau pindah ke bandung 'kah?" Tanya Aditya.


"Begitulah... Dokter seksi yang aku maksud itu adalah istri-ku, aku lupa untuk memperkenalkan dia kepada-mu sejak itu, Raden, sayang sekali aku terlambat dan ketika aku mencoba untuk mencari-mu kau tiba-tiba pergi entah kemana."


"Selama ini aku di Jakarta, aku tidak menyangka bahwa kau akan memiliki sumber Mana juga." Kata Aditya.


"Tentu saja, mungkin hanya kita yang memiliki sumber Mana itu... dengan bantuan dari kemampuan Mana, kita dapat hidup panjang dan kita juga tidak akan menumbuhkan keriput atau rambut yang berwarna putih." Perkataan Satria terdengar cukup aneh bagi Aditya karena ia pikir hidup terlalu panjang itu bisa saja menyakitkan sehingga ia mencoba untuk tidak menghiraukan-nya karena rasa penasaran mulai menyerang pikiran-nya.


"Susu!" 


"Hah?"


"Astaga, kau masih tidak peka seperti biasa. Itu loh, gede seperti melon yang menempel di dada." Satria mulai tertawa ketika ia membicarakan tentang keindahan gadis karena ia sudah beberapa kali memberi tahu Aditya tentang sesuatu yang tidak ia ketahui, "Ahh... dipikir-pikir lagi, apakah itu terasa empuk dan kenyal? Yang kau maksud keindahan gadis itu dari baju-nya ya?"


"Pfffttt.....!!!!! Kau ini sudah dewasa astaga tetapi kenapa kau tidak tahu sedikitpun tentang keindahan wanita!?" Satria mulai menghisap rokok-nya sampai habis setelah itu ia membuang-nya di tengah jalan, "Belegug sia, hahaha."


"Yang aku maksud itu dada seorang wanita, astaga, masih banyak yang harus kau pelajari soal wanita, Aditya." Ketika Satria memberitahu sesuatu yang empuk dan lembut itu adalah dada, Aditya mulai berpikir... itu artinya dada milik Daisy dan Henzie yang dimaksud oleh Satria adalah keindahan wanita, "Kalau tidak salah aku pernah merasakan-nya."


Wilhelm dan Satria terkejut sampai pikiran mereka mulai berpikir bahwa Aditya tidak sengaja menyentuh dada Wanita karena saking penasaran-nya, "Apa!? Kau menyentuh-nya!? Dada siapa!? Apakah kau baik-baik saja!?" Satria mulai panik ketika mendengar-nya.

__ADS_1


"Oh my gooodness!!!" Wilhelm sendiri bahkan tercengang ketika mendengar-nya.


"Dada siapa yang kau sentuh?! Apakah wanita yang tidak kau kenal?"


"Tidak sih... Dua teman-ku yang berasal dari Belanda, namanya adalah Daisy dan Henzie. Salah satunya memiliki keempukan yang terasa lebih nyaman." Aditya mulai menatap lengan kirinya dimana ia masih mengingat sensasi lembut dari dada Henzie.


"Ahh?! Dua teman-mu itu... Jangan-jangan mereka istri atau pacarmu?!" Satria mulai terkejut juga senang ketika teman dekatnya memiliki dua istri atau pacar.


"Hah? Apa?" Aditya menatap Satria dengan ekspresi yang kebingungan, ketika mendengar itu Wilhelm dan Satria mulai menepuk wajah mereka masing-masing karena ia benar-benar harus belajar.


"Apakah selama ini Aditya tidak pernah masuk sekolah?" Tanya Wilhelm.


"Sejak kecil dia dilatih untuk menjadi seorang pahlawan Indonesia, keluarganya juga miskin dan tidak memiliki uang untuk sekolah. Aditya belajar di sekitarnya dan aku kadang membantunya." Satria mulai mengambil satu rokok yang berada di dalam bungkus-nya.


"Pelan-pelan saja, intinya dia harus tahu soal cinta dan wanita." Kata Wilhelm.


"Aku tidak mengerti, seperti biasanya kau selalu mengatakan sesuatu yang tidak akan mengerti." Kata Aditya sambil menunjuk Satria sehingga ia mulai menawarkan Aditya sebatang rokok, "Udah kita bahas nanti saja, mau ngudud gak nih bro?"


"Paru-paru bisa tersenyum loh." Satria mulai menyalakan rokok-nya lalu menghisapnya dan menghembuskan asapnya di depan wajah Aditya, "Uhugh... Tidak, terima kasih."


"Kenapa? Kau waktu itu pernah merokok dua atau tiga kali 'kan? "


"Sekarang aku sedang tidak mood, aku khawatir dengan Henzie dan Daisy." Aditya mulai menatap keluar jendela, "Ahh... Kau tidak memiliki kemampuan untuk melacak Mana seseorang 'kah?"


"Ehh? Kau memiliki kemampuan seperti itu?"


"Tentu saja, sini... biar aku tunjukkan!"

__ADS_1


__ADS_2