Pride of Indonesia

Pride of Indonesia
POI 58 - Bakso


__ADS_3

Melihat Satria yang bertingkah berlebihan soal makanan membuat Aditya kesal karena ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam bakso itu, kemungkinan besar pedagang tersebut yaitu Agus memasukkan sesuatu ke dalamnya sehingga ia bangkit dari atas kursi dan mencoba untuk memberi dirinya pelajaran.


"Brengsek...! Apa yang kau lakukan kepada Satria!?" Aditya mulai meraih kerah baju Agus hingga mengejutkan dirinya, ia tidak tahu apa yang sedang terjadi tetapi Wilhelm langsung menghentikan dirinya dengan menariknya mundur.


"Aditya, apa yang kau lakukan?! Ini tempat umum, kau tidak boleh membuat keributan di sekitar sini..." Kata Wilhelm.


"Pedagang ini pasti memasukkan sesuatu ke dalam bakso milik Satria..."


"Tidak ada yang perlu kalian khawatirkan, semua orang akan merasakan bakso yang aku buat dengan cara yang berbeda-beda berdasarkan lidah mereka, sudah harga diri saya sebagai pedagang bakso untuk membuat bakso yang sangat lezat." Agus tersenyum kepada mereka semua.


Amarah Aditya mulai menurun, ia juga tidak tahu apa yang sedang ia lakukan tadi sampai memarahi pedagang itu dan membuat keributan yang dapat mengganggu orang-orang yang sedang makanan, Aditya meminta maaf lalu ia kembali duduk di atas kursi.


"Bakso saya dibuat dari daging yang sangat gemuk dan sehat, daging yang dihasilkan cukup baik bahkan sampai saya bersihkan berkali-kali dan ditaburkan dengan bumbu serta rempah-rempah yang memiliki kaya rasa..." Agus mulai mendekati Aditya dan yang lainnya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadinya.


"Itu benar, Aditya... tidak ada yang harus dikhawatirkan, semua bakso yang aku rasakan ini memiliki rasa yang begitu kaya, semuanya terasa segar dan lezat tiada dua!" Satria tersenyum lalu berterima kasih kepada Agus karena sudah membuat bakso lezat di seluruh dunia.


Agus merasa lega karena Aditya tidak mencurigainya sampai membandingkan dengan pengguna Mana, sebenarnya ia sendiri tidak melakukan apa-apa melainkan menyiapkan bakso yang selalu ia jual setiap hari, baksonya selalu terjual habis karena lezat bahkan cocok untuk lidah orang sunda seperti Satria.


"Saya juga lupa memberitahu, sepertinya hanya orang sunda yang dapat terpengaruh dengan reaksi berlebihan seperti teman anda satu ini, orang sunda biasanya sangat menyukai bakso dengan campuran sambal yang begitu pedas..."


"Ahh, pantas saja..." Andrian kembali menikmati makanan siangnya dengan tenang tetapi semua ketenangan itu menghilang ketika Satria terus bereaksi secara berlebihan, bakso yang mereka pesan dan makan itu enak tetapi bagi Satria itu terasa seperti bakso yang keluar dari surga.


Sekarang Satria hanya perlu mencicipi bakso yang terisi keju di dalamnya, mengetahuinya saja membuat dirinya bersemangat jadi ia menyimpan yang enak untuk terakhir. Aditya terus memperhatikan dirinya selagi menggigit bakso yang ia tusuk menggunakan garpu, Satria memakan setengah dari bakso keju itu.


"MANTAP ABIS!!! EDAAAANNN!!!" Satria menjerit keras, membuat seluruh orang di sekitarnya tertawa melihat Satria, ia bertingkah seperti orang kampung yang baru saja memakan bakso tetapi hal itu tidak terlalu menyinggung dirinya yang sedang merasakan makanan surga.


"Aku tidak menyangka keju dan daging cocok untuk lidah orang Sunda seperti dirimu, Satria." Kata Wilhelm.

__ADS_1


"Daging yang begitu lezat... dihasilkan dari sapi yang sehat dan gemuk, uratnya yang menonjol di sekitar bola daging di tambah dengan keju kental di dalamnya benar-benar terasa begitu gila dan lezat... nikmat pisan... edan... teu nyangka bisa hirup kieu aing...!" Satria menghapus air matanya lalu menghisap keju yang berada di dalam bakso itu.


"Rasa yang meledak di dalam lidah... kombinasi yang benar-benar cocok, selama ini aku yang membenci keju sekarang menyukai keju di dalam daging lebih dari apapun...! Apalagi yang enak... dicampur dengan keju ya!?" Satria terus bereaksi berlebihan itu, membuat Agus memasang wajah rendah ketika melihat Satria.


Agus selama ini selalu merasa bangga dengan bakso yang ia ciptakan sendiri dengan kerja keras tetapi melihat seorang pembeli yang menjadi sasaran membuat dirinya jijik entah kenapa, bakso yang dibuat dengan penuh kesempurnaan dirasakan oleh seorang musuh yang harus dibunuh.


"Ini tidak buruk juga... keju di dalam bakso, aku suka." Aditya menatap Wilhelm karena ia tadinya menyarankan dirinya untuk mencoba bakso yang berisi keju itu.


"Tentu saja... masih banyak makanan yang dapat dicampur dengan keju, kau seharusnya mencoba semuanya satu-satu, Aditya. Lebih baik mengetahui surga dunia yaitu makanan lezat dibandingkan diam saja dan terus bekerja secara berlebihan." 


"Mungkin bisa aku coba nanti kalau ada waktu bebas... Henzie dan Daisy juga pasti suka dengan bakso, lagi hamil begitu mereka pasti banyak maunya." Aditya mulai memanggil Agus karena ia ingin memesan dua porsi bakso lagi yang dibungkus untuk kedua istrinya.


"Ini gelo...! Gelo pisan... bakso yang langka bahkan hanya aku lah yang beruntung untuk mendapatkannya!" Satria mengangkat mangkuknya seolah-olah seperti mengangkat barang yang sangat berharga, Andrian dan Wilhelm tercengang ketika melihat Satria mendapatkan bakso yang berukuran besar.


"Oi, bakso apa itu...!? Besar sekali...!" 


"Ini adalah bakso setan...! Pedagangnya tadi bilang bakso besar ini hanya tersisa satu ketika aku memesannya... isinya lezat sekali bahkan banyak cabe dan sambel yang kenikmatan-kenikmatan begitu loh." 


Bakso Setan atau Ranjau yang di tebar di medan perang, bakso ranjau ini juga 'menjebak', kamu akan menemukan 'ranjau' berbentuk cabai rawit did alam bakso ini sehingga terjebak dengan pedasnya yang justru makin menggugah selara makan seseorang yang sangat menyukai kepedasan.


Bukan hanya itu saja, ukuran yang begitu besar ini adalah nilai tambahan, biasanya memiliki isi potongan daging cincang, urat, atau telur. Bakso satu ini juga cocok untuk orang yang sedang lapar atau ingin menikmati bakso dengan ukuran yang berbeda dan kepedasan yang terkandung di dalamnya.


"Satria, aku minta sepotong!" Andrian mendekati mangkuknya.


"Me too! Aku meminta isinya saja...! Banyak sambal dengan potongan daging dan lain-lain!" Wilhelm tersenyum lalu ia mengambil sebuah mangkuk dan mendekatinya dengan Satria.


"Ehh! Enak aja, maraneh ek naon, hah!?" Satria mengambil mangkuk itu lalu ia menjauhkannya dari pandangan mereka, bakso yang memiliki rasa yang begitu lezat tidak bisa ia berikan kepada seseorang begitu saja karena bakso besar satu ini cukup langka dan ia cukup beruntung untuk bisa memakannya.

__ADS_1


"Kalian seharusnya mencari bakso seperti ini di tempat lain... kalian punya banyak uang bukan? Bakso setan jumbo di jual dimana-mana tuh, jangan coba-coba untuk mencicipi bakso setan yang menyamar menjadi bidadari ini!" Satria mulai meminum kuah itu langsung dari mangkuknya.


"Tidak ada kemungkinan atau kesempatan untuk memakan bakso setan yang dibuat oleh pedagang ini... tunggu, siapa namamu, pak?" Tanya Satria kepada Agus.


"Pak Agus."


"Bakso surga dari tukang bakso yang bernama Pak Agus... aku tidak akan memberikannya sedikit pun kepada siapapun karena sekarang bakso adalah makanan favorit yang sangat aku sukai..." 


Satria mengatakannya sambil memamerkan mangkuk yang berisi dengan bakso besar itu, membuat Wilhelm dan Andrian kesal karena penasaran rasa apa yang terkandung di dalam bakso itu tetapi mereka melihat Satria yang mengambil dua garpu lalu menusuk potongan daging kecil itu.


"Nih..." Satria mendekati kedua garpu itu, mereka sudah tersenyum dan mencoba untuk memakannya, Satria berhasil menipu mereka dengan memakan kembali semua potongan bakso yang sudah ditusuk oleh garpu itu.


"Mmm... Kenikmatan... pedas... semuanya terasa... ini nih kalau surga dan neraka di satukan... Kenikmatan yang mantap edan! Aku sangat bersyukur untuk bisa bertahan sampai era sekarang... gila-gila...!" Satria menepuk meja beberapa kali.


"Sial... aku akan mencoba untuk mencari yang jauh lebih enak nanti dengan menyuruh pelayan-pelayanku!" Kata Andrian, ia kembali melanjutkan makan siangnya itu.


Mereka menghabiskan makan siang mereka dengan tenang, rasa dari bakso itu sudah cukup untuk membuat mereka kenyang. Andrian terkejut ketika melihat Aditya yang sedang memegang keresek yang di dalam terdapat bakso di dalam plastik yang sudah di tali mati.


"Kamu akan memakan itu untuk makan malam?" Tanya Andrian.


"Tidak kok... ini untuk Henzie dan Daisy."


"Ahh... Istri ketika hamil memang seperti itu sih, banyak maunya." Mereka mulai menghampiri mobil Satria, sudah saatnya untuk kembali ke tempat Keraton Yogyakarta atau tempat tinggal mereka.


"Satria... apa yang kau lakukan...? Lama sekali, cepatlah." Aditya melirik ke belakang.


Melihat Satria yang memborong semua bakso yang dimiliki oleh pedang itu sampai habis, Wilhelm menepuk wajahnya karena ia bisa melihat Satria seperti kecanduan dengan bakso yang dibuat oleh Agus.

__ADS_1


"Tunggu, oi, kudu meuli bakso ieu deui engke mah...!" 


"Mantap edan...!!!"


__ADS_2