
Pukul [16:56], semua orang saat ini sedang melakukan aktivitas mereka masing-masing dengan berlatih dan mengurus sesuatu yang penting... Satria dan Antoni saat ini sedang mengelilingi kota Yogyakarta untuk mencari bukti tentang preman bertopeng itu, mereka juga tidak lupa untuk menanyakan warga. Saat ini mereka tidak mengenal takut dengan arti diserang secara mendadak karena Antoni memiliki kemampuan Mana yang dapat melarikan diri dengan mudah.
Daisy dan Putri saat ini masih fokus menciptakan beberapa tablet dan juga makanan dengan efek pemulihan, Andrian ikut berlatih bersama Wilhelm dan Aditya. Hanya Henzie sendiri yang tidak melakukan aktivitas penting kecuali tertidur, ia perlahan-lahan membuka kedua mata-nya karena seluruh Mana-nya telah kembali pulih.
Jika ia tertidur karena kehabisan Mana seperti tadi, jika dia mengulang-nya maka dia tidak akan tertidur lagi karena resiko kemampuan Mana hanya terjadi sekali sehingga resiko itu sendiri dapat membantu kemampuan Mana berkembang menjadi sesuatu yang lebih baik. Henzie duduk di atas kasur dan sadar bahwa ia melihat tiga kancing terbuka sampai menunjukkan dada-nya itu.
"E-Ehh...? A-Apa ini...?!" Henzie mulai panik ketika ia melihat kancing-nya terbuka tiga, seseorang pasti melakukan sesuatu yang mesum kepada diri-nya dan ia mencoba untuk tidak panik. Dengan menggunakan kedua mata-nya yang ia alirkan Mana, ia dapat melihat sidik jari dan sidik jari itu pernah ia lihat sebelum-nya.
"A-Aditya...? A-Apa yang dia lakukan pada tubuh-ku...?" Wajah Henzie berubah menjadi merah karena Aditya baru saja menyentuh kedua dada-nya tiga kali dan itu bukan membuat-nya marah melainkan ia merasa senang dan pertama kali, "Aku... disentuh oleh Aditya... proses--- tidak, apa yang aku kata--- sebentar lagi dia akan membu--- tindakan itu tidak layak... aku seorang gadis... dia seorang laki--- laki-laki yang akan mengha--- ahhhh...!!! Bodoh-bodoh-bodoh...!!!" Henzie mulai menutup wajah-nya dengan bantal sambil berguling di atas kasur.
Beberapa menit kemudian, Henzie keluar dari kamar mandi-nya dan ia melihat Aditya yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu dengan tubuh yang dipenuhi keringat, "Aditya... selamat datang kembali."
"Kamu sudah bangun ya, merasa baikan?" Tanya Aditya, ia mengambil handuk-nya karena ia ingin membersihkan tubuh-nya yang dipenuhi dengan keringat. Henzie mengangguk dan wajah-nya masih terlihat merah karena ia tidak menyangka Aditya yang tidak mengenal cinta dengan berani-nya menyentuh dada-nya sendiri, ia menyangka Aditya mungkin penasaran sampai ia tidak sengaja menyentuh-nya.
Aditya masuk ke dalam kamar mandi, untungnya ketika Henzie keluar dari kamar mandi... ia sudah memakai pakaian-nya, ia duduk di atas kursi lalu menatap diri-nya sendiri di depan cermin. Ia mulai menata rambut seperti biasa-nya dan menunggu Aditya untuk keluar dari dalam kamar mandi karena sebentar lagi makan malam, ia ingin pergi bersama-nya menuju ruangan makan.
Menghabiskan waktu selama tiga menit, Aditya keluar dengan pakaian baru-nya lalu ia melihat Henzie yang sedang duduk di atas kasur-nya sambil membaca buku Mana, ia melihat Aditya dan ia langsung tersenyum ketika melihat diri-nya yang terlihat sangat tampan, "Kenapa kamu masih disini...? Aku kira kau sudah pergi dan menunggu Daisy untuk menyediakan makanan."
"Aku menunggu-mu... aku ingin pergi bersama-mu..." Kata Henzie, Aditya mengerti lalu ia duduk di atas kursi sambil mengusap rambut-nya yang masih basah dengan handuk. Sebelum-nya ia berkunjung ke ruang makan dan melihat sebuah kue besar berwarna putih yang terlihat sangat lezat, ia ingin sekali memakan-nya bahkan ketika Daisy memberi-nya satu potongan kue... kue itu terasa kenyal dan empuk.
"Sepertinya satu minggu ini kita akan sibuk ya..." Kata Henzie, ia berhenti membaca buku lalu memeluk kedua lutut-nya sambil menatap Aditya.
__ADS_1
"Aku ingin melihat-nya lebih jelas lagi... sesuatu yang empuk dan kenyal itu." Kata Aditya, ia mulai mengingat kue itu yang terlihat cukup lezat sampai ia melupakan nama dari makanan tersebut. Henzie tercengang ketika mendengar Aditya berbicara seperti itu, ia mulai membicarakan tentang dada-nya yang baru saja ia sentuh ketika siang.
"E-Ehh...?"
"Apakah aku boleh menyentuh-nya lagi ya...? Atau mungkin merasakan-nya, sangat sulit bagiku menemukan sesuatu yang dapat membuat tangan-ku merasakan sensasi kelembutan yang berwarna putih itu..." Wajah Henzie berubah menjadi merah sehingga ia mulai menatap Aditya dengan ekspresi yang terlihat malu, perasaan-nya mulai bertentangan karena mereka saat ini sedang berdua... waktu yang cuku pas juga tetapi ia terlalu malu dan memiliki harga diri sebagai seorang wanita.
"I-Itu... boleh saja sih... kamu sepertinya suka ya... dengan itu...?" Henzie mulai memastikan.
"Itu tidak benar, aku sangat menyukai-nya. Kata siapa sesuatu yang terlihat indah itu bisa dibenci oleh seseorang..." Aditya saat ini berbicara sambil memikirkan nama makanan yang ia rasakan sebelum-nya, entah kenapa kue bisa ia lupakan dengan cepat.
"Kalau begitu... jika kamu... tidak keberatan untuk melihat-nya secara langsung dari dekat... dan aku mengijinkan-nya... kamu boleh... menyentuh-nya... atau yang lain-nya..." Perasaan cinta-nya mulai mempengaruhi diri-nya sehingga ia membuka dua kancing baju piyama-nya itu.
"Ehh? Benarkah...? Apakah kamu tidak keberatan? Kalau begitu aku akan menyentuh-nya ketika aku sudah mengeringkan rambut-ku ini." Aditya terlihat senang ketika mendengar-nya dari Henzie karena ia membutuhkan sebuah ijin untuk memakan kue itu lagi.
"Kalau tidak salah kue nama-nya! Ahh iya, aku ingat! Kue, makanan yang terasa lembut dan kenyal ketika aku menyentuh juga memakan-nya!" Aditya selesai mengeringkan rambut-nya lalu ia menatap Henzie yang terlihat seperti patung, ia tidak melakukan pergerakan sama sekali dan ekspresi-nya terlihat sangat kaku bahwa ia telah salah paham.
Henzie pelan-pelan turun dari kasur lalu ia menghantam kening-nya dengan tembok, "Ugh!"
"Heh!? Henzie?!"
***
__ADS_1
Aditya dan Henzie tiba di ruang makan dimana ia melihat semua orang sudah berkumpul untuk makan malam bersama, Aditya bisa melihat Satria yang sedang merokok sambil duduk di atas jendela karena ia baru saja mengalami hari yang panjang menyelidiki seluruh tempat yang terdapat di kota Yogyakarta bersama Antoni.
Sepertinya makan malam masih belum siap karena Daisy dan Putri sedang memasak sesuatu, Henzie bisa melihat kue besar itu yang memiliki krim putih di sekitar-nya, ia sampai mengembungkan kedua pipi-nya lalu memeluk lengan kiri Aditya erat karena dipermalukan oleh sebuah kue, "Sakit 'kah...?"
"Tidak..." Jawab Henzie dengan ekspresi dingin.
Beberapa menit kemudian, makan malam telah siap disajikan di atas meja yang besar. Mereka mulai menyantap makanan itu demi merayakan kerja keras mereka untuk hari ini karena sudah menemukan markas geng bertopeng itu, makanan yang dibuat oleh Daisy dan Putri banyak sekali tetapi mereka tidak tahu arti dari kenyang karena mereka terlalu bekerja keras dalam berlatih.
Daisy dan Putri tidak lupa untuk memberikan beberapa botol minum dan juga tablet untuk mereka gunakan ketika melawan geng bertopeng itu, Andrian menyarankan Daisy untuk menciptakan lebih banyak lagi tetapi ia sendiri bilang bahwa menciptakan tablet itu terlalu membosankan sehingga ia nanti ingin membuat sesuatu yang lebih praktis dan menguntungkan lagi.
Aditya merasa lega ketika melihat ekspresi mereka yang terlihat senang, dipenuhi dengan senyuman dan juga tawa karena mereka semua berkumpul di satu tempat untuk menikmati makan malam bersama. Ketika mereka selesai makan malam, mereka kembali melanjutkan aktivitas mereka yaitu istirahat.
Seperti biasanya Aditya masuk kamar untuk membaca buku Mana agar pengetahuan-nya tentang Mana bisa luar, ia mendengar suara Henzie dan Daisy yang sedang tertawa karena mereka bermain beberapa permainan yang berasal dari negara Belanda.
Satu jam kemudian, ruangan kamar itu mulai gelap karena Henzie dan Daisy sudah tertidur duluan, Aditya menempati buku-nya di atas meja-nya dan ia masih belum merasa ngantuk. Ia menatap mereka berdua yang terlihat damai, "Henzie... Daisy..." Aditya mendekati wajah-nya dengan mereka untuk memberikan sebuah kecupan di pipi mereka masing-masing.
"...aku juga mencintai kalian." Aditya tersenyum tipis lalu ia pergi meninggalkan ruangan itu untuk melihat bulan di malam hari, dengan melihat bulan seperti-nya ia bisa mengantuk. Ketika ia mengunjungi lapangan, ia sudah mengharapkan seseorang dan itu adalah Satria yang sedang duduk di atas tanah sambil menikmati secangkir kopi dan bungkus rokok.
"Raden, tidak bisa tidur ya?" Tanya Satria, Aditya duduk di sebelah-nya lalu ia menatap langit-langit yang dipenuhi dengan bintang, "Satu minggu ini kita akan mengalami pertarungan berat ya... apakah bung sedih di atas sana melihat kita berjuang melawan bangsa kita sendiri yang sudah tidak waras."
"Sepertinya begitu... kita seharusnya mempertahankan Indonesia agar seluruh rakyat Indonesia bisa terus memiliki akal sehat mereka masing-masing, entah kenapa semakin maju masa maka kebodohan muncul sedikit demi sedikit di tanah air ini." Kata Aditya sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal, Satria memukul-nya pelan lalu tersenyum.
__ADS_1
"Ngudud dulu bro... paru-paru pasti senyum..."
"Mata-mu..."