Pride of Indonesia

Pride of Indonesia
POI 53 - Tidak ada Pengorbanan Besar


__ADS_3

"Kita tidak akan bisa selamat!"


"Mundur! Mundur!"


Seluruh pasukan Indonesia mulai menjaga jarak, mencoba untuk melarikan diri karena jumlah pasukan Belanda yang terus bertambah banyak. Aditya terus menggunakan pistol itu untuk menembak mati beberapa Belanda yang ia lihat sampai peluru dari pistol itu habis, tujuan utamanya adalah bertahan dan memulihkan Satria yang terluka.


"Aagggghhh....!" Satria menjerit kesakitan.


"Tetaplah bersamaku, sobat..." Kata Aditya, ia berhasil membawa Satria ke tempat yang lebih yaitu pohon besar.


Untungnya pasukan Indonesia lain maju untuk menahan semua Belanda itu agar tidak mendekati desa dimana terdapat beberapa warga yang sedang berlindung dan ketakutan, pasukan Belanda itu tidak akan pernah menyerah sampai mereka berhasil membereskan seluruh warga Indonesia yang mereka lihat.


"Satria...!"


Aditya melihat sekeliling dan ia melihat beberapa pasukan Indonesia yang sedang berlindung karena pasukan Belanda itu memiliki senjata yang lebih mematikan dan canggih bahkan tempat perlindungan itu tidak akan bisa bertahan lama, mereka tidak memiliki pilihan lain selain melarikan diri dan mencari tempat yang lebih aman bersama seluruh warga yang tidak berdosa.


"Satria...!"


"Aditya... Dengar... Dengarkan aku... kau harus membawa seluruh pasukan... terutama penduduk desa ke tempat yang lebih aman... aku bukan lagi sesosok orang yang mencoba untuk mengajari dirimu lagi karena kau sudah... cukup siap..." Satria mengatakan itu karena ia tahu dirinya tidak akan bisa selamat, tidak lama lagi dirinya akan kehabisan darah karena tidak ada satupun orang yang mau membalut lukanya itu.


"Tidak... kita masih bisa bertahan, Satria! Ayolah!"


"Kau harus... kau harus mundur...!"


"Tidak, aku tidak akan mundur sampai kau selamat." Aditya mencoba sekuat mungkin untuk memulihkan luka Satria dengan menutup luka tembakan itu menggunakan daun-daun yang ia kumpulkan.


"Percuma saja, Raden Aditya! Jika... kau tidak mundur maka perjuangan yang kau akan lakukan akan berakhir, kau masih bisa lanjut...! Maneh teh bisa!!!" Seru Satria, melihat dirinya yang terus memaksa Aditya untuk mundur membuat dirinya tidak memiliki pilihan lain karena itu adalah pilihannya sendiri.


"Pergi...! Geuwat! Aku akan baik-baik saja, Raden..." 


"Ingatlah... tanah air ini... semua perjuangan... semua rencana yang kita rancang sejak itu... semua pelajaran dan latihan yang aku berikan padamu... jangan lupa..."


"Tidak ada pengorbanan yang besar... sekarang... kau pergi... kau perjuangkan negara ini... sampai jumpa... jaga dirimu baik-baik, Raden Aditya Loka!" Mendengar Satria mengatakan Raden membuat hati Aditya tersentuh, ini pertama kalinya ia bisa merasakan arti dari kesedihan sehingga Satria mulai meminta seluruh pasukan untuk mundur.


Beberapa orang mulai menarik Aditya mundur dan membawa dirinya pergi, Aditya masih tidak bisa menerima karena ia tidak ingin mundur sampai Satria pulih dan ingin ikut bersama dirinya tetapi semua itu terlambat.


"Kalian tidak bisa melakukan ini...! Dia masih bisa bertahan...!"


"Ini adalah perintah, Raden! Raden Satria mencoba untuk menahan semua musuh itu agar kita bisa melarikan diri!"


"Tidak! Tidak...!!!"

__ADS_1


Satria melihat seluruh pasukan Indonesia mundur, melihatnya saja membuat dirinya tersenyum bangga bahwa Indonesia masih memiliki harapan untuk meraih kemerdekaan. Dengan cepat Satria mengangkat senapan itu lalu keluar dari belakang pohon itu untuk membunuh semua pasukan Belanda yang ia lihat, walaupun tidak memiliki kesempatan untuk menang.


Satria hanya bisa bertahan selama satu menit karena seorang pasukan Belanda berhasil menebak lengan kanannya, membuat Satria tidak bisa lagi memegang senapan itu dan seorang pasukan Belanda lainnya mulai mendekat lalu menembak dada Satria sampai ia terjatuh di atas tanah dengan nyawa yang sudah tiada.


"Tidak!"


***


"Hah...!!! Hah...!!! Hah...!!!" Aditya baru saja terbangun dari mimpi yang begitu panjang, isi mimpi itu adalah kehidupan dirinya di dunia asli, sebelum ia masuk ke dalam dunia yang dipenuhi dengan sesuatu yang terasa fantastis karena terkandung Mana sekarang.


Melihat Aditya yang bangun ketakutan seperti itu, dipenuhi dengan keringat membuat Daisy dan Henzie yang tidur di sebelahnya ikut bangun juga karena pergerakan Aditya yang cukup kasar.


"Aditya... kamu baik-baik saja?" Daisy meraih tangan kanannya, mencoba untuk menenangkan dirinya sampai Aditya kembali tenang ketika melihat Daisy dan Henzie, semua mimpi yang ia lihat tadi terasa nyata bahkan ia tidak ingin merasakan lagi arti dari perang yang terasa seperti neraka.


"Aku baik-baik saja... hanya mimpi buruk..."


"Kamu berlatih terlalu keras tadi malam, pikiranmu jadi memberikan dirimu mimpi yang buruk." Kata Henzie sambil membawa gelas yang terisi air putih, ia memberikannya kepada Aditya dan ia langsung meminumnya sampai habis, hanya ketenangan yang bisa ia rasakan di dalam dirinya ketika meminum air itu.


"Terima kasih... maaf membuat kalian khawatir." Aditya mulai memberi mereka sebuah kecupan di pipi sampai membuat mereka tersipu, Daisy kemudian mengajak Aditya bersama Henzie untuk kembali tidur karena sekarang masih pukul tiga malam.


Beberapa menit kemudian, Aditya tidak bisa memejamkan kedua matanya karena satu pikiran yang terus mengganggu dirinya yaitu rasa tidak percaya, jika ia tadi bisa melihat mimpi buruk itu artinya ia benar-benar diberi kesempatan hidup di dunia yang sama tetapi hanya satu yang membedakan yaitu Mana.


Banyak hal yang terjadi sejak ia kembali hidup, ia tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata bahkan seluruh ingatan di dunia asli masih bisa ia ingat, ia bersama Satria tidak dapat melihat kemerdekaan Indonesia yang terjadi di dunia nyata melainkan dunia ini tetapi mengetahui bahkan melihatnya saja sudah cukup baik.


"Mana... ya...? Perang sesama bangsa... semuanya benar-benar sulit... lebih sulit dari melawan para penjajah." ungkap Aditya selagi menatap kedua tapaknya yang dipenuhi dengan garis biru muda.


"Sudah satu bulan... sejak pertarungan yang terjadi sejak aku melawan geng topeng yang bernama Ajax, dua hal yang membuat diriku kesal. Penembakan misterius dan geng yang berkeliaran, semua itu terus bertambah karena gejala aneh yang terjadi."


"Gejala aneh itu berasal dari hujan yang terus berdatangan, hujan itu melepaskan beberapa partikel biru muda yang masuk ke dalam tubuh manusia, memberi mereka kemampuan Mana yang berbeda... hujan itu bisa dibilang beda karena seorang ilmuan pernah memberitahu Andrian..."


"...hujan itu adalah hujan energi Mana yang akan terjadi selama satu minggu di setiap bulan, dengan jumlah Manusia yang berhasil mendapatkan Mana maka ancaman pasti akan bertambah lebih menyusahkan. Aku hanya bisa berharap bahwa era penembakan misterius ini bisa berakhir secepatnya..."


"Mana adalah sumber energi yang tidak bisa diremehkan karena Mana sendiri menyediakan berbagai macam kekuatan yang berbeda berdasarkan karakteristik dan sikap orang tersebut, kemampuan yang di dapatkan berbeda-beda dan bisa dibilang misterius." 


Aditya terus mengatakan itu di dalam hatinya, mencoba untuk tidak memikirkannya karena ia yakin beberapa penduduk indonesia yang terkena hujan Mana itu pasti akan baik-baik saja dengan kemampuan Mana yang mereka dapatkan, ia hanya bisa berharap bahwa Jenderal Wahyudi tidak melakukan apapun kepada mereka.


Aditya sudah mendapatkan bocoran bahwa Wahyudi menculik beberapa orang yang memiliki kemampuan Mana untuk menciptakan pasukan militer yang besar, penembakan misterius yang ia lakukan juga dapat membuat dirinya merasa senang karena bisa melihat seluruh kemampuan prajurit terhebat yang baru saja ia dapatkan.


"Jenderal Wahyudi... Jenderal seperti dirinya harus dibasmi dengan cepat sebelum terlambat, aku tidak tahu apa yang ia pikirkan tetapi..."


"...aku harus bisa menghentikan dirinya secepat mungkin."

__ADS_1


***


"Bos, nih, hasil palak tadi, banyak sekali uang yang aku dapatkan loh." Seorang pria yang memiliki tato berlambang api mulai menghampiri seorang pria botak yang mengerikan, sekumpulan preman sudah berada dimana-mana karena kemampuan Mana yang mereka miliki itu dapat membantu mereka untuk memeras uang warga dengan mengancamnya.


"Mantap sekali, dengan semua uang yang kita dapatkan dari warga... kita bisa minum-minum yang enak nih!" 


Tok! Tok! Tok!


"Bakso! Bakso! Mas, mau baksonya, mas?" Terlihat seorang pedagang yang membawa gerobak bakso mulai mendekati markas kecil preman itu, melihat seorang pedang yang mengetahui markas itu membuat bos dari preman itu kesal.


"Malam-malam begini masih jualan bakso, siapa yang beli, hah!? Duit, duit, duit!" Bos preman itu mencoba untuk memeras pedagang tersebut.


"Jangan, mas... uang ini buat keluarga mas, nanti saya makan sama apa dong?"


"Bodo amat! Duit! Duit! Duit! Mana duitnya!?" Preman itu mengeluarkan pisau yang dialirkan Mana, dengan cepat pedagang itu mulai panik lalu mengeluarkan semua uang yang ia miliki.


"Ini, mas... hanya segini yang saya punya."


"Halah alasan!" Preman itu mulai mengambil seluruh uang miliki pedagang itu, semua uang yang disimpan oleh pedagang itu berhasil diambil oleh preman tersebut dan ia langsung memperlihatkannya kepada seluruh teman-temannya.


"Lihat! Kita dapat banyak uang lagi nih, bisa pesan minum yang ba---" preman itu melebarkan matanya ketika melihat seluruh bawahannya dinodai dengan darah mereka sendiri, salah satu anggota tubuh mereka menghilang bahkan ia bisa melihat teman dekatnya tidak memiliki kepala.


Semua tubuh itu berada di dalam kegelapan dan awalnya ia tidak bisa melihatnya dengan jelas, ia sadar ketika melihat genangan air yang terlihat karena cahaya dari lampu jalanan.


"A-Apa...!? P-Pembunuh...! Ada pembunuh!!!" seru preman itu keras, ia mulai melarikan diri ke tempat yang aman dan pedagang itu hanya bisa diam lalu mengikuti dirinya dari belakang.


Preman itu masuk ke dalam tempat yang lebih aman, markas yang sangat aman dan hanya digunakan untuk keadaan darurat. Ruangan itu gelap sekali, ia mencoba untuk menyalakan lampu tetapi kedua lengannya hilang begitu saja tanpa ia sadari.


"A-Aaahhhhhh!? Lengan...!!! Lengan---" kedua kaki preman itu juga menghilang, membuat dirinya jatuh dan dikejutkan dengan semua darah yang keluar dari seluruh anggota tubuhnya yang menghilang begitu saja.


"Sakittt....!!!! Sakit....!!! Aahhhhh...!!!" 


"Baksonya mas~" Terlihat pedagang itu yang mendekati preman tersebut dengan sebuah lilin yang ia pegang agar bisa menerangi ruangan, preman itu mulai ketakutan ketika melihat pedagang itu karena ia sadar bahwa operasi penembakan misterius akhir-akhir ini dilakukan dengan melepaskan pedagang jalanan.


"Jangan-jangan... kau bukan pedagang biasa...!? Seseorang yang menjalani operasi itu bukan!? Apa yang kau lakukan kepadaku...!? Kau juga memiliki kekuatan seperti ilmu hitam ini...!? Garis-garis biru ini...!?"


"Hanya pedagang biasa yang menjual bakso kok..."


"Jangan-jangan...!!! Dalang pembunuhan dia adalah---" Setengah tubuh preman itu menghilang begitu saja.


"Yahh... tidak ada yang mau memesan bakso sepertinya..."

__ADS_1


"...sayang sekali."


__ADS_2