Pride of Indonesia

Pride of Indonesia
POI 32 - Bertahan Hidup


__ADS_3

"Aaaarrrggghhhh...!!!" Satria mundur beberapa langkah ke belakang lalu ia terjatuh di atas tanah, mata kanan-nya sudah tidak berfungsi dan ia sekarang hanya bisa melihat menggunakan mata kiri-nya. Satria sendiri bisa melihat darah mengalir deras melalui mata kanan-nya dan ia bisa melihat bola mata yang tertusuk di salah satu berlian itu, "Sialan kau...!!! Kau akan membayar mata-ku...!!!"


Satria maju ke depan lalu mengalirkan kedua lengan-nya dengan Mana sehingga ia mencoba untuk menghancurkan tembok di hadapan-nya, Steve terkejut ketika melihat tembok di hadapan-nya mulai retak dan bergetar cukup dahsyat tetapi ia mengetuk lantai dengan palu-nya sehingga kayu runcing muncul di atas lantai dan mencoba untuk menusuk Satria tetapi gagal.


Amarah Satria mulai terbakar karena ia telah kehilangan salah satu penglihatan-nya yang benar-benar berharga, "Anjing sia... sia ku aing paehan, kehed!!! [Anjing kau... kau akan aku bunuh, sialan!]." Satria sampai tidak bisa mengatakan Indonesia dengan benar, hanya bahasa Sunda yang keluar dari mulut-nya. Ia terus mencoba segala cara untuk bisa bebas tetapi Steve terus menjebak-nya dengan menggunakan kemampuan Mana-nya itu.


Satria mengeluarkan rokok-nya lalu ia menyalakan-nya dan menghisap-nya, sudah saatnya ia serius dan turun tangan. Di sisi lain-nya, Antoni mencari segala celah untuk bisa menyelamatkan Satria yang tidak memiliki kesempatan apapun untuk menang, ia mulai menghancurkan beberapa tembok dan menciptakan beberapa jalan pintas menuju Steve menggunakan tongkat-nya itu.


"Hohhhhh... Hyah!" Antoni menusuk tongkat-nya ke depan sehingga tongkat itu mampu menciptakan lubang besar di hadapan-nya itu, "Kau harus bertahan, wahai Satria!"


Keraton Yogyakarta di dalam dunia Mana ini terlihat seperti medan perang besar, walaupun jumlah mereka sedikit setidaknya mereka dapat melawan semua preman itu yang memiliki kemampuan Mana yang sama yaitu senapan otomatis yang memiliki peluru tidak habis dan penguatan peluru, hal seperti itu sangat mudah untuk dilawan.


Wilhelm dan Putri terus mengejar suara teriakan Daisy yang bergema sehingga Wilhelm mulai memperingati Putri bahwa di depan terdapat sebuah perangkap yaitu jaring laba-laba yang sudah dialirkan Mana, itu artinya jika seseorang terkena jaring itu maka mereka mungkin saja tidak akan bisa bebas. 


"Aditya...!!!!" Teriak Daisy keras sehingga Aditya di luar bisa mendengar suara itu, ia bersama Henzie mencoba untuk pergi menghampiri Keraton itu tetapi para preman bertopeng itu terus menghalang mereka semua sehingga Aditya maju lalu membunuh mereka semua dengan melepaskan beberapa bambu runcing yang muncul di belakang-nya.


Semua preman bertopeng itu terus berdatangan dan kemampuan Mana mereka juga hebat, seseorang yang memperlambat Wilhelm dan Putri adalah seorang wanita dengan rambut berantakan seperti nenek sihir, mereka bisa melihat dua laba-laba yang menempel di atas bahu-nya dan itu membuat Wilhelm yakin bahwa gadis itu memiliki kemampuan Mana yang berkaitan dengan hewan laba-laba.


"Putri... kau pergi kejar Daisy saja, serahkan serangga ini kepada-ku." Wilhelm mengeluarkan pisau-nya, Putri mengangguk dan memberitahu diri-nya untuk berhati-hati. Putri segera pergi ke arah lain dan menemukan beberapa preman bersenjata tetapi ia dengan mudah melindungi kepala mereka semua dengan gelembung agar mereka bisa mati dengan pelan-pelan.

__ADS_1


"Aku sangat menyukai orang amerika seperti-mu... kenapa kau tidak bermain dengan-ku dan jaring laba-laba ini...?" Tanya gadis itu, "Jijik, aku tidak ingin bermain dengan gadis mengerikan seperti-mu! Bersiaplah!" Wilhelm maju ke depan lalu memotong semua jaring laba-laba itu menggunakan pisau-nya karena ia bisa melihat jaring laba-laba yang sangat tipis itu menggunakan kedua matanya yang sudah di alirkan Mana.


"Pria yang sangat lembut untuk menghampiri-ku..." Gadis itu mengeluarkan jaring laba-laba lain-nya dengan menyuruh kedua laba-laba yang berada di atas bahunya, Wilhelm tersenyum lalu ia menyentuh jaring itu menggunakan pedang-nya dan melepaskan listrik yang menyambar ke seluruh jaring itu dan mengenai wanita itu.


"Brrrgghhh!!!" Wanita itu terjatuh dan pingsan, Wilhelm tersenyum karena pekerjaan-nya sangat mudah, jika manusia itu memiliki kemampuan Mana yang bersangkutan dengan aliran listrik maka dia dapat dengan mudah mengalahkan-nya menggunakan kemampuan Mana tipe sihir listrik.


Wilhelm tidak menghabiskan waktu lain-nya, ia maju melewati wanita itu dan tidak lupa untuk menginjak kepala-nya sampai hancur. Keselamatan Daisy lebih berarti karena dia tidak bisa melindungi diri-nya sendiri, jika dia dibawa oleh semua geng bertopeng itu maka situasi-nya akan sangat berbahaya sehingga Wilhelm bisa melihat Aditya bergerak cepat di hadapan-nya.


"Aditya...?!" Wilhelm berhenti berjalan karena Aditya seperti-nya mendengar suara teriakan yang menggema itu, ia mulai pergi keluar lapangan dan melihat banyak sekali preman bertopeng yang sedang mengepung Henzie tetapi ia terlihat baik-baik saja karena ia dapat bergerak cepat dan membunuh mereka semua dengan busur yang ia pegang.


"Jadi ini salah satu kemampuan Mana yang Henzie miliki...? Selama ini aku kira dia tidak mempunyai senjata tetapi---" Wilhelm tercengang ketika melihat Henzie yang dapat melakukan perpindahan dengan panah yang ia lepaskan tetapi ia bisa berpindah ketika panah itu menusuk atau menancap sesuatu, "Sungguh kemampuan Mana yang hebat, aku harus ikut membantu mereka seperti-nya!"


"Sepertinya kau suka bermain api ya..." Andrian menumbuhkan sayap-nya lalu ia terbang ke atas dan mencoba untuk mendekati Dicky tetapi ketika ia mencoba untuk mendekati-nya maka Andrian harus mengorbankan kedua sayap-nya yang terkena bensin lalu terbakar, ia berguling ke depan lalu menciptakan pedang yang mampu menebas mata kiri Dicky lalu ia melanjutkan serangan itu dengan menebas perut-nya.


"Guoggghhh!!!" Dicky tercengang sampai mulut-nya mengeluarkan banyak darah ketika menerima serangan dari Andrian, ia menunggu waktu dimana Dicky menggunakan api-nya itu dan dia menggunakan kedua sayap-nya sebagai perlindungannya. Serangan itu tidak cukup untuk menghentikannya sehingga Dicky meminum bensin itu dan Andrian bisa melihat dada-nya yang dipenuhi dengan garis Mana, "A-Apa yang...!?"


"Sekarang...!!! KAU AKAN AKU UBAH MENJADI MANUSIA PANGGANG!!!" Seru Dicky keras, ia mengeluarkan banyak bensin melalui mulut dan kedua lubang hidung-nya, Andrian berhasil menghindari tetapi bensin itu tiba-tiba mengikuti dirinya karena ia bisa melihat sumber Mana yang tertera di dalam bensin itu.


Tubuh Andrian terkena bensin tersebut sehingga ia melebarkan kedua mata-nya dan melihat Dicky yang langsung menggesek kedua jam tangan-nya, gesekan itu langsung membakar semua bensin yang terdapat di sekitar-nya termasuk Andrian. Ukuran dari api itu sangat besar sehingga menarik perhatian Wilhelm dan Henzie, mereka sontak kaget ketika melihat Andrian kalah dan lengah sampai ia terbakar dengan api yang besar itu.

__ADS_1


"A-Andrian...?!" Kata Wilhelm.


"Tidak mungkin...! Kau tidak seharusnya kalah di tempat-mu sendiri...!!!" Kata Henzie keras.


"Hahahahaha!!! Terbakar kau, sultan!!! Sekarang aku bisa mengambil alih Keraton Yogyakarta dan mengambil semua kekaya---" Api besar yang membakar Andrian mulai tertiup sehingga mengenai tubuh Dicky dan mulai membakar tubuh-nya, "Apaaggghhhh!?!?"


Semua orang terkejut ketika api itu tiba-tiba tertiup dari tubuh Andrian, api itu juga bahkan tidak mampu melukai Andrian karena dia sempat menggunakan kemampuan Mana-nya untuk menciptakan sebuah zirah yang dapat kebal dengan api, zirah itu sendiri memiliki dua sayap garuda yang dapat melepaskan angin sehingga api itu bisa tertiup dan mengenai tubuh Dicky.


"Jangan meremehkan-ku... aku tidak akan kalah oleh preman seperti-mu dan kau tidak akan bisa mengambil alih Keraton-ku!!!" Andiran mengibarkan kedua sayap-nya untuk meniup seluruh api di sekitarnya, semua api itu mulai mengenai Dicky sehingga menciptakan api besar yang dapat membakar-nya hidup-hidup, "Uwaaagghhh!!! Panaassssssss----" Dicky langsung berubah menjadi debu hitam.


"Garuda... di dada-ku." Kata Andrian sambil tersenyum.


***


Aditya mengejar seorang preman yang sedang mengangkut Daisy, kedua kaki-nya bergerak sangat cepat karena bantuan dari Mana. Ia bisa melihat beberapa preman bertopeng yang mencoba untuk menghentikan-nya dari depan tetapi Aditya berhasil membunuh mereka semua dengan melepaskan tiga bambu runcing yang muncul di belakang-nya.


Ia menggerakkan ketiga bambu runcing itu untuk menyerang dan bertahan sehingga ia bisa melihat beberapa motor dan mobil yang mulai mengimbangi kecepatan-nya, ia fokus ke depan dan melihat Daisy yang mengulurkan lengan kanan-nya karena tubuhnya tidak bisa gerak sama sekali, "Aditya... helpen...[tolong]"


Aditya menatap tajam ke depan lalu ia menghancurkan beberapa mobil dan motor di sekitarnya menggunakan tiga bambu runcing yang melayang, bambu runcing itu tidak hancur karena ia sudah mengalirkan-nya dengan Mana untuk meningkatkan ketahanan dan kekuatan-nya, ia mulai mengambil satu bambu runcing itu lalu melempar-nya sekuat tenaga ke depan dan setelah itu ia melompat ke atas lalu mendarat di atas bambu runcing itu.

__ADS_1


"... ...!!!"


__ADS_2