
Henzie terus mengejar Daisy yang berlari di lorong, untungnya tidak ada turis yang melihat mereka kecuali Andrian bersama yang lain-nya seperti Satria, ia juga bahkan melihat Daisy yang terlihat sedih sampai air mata mengalir keluar dari kedua mata-nya, "Waahh... sepertinya masalah-nya bertambah semakin buruk."
"Inilah yang terjadi jika dua gadis mencintai pria yang sama, jika kedua gadis itu berteman dan memiliki hubungan yang sangat dekat tetapi... ketika mereka mengenal cinta dan salah satu dari mereka menyatakan perasaan mereka maka hubungan itu bisa saja hancur." Kata Wilhelm, ia mencoba untuk tidak menghiraukan-nya karena itu adalah urusan mereka berdua, Satria sendiri mulai mengikutinya karena ia memiliki tugas yang sama dengan Wilhelm yaitu memasang perangkap.
Henzie dan Daisy terus berlari di lorong sehingga Daisy memilih jalan menuju ruangan yang sepi agar tidak ada turis yang melihat mereka, Daisy berhenti di sebuah ruangan gelap yang cukup sepi dimana Henzie menemukan-nya sedang berdiri di hadapan-nya, ia tidak berani menghadapi-nya karena hati-nya merasa hancur ketika mendengar Henzie berhasil untuk menyatakan perasaan-nya itu.
"Nona, aku..." Henzie mencoba untuk mendekat, "Aku kalah 'kan... kamu tidak perlu merasa kasihan kepada, Henzie. Kita sudah berjanji bukan? Salah satu dari kita yang berhasil menyatakan perasaan-nya akan memenangkan hati Aditya, sudahlah... aku kalah, kamu lebih pantas untuk-nya karena kamu seorang wanita kuat dan bisa melakukan apapun."
"Jangan bicara seperti itu, Nona. Sebenarnya, aku sendiri masih menahan... seharusnya aku sebagai pelayan-mu mengalah saja dan membiarkan-mu mendapatkan Aditya tetapi perasaan ini terus mempengaruhi diri-ku, aku tidak sempurna, Nona. Kamu lebih pantas dalam segi apapun sebagai seorang wanita yang dapat mendampingi hidup-nya!" Henzie meraih tangan Daisy lalu ia mencoba untuk membuat diri-nya berhadapan.
Daisy menoleh kepada Henzie dengan ekspresi yang terlihat sedih, "Kamu juga manusia... kamu juga wanita, kamu juga pantas untuk mendapatkan seorang pria yang bisa membuat-mu bahagia. Seperti Aditya---"
"Kita semua sama, nona... aku yakin kita semua tidak ingin meninggalkan-nya dan memiliki perasaan yang tidak bisa dilupakan begitu saja kepada-nya, jika Nona yang pertama untuk menyatakan perasaan-nya kepadanya maka aku juga... mungkin akan bersikap sama seperti--- t-tidak, itu salah... sebagai seorang pelayan, aku harus bisa mendukung--- sepertinya mustahil..." Kata Henzie sambil menatap arah lain karena ia benar-benar tidak bisa membiarkan Aditya bersama gadis lain.
Daisy menundukkan kepala-nya, hari ini juga dia telah kalah dalam merebut-nya, ia mencoba sekuat mungkin untuk tidak merasa sedih dan berhenti untuk mencintai Aditya, "Sudahlah... maaf, aku tadi bersikap seperti seorang anak kecil. Seharus-nya aku---" Henzie mulai menggenggam kedua tangan-nya sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, ia mengingat perkataan Satria ketika di dalam mobil.
"Daisy... selama ini, aku baru saja mengingat teman lama Aditya... seorang Presiden pertama Indonesia, beliau memiliki lebih dari satu istri. Jika kamu mau dan tidak keberatan--- tentunya aku tidak keberatan karena Nona adalah seseorang yang harus aku lindungi... j-jika nona tidak keberatan... maka... maka..." Perkataan yang berada di dalam pikiran-nya susah ia ucapkan, entah kenapa pikiran-nya mulai pergi kemana-mana bahkan Daisy sendiri terkejut ketika mencoba untuk membaca pikiran-nya, ia dapat membaca pikiran Henzie karena ia pernah dilatih oleh Henzie sendiri.
Daisy entah kenapa tersenyum lebar sampai ia merasa senang ketika membaca apa yang dipikirkan oleh Henzie sendiri, "Henzie... mulai dari sekarang, kamu tidak perlu memanggil-ku dengan sebutan formal, panggil saja aku Daisy."
"Ehh...? T-Tidak mungkin?! A-Apa yang nona lakukan...?! Jangan baca pikiran-ku...!" Henzie mulai menutup wajah-nya, Daisy terkekeh pelan lalu ia memeluk-nya erat sambil mengusap rambut-nya dengan lembut, "Ayolah... pikiran yang aku baca dipenuhi dengan Aditya, Aditya, dan Aditya sehingga aku mengetahui apa yang kamu ingin ucapkan."
"H-Hentikan... aku masih ingin hidup, aku tidak mau mati karena malu... nona..." Henzie mengembungkan kedua pipi-nya sambil menatap Daisy yang tertawa karena ia masih bersikap seperti ini sejak kecil, Daisy berhenti memeluk-nya lalu menatap wajah Henzie dengan penuh harapan karena masih ada jalan dan cara untuk bisa mendapatkan Aditya.
"Poligami ya...?" Kata Daisy.
__ADS_1
"H-Hm... t-tidak keberatan 'kan...?" Tanya Henzie.
"Aku tidak keberatan sama sekali kok, dengan syarat... kita harus membagi dan adil loh!" Ketika Daisy mengatakan itu Henzie langsung tersenyum kembali dan memeluk-nya erat, mereka kembali akur dan saling berterima kasih karena sudah menyetujui suatu hal yang sulit untuk dijalankan. Mereka pergi dari ruangan itu bersama untuk kembali menuju kamar Aditya sehingga Putri dan Andrian yang sedang menguping mulai pergi dengan cepat.
"Syukurlah... mereka sudah akur ya, itu artinya anak kita nanti akan memiliki dua teman baik." Kata Putri yang mencoba untuk menggoda Andrian, "A-Apa yang kamu katakan... hentikan." Jawab Andrian dengan wajah yang memerah.
"Untuk sekarang, biarkan mereka di kamar agar bisa menyatakan perasaan cinta-nya mereka kepada Aditya." Kata Putri, Andrian mengangguk karena ia sudah dua kali menggagalkan pernyataan cinta mereka karena tidak sengaja masuk dalam waktu yang kurang tepat.
***
Aditya saat ini mencoba sekuat mungkin untuk berdiri karena sudah saatnya dia bekerja dan melakukan beberapa pencarian tentang preman bertopeng itu, ia juga masih merasa penasaran tentang tentara militer yang dipimpin oleh Jenderal Wahyudi. Kemungkinan besar mereka menyerah karena tidak bisa menemukan Aditya yang sedang berlindung di tempat wisata yang bernama Keraton Yogyakarta.
Daisy membuka pintu dan melihat Aditya yang sudah berdiri sambil menatap diri-nya sendiri di depan cermin, "Oh... Daisy dan Henzie juga datang ya." Aditya mengambil kacamata-nya lalu ia menggunakan-nya dan menoleh kepada mereka berdua.
"Aditya... apa yang kamu lakukan? Seharusnya jadwal-mu hari ini dipenuhi dengan istirahat, soal pencarian preman bertopeng itu bisa kau lanjutkan besok atau sekarang bersama-ku." Henzie menghampiri Aditya dan membantu-nya untuk duduk kembali di atas kasur-nya, Daisy terkekeh ketika melihat diri-nya yang mulai bersikap seperti pelayan yang benar-benar mahir.
"Aditya..." Henzie memeluk erat lengan kanan-nya sambil mengusap pipi-nya dengan lengan-nya, "Kenapa, Henzie...? Seseorang melukai-mu? Siapa yang mengganggu-mu, apakah dia perlu aku tusuk nanti?"
"Aditya..." Daisy terkekeh lalu memeluk lengan kiri-nya lebih erat. Aditya menatap mereka dengan ekspresi yang terlihat kebingungan dan ia mulai berpikir bahwa ini adalah keindahan dari seorang wanita yang dimaksud oleh Satria dan juga teman lama-nya, ia mulai diam dan membiarkan mereka memeluk kedua lengan-nya saja.
"Ketika kalian seperti ini... aku tahu kok, kalian ingin membicarakan sesuatu dengan-ku? Mungkin sekarang waktu yang tepat." Kata Aditya.
""Aditya...!"" Mereka mulai berbicara bersamaan, ""Kami...""
"Kami... menci---"
__ADS_1
Satria membuka pintu dengan sekuat tenaga karena ia ingin sekali berbicara dengan Aditya, "Adityaaaaaaaaaa........" Mulut Satria terbuka lebar ketika ia melihat sahabat-nya bersama kedua gadis di atas ranjang yang sama, mereka berpelukan dan itu membuat Satria sadar bahwa ia datang dalam waktu yang kurang tepat... sebentar lagi padahal mereka akan menjadi calon bini Aditya.
"Satria? Ada apa?" Tanya Aditya.
"Aku tadi-nya... yah--- *****!?" Satria tercengang ketika melihat tatapan tajam Henzie, aura pembunuh bisa ia rasakan dan Daisy mulai menutup kedua mata Aditya, "Aditya... aku akan menyembuhkan luka-mu sekarang ya..." Kata Daisy, sebenarnya ia berbohong karena ia ingin Henzie memberi sebuah pelajaran untuk Satria yang sudah mengganggu momen yang terbaik.
Henzie turun dari kasur lalu ia menghampiri Satria, ia mencoba untuk lari tetapi Henzie berhasil menarik baju-nya sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal, "Kauuu... kaaauuuuu...!!! Kaaaaaauuuuu...!!!"
"Kau sudah memberi-ku beberapa keberanian dan cara tetapi kenapa kau yang mengganggu-nya!? Dasar bodoh! Sialan! *****!!!" Satria mulai dimarahi habis-habisan oleh Henzie sehingga ia bersama Daisy mulai berpikir, mungkin lain hari mereka akan menyatakan perasaan-nya itu atau tidak menunggu Aditya agar ia bisa mengerti apa itu arti dari cinta.
***
"Haaahhhh... Sudah berapa kali sih kita di ganggu seperti ini..." Daisy menghela nafas-nya, Henzie mengusap punggung Daisy dengan sabun karena mereka saat ini sedang membersihkan tubuh mereka. Putri baru saja mengajak mereka untuk menonton pertunjukan tarian itu dan Putri juga memberi mereka beberapa baju yang sangat bagus sekali.
"Entahlah... kesal tahu..." Jawab Henzie.
Beberapa menit kemudian, mereka mulai memilih baju untuk satu sama lain dan Daisy memilih sebuah baju yang pas untuk dipakai oleh Henzie. Daisy sudah memakai baju yang Henzie pilih yaitu baju yang memiliki motif batik, sangat cocok untuk gadis Belanda seperti diri-nya.
Henzie mulai mengambil baju yang disarankan oleh Daisy, sebuah kemeja dengan bendera merah putih di bagian saku-nya... karena Henzie sangat menyukai baju dengan model kemeja maka ia langsung memakai-nya sehingga Daisy terkejut ketika melihat proporsi tubuh Henzie, Henzie sendiri bahkan merasa tidak nyaman dan ketat.
"Aku menyukai-nya tetapi terasa ketat..."
"Di bagian mana...?" Tanya Daisy dengan ekspresi yang terlihat cemburu karena ia sudah mengetahui bagian ketat-nya itu.
"Dada..."
__ADS_1
"Hehhh... Benar juga..."