Pride of Indonesia

Pride of Indonesia
POI 14 - Menuju Yogyakarta


__ADS_3

Aditya bersama Daisy dan Henzie baru saja selesai mengemas barang mereka, kunci rumah Daisy mulai Henzie ambil karena Daisy barus aja menyuruh-nya untuk memberikannya kepada seseorang yang tidak mampu.


"Apa kau yakin akan memberikan-nya?" Tanya Aditya kepada Henzie, "Tentu saja... Nona Daisy baru saja memberitahu-ku untuk memberikan kunci kepada seseorang yang lebih membutuhkan, terkadang membantu seseorang yang miskin itu perlu Aditya seberapa besar harta-mu itu... setidaknya beri mereka setengah dari harta kita." Kata Henzie sehingga ia mulai pergi meninggalkan Aditya untuk memberikan kunci itu kepada seseorang.


Aditya mulai menunggu di depan rumah sambil menyilangkan kedua lengan-nya, ia berharap bahwa desa ini tidak didatangi lagi oleh para tentara itu... sekarang ia hanya perlu menunggu Daisy yang sedang berbicara kepada kepala desa bahwa ia akan memesan sebuah tiket bis untuk pergi menuju kota Yogyakarta.


Henzie kembali dengan persiapan makanan, "Aku pikir kita bertiga akan membutuhkan makanan atau cemilan di dalam bis..." Kata Henzie.


"Kita seperti akan pergi berlibur saja ya? Padahal seseorang mengincar kita." Jawab Aditya.


Beberapa menit kemudian, Daisy datang lalu menunjukkan tiga tiket bis menuju Yogyakarta, beruntungnya mereka karena kepala desa itu awal-nya ingin berlibur bersama keluarga-nya menuju kota Yogyakarta tetapi halangan terjadi sehingga ia tidak bingung dengan tiket tersebut.


"N-Nona, bagaimana bisa anda memiliki tiket bis itu dengan cepat?" Tanya Henzie sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat kebingungan.


"Entah ini kebetulan atau keberuntungan... Aku awal-nya berniat untuk datang kepada-nya untuk minta pamit sehingga ia menanyakan diri-ku akan pergi kemana, ketika aku menjawab Yogyakarta... beliau terkejut sampai ia mengeluarkan tiga tiket ini, sepertinya satu untuk diri-nya, istri-nya, dan juga anak-nya itu." Daisy mulai memberi satu tiket kepada Aditya dan Henzie.


"Kalau begitu kita tidak perlu menghabiskan banyak waktu malam-malam seperti ini mencari tiket yang membawa kita menuju kota Yogyakarta." Kata Aditya, mereka bertiga mengangguk lalu bergegas meninggalkan desa itu dengan bergerak cepat menggunakan kemampuan Mana mereka.


Henzie dan Aditya mengalirkan Mana mereka ke dua mata mereka masing-masing untuk bisa melihat di malam hari yang gelap ini juga untuk mendeteksi musuh, pergerakan mereka cukup cepat sampai mereka harus melompat-lompati pohon karena itu adalah jalur yang aman menuju pusat kota, tujuan mereka selanjutnya hanya harus mengikuti Daisy yang mengetahui dimana letak terminal yang menerima ketiga tiket itu.


Henzie melebarkan kedua mata-nya ketika ia melihat lima mobil tentara yang melaju cepat menuju desa itu, mereka merasa cukup aman untuk meninggalkan desa itu dalam waktu yang tepat jika tidak maka para tentara itu sudah pasti akan mencegat diri-nya itu, "Sepertinya kita selamat ya..." Kata Aditya.


"Begitulah... mana mungkin tentara negara Indonesia akan membunuh semua orang yang ada di desa itu, mereka paling akan melakukan sergapan." Jawab Henzie.


"Aku melihat-nya..." Kata Daisy, ia mulai menunjuk terminal yang bisa terlihat dari jauh itu... ia juga menggunakan kemampuan yang sama dengan mereka berdua yaitu [Mana Vision: Penglihatan]. 

__ADS_1


Mereka menambahkan kecepatan melompat mereka sehingga Henzie menunjuk sebuah tempat mendarat yang aman dari rakyat Indonesia yang sedang berkeliaran, mereka mulai mendarat di tempat yang aman itu, setelah itu Henzie yang memimpin terlebih dahulu untuk bisa melihat situasi... sepertinya aman karena ia tidak melihat orang yang terlihat mencurigakan.


Mereka bergegas masuk ke dalam terminal itu, Daisy menyuruh Aditya dan Henzie untuk duduk dulu sambil menunggu diri-nya kembali karena ia ingin menanyakan beberapa orang tentang tiket itu, apakah masih bisa digunakan? Apakah jadwal berangkat-nya bisa sekarang?


"Kalau di pikir-pikir lagi... kita melarikan diri ke kota yang cukup jauh ya, kota itu berbatasan dengan provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia... pemikiran yang sangat baik Aditya karena aku yakin mereka tidak akan bisa menemukan kita, perjalanan kita pasti panjang... menghabiskan waktu selama delapan jam juga." Kata Henzie.


"Selama itu...!? Delapan jam hanya duduk saja?" Aditya tercengang ketika mendengar perjalanan delapan jam itu, pantat-nya pasti akan terasa sakit duduk selama delapan jam dan siapa tahu seseorang mungkin akan mengikuti mereka dari belakang.


Daisy kembali dengan ekspresi yang terlihat senang, "Ayo! Tiket itu sudah aku berikan kepada mereka, sebentar lagi bis kita akan pergi, ayo cepat!" Daisy mulai pergi menuju bis-nya, Aditya dan Henzie mulai mengikuti dari belakang. Mereka juga harus waspada dengan sekitar mereka, ketika mereka melihat dalam waktu yang lama... mereka tidak melihat satupun orang yang mengikuti-nya.


Beberapa menit kemudian, Daisy tidak menemukan kursi kosong lain-nya kecuali tiga kursi yang berada di bagian belakang tetapi tidak terlalu ke belakang karena kelima kursi itu sudah diduduki oleh seseorang, "Aku akan duduk di sebelah jendela!" Kata Daisy yang mulai duduk di sebelah jendela, ia bisa melihat pemandangan kota Jakarta yang begitu indah.


"Henzie, kau ingin di tengah?" Tanya Aditya.


"Begitulah Nona ketika ia merasa nyaman di ruangan yang gelap ini... di dalam bis ini cukup gelap dan juga sejak karena suhu dingin di luar sana, Nona jadi lelah ketika merasakan kedua hal itu." Henzie mulai duduk di sebelah Aditya lalu ia mengeluarkan sebuah buku yang menunjukkan beberapa kemampuan Mana.


"Kau mendapatkan buku itu darimana...?" Tanya Aditya.


"Aku mendapatkan-nya di Belanda, di toko buku Belanda sekarang sudah ada buku kemampuan Mana seperti ini bahkan buku ini juga menunjukkan cara untuk melakukan-nya... tetapi setiap buku Mana itu memiliki bab-nya tersendiri dan aku membeli bab yang ketiga." Henzie mulai menunjukkan sampul buku itu, Aditya bisa melihat nomer tiga di sampul-nya.


"Kenapa kamu tidak membeli bab lain-nya?" Tanya Aditya.


"Mahal loh... mungkin saja Euro yang aku habiskan jika di hitung rupiah itu hampir bisa disebut satu miliar." Kata Henzie, Aditya langsung tercengang ketika mendengar itu karena lima puluh ribu saja sudah cukup untuk membeli apapun bahkan mencicil mobil atau rumah saja bisa di zaman orde baru seperti ini.


"Itu cukup gila ya... satu miliar, mungkin toko buku di Belanda berbeda sampai memiliki buku seperti itu?" Tanya Aditya.

__ADS_1


"Tidak juga, hanya toko buku tertentu sih dan aku juga sudah mengunjungi hampir semua buku di toko buku ini... sebagian buku yang aku cari hilang, mungkin saja seseorang mencuri atau membeli-nya tetap jika orang itu mencuri maka dia tidak akan hidup selama satu atau lima menit karena Petrus itu." Kata Henzie yang mulai membaca buku tersebut, supir bis itu mulai menyalakan mesin tersebut lalu ia mulai menginjak gas untuk memulai perjalanan-nya menuju kota Yogyakarta.


"Jika mau tidur duluan silahkan, aku akan menjaga kalian kok." Kata Henzie, Aditya mengangguk dan ia mencoba sekuat mungkin untuk tidur dengan memejamkan kedua mata-nya tetapi tidak bisa karena rasa khawatir dan bahaya yang selalu saja ia pikirkan sejak ia pergi bersama mereka berdua.


"Kau terlalu banyak pikiran... jangan berpikir yang tidak-tidak loh, Aditya... kau tidak akan bisa tidur, kosongkan pikiran-mu itu. Tentara yang menjalani operasi Petrus itu tidak akan membahayakan kami kok, Daisy itu cukup mahir dalam sihir pemulihan dan perlindungan, aku juga akan selalu melindungi-nya walaupun tadi aku hampir saja gagal." Ketika mendengar itu, Aditya yang merasa sangat bersalah karena ia mengajak Henzie untuk mengajarkan diri-nya."


"Itu semua jelas salah-ku karena sudah mengajak-mu untuk mengajariku tentang kemampuan dalam menggunakan Mana." Jawab Aditya yang mulai mengambil botol air, ia segera meminum-nya lalu mencoba sekali lagi untuk memejamkan kedua mata-nya sehingga ia bisa merasakan kepala-nya yang bersandar di bahu kanan-nya.


"Ohh...?" Aditya mulai melirik kepada Daisy dan melihat diri-nya yang bersandar di bahu Daisy, "Sepertinya dia lelah ya... aku sampai menjadi bantal-nya begini."


Henzie melihat-nya dan ia hanya diam, "... ..."


"Aditya... jika kau tidak tidur maka sumber Mana-mu tidak akan bertambah." Kata Henzie.


"Baiklah, kau yakin tidak akan istirahat atau tidur?"


"Tidak, aku akan berjaga."


Lima menit kemudian...


"Dia malah tertidur 'kan..." Kata Aditya sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat suram, Henzie juga bersandar di bahu kiri Aditya sehingga ia merasa tidak nyaman... ia tidak bisa tidur ketika mendengar hembusan nafas mereka yang lembut.


"...bahkan sampai menjadikan bahu-ku sebagai bantal-nya."


"Hahh... tidur... tidur...." Aditya memejamkan kedua mata-nya lagi untuk mencoba tidur.

__ADS_1


__ADS_2