Pride of Indonesia

Pride of Indonesia
POI 56 - Upacara


__ADS_3

Senin, 1 Juni 1980


Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 1980, pancasila dalam tindakan melalui gotong royong menuju Indonesia maju, setiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Pancasila sebagai Ideologi Negara.


Aditya bersama seluruh temannya saat ini sedang merayakan peringatan hari lahir Pancasila dengan melakukan upacara di lapangan yang begitu luas, terlihat banyak sekali warga Indonesia yang mengikuti upacara tersebut hanya untuk memperingati hari lahir dari Pancasila.


"Kepada bendera merah putih....! Hormat..."


"...gerak!" Seru Andrian.


Semua warga mulai hormat kepada tiang bendera merah putih yang berada di tengah, diiringi lagu Kebangsaan Indonesia Raya oleh kelompok Pembawa Lagu, Aditya hanya bisa diam sambil melihat bendera merah putih yang perlahan-lahan naik menuju tiang paling atas.


Melihatnya bendera merah putih yang begitu indah dan memiliki makna besar di dalamnya membuat dirinya meneteskan air mata terharu, merasa tidak percaya bahwa Indonesia berhasil merdeka dan kematian dari teman dekatnya yaitu seorang Presiden pertama juga membuat semua air mata itu mengalir deras.


Bendera yang berkibar karena hembusan angin yang besar, cuaca yang begitu panas, semuanya terasa begitu memuaskan dan menenangkan bagi Aditya bahwa ia tidak bisa melakukan tindakan besar apapun untuk menjadi tanah air ini sebagai tanah air yang akan bertahan di masa depan nanti dengan kemajuan yang begitu besar.


""Hiduplah Indonesia Raya...""


""Indonesia Raya... Merdeka! Merdeka!""


""Tanahku negeriku! Yang kucinta!""


""Indonesia Raya... Merdeka! Merdeka!""


""Hiduplah... Indonesia... raya...""


"Tegak..."


"...gerak!" Seru Andrian.


Semua orang menurunkan kembali tangan mereka, mata Aditya yang dipenuhi genangan air mata mulai ia hapus dengan mengeluarkan sapu tangan lalu membersihkannya, seorang pahlawan seperti dirinya tidak ingin menunjukkan rasa sedih atau air mata kepada warga Indonesia yang sekarang hidup dengan damai.


Upacara berhasil dilaksanakan dengan baik, semua warga mulai bubar dan sebagian masih berada di lapangan untuk tetap hormat kepada bendera yang masih berkibar itu selagi mengucapkan Pancasila beberapa kali, Aditya sendiri berada di paling depan, sujud penuh dengan rasa syukur bahwa Indonesia dapat mencapai kemerdekaan besar.


Semua teman-teman Aditya mulai memperhatikan dirinya yang terus sujud selama beberapa menit, sudah saatnya untuk beristirahat dan berteduh karena cuaca hari ini sangat panas karena matahari yang begitu terik.

__ADS_1


"Aku mengerti dia itu pahlawan... tapi aku tidak menyangka rasa kebanggaan, bersyukur dan hal positif lainnya bisa aku rasakan di dalam tubuhnya. Pahlawan Indonesia memiliki jiwa yang tinggi sejak itu, merdeka atau mati." Kata Wilhelm.


"Begitulah, Raden memang seperti itu... sejak dulu ia menginginkan kedamaian dan kemerdekaan untuk negara Indonesia, aku sendiri cukup bangga melihat dirinya masih hidup dan berkembang di dunia ini..." Satria mengangguk penuh dengan rasa bangga, teman kecilnya benar-benar berkembang cukup pesat.


"Aku harus berterima kasih kepada pahlawan seperti anda dan Raden Aditya sepertinya... tanpa kalian, Indonesia pasti tidak bisa meraih kemerdekaan. Jasa pahlawan harus dikenang untuk selama-lamanya." Andrian menaikkan tangannya untuk melakukan hormat kepada Satria dan Satria mengangguk lalu membalas hormat itu dengan hormat lainnya.


"Sudahlah... aku tidak ingin diperlakukan besar seperti itu, aku hanya ingin menjadi warga Indonesia yang biasa sekarang. Terutama di era saat ini yaitu orba, kita harus bisa menyelamatkan nyawa yang akan hilang oleh penembakan itu..." Satria memegang dagunya, ia masih mengingat hal mengerikan yang saat ini sedang terjadi di Indonesia.


"Zaman ayeuna bisa disebut ruksak... nyawa warga Indonesia itu penting, aku menginginkan semua pelaku yang melakukannya untuk membuka mata mereka lebih lanjut lagi, kita semua adalah satu... jika operasi itu tetap ada lantas Bhinneka Tunggal Ika itu untuk apa...?"


"Kau ada benarnya juga, Satria. Mereka yang melakukan tindakan kriminal atau jahat juga seharusnya dilakukan dengan hukuman yang pantas, sekali saja melakukan kejahatan mendapatkan hukuman kematian itu lumayan berlebih... aku percaya..."


"...Humans can change. [Manusia bisa berubah]," Perkataan Wilhelm terdengar masuk akal bagi Andrian dan Satria, pembahasan operasi penembakan itu bisa dibahas nanti karena perut Satria mulai mengeluarkan suara.


"Waduh, maaf-maaf, sepertinya aku lapar... sarapan tadi cuman sempat makan bubur, hahaha. Makan yuk! Makan!" Satria terkekeh, Andrian dan Wilhelm hanya bisa tertawa kecil.


"Sudah saatnya untuk makan siang sepertinya... bagaimana dengan Aditya?" Tanya Andrian sambil menatap Aditya yang saat ini masih sujud, Satria menepuk kedua bahu mereka, memberitahu kedua temannya bahwa ia dapat mengurus sahabatnya yang saat ini masih bersyukur tentang kemerdekaan.


"Ka-Kalau begitu kami akan mencari makanan ya... kau mau apa, Satria?" Tanya Wilhelm.


Para wanita tidak bisa ikut upacara untuk memperingati hari lahir pancasila karena mereka saat ini tidak boleh merasa kelelahan secara berlebihan karena bayi yang berada di dalam perut mereka, pilihan yang tepat adalah tinggal di rumah sambil beristirahat tanpa harus mengurusi sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan melelahkan.


"Raden..."


Mendengar Satria memanggil dirinya, Aditya kembali bangkit dengan tatapan yang terlihat seperti biasanya yaitu datar bahkan sampai membuat Satria tertawa karena ia mengingat tadi pada saat melakukan penghormatan kepada bendera merah putih, ia menangis begitu terharu.


"Ada apa denganmu akhir-akhir ini? Rasa bersyukur yang berlebihan itu boleh tetapi kau juga harus bisa melepaskan beberapa kesakitan yang kau rasakan di masa lalu..." Satria menepuk punggung Aditya beberapa kali, mencoba untuk menenangkan dirinya.


"Tidak... hanya saja aku berada di mimpi, jika aku sudah pernah mati... itu artinya semua yang aku lihat ini adalah sekedar mimpi yang akan terjadi jika aku bertahan hidup bersamamu sejak itu."


"Kita tidak berada di mimpi, sebagian Manusia memiliki kesempatan hidup yang kedua, Raden. Intinya kita harus lebih bersyukur untuk bisa hidup kembali dan merasakan kemerdekaan Indonesia, bung pasti akan senang melihat kita yang masih hidup untuk melihat perkembangan tanah air ini."


"Kau ada benarnya juga... hidup selama tiga bulan dengan merasakan arti yang baru yaitu Mana, entah kenapa perkataan teman kita benar sejak itu, perjuangan yang sangat berat adalah melawan saudara kita sendiri... bisa terlihat sekarang dari operasi dan preman atau hal kriminal lainnya."


"Jangan terlalu dikhawatirkan terlalu dalam, bias mengganggu pikiran dan jiwamu loh... relaks saja, kalem keun! Kita bersama akan mencoba untuk menyaksikan perkembangan Indonesia yang begitu positif!" Satria mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


"Sudah masuk bulan Juni saja ya... sebentar lagi ulang tahun teman dekat kita loh, apakah kita harus mengunjungi makamnya di kota Blitar?"


"Tentu saja, mumpung tidak jauh loh. Hanya perjalanan lima jam saja karena kita sudah berada di Jawa Timur, dan..." Satria tersenyum lalu ia mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya dan memperlihatkannya kepada Aditya yang terkejut ketika melihatnya.


"Aing ges boga mobil euy! Ini mah harus liburan dong dengan mobil baru hasil tabungan, hahaha!"


"Hebat sekali... sepertinya bekerja menjadi pemandu turis di Keraton tidak buruk juga ya, Satria. Satu bulan sudah cukup untuk membeli mobil."


"Tentu saja, dengan ini kita bisa berlibur dan pergi kemana pun... mau pun itu urusan liburan dan pekerjaan, aku siap mengantar dirimu, Aditya. Sekarang, mari kita nyatu(Makan)!" Satria tersenyum lalu menepuk punggung Aditya cukup keras sampai mendorongnya ke depan.


Setelah itu, ia mulai memindahkan lengah kirinya di atas bahu kiri Aditya, menunjukkan persahabatan yang sudah berjalan selama bertahun-tahun. Aditya tidak begitu keberatan karena ia saat ini tidak memiliki kegiatan apapun kecuali mencari informasi tentang Jenderal Wahyudi di ruang kerja yang sudah disediakan oleh Andrian.


"Pasti maneh hayang bakso 'kan? Bukannya itu kesukaanmu?"


"Apa saja..."


"Lagi-lagi kau menunjukkan sikap dingin dan wajah yang tidak peduli seperti itu, apa aku harus membuat kau menunjukkannya lebih terang apa? Maneh tadi mewek nya?" Satria tersenyum jahil, membuat Aditya tercengang mendengarnya bahkan sampai mengalihkan pandangannya.


"Siapa yang menangis, kau tidak upacara dengan benar 'kah?!"


"Hayo...! Mencoba untuk bohong? Yang berdiri di sebelahmu itu aku, bodoh."


"Aku hanya berkeringat... cuaca hari ini panas, dasar bodoh!" Satria mencoba untuk tidak tertawa terbahak-bahak, seperti biasanya ia sangat sulit untuk mengaku dalam menunjukkan perasaan yang sebenarnya sehingga ia mulai menunjukan gerobak bakso di hadapannya.


"Sepertinya Andrian dan Wilhelm memilih pilihan yang tepat, kita akan memakan makanan favoritmu sepertinya."


Satria dan Aditya mulai mendekati gerobak bakso itu, mereka bisa melihat banyak sekali orang yang duduk di atas kursi kecil dan tanah selagi menikmati bakso yang terasa begitu lezat. Melihatnya saja membuat Aditya menelan ludahnya, Wilhelm menghampiri mereka berdua untuk memberikan dua gelas teh hangat.


"Panas-panas seperti ini kok minum teh hangat sih...?" Tanya Satria.


"Teh dingin sudah habis terjual..." Kata pedagang itu.


"Yah... Kalau begitu, mas! Dua bakso porsi yang besar, bakso babat, iga, daging, telur, apapun semuanya masukkan ke dalam mangkuk!" Satria mulai memesan, Aditya terkejut ketika ia memesankan porsi yang begitu besar.


"Oi, apa yang...?!"

__ADS_1


"Siap, bang! Duduk saja dulu, saya siapkan!"


__ADS_2