Pride of Indonesia

Pride of Indonesia
POI 33 - Ledakan


__ADS_3

"Haarrrrggghhhhh!!!" Seru Satria keras, ia melancarkan beberapa pukulan menggunakan kedua tinju-nya sehingga tembok di depan-nya mulai berlubang tetapi Steve berhasil memperbaiki-nya dan ia juga ingin segera mengakhiri semua ini dengan cepat tetapi Satria terlalu serius sehingga ia mendengar pergerakan di belakang-nya, ia menoleh ke belakang lalu menghancurkan semua batang emas itu.


Setelah itu Satria mulai memikirkan cara agar ia bisa bebas dari lorong yang dipenuhi dengan tembok ini, tembok dan lantai yang ia lihat dapat dengan mudah Steve kontrol sehingga Satria mencoba segala cara dengan melawan-nya balik tetapi ia berakhir terluka di bagian lengan dan tubuh-nya karena tertusuk dengan berlian yang tajam dan kayu yang panjang.


"Sialan kau!!! Pengecut!!! Tampakkan wajah jelek-mu itu di hadapan-ku!!!" Satria mengepalkan tinju kanan-nya lalu ia mengalirkan jumlah Mana yang besar di satu tinju itu, ia mulai menghantam tembok di depan-nya sampai hancur. Steve tercengang melihat-nya, ia segera melompat ke belakang tetapi Satria terus mengikuti-nya dengan menghancurkan seluruh kayu yang bermunculan di lantai menggunakan silet-nya itu.


Steve mulai panik tetapi ia masih memiliki banyak kemampuan Mana yang belum ia keluarkan, ketika Satria berada tepat di hadapan-nya ia langsung tersenyum dan menghantam daratan dengan beliung-nya sehingga tembok logam mulai menghantam-nya ke atas langit, Satria tidak terkejut sama sekali karena ia memiliki rencana juga, ia menghisap rokok-nya sampai habis lalu menghembuskan asap yang mampu menyelimuti Keraton itu.


"Ck... jadi ini sihir-nya 'kah? Asap..." Steve mulai berhati-hati, ia menambang lantai beberapa kali sehingga beberapa berlian muncul di sekitar-nya. Berlian itu adalah salah satu rencana-nya, ketika berlian itu bergerak dan mengeluarkan sedikit suara itu artinya Satria mendekat, suara berlian itu terdengar jelas dan ia langsung menghantam palu-nya dengan lantai sehingga menciptakan batu-batu besar yang melesat menuju arah Satria.


Satria melebarkan kedua mata-nya, ia terkena batu itu dan terlempar keluar sehingga tiba di lapangan, Andrian bisa melihat Satria yang dipenuhi dengan luka dan darah yang mengalir deras di mata kanan-nya. Lawan-nya sepertinya terlihat kuat sampai Satria sendiri bisa terluka seperti itu, "Satria, siapa lawan-mu?!"


"Orang gila dengan beliung dan palu-nya itu...!!! Hati-hati, dia terlalu kuat!!!" Beberapa tembok mulai muncul di lapangan sehingga Andrian mencoba untuk membantu Satria tetapi tidak bisa karena tembok di hadapan-nya mulai bertambah panjang dan besar, tembok itu juga dilapisi dengan logam, baja, emas, dan berlian agar mereka tidak dapat membantu Satria.


"Sial...!" Andrian mencoba segala cara untuk menghancurkan tembok itu tetapi beberapa preman bertopeng mulai menyerang-nya, jumlah mereka sangat banyak sehingga mereka harus terus melawan.


Satria mulai bernafas berat karena ia menggunakan terlalu banyak Mana, ia mulai menatap ke depan dan melihat Steve sedang mengadukan kedua palu dan beliung-nya itu sambil tersenyum mengerikan, "Kamu punya istri dan satu putri yang sudah dewasa 'kan, Satria...? Jika kau sudah mati maka aku akan memberitahu mereka lalu... aku akan menikmati tubuh mereka, mwehehehe~" Kata Steve sambil menjilat bibir-nya beberapa kali.


Satria melebarkan kedua mata-nya sehingga kedua lengan-nya mulai bergetar, "Kau...!!!" Satria menghantam daratan sehingga daratan itu langsung hancur, ia merapatkan gigi-nya sampai tubuhnya mulai melepaskan aura biru yang melambang Mana, tubuh-nya mulai dipenuhi dengan garis Mana dan warna biru itu mulai berubah menjadi warna perak.

__ADS_1


"****** SIA ANJINGGGG!!!" Seru Satria keras sehingga ia bergerak maju menuju arah Steve, "Ahahahahahaha!!! Kau ingin langsung mati 'kah!? Lihat saja, kau hanya perlu melihat kami bersenang-senang di atas sana---" Steve tercengang ketika melihat seluruh tembok tebal yang ia ciptakan bisa hancur menggunakan kedua tinju-nya itu.


"Mana Burst...!" Sepuluh silet mulai ia lempar menggunakan kedua tangan-nya dan semua silet itu membesar sehingga melesat menuju arah Steve, ia mulai panik dan melindungi diri-nya dengan menciptakan beberapa tembok tebal menggunakan beliung, ia juga menciptakan beberapa perangkap untuk Satria tetapi ia berhasil menghancurkan semua perangkap itu menggunakan kedua lengan-nya.


"Tidak ada jalan lari untuk-mu!!!" Satria menghancurkan semua tembok dan perangkap itu menggunakan kedua lengan-nya tetapi tubuh bagian tengah-nya masih terluka dan tertusuk dengan serpihan kayu itu, "Hahaha! Apa yang kau coba lakukan itu tidak bergu---" Beberapa silet mulai menghancurkan tembok yang menghalang Satria dan tembok yang melindungi Steve sendiri langsung hancur.


"Jangan bilang tidak mungkin!!! Ini mungkin saja!!!" Satria sekarang berada tepat di hadapan-nya dan ia mulai mengepalkan tinju kanan-nya lalu melancarkan satu pukulan ke arah dada-nya, "Heh... aku tidak mengatakan itu kok..." Satu pukulan berhasil mengenai dada Steve tetapi tubuh-nya langsung berubah menjadi batu, baja, logam, emas, dan berlian yang dicampur menjadi satu.


"Aku juga memiliki kemampuan Mana yang dapat mengubah tubuh atau kulit-ku menjadi salah satu hasil tambang-ku... misalnya seperti batu, emas, logam, baja, dan berlian!" Steve mulai tertawa terbahak-bahak, Satria hanya diam sambil menatap-nya dengan ekspresi putus asa. Steve langsung mengayunkan kedua alat-nya itu secara bersamaan tetapi berakhir hancur dengan silet kecil.


"Hah...?!" 


"Kedua lengan ini... garis Mana biru yang berubah menjadi garis Mana perak, selama ini aku memiliki kemampuan Mana yang dapat mengubah kedua lengan-ku menjadi keras, tajam, dan memiliki pertahanan keras yang tidak bisa dihancurkan begitu saja. Itu artinya satu pukulan tadi sudah pasti akan menghancurkan-mu..." Satria mundur beberapa langkah dan Steve mulai panik sehingga ia menangis karena diri-nya merasakan kesakitan yang berlebihan, tubuh-nya mulai retak dan ia tidak dapat mengubah diri-nya kembali.


"Kau kalah oleh seorang kakek-kakek dan juga pejuang negara... sayang sekali, pengalaman-ku banyak jadi aku tidak akan kalah oleh diri-mu. Satu lawan satu adalah kemampuan-ku." Satria mengeluarkan pita merah putih-nya lalu ia menggunakan dan ia tidak lupa untuk mengeluarkan rokok, "Jangan lupa untuk santai dan merokok, dah..."


Satria berputar lalu memutuskan leher Steve sampai kepala-nya jatuh di atas tanah, ia mulai pergi meninggalkan Steve yang sudah mati sambil menghembus asap rokok keluar dari kedua hidung-nya, "Tetapi setidaknya, aku cukup terkesan... aku hampir saja mati jika aku tidak menggunakan Mana Burst."


***

__ADS_1


Bambu runcing yang Aditya injak mulai melaju dengan cepat sehingga ia berhasil mengangkat tubuh Daisy dan merebut-nya kembali, "Pegang erat, Daisy..." Kata Aditya sehingga ia mulai memeluk Aditya erat, setelah itu Aditya menendang bambu runcing itu sehingga bambu runcing tersebut melesat menuju arah preman yang menculik-nya dan berakhir dengan lubang besar di kepala-nya itu.


"... ..." Aditya mulai bergerak kembali menuju Keraton karena preman lain-nya mulai datang dan membidik diri-nya dengan senapan otomatis yang menembak peluru cepat, untungnya Aditya berhasil menghindari semua peluru itu dan membunuh mereka menggunakan kedua bambu runcing yang melayang di belakang-nya.


Jumlah dari preman itu banyak sekali sehingga Aditya tidak pernah berpikir bahwa jumlah preman bisa banyak seperti ini, apa yang terjadi dengan Indonesia sekarang dan kenapa para polisi yang memiliki pengguna Mana tidak mampu untuk menghentikan mereka semua. Ketika Aditya sudah dekat dengan Keraton itu ia bisa melihat seorang pria yang memegang busur sambil membidik-nya.


Pria itu melepaskan satu panah ke arah-nya, Aditya melebarkan kedua mata-nya karena panah itu terbakar dan mengeluarkan beberapa partikel merah di sekitar-nya. Dengan cepat Aditya melompat ke atas dan berhasil menghindari panah tersebut, panah itu menusuk jalan dan menimbulkan ledakan yang sangat besar, "Itu pasti dia...!" Aditya menunjukkan ekspresi yang kesal sehingga pria itu melepaskan satu panah yang terbelah menjadi beberapa bagian.


"A-Apa!?" Satu panah yang ia lepaskan langsung terbelah menjadi lima panah, Aditya tidak memiliki jalan untuk kabur karena kelima panah itu mengikuti diri-nya dan Daisy, "Daisy... tutup matamu...!!!"


Aditya mulai memeluk erat Daisy untuk melindungi-nya dari semua panah itu, tubuhnya mulai ia alirkan dengan Mana sampai habis. Kelima panah itu mulai menusuk jalan di sebelah-nya dna menimbulkan ledakan besar, Daisy mendengar ledakan itu dan ia tidak berani membuka kedua mata-nya sehingga Aditya terjatuh dan Daisy ikut tertimpa dengan-nya.


"A-Aditya...?! Aditya...!? Aditya...!!!" Daisy mulai panik ketika melihat Aditya pingsan, ia berhasil menjadi perisai untuk Daisy. Tubuh Aditya dipenuhi dengan luka dan darah yang berjatuhan sehingga itu membuat diri-nya khawatir, "Aditya...!"


Pria itu mulai membidik mereka berdua lagi tetapi ia melihat tiga mobil polisi yang datang, ia berdecak kesal karena polisi itu pasti memiliki Mana dan kemampuan Mana mereka sudah tidak diragukan lagi, "Kita mundur dulu sekarang... kita sudah mendapatkan Aditya Loka, sudah saat-nya melapor." Kata pria itu sehingga ia mulai pergi meninggalkan Mana Battlefield.


Semua preman bertopeng itu berhenti bertarung dan pergi meninggalkan Mana Battlefield, Daisy mulai mengangkat tubuh Aditya dan perlahan-lahan menggunakan kemampuan Mana-nya untuk menyembuhkan diri-nya itu. Seorang polisi wanita membuka pintu mobil-nya lalu menghampiri Daisy dengan wajah yang terlihat bersalah.


"Maafkan kami... sepertinya kami terlambat..."

__ADS_1


"Tolong bantu saya... Aditya bisa mati...!"


__ADS_2