Pride of Indonesia

Pride of Indonesia
POI 59 - Pengejaran Mobil dan Motor


__ADS_3

"Sesudah makan siang... seperti biasanya kau akan melakukan rutin keseharian itu ya." Wilhelm menatap Satria yang saat ini sedang menyetir selagi menikmati satu batang rokok.


"Tentu saja, mencampurkan kenikmatan dengan kenikmatan lainnya seperti merokok setelah menikmati bakso itu, uhh... rasanya seperti di surga dah." Satria menghembuskan asap rokok melalui hidungnya lalu ia fokus kembali dengan jalanan.


Andrian yang sedang duduk di sebelah Aditya bisa melihat dirinya yang terus membaca koran selagi menandai berbagai macam tempat, sepertinya bukan hanya kota Yogyakarta yang sedang panas-panasnya dengan pembunuhan atau korban dari operasi penembakan itu melainkan kota lain juga memiliki pelaku itu tersendiri.


Yang menarik perhatiannya adalah kota Blitar selama ini sudah memiliki pelaku yang berani untuk melakukan penembakan misterius itu, waktu yang pas juga untuk nanti karena ia ingin mengunjungi kota itu untuk persiapan nanti, beberapa hari kemudian adalah ulang tahun teman dekatnya.


Ia harus mengunjungi makamnya untuk memberikan rasa penuh hormat dan bersyukur karena sudah mau memberikan banyak inspirasi kepada dirinya, Andrian bisa mengetahui apa yang Aditya pikirkan karena ia saat ini terus memperhatikan berita yang berasal dari kota Blitar.


"Apakah kau ingin ke kota Blitar nanti?"


"Sepertinya kau tahu ya, iya, aku harus ke sana untuk mengunjungi makam teman baikku. Sebentar lagi beliau ulang tahun dan aku juga ingin memeriksa tentang korban dari penembakan itu, bisa dilihat pelaku juga menggunakan kemampuan Mana karena tubuhnya itu dipenuhi dengan tusuk yang sangat kecil." Aditya memberikan koran itu kepada Andrian.


Andrian mulai membacanya dan menatap teliti gambar dari koran tersebut dengan mata yang di alirkan dengan Mana, ia dikejutkan dengan luka yang begitu kecil terdapat dimana-mana. Kemampuan Mana satu ini terlihat berbahaya dan bisa saja berkaitan dengan senapan yang cepat atau peluru kecil yang membunuh musuh secara langsung.


"Masalahnya bertambah semakin rumit dan besar saja ya... bukan hanya pelaku yang menjalani operasi itu tetapi beberapa preman yang memiliki kemampuan Mana kuat juga menggunakan kesempatan untuk berperang dengan polisi dan tentara lainnya yang tidak berdaya..."


"...preman yang tidak bisa berubah dan pelaku yang menjalani operasi, mereka perlu di hukum dan mengetahui arti hukum yang sebenarnya. Penjara itu seharusnya ada dan hukuman yang adil itu seperti memasukkan mereka ke dalam sel penjara lalu mencoba untuk memberi mereka sugesti secara pelan-pelan." 


Andrian terus membaca semua berita itu di setiap halaman, Aditya berhenti membaca karena ia sedang merasa sakit kepala karena memikirkan lokasi Wahyudi, semua ini bisa berakhir jika Wahyudi mendapatkan hukuman yang setimpal karena preman bertopeng yang ia lawan sebelumnya adalah ulah dirinya.


Bukan hanya itu saja tetapi beberapa preman dan polisi yang ia lawan satu bulan dan beberapa hari yang lalu memiliki kaitan dengan Wahyudi, tentara militer Indonesia seperti dirinya harus dihentikan karena tujuan yang ia pikirkan saat ini masih belum diketahui oleh Aditya bahkan kemampuan Mananya.


"Aku masih penasaran dengan kemampuan yang dimiliki oleh Wahyudi... semua bawahan atau orang-orang yang menuruti perintahnya seperti ketakutan setengah mati ketika mengetahui kemampuan yang ia miliki..." Aditya mulai mengingat kembali kejadian yang sudah terjadi dulu sekali.

__ADS_1


"Sejak aku pertama kali bertemu dengan dirinya... aku tidak bisa merasakan sesuatu yang berbeda darinya bahkan aku ingat bahwa dia hanyalah sekedar Jenderal biasa yang tidak memiliki kemampuan Mana sama sekali."


"Jenderal itu bukan sekedar julukan biasa, Aditya. Banyak sekali cara untuk Manusia mendapatkan kemampuan Mana, aku mengetahuinya dari salah satu temanku di amerika... salah satunya dengan suntikan yang mengandung cairan Mana tetapi hasilnya tidak akan selalu berjalan dengan baik." Wilhelm mulai berbicara.


"Kemampuan Mana hanya bisa di dapatkan melalui keturunan dan bakat... lebih bekerja lagi bagi seseorang yang memiliki kepercayaan dan tekad yang begitu tinggi, kekuatan dan kegunaan dari kemampuan itu terkait dengan sikap dan karakteristik mereka sendiri." 


Perkataan Wilhelm sudah pasti akan diingat oleh Aditya tetapi ia sendiri masih belum mengetahui satu petunjuk dari Wahyudi, melawan dirinya secara langsung sama saja dengan bunuh diri kepada terdapat banyak sekali kemampuan Mana yang begitu kuat dan semua penggunanya memutuskan untuk merahasiakannya.


"Operasi ini sangat berpengaruh dengan kemajuan dan perkembangan Indonesia... kita tidak membutuhkan pengurangan penduduk melainkan penduduk yang mau berubah sampai bisa memajukan Indonesia, negara Indonesia harus lulus dari negara yang disebut berkembang." Kata Aditya.


"Aku sebenarnya mengenal seseorang yang dapat membawa kita kepada Wahyudi bahkan sampai mengetahui kemampuan Mana yang ia miliki, bukan itu saja tetapi seluruh bawahan yang ia miliki juga." Andrian mulai berbicara, mereka semua mulai tercengang ketika mendengarnya.


Andrian dan Aditya selalu mengumpulkan informasi tentang pelaku penembakan misterius itu termasuk dengan Wahyudi dan tentara militer yang ia pimpin, setiap hari mereka akan membeli koran dan mengumpulkan berbagai macam informasi dari warga yang berbeda.


Kebetulan pada saat bulan Mei, terdapat banyak sekali polisi jahat yang membela preman bahkan sampai membunuh beberapa pelaku penembakan misterius yang tidak memiliki kemampuan Mana, polisi jahat dan preman yang kali ini lebih menonjol dengan warna rambut kuning.


Minggu, 10 Mei 1980.


Andrian membuka pintu mobil lalu ia masuk untuk menyalakan mesin dari mobil tersebut karena ia baru saja mendapatkan sebuah kabar dari salah satu pelayannya, saat ini sedang terjadi sebuah pengejaran di perbatasan kota Yogyakarta, beberapa preman berhasil mencuri sesuatu dari para ilmuan.


Mereka tidak memiliki pilihan lain selain mengejar karena masih sempat, Andrian melepas Garuda untuk mencari tahu tempat mereka dan ia bisa melihat beberapa mobil yang bergerak cukup cepat, tujuan semua pencuri itu mencoba untuk menjauhi kota Yogyakarta.


"Aditya... cepat masuk!" Seru Andrian.


Aditya baru saja mengambil beberapa amunisi untuk senapan pistol dan otomatisnya karena kedua senjata itu sangat dibutuhkan untuk mengejar musuh yang menggunakan motor dan mobil, Satria masuk ke dalam mobil Wilhelm dan ia mulai menyiapkan beberapa silet untuk ia lempar.

__ADS_1


Pengejaran di mulai, semua preman dan polisi penjahat itu menyadari keberadaan dua mobil yang terus mengikuti mereka dari belakang. Pemimpin preman yang memakai motor itu mulai menyentuh helm yang ia pakai, ia mengalirkan Mana ke dalamnya untuk dijadikan sebagai perisai kepala.


"Bawa cairan itu lebih jauh dari tempat ini... aku akan menahan mereka selagi menyempatkan dirinya untuk membawa mereka kepada Jenderal kita." Kata preman yang memiliki rambut kuning yang sangat panjang.


"Om Denis, apakah kau serius?!"


"Jangan meremehkan preman si rambut kuning... kemampuan Manaku sudah cukup untuk menghancurkan kedua mobil itu bahkan sampai mengeluarkan keempat pria itu dengan kondisi yang terluka." 


Denis mulai mengisi peluru yang sudah diperkuat dengan Mana lalu ai mengendarai motornya dan mengalirkan Mana sampai motornya melepaskan gas yang berwarna biru muda. Kedua preman lainnya mulai mengikuti dirinya tetapi Denis meninggalkan mereka semua dengan mengendarai motor itu ke dalam jurang jembatan.


Kedua preman yang mengendarai motor itu mulai menggunakan kemampuan Mana untuk melompati mobil milik Andrian dan Wilhelm sehingga kedua preman itu sekarang berada di belakang kedua mobil itu, melihat kedua preman itu yang cukup mahir dalam menggunakan motor membuat Andrian mengetahui kemampuan Mana sekarang.


"Mereka adalah preman geng motor sepertinya... motor yang di modifikasi secara berlebihan itu biasanya motor yang suka mengikut balapan ilegal, kemampuan Mana mereka berkaitan dengan motor." Andrian menatap kaca spion lalu ia mencoba untuk menghentikan mereka dengan menggunakan Garuda.


Kedua preman itu berhasil menghindari semua serangan Garuda itu karena kecepatan motor yang mereka gunakan, "Sudah cukup, Andrian, mengendarai selagi mengurangi beberapa sumber Mana di dalam dirimu akan berdampak buruk." Kata Aditya.


"Baiklah, kalau begitu pegang erat... tujuan utama kita untuk merebut cairan Mana yang diciptakan oleh para ilmuan itu, aku tidak tahu kegunaannya apa tetapi... mencuri sesuatu dari seorang ilmuan itu tidak baik." Andrian menginjak gas dengan penuh tenaga sampai mobilnya mulai ia alirkan Mana agar bisa menambah kecepatan.


Mereka semua berada di jalan yang sangat lurus jadi mereka dapat melakukan apapun tanpa harus memikirkan jalan yang berbelok ke kanan dan kiri.


Andrian bisa melihat tiga mobil polisi di hadapannya dan Aditya mulai membidik ban mobil tersebut dengan senapan pistolnya.


Aditya melebarkan matanya karena ia merasakan sesuatu yang mendekat, secara refleks ia menundukkan kepalanya dan berhasil menghindari satu peluru yang hampir saja menembus kepalanya, untung saja kemampuan Mana yang dapat meningkatkan kewaspadaan memperingati dirinya tentang peluru yang mendekat.


"Sial, Andrian... kedua motor itu sangat mengganggu..."

__ADS_1


"...kita harus jatuhkan mereka."


__ADS_2