
Aditya mulai kesulitan ketika ia mencoba untuk mendekati Ajax yang terus melarikan diri dan mengandalkan aliran Mana-nya itu untuk menjaga jarak dengan Aditya agar ia bisa menggunakan kemampuan Mana-nya yang dapat memanipulasi bubuk mesiu, bensi, dan juga panah yang ia lepaskan kepada Aditya. Ketika Ajax terus menjaga jarak seperti itu, Aditya merasa kesal sehingga ia memunculkan tiga bambu runcing di belakang-nya lalu ia luncurkan ke depan.
Ajax tersenyum sinis karena ia dapat dengan mudah menghancurkan ketiga bambu runcing-nya itu dengan melempar beberapa bubuk mesiu yang langsung menghancurkan kedua bambu itu, Aditya melompat ke depan lalu ia menendang busur-nya agar ia tidak menggunakan trik yang sama lagi dan lagi, Aditya dan Ajax mulai bertarung menggunakan tangan kosong... Ajax bukanlah tandingan Aditya dalam pertarungan seni bela diri.
Aditya menendang perut-nya lalu ia memegang kepala Ajax dan menghantam-nya dengan tembok candi sampai kening-nya mulai berdarah, Aditya mengadukan kepala-nya dengan tembok itu lagi tetapi ketika ia mencoba untuk melakukan-nya lagi, ia malah terkena tendangan di bagian perut-nya lalu ia bisa mencium bau mesiu.
"Gegabah sekali kau ya..." Ajax menjentikkan jari-nya sehingga Aditya langsung meledak dan ledakan itu cukup besar sehingga menghalangi diri-nya dengan asap hitam, Ajax tersenyum dan ia langsung tercengang ketika melihat Aditya berjalan keluar dari asap itu dengan baju yang sudah terbakar hangus.
Ajax tercengang untuk melihat seorang Manusia seperti diri-nya dapat bertahan menahan ledakan dari jarak yang sangat dekat, Aditya menendang perut Ajax lalu ia mengalirkan kedua tinju-nya dengan Mana dan melancarkan serangan bertubi-tubi yang mengenai perut-nya dan setelah itu ia berputar lalu melakukan salto ke atas, menyebabkan Ajax terdorong ke belakang dan jatuh dari atas candi.
Aditya cukup beruntung untuk menggunakan aliran Mana yang dapat meningkatkan fisik dan ketahanan terhadap ledakan, walaupun dia selamat... beberapa darah mengalir keluar melalui luka-luka yang ia dapatkan dari ledakan tadi, ia menatap ke depan dan melihat sepuluh panah Ajax yang melesat menuju arah diri-nya. Aditya melarikan diri dengan membuat bingung semua panah itu dengan masuk ke dalam candi yang terdapat pintu besar.
Semua panah itu meledak di dalam candi itu dan Aditya sendiri berhasil menghindari-nya karena setiap candi yang memiliki celah, ia langsung masuk ke dalam untuk berlindung disana sehingga Ajax yang melihat dari lantai bawah mulai tersenyum ketika melihat banyak sekali ledakan yang terjadi di atas sana sehingga ia tidak sadar bahwa Aditya tiba di hadapan-nya dengan menghantam wajah-nya sampai ia terjatuh di atas tangga.
Ajax tercengang ketika melihat satu bambu runcing yang meluncur ke arah panah-nya, untung ia sempat untuk menghancurkan-nya dengan panah-nya itu, pertarungan mereka mulai berlanjut dan pertarungan itu terlihat setara. Jumlah dari preman bertopeng itu mulai berkurang karena bala bantuan yang dipanggil oleh Andrian dan Putri.
Andrian saat ini sedang bertarung melawan seorang pengguna Mana tipe batu yang dapat menciptakan patung bergerak menggunakan batu-batu itu, Andrian langsung menggunakan zirah-nya karena pria yang bernama [Ajang] ini memiliki kemampuan Mana yang berkaitan dengan bensin dan bubuk mesiu. Ajang melompat ke atas lalu ia mendarat di atas kepala patung-nya itu yang mencoba untuk menindih tubuh Andrian.
__ADS_1
Andrian memanggil Garuda untuk membantu diri-nya terbang ke atas, ia melompat menuju Ajang lalu memunculkan pedang-nya untuk mencoba memotong tubuhnya menjadi bagian kecil tetapi serangan Andrian selalu saja mengenai batu-batuan yang Ajang ciptakan dengan mengeluarkan serpihan batu di saku dan Mana penyimpanan. Patung Ajang dan Garuda Andrian saat ini sedang bertarung.
Ajang mulai menyerang sekarang dengan menciptakan pedang yang terbuat dari batu, ia mengayunkan kedua pedang batu-nya itu tetapi Andrian dengan mudah menghancurkan batu itu tanpa harus mencoba tetapi serpihan batu yang melewati Andrian mulai meledak sehingga mengejutkan diri-nya, Ajang tersenyum jahat lalu ia melancarkan satu pedang sehingga menusuk dada Andrian.
Andrian menatap Ajang dengan tatapan yang terlihat datar ketika pedang itu malah hancur ketika mencoba untuk menusuk zirah Andrian, "Karepmu opo!?[Lu mau apa?]" Andrian memukul wajah-nya sehingga ia hampir saja terjatuh dari atas patung-nya tetapi ia sempat menyelamatkan diri dengan masuk ke dalam kepala patung itu, Andrian mengangkat pedang-nya lalu ia menghancurkan puncak kepala patung-nya itu dan melihat Ajang yang melepaskan batu runcing ke arah-nya tetapi ia berhasil menghindarinya.
Andrian masuk ke dalam kepala patung itu lalu ia kembali bertarung dengan Ajang, Ajang sudah kehabisan ide untuk mencoba melukai-nya... ia tidak bisa melihat celah untuk melarikan diri karena Andrian terus menahan-nya dengan melancarkan beberapa serangan. Serangan Andrian sempat luput ketika patung itu kehilangan keseimbangan-nya karena Garuda yang menghantam dada-nya.
Wilhelm berputar ke belakang sambil membidik semua preman itu menggunakan pistol-nya, satu peluru mengarah tepat kepada jantung sehingga langsung membunuh mereka semua. Wilhelm melihat seorang preman kekar menghampiri-nya dengan mencoba untuk menghantam diri-nya menggunakan pohon besar yang ia angkat, "Kau besar juga... kemampuan Mana dan aliran Mana-mu sepertinya lebih menonjol dengan kekuatan ya."
Martin langsung menarik pelatuk-nya dan Wilhelm mengalirkan kedua mata-nya juga menggunakan kemampuan Mana angin untuk mempercepat pergerakan kedua lengan-nya itu, ia membidik seluruh peluru yang mencoba untuk mengenai-nya, semua peluru itu hancur ketika terkena dengan peluru yang tembak oleh Wilhelm.
Martin bergerak ke depan lalu ia mencoba untuk menghantam Wilhelm menggunakan kedua senapan-nya tetapi Wilhelm berhasil menghancurkan-nya dengan pisau-nya lalu ia mencoba untuk menusuk-nya tetapi tusukan itu malah membuat pisau Wilhelm terlempar ke belakang, "Tubuh sekuat baja...!" Wilhelm terkejut ketika melihat-nya dan Martin tersenyum karena ia mencoba untuk menangkap-nya tetapi gagal ketika Wilhelm melakukan salto ke belakang.
"Hehhhh... percuma, aku mengorbankan semua Mana-ku untuk di jadikan sebagai aliran Mana yang dapat meningkatkan pertahanan dan fisik-ku sehingga tubuhku sekarang setebal dan sekuat baja...! Kau tidak akan bisa menembus pertahanan-ku!!!" Wilhelm menembak Martin menggunakan pistol-nya tetapi peluru-nya langsung hancur ketika mengenai tubuh-nya itu, ia mulai berpikir bahwa dirinya beruntung untuk menemukan musuh seperti dia karena serangan Aditya, Satria, Henzie, dan Andrian pasti tidak mempan.
"Walaupun tubuh dan fisik-mu itu sama seperti baja... setebal apapun itu, kau melupakan sesuatu." Wilhelm membidik ke depan menggunakan lengan kanan-nya dan Martin tercengang ketika melihat tapak kiri Wilhelm mulai dipenuhi garis biru tua karena ia akan mengeluarkan listrik-nya, "You are Dead."
__ADS_1
Wilhelm menembak peluru-nya yang terarah kepada kedua mata Martin sehingga peluru itu menghancurkan kedua mata-nya dan membuat dirinya berlutut di atas tanah sambil memegang kedua mata-nya yang mengeluarkan banyak darah, "Uwaggghhh!!! Mata-ku...!!! Aku belum melihat seseorang telanjang...!!! Kenapa kau menghancur---" Wilhelm mengangkat tapak kiri-nya ke atas lalu ia menurunkan-nya sehingga awan gelap itu mengeluarkan petir yang menghancurkan tubuh Martin menjadi kepingan daging kecil.
Wilhelm mengarahkan petir lain-nya ke arah beberapa preman yang hampir saja membunuh rekan-rekannya, ia tidak bisa terlalu lama menggunakan petir karena itu terlalu menguras Mana dan tenaga. Ia tidak memiliki pilihan lain selain melumpuhkan mereka dan menusuk leher mereka menggunakan pisau itu sehingga...
Baaammmm...!!!
Terdengar suara ledakan besar yang berasal dari patung Ajang, Daisy melihat ledakan itu dari jauh dan ia sadar bahwa Andrian sedang berada di dalam patung itu... ledakan itu sangat dahsyat dan kemungkinan besar akan melukai Andrian cukup parah, "Aku kira si sialan itu akan meledakkan diri-nya sendiri tetapi ia melarikan diri ke atas udara." Kata Putri yang terlihat tenang.
"Kenapa kamu terlihat tenang, Putri?! Andrian loh... dia bisa saja mati karena ledakan tadi!" Seru Daisy dan Putri mulai terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala-nya karena Andrian baik-baik saja sehingga ia menunjuk Andrian yang mengibarkan kedua sayap-nya lalu ia terbang menghampiri Ajang dan mencekik leher-nya.
"Zirah Andrian tahan dengan api... itu artinya ledakan juga dapat ditahan dengan mudah oleh zirah tersebut." Kata Putri.
Andrian mencekik leher Ajang dan ia terlihat kaget ketika melihat Andrian bertahan hidup ketika terkena ledakan sebesar tadi, "K-Kenapa kau... kenapa kau masih hidup--- uckk!!!" Andrian mencekik leher-nya semakin kasar lalu ia terbang menuju daratan sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat mengancam.
"Kemampuan-mu hebat tetapi masih belum cukup untuk mengalahkan-ku...!!!" Andrian terbang menuju daratan dengan kecepatan tinggi lalu ia menghantam kepala Ajang dengan daratan sehingga kepala-nya hancur bersama dengan tubuh-nya, menyebabkan daratan mulai retakan karena Andrian tidak sengaja mengerahkan kekuatan-nya.
"Sial... aku terlalu berlebihan seperti-nya."
__ADS_1