
Ketika seluruh preman bertopeng itu meninggalkan Mana Battlefield maka dunia itu akan hilang juga sehingga Andrian melihat sekeliling dan semua-nya terlihat baik-baik saja, lain hari ia harus waspada dengan Mana Battlefield ini. Wilhelm menyentuh bahu-nya yang terasa pegal lalu ia menatap ke depan dan melihat Antoni yang sedang membawa Satria menuju putri agar semua luka-lukanya yang parah itu bisa disembuhkan secepat mungkin.
Seluruh polisi pengguna Mana itu mulai berbicara dengan Andrian, Andrian memberitahu semua informasi tentang kedua geng tersebut sehingga polisi wanita yang bernama [Friska] mulai memberitahu diri-nya bahwa Keraton Yogyakarta akan aman karena ia akan melepaskan beberapa tentara dan polisi untuk mengawasi Keraton Yogyakarta agar tidak diserang secara massal seperti tadi.
Beberapa dokter dan suster yang memiliki Mana mulai datang untuk menyembuhkan luka dan memulihkan Mana mereka, Daisy sendiri tidak bisa menyembuhkan Aditya sepenuh-nya karena luka yang ia alami besar sampai punggung-nya terdapat luka bakar besar. Untuk satu hari ini, hari ini adalah yang cukup buruk bagi mereka semua sehingga Andrian mulai berbicara dengan Antoni untuk mempelajari kemampuan Mana yang dapat membuat sebuah perangkap.
Tidak ada lagi preman yang akan berani menyerang secara diam-diam seperti tadi, Andrian sampai menyuruh Antoni untuk mencari pengawal yang memiliki Mana tetapi dia harus mencari yang benar, seseorang yang ingin melindungi bukan hanya mengarah uang yang akan diberikan oleh Andrian saja.
***
Daisy duduk di sebelah kasur sambil menatap Aditya yang masih tertidur, sudah dua kali ia membahayakan nyawa Aditya karena diri-nya yang ceroboh dan tidak bisa melindungi dirinya sendiri sama sekali. Ia mulai mengupas apel untuk Aditya ketika dia bangun tetapi sudah satu hari penuh ia masih tertidur, kondisi-nya tidak buruk karena ia sekarang sedang berada di fase pemulihan diri.
Andrian menyuruh Daisy untuk tetap menemani Aditya di kamar-nya, Henzie kali ini tidak sedang bersama Daisy karena ia memiliki tugas sendiri bersama Wilhelm dan Satria, walaupun Satria sudah beberapa kali diperintahkan untuk beristirahat oleh Putri dan Andrian, ia dengan keras kepala-nya ingin ikut dan membawa karena luka yang alami itu tidak seberapa sampai mereka menyerah dan membiarkan-nya pergi.
Daisy dan Aditya hanya berduaan di kamar, hanya terdengar suara gemuruh udara sejuk dan sinar terik matahari. Sekarang pukul [10:12] dan Aditya masih tertidur dengan damai, Daisy terus menyalahkan diri-nya tetapi Andrian memberitahu-nya bahwa semua itu bukan salah-nya melainkan semua preman itu memang sialan, tujuan mereka hanya membunuh dan menculik gadis yang masih suci.
Daisy berhenti mengupas apel lalu ia menempati piring di atas meja, ia meraih tangan Aditya lalu menggenggam-nya dengan sangat erat, "Aditya... terima kasih... sudah dua kali kau terluka seperti ini karena mencoba untuk menyelamatkan-ku, sepertinya aku benar-benar harus belajar untuk memberanikan diri-ku sendiri dari-mu."
Daisy menatap Aditya dengan ekspresi yang terlihat terharu, air mata mengalir deras melalui kedua mata-nya karena ia tidak bisa menahan air mata-nya itu ketika melihat Aditya yang masih tertidur. Daisy tidak mau kehilangan Aditya walaupun dia sudah mencoba untuk menyelamatkan diri-nya yang lemah ini, ia mulai menyentuh pipi Aditya.
"Hangat... tangan dan pipi-mu hangat sekali..." Daisy perlahan-lahan mendekat lalu membuka selimut Aditya sehingga ia bisa melihat tubuh bagian atas Aditya yang dipenuhi dengan luka, "Semua luka-luka ini pasti hasil dari perjuangan-mu ya... Aditya... kau sungguh berani..." Daisy masih menangis, ia mulai mengusap tubuh-nya dan rasa hangat mulai ia rasakan.
__ADS_1
"Aku mencintai-mu... Aditya... andai saja kamu bisa lebih peka dan mengetahui perasaan-ku secara langsung, aku... tidak terlalu baik dalam menyatakan sebuah perasaan cinta, aku terlalu malu dan ini pertama kali-nya aku melihat seorang laki-laki yang begitu baik dan hebat di pandangan-ku sendiri." Untungnya tidak ada yang sedang berjaga di balik pintu kamar itu karena Daisy menyatakan perasaan-nya secara langsung kepada Aditya yang sedang tidur.
Daisy memeluk Aditya erat lalu ia berbisik di kuping-nya, "Aku mencintaimu..." Kata-kata itu langsung membuat Aditya perlahan-lahan membuka kedua mata-nya karena ia mendengar perkataan Daisy, ia mulai menatap diri-nya yang sangat dekat sekarang, "Daisy...?"
Daisy sontak kaget ketika mendengar suara Aditya, ia berhenti memeluk-nya lalu kembali duduk di atas kursi-nya dengan wajah yang merah, "P-Pagi, Aditya... bagaimana... apakah kamu sudah merasa baik?" Tanya Daisy yang mulai mengambil mangkuk berisi bubur karena Aditya belum sarapan dan perut-nya harus diisi secepat mungkin.
"Kamu pasti khawatir ya...? Tidak perlu memaksakan diri-mu sendiri, kau tidak salah... hanya saja aku yang terlalu lemah untuk melindungi-mu dan yang lainnya, kemampuan Mana pemimpin topeng Bapang yang bernama Ajax itu memiliki serangan yang sama seperti ledakan. Panah yang ia lepaskan itu berbahaya dan aku harus berhati-hati---" Aditya melihat air mata yang mengalir deras melalui kedua mata-nya.
"Daisy...? Siapa yang melukai-mu...?" Tatap Aditya kesal ketika ia melihat Daisy menangis, "T-Tidak ada... ini hanya keringat kok... keringat..." Kata Daisy sehingga ia mulai menempatkan mangkuk-nya di atas meja untuk menghapus air mata-nya yang terus berjatuhan karena ia merasa sangat bersyukur bahwa Aditya telah bangun dan terlihat baik-baik saja.
"Itu adalah air mata... aku bisa melihat-nya dengan jelas." Kata Aditya, ia mulai menarik lengan kanan Daisy kepada diri-nya lalu ia memberi diri-nya sebuah pelukan karena Satria pernah memberitahu bahwa pelukan dapat menenangkan seorang wanita dan juga membuat diri-nya merasa lebih nyaman ketika menangis, "Aditya... maafkan aku... kau terluka seperti ini karena diri-ku..."
"Aku lemah ya..."
"Tidak semua gadis kuat kok, yang lemah juga tidak selalu lemah. Gadis itu harus diperlakukan dengan benar dan lembut, itu yang aku tahu..." Lagi-lagi Aditya mengetahui perkataan itu dari Satria, sepertinya ia tidak merasa menyesal untuk berguru dengan Satria, ia bisa menenangkan Daisy yang terus menangis.
"Aditya... terima kasih... bedankt![terima kasih]... ik hou van jou[aku cinta kamu]..." Daisy mengatakan pernyataan cinta dengan bahasa-nya sendiri karena ia masih belum cukup berani, Aditya tidak mengerti apa yang ia katakan tetapi ia hanya diam dan terus memeluk-nya, "Mulai dari sekarang, kau harus bisa tenang."
Daisy berhenti memeluk-nya lalu ia menatap kedua mata Aditya dan memberi diri-nya sebuah kecupan di pipi, kecupan itu membuat Aditya terkejut sehingga ia merasakan penasaran yang belum ia rasakan sebelum-nya... jantung-nya entah kenapa bisa berdetak cepat ketika menerima kecupan itu, "Daisy...?"
"Aditya... terima kasih..." Daisy tersenyum, "Aku menci---"
__ADS_1
Andrian membuka pintu kamar itu dalam waktu yang kurang tepat karena ia bisa melihat Daisy dan Aditya yang saling berdekatan, "O-Ohh? Aku datang dalam waktu yang kurang tepat, maaf... lanjutkan saja." Ketika Andrian menutup pintu itu kembali, Daisy mulai memberitahu diri-nya untuk kembali karena ia langsung merasa malu dan tidak ingin melanjutkan pernyataan cinta itu karena dia sudah memberi diri-nya kecupan.
Andrian awal-nya ingin melihat kondisi Aditya tetapi ia sekarang sepertinya sudah bangun dan dalam waktu yang kurang tepat ia malah membuat Daisy gagal dalam menyatakan perasaan-nya. Andrian datang juga untuk memberi beberapa makanan untuk Aditya karena ia harus beristirahat selama satu hari penuh bersama Daisy.
"Kalau begitu aku akan kembali bekerja..." Andrian pergi menghampiri pintu lalu ia membuka-nya dan menatap Daisy, "Daisy, jangan nakal loh~"
"Tidak! Hentikan...!" Kata Daisy sambil menutup kedua telinga-nya, ketika Andrian meninggalkan mereka berdua. Perut Aditya mulai bersuara sehingga Daisy mulai mengambil mangkuk berisi bubur itu, "Aku suapin ya...?"
Aditya mengangguk, "Kedua lengan-ku masih lemas..." Daisy mulai memberi beberapa suapan untuk Aditya sehingga rasa dari bubur itu yang sudah dingin terasa enak, mungkin semua itu berubah ketika seorang gadis menyuapi diri-nya. Aditya mulai menatap Daisy yang sedang membuka botol air minum, ia masih berpikir tentang Daisy yang menempelkan bibir-nya di pipi-nya itu.
"Mungkin itu seperti ucapan terima kasih di negara Belanda...? Kalau begitu aku juga harus membalas-nya karena dia sudah mau memberi-ku beberapa suapan." Ungkap Aditya, ia hanya tinggal menunggu Daisy membuka tutup botol itu dan ia mencoba sekuat mungkin sampai tidak bisa, "Daisy."
"Mm...? Tunggu sebentar, aku sedang mencoba untuk membuka---" Aditya memberi sebuah kecupan di pipi-nya, ketika Daisy menerima kecupan itu... ia melepas botol itu sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat sangat kaget karena Aditya tiba-tiba memberi dirinya sebuah kecupan, jantung Daisy berdetak cepat sehingga wajah-nya berubah menjadi merah... ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Terima kasih, Daisy..." Aditya tersenyum.
"Ehh...? Ahhh... Aku... Aditya... A-Apa... yang... k-kau... heh...? Hehhhh...!?" Daisy mulai salah tingkah sambil menyentuh pipi-nya yang baru saja di cium.
"Itu ucapan terima kasih 'kan...?"
"Heeeeehhhhh...."
__ADS_1