Pride of Indonesia

Pride of Indonesia
POI 29 - Saling Membantu


__ADS_3

Aditya datang untuk menghadapi Andrian karena ia ingin membicarakan tentang suatu hal sebelum makan malam sudah Putri siapkan, Andrian yang sedang berbicara bersama pelayan lain-nya melihat Aditya yang datang dengan ekspresi yang terlihat serius. Ia mulai menyuruh pelayan-nya untuk segera melakukan pekerjaan-nya lalu ia menatap Aditya.


"Apakah kau memiliki urusan dengan-ku, Aditya?" Tanya Andrian dan ia mulai mengangguk, mereka mulai masuk ke dalam ruangan tamu karena tempat itu cukup nyaman juga untuk dipakai berbicara tentang sesuatu, "Jadi... apa yang kau ingin bicarakan?" Tanya Andrian yang mulai meminum teh hangat-nya.


"Apakah kau tahu bahwa Yogyakarta dipenuhi dengan preman atau geng yang sudah---"


"Aku akan langsung memotong pembicaraan-mu itu karena aku sudah mengetahuinya, apakah kau ingin mencari informasi tentang dua geng yang saat ini sedang panas-panasnya di berita? Geng topeng Pelana dan geng topeng Bapang, kedua geng yang dipenuhi dengan preman berdarah dingin juga kemampuan Mana mereka cukup mengesankan." Andrian mengeluarkan beberapa gambar dan juga koran tentang berita geng itu sehingga Aditya mulai mengambil-nya lalu menatap gambar-nya terlebih dahulu.


Aditya bisa melihat semua gambar itu dipenuhi dengan pria dan juga wanita yang menggunakan topeng, Andrian mulai memisahkan gambar dan berita tentang geng topeng Pelana dan Bapang. Andrian menandakan gambar kedua geng pemimpin itu dengan pulpen warna biru sehingga Aditya tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas.


"Dilihat dari tubuh dan otot mereka... sudah pasti mereka itu pria yang cukup berbahaya, kejahatan apa saja yang sudah mereka lakukan?" Aditya mengambil koran yang membicarakan berita tentang topeng Pelana, pemimpin yang bernama [Marco] bersama dengan pasukan-nya yang tidak bisa dihitung berapa jumlah-nya.


"Tidak ada yang tahu markas geng topeng Pelana ini dan bahkan aku sendiri tidak tahu berapa jumlah dari mereka, jika saja mereka mencoba untuk membunuh kerusuhan maka hal itu akan menarik perhatian tentara militer Wahyudi juga tentara militer lain-nya untuk melakukan penembakan misterius." Aditya melihat gambar pemimpin dari topeng Bapang dan identitas mereka sangat tersembunyi karena topeng yang mereka gunakan itu, "Menurut-mu... dari kedua geng ini, siapa yang lebih mengerikan?"


"Ancaman yang paling besar adalah geng topeng Bapang, kau tahu karakter dari topeng Bapang ini 'kan? Bapang merupakan salah satu tokoh jahat yang digambarkan dengan topeng yang berwarna merah yang melambangkan sifat pemarah dan jahat. Bapang memiliki hidung yang panjang, mata yang besar, jambang dan kumis yang menunjukkan bahwa Bapang adalah laki-laki. Topeng Bapang juga memiliki titik emas diantara alis yang menunjukkan ia adalah keturunan dewa." Andrian membuka laci-nya lalu mengeluarkan lebih banyak berita tentang kedua geng itu.


Aditya cukup kaget ketika melihat koran yang menumpuk di depan-nya, kedua geng itu sepertinya sudah melakukan banyak kejahatan, "Jika kau ingin mengetahui informasi mereka maka baca semua koran ini, kau juga mungkin bisa mencari kemampuan Mana apa saja yang mereka semua miliki. Mereka tidak selalu melakukan kejahatan di Yogyakarta, ingat itu."


Aditya mengangguk lalu menunjuk semua koran dan gambar itu lalu ia mengalirkan semua benda itu dengan Mana-nya untuk menyimpan-nya ke dalam penyimpan Mana. Andrian bisa melihat Aditya terlihat serius dan kesal tetapi ia setidaknya dapat membantu dirinya untuk memberitahu diri-nya tentang informasi dari kedua geng tersebut.


"Terima kasih, Andrian... sekarang aku memiliki sebuah pekerjaan untuk membaca informasi mereka semua, masalah-ku sekarang mulai bercabang karena kedua geng ini. Biarkan aku melakukan hukuman yang pantas untuk mereka semua." Tatap Aditya serius dan Andrian mulai menepuk bahu Aditya, "Kau tidak sendirian, Aditya, kita semua akan membantu-mu untuk menghukum semua geng itu."


"Sekali lagi, terima kasih..." Aditya mengangguk.


Putri mulai membuka pintu ruangan tamu karena ia mencoba untuk mencari Andrian dan Aditya, "Kalian disini ternyata, ayo kita makan malam." Mereka berdua bangkit dari sofa mereka lalu mulai mengikuti Putri, Andrian bisa melihat Aditya yang sudah membaca koran itu, ia mulai mengeluarkan sebuah kacamata untuk Aditya.


"Apa ini...?" Tanya Aditya.


"Sebagai ucapan terima kasih karena sudah mau membantu-ku, kau juga dapat menggunakan kacamata ini untuk menyamar. Besok kita akan pergi menuju candi prambanan, jadi kau membutuhkan kacamata itu untuk menyembunyikan identitas-mu." Aditya langsung berterima kasih kepada diri-nya, ia segera menggunakan kacamata itu sampai ia bisa membaca koran itu dengan jelas.

__ADS_1


"Sepertinya kacamata itu pas untuk diri-mu, Aditya." Andrian tersenyum.


"Bukan hanya pas tetapi aku dapat membaca koran dengan baik, mungkin penglihatan-ku mulai bermasalah tetapi kacamata ini telah membuatnya kembali membaik, terima kasih, Andrian." Kata Aditya dimana ia mulai membaca koran itu dengan teliti, Andrian cukup terkejut dengan Aditya yang benar-benar serius tentang geng itu.


Mereka tiba di ruang makan yang cukup mewah, Aditya memilih untuk berhenti membaca karena ia ingin mengisi perut-nya terlebih dahulu dengan makanan. Daisy dan Henzie bisa melihat Aditya yang menggunakan kacamata dan itu langsung membuat mereka tersipu karena itu terlihat sangat pas untuk dirinya, "Walah, Raden? Edaaaan euy." Satria terkekeh.


"Apanya yang edan?" Aditya duduk di sebelah Daisy, "Kacamata itu benar-benar membuat-mu menjadi seorang pria tampan dan berani." 


Para pelayan mulai menyediakan banyak sekali makanan di atas meja dan semua terlihat lezat sehingga mereka mulai memakan makanan itu bersama tetapi Aditya makan-nya dengan pelan sambil membaca koran, mereka mencoba untuk tidak menghiraukan-nya karena Aditya memang tertarik dengan berita tentang preman atau kejahatan karena Satria sudah menjelaskan diri-nya kepada mereka termasuk Daisy dan Henzie.


"Maaf jika tidak sopan tetapi aku membaca sambil makan itu cukup membantu pikiran-ku untuk mencerna informasi." Kata Aditya, Andrian tidak merasa keberatan sama sekali melainkan ia membiarkan diri-nya untuk terus membaca agar ia bisa mendapat sebuah petunjuk karena Andrian sendiri ingin mengetahui markas mereka.


Setelah mereka selesai makan malam, para pelayan membawa Aditya, Daisy, dan Henzie menuju kamar-nya sehingga Daisy dan Henzie terkejut ketika ia satu kamar dengan Aditya di kamar yang cukup besar. Wajah Daisy bahkan berubah menjadi merah ketika ia melihat satu kasur besar, Aditya sendiri tidak merasa keberatan karena ia sedang membaca sebuah koran.


"T-Tunggu, apa maksud-nya ini?! Kenapa aku harus satu kamar dengan Aditya?!" Tanya Henzie dengan ekspresi yang kesal, di balik ekspresi kesal-nya itu terdapat perasaan sangat senang karena bisa tidur disamping. Pelayan itu mulai menundukkan kepala-nya lalu meminta maaf karena tidak ada kamar lagi jadi mereka berdua terpaksa harus tidur bersama Aditya di kamar yang sama.


"Wilhelm dan Satria bilang bahwa mereka ingin tidur sendiri dan kamar mereka juga sangat kecil, mohon maaf tetapi mau tidak mau kalian harus satu kamar dengan tuan Aditya jika tidak maka Aditya atau kalian saja yang tidur diluar." Pelayan itu mulai pergi meninggalkan mereka bertiga, Daisy dan Henzie tidak merasa keberatan melainkan ia ingin sekali tetapi ketika mereka menatap Aditya yang sedang membaca.


Aditya menatap mereka berdua, "Jika kalian keberatan maka aku saja yang tidur di lu---" Daisy menarik baju Aditya lalu tersenyum, "Aku tidak keberatan kok... hanya saja, apakah kamu ingin?"


"Kalau aku sih tidak apa-apa asalkan bisa tidur dengan nyenyak." Kata Aditya dimana ia mulai duduk di atas kursi lalu melanjutkan membaca koran tersebut, Satria diam-diam mengintip di belakang pintu kamarnya dan melihat kedua gadis itu tersenyum serta merasa senang, "Hohoho... ini pasti akan berjalan cukup menarik..."


Beberapa menit kemudian, mereka telah selesai makan malam dan sekarang sudah saatnya mereka beristirahat dan melakukan beberapa aktivitas di kamar mereka. Aditya seperti biasanya membaca koran sambil menikmati sebuah kopi, Daisy sudah tidur karena dia merasa lelah hari ini, Henzie sedang membaca buku Mana sehingga Aditya mulai menatap diri-nya.


"Henzie."


"Ada apa?" 


"Apakah kau mau berlatih dengan-ku sekarang? Jika hari ini aku belum berlatih maka tubuhku bisa saja melemah, aku baca berita itu besok saja." Aditya bangkit dari kursi, Henzie mengangguk karena dia juga ingin berlatih bersama Aditya. Mereka pergi meninggalkan kamar dan segera menghampiri lapangan untuk berlatih disana.

__ADS_1


Menghabiskan waktu selama dua jam sehingga sekarang pukul [23:13], Henzie duduk di atas tanah sambil mengusap keringat-nya yang berjatuhan karena latihan dua jam ini cukup membuatnya kelelahan, berbeda dengan Aditya yang masih berdiri tetapi menatap bulan di malam hari yang begitu indah-nya.


Ketika Henzie menatap Aditya yang disinari dengan cahaya bulan, ia tersipu dan mulai menatap-nya dengan ekspresi yang terkejut karena ia terlihat lebih tenang sekarang berbeda ketika ia sedang makan malam dimana ekspresi-nya terlihat kesal sekali, "Henzie, bagaimana menurut-mu tentang geng yang memberontak di Yogyakarta ini?"


"Mereka tentunya orang jahat, aku membenci mereka bahkan ketika kau tadi baru saja memberitahu-ku tentang kejahatan mereka... aku merasa ingin membunuh mereka apalagi geng yang bernama topeng bapang, kejahatan yang mereka lakukan tentang wanita seperti memperkosa dan melecehkan mereka itu adalah tindakan yang sangat rendah." Henzie mengepalkan kedua tinju-nya, ia sudah tahu beberapa informasi tentang kedua geng itu dari Aditya.


"Sepertinya aku sangat tertarik dengan geng topeng Bapang, saking tertariknya aku ingin membunuh mereka semua karena mereka mengincar gadis... Sungguh rendah." Aditya mengepalkan kedua tinjunya lalu ia menatap Henzie dengan ekspresi yang terlihat serius, "Aku tidak peduli jika kau seorang petarung atau pengguna Mana yang hebat tetapi kau harus tetap berada di sisiku, Henzie. Berlindunglah dibelakangku!"


Henzie terkejut ketika mendengar itu sehingga ia melebarkan kedua matanya ketika Aditya mampu berbicara seperti itu, sebagian kata yang Aditya ucapkan berasal dari Satria yang memberitahu tentang gadis bahwa mereka itu lemah dan perlu dilindungi dari orang-orang munafik.


"Apakah kau dengar dengan jelas? Kau harus berhati-hati dengan geng bertopeng Kelana dan Bapang, aku tidak ingin mereka melukaimu dan melakukan sesuatu yang tidak pantas kepadamu." Perkataan Aditya mampu membuat Henzie tersenyum dan mengangguk.


"Hm... Aku mengerti, aku akan selalu berlindung di belakang-mu kok, Aditya..."


"Jika di era ini sudah banyak penjahat dan rakyat Indonesia yang menciptakan perang antar bangsa maka aku tidak ingin diam saja, aku ingin memberi mereka hukuman yang setimpal---" Henzie langsung memeluk Aditya dari belakang dan pelukan itu langsung membuat dirinya merasa sangat tenang sampai amarah yang membakar hatinya mulai mengecil.


"Henzie...?"


"Terima kasih... Ini pertama kalinya aku mendengar seorang pria berbicara seperti itu di hadapanku... tetapi sebagai seorang penjaga aku juga harus bertambah kuat, mari bersama-sama bertambah kuat, Aditya." Henzie tersenyum dan Aditya menoleh ke belakang untuk menatap wajahnya.


"Ya... Mari kita bersama-sama bertambah kuat!" Aditya tersenyum sehingga ia melihat Henzie yang mulai mendekatkan wajahnya dengan pelan sambil memejamkan kedua matanya, Aditya tidak mengerti apa yang sedang ia lakukan jadi ia hanya diam.


"Henzie...?"


"Aditya... Aku..."


"Aditya! Henzie! Ini gawat!" Andrian tiba-tiba mendarat di sebelah, Henzie terkejut lalu menoleh ke belakang, "Ehh? Ada apa?"


"Ada berita penting baru..."

__ADS_1


__ADS_2