
"Hahahahaha! Belegug sia!" Kata Satria sambil menertawakan sebuah berita yang menceritakan tentang keberuntungan seorang preman yang menurun drastis karena ia mencoba untuk mencuri tas wanita tetapi berakhir berhadapan dengan seorang polisi yang langsung melaksanakan penembakan misterius itu.
Wilhelm dan Henzie menatap Satria suram karena yang dia lakukan daritadi hanya makan, merokok, tertawa melihat majalah dan koran. Dia tidak membantu sama sekali, walaupun dia tadi bilang kepada Andrian bahwa ia ingin sekali ikut untuk membantu mereka mengangkat beberapa barang dan bahan, "Oi... jika kau mau menjadi beban kami... kenapa kau tidak diam saja di rumah?"
"Hahahahaha... tunggu dulu, banyak sekali berita dan majalah ngakak ini, nanti aku bantu deh." Satria terus tertawa-tawa sambil menunjukkan perban yang menghalang mata kanan-nya itu, "Ayolah, jangan menyombongkan luka-mu itu, Satria. Bantu!"
"Hahaha, iya-iya." Satria mulai membantu mereka, mereka bertiga sebenarnya pergi berbelanja untuk mempersiapkan makan siang dan malam untuk sekarang sampai hari yang akan datang, mungkin dalam dua atau tiga hari mereka akan pergi berwisata menuju candi prambanan untuk menenangkan diri mereka, walaupun Mana Battlefield bisa menyerang kapanpun... mereka bisa mempermudah pekerjaan mereka dengan mudah semua preman bertopeng itu.
Karena pertarungan di tengah malam itu, Wilhelm bisa memprediksi bahwa kedua geng itu telah kehilangan banyak anggota. Mungkin saja mereka tidak akan menyerang sampai mereka benar-benar siap dan mengumpulkan lebih banyak preman lagi tetapi... ia sendiri yakin bahwa mereka semua akan bertambah kuat dan dengan mudah mengalahkan semua sampah yang terus berserakan itu.
Satria diam-diam menendang kaki Wilhelm pelan untuk memberitahu-nya karena mereka berdua sekarang bersama seseorang yang sangat mencintai Aditya, "Wilhelm... mungkin sudah saat-nya kita memberitahu tentang itu... apa yang dia pikirkan... aku yakin dia akan jujur kepada kita." Kata Satria, untungnya Henzie sedang fokus mengangkat barang yang berat jadi ia tidak sempat untuk membaca pikiran Satria.
Satria mulai menatap Henzie dan Henzie menatap-nya dingin, entah kenapa ia terlihat lebih seperti seorang wanita ketika di hadapan Aditya tetapi sekarang ia terlihat menyeramkan... seperti seorang gadis pemimpin yang sangat tegas, "Henzie, nama-mu Henzie Van Briouse 'kan?"
"Iya, apakah ada perlu dengan-ku?" Tanya Henzie, Satria bisa menebak dari karakteristik-nya bahwa dia benar-benar seorang pelayan bangsawan jadi ia memiliki sifat yang dingin dan sangat tegas tetapi Satria sudah memiliki ide, satu kata atau kalimat saja sudah pasti akan mengubah Henzie menjadi seseorang yang berbeda, "Jadi... bagaimana hubungan-mu dengan sahabat-ku yang bernama Aditya akhir-akhir ini?"
Ketika Henzie mendengar nama Aditya, ia mulai terkejut sampai wajah-nya berubah menjadi merah. Wilhelm dan Satria mencoba sekuat mungkin untuk menahan tawa mereka ketika melihat perubahan signifikan Henzie, ekspresi-nya yang tadi terlihat sangar dan serius berubah menjadi ekspresi yang dipenuhi dengan rasa malu karena dia mengingat kejadian ketika ia mencoba untuk menyatakan perasaan-nya.
"Y-Yah... kenapa kau selalu ingin tahu urusan orang lain sih...? Bukan b-berarti aku mencintai-nya atau apapun tetapi dia itu spesial--- Ahhh!!! Spesial yang aku maksud itu seperti teman laki-laki, i-itu ya... Aditya itu memang keren--- hebat, yang aku maksud hebat adalah dia adalah pria yang benar-benar seperti pria!" Satria terus menahan tawa-nya itu ketika ia melihat Henzie mulai saling tingkah, rasa malu-nya mulai menguasai tubuh-nya ketika mendengar nama Aditya.
"D-Dia itu baik... yah... hubungan kita... sebagai teman atau apalah itu... lancar mungkin... Ini, ini! Aku tidak menyukai-nya loh! Jangan berani-berani kalian memberitahu, Aditya! Aku takut dia tidak men--- menganggap-ku sebagai pa--- teman-nya juga!" Ekspresi Henzie terus berubah menjadi kesal dan malu, ia tidak bisa mengontrol perasaan dan emosi-nya yang saling bertentangan karena ia tidak ingin membicarakan Aditya di depan sahabat Aditya sendiri yang keras kepala yaitu Satria.
__ADS_1
"Hahahahaha, sudahlah... kami tahu kok kalau kau mencintai Aditya, terlihat jelas karena ekspresi dan perkataan yang kau berikan kepada beberapa orang. Ketika kau bersama Aditya, kau terlihat seperti gadis yang lebih lembut, baik, dan feminin!" Kata Satria sambil tertawa sehingga ia bisa melihat tatapan Henzie yang sangat tajam, ia menghampiri Satria lalu menundukkan kepala-nya.
"Aku... benar-benar mencintai diri-nya... dia adalah laki-laki yang dapat membuat jantung-ku berdetak entah kenapa tetapi kenapa dia tidak bisa menyadari perasaan-ku...?"Tanya Henzie, awalnya Wilhelm dan Satria berpikir bahwa mereka akan dihukum oleh Henzie tetapi sepertinya di dalam diri-nya masih terdapat sisi baik dan pengampun, "Kau tidak tahu tentang masa kecil Aditya, Henzie. Butuh tahap dan proses agar ia bisa mengenal beberapa hal tentang kehidupan ini."
"Apa maksud-mu...?" Tanya Henzie, mereka mulai berbicara sambil menghampiri mobil Wilhelm. Topik pembicaraan kali ini menceritakan tentang masa kecil Aditya bersama kedua orang tua-nya yang miskin dan terbunuh karena perang, sejak kecil dan remaja... Aditya selalu dilatih untuk menjadi seorang pejuang demi tanah air-nya itu.
Henzie terkejut ketika mendengar masa lalu-nya yang terdengar suram, yang selalu Aditya ketahui adalah pertarungan dan cara untuk bertahan hidup sehingga ia terus beradaptasi dengan sekitar-nya, Satria memberitahu Henzie bahwa Aditya tidak bodoh karena ia juga akan mengetahui sesuatu yang belum ia ketahui secara proses dan bertahap.
Kemungkinan besar jika Henzie atau Daisy memberi-nya cinta maka Aditya bisa saja mengetahuinya karena Satria sendiri yang sudah memberitahu Aditya beberapa kali sehingga ia berani untuk memeluk Daisy dan memberi diri-nya kecupan tetapi di bibir belum karena Satria memperingati diri-nya untuk menikah dulu jika ingin mencium di bibir tetapi untuk orang Belanda mungkin tidak berlaku.
"Kedua orang tua-nya meninggal ya...? Aditya tidak pernah masuk sekolah... sungguh malang-nya, Aditya itu." Kata Henzie sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat bersalah karena dia sendiri adalah seorang wanita yang lahir di negara Belanda, "Entah Aditya sudah mengatakan-nya atau belum kepada-mu tetapi... jangan menyalahkan diri-mu, kami orang Indonesia akan selalu memperdalam Bhinneka Tunggal Ika."
"Terima kasih sudah memberitahu tentang masa lalu-nya, Satria. Wilhelm, terima kasih juga karena sudah memberitahu-ku beberapa cara untuk bisa lebih dekat dengan-nya." Henzie mulai menunjukkan senyuman-nya kepada mereka. "Tetapi... apakah kau tahu bahwa nona yang kau lindungi itu juga mencintai laki-laki yang sama dengan-mu?"
***
Henzie membuka pintu kamar-nya, ia melihat Aditya yang sedang duduk di atas kasur-nya sambil membaca beberapa buku tentang Mana. Aditya menoleh kepada Henzie lalu ia tersenyum seperti biasa-nya, "Selamat datang kembali, apakah perjalanan-mu bersama mereka berjalan cukup baik?"
"Begitulah..." Henzie menghampiri Aditya lalu duduk di atas meja untuk memberikan diri-nya beberapa botol berisi air, "Terima kasih, Henzie."
"Syukurlah kamu terlihat baik-baik saja, Aditya. Aku khawatir ketika mendengar-mu baru saja terkena ledakan besar bersama Nona, itu cukup berbahaya... kamu benar-benar tidak terlalu peduli dengan nyawa-mu sendiri ya, dasar bodoh." Kata Henzie sambil mengembungkan kedua pipi-nya, Aditya terkekeh lalu ia menatap keluar jendela untuk melihat pemandangan yang sangat indah, "Semua orang membutuhkan satu sama lain... walaupun mereka kuat dan memiliki julukan apapun itu, mereka pasti tidak akan bisa hidup secara individu. Maka dari itu, kita harus saling membantu."
__ADS_1
"Kau benar... aku sendiri tidak bisa hidup tanpa-mu, Aditya." Perkataan itu membuat Aditya mengingat perkataan Satria, ekspresi Henzie terlihat sedih tetapi di dalam diri-nya itu terdapat perasaan cinta yang ingin ia katakan secara langsung kepada Aditya, "Henzie... kalau kau mencoba untuk menahan rasa sakit itu maka rasa sakit itu hanya akan bertambah." Aditya mengulurkan kedua lengan-nya.
"Aditya..." Henzie mulai menatap Aditya dengan ekspresi yang terlihat terharu, ia mulai mendekati Aditya lalu memeluk-nya erat... pelukan yang dapat menenangkan hati-nya juga mental-nya yang lelah karena masalah-nya mulai bertambah soal preman yang bertopeng itu. Aditya mulai menepuk punggung-nya beberapa kali, mencoba untuk membuat-nya bertambah semakin nyaman.
Henzie menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk memberanikan diri-nya sendiri... ia berhenti memeluk Aditya lalu menatap kedua mata-nya dengan ekspresi yang terlihat serius, "Aditya, apakah kau mengetahui apa itu arti dari cinta yang sebenarnya?" Tanya Henzie untuk berjaga-jaga.
"Aku pernah diberitahu beberapa kali oleh Satria tetapi aku masih belum mengerti... apakah kau mengetahui-nya, Henzie...?" Tanya Aditya.
"Cinta adalah sebuah emosi dari yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta juga dapat diartikan sebagai suatu perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang...."
"...pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi atau kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut." Apa yang Henzie ucapkan mulai Aditya cerna kembali dengan perkataan Satria sehingga teman lama-nya pernah membicarakan hal itu ketika ia menikah dengan seorang wanita.
"... ...!" Aditya melebarkan kedua mata-nya, ia bisa melihat ekspresi Henzie yang terlihat serius... pikiran-nya mulai mencerna semua informasi itu sehingga ia terdiam karena jantung-nya mulai berdetak cepat, detakan yang sama ketika ia menerima kecupan dari Daisy, "Aditya...! Aku...!"
Henzie memberi kecupan di pipi kanan Aditya sehingga pintu kamar terbuka, mereka tidak mendengar-nya tetapi seseorang yang membuka pintu itu bisa melihat Aditya dan Henzie mulai saling berdekatan, "Aku..."
"Aku mencintai-mu, Aditya!" Seru Henzie keras, Aditya terdiam ketika mendengar pernyataan tersebut, ia tidak tahu harus bilang apa tetapi pikiran-nya masih terus mencerna sehingga ia bisa melihat Daisy di belakang Henzie yang terlihat terkejut karena ia baru saja mendengar Henzie menyatakan cinta-nya kepada Aditya.
"Aditya...?" Henzie ikut kaget ketika Aditya terlihat seperti menatap seseorang, ia menoleh ke belakang dan melihat Daisy yang terlihat begitu terkejut-nya, "M-M-Maaf... sepertinya aku masuk dalam waktu yang salah ya..." Daisy mulai menutup kembali pintu itu lalu ia melarikan diri.
"Nona...!" Henzie mulai panik sehingga ia mengejar mereka Daisy.
__ADS_1
"... ..." Aditya menatap kedua telapak tangan-nya lalu ia menatap keluar jendela, "Jadi ini 'kah...? Perasaan dan detakan jantung yang aku selalu rasakan?"
"Cinta...?"