Pride of Indonesia

Pride of Indonesia
POI 6 - Harga Diri


__ADS_3

Hal pertama yang Aditya sadari adalah tiket menuju neraka berada di hadapan-nya, seluruh senapan yang sudah membidik dirinya bersama Bima... Perasaan yang dirasakan hanya ketegangan dan ketakutan sampai keringat dingin terus mengalir keluar tanpa henti, rasa panik yang Aditya mampu membuat tubuh-nya terus bergetar.


Rakyat Indonesia pada era seperti ini sudah tidak memiliki harga diri untuk saling melindungi bangsa yang sama, mereka tidak memiliki keseganan selain membidik senapan mereka dan menarik pelatuk itu dengan pelan-pelan. Bima maju beberapa langkah, mencoba untuk melindungi Aditya yang masih terlihat panik.


Apakah yang dimaksud oleh teman dekat Aditya itu seperti ini...? Rasa takut dan juga ketegangan ketika bangsa yang sama mencoba untuk membunuh bangsa-nya sendiri atau saudara-nya sendiri, Aditya menatap kedua telapak tangan-nya sehingga kedua telinga-nya bisa mendengar suara Presiden pertama yang terus membicarakan tentang konflik antara bangsa yang sama.


Bahkan ketika Aditya menutup kedua telinga-nya sambil menggelengkan kepalanya, tubuhnya masih bergetar dan keringat dingin-nya terus mengalir keluar. Setelah beberapa saat, pikirannya belajar tentang kedinginan, dingin yang menusuk kulit. Sama seperti bayi yang baru lahir merasakan dingin untuk pertama kalinya. Namun subjek-nya sendiri tidak punya waktu untuk mengalaminya.


Kedua kaki Bima mulai ia alirkan Mana hingga Jenderal itu memerintah seluruh pasukan-nya untuk membunuh mereka berdua dengan cepat, tetapi Bima bergerak cukup cepat dan berhasil menendang Aditya mundur hingga ia berlindung di balik mobil yang Bima ciptakan menggunakan kemampuan Mana-nya.


Garis Mana yang terdapat di kedua kaki-nya membuat Bima bergerak cukup cepat, tetapi ia tidak bisa menggunakan-nya terlalu lama karena sumber Mana-nya terkuras cukup cepat, seluruh pasukan yang ada di depan Bima menarik pelatuk senapan mereka hingga peluru yang berjumlah banyak melesat menuju arah-nya yang tersenyum sinis.


"Kali ini aku akan membayar kalian semua dengan kematian yang pernah kalian berikan kepada warga Indonesia...!!!" Kata Bima hingga kedua lengan-nya dipenuhi dengan aliran Mana yang menciptakan dua senapan bernama [Owen].


Owen merupakan SMB buatan Australia, dibuat berdasarkan tren SMG Sten Gun dari Inggris; dan Thompson dari Amerika. Owen di desain oleh veteran tentara Australia, Evelyn Owen. Para pejuang Indonesia berhasil mendapatkannya ketika merampas-nya dari Inggris. senapan ini mampu menembak 700 peluru per menit.


Bima segera mengalirkan Mana-nya ke kedua senapan-nya itu agar ia dapat menggunakan-nya tanpa harus menanggung resiko yaitu hentakan dan juga peluru yang akan habis, beban dari senapan itu juga mulai terasa ringan dan Bima segera menarik kedua pelatuk-nya hingga senapan-nya menembakkan banyak sekali peluru ke arah peluru musuh yang ada di depan-nya.


Jenderal itu tercengang melihat peluru Owen milik Bima mampu menghancurkan seluruh peluru senapan [Bren] dan [Nambu Type 97], sekarang ia mengerti bahwa Bima dapat menggunakan kemampuan Mana-nya cukup baik, lawan yang benar-benar pantas di bunuh lalu diambil kekuatan-nya.


"Pengguna Mana yang cukup baik... Sekarang aku bisa mengerti kenapa pasukan-ku terus berkurang ketika melakukan operasi, ternyata penyebab-nya adalah dirimu bersama teman-temanmu ya..." Kata Jenderal itu yang mulai melompat ke belakang sambil melakukan beberapa salto untuk menghindari semua peluru yang melesat cepat itu.

__ADS_1


Peluru yang sudah dilapisi dengan Mana, pergerakan dan daya kehancuran-nya juga jauh lebih besar hingga mampu menembus peluru senjata yang dipegang oleh musuh, beberapa pasukan Jenderal itu tidak bisa melakukan apa-apa kecuali tertembak lalu tumbang di atas tanah dengan kondisi yang sudah mati.


Satu Manusia yang memiliki Mana mampu membasmi hampir seluruh pasukan Jenderal tersebut, Aditya melebarkan matanya ketika melihat Bima telah membunuh bangsa-nya sendiri, perang antar sesama bangsa memang terjadi hingga tubuh Aditya semakin bergetar... Kali ini bukan rasa takut tetapi amarah dan juga rasa kecewa melihat rakyat Indonesia pada era zaman sekarang.


"Kenapa... Kenapa... Kenapa kalian melupakan perjuangan kami... Kenapa kalian melupakan apa yang dikatakan oleh Presiden pertama..." Ucap Aditya pelan sambil melihat Bima yang sedang berperang melawan musuh-nya.


Paru-paru, tubuh, setiap sel berteriak untuk oksigen, rasa sakit itu tak tertahan-kan. Tidak bisa tetap tenang dan berpikir, Bima hanya bisa berjuang dengan susah payah untuk bisa menerobos pasukan yang ada di depan-nya, jumlah mereka masih banyak dan Bima masih bisa bertahan dengan jumlah Mana yang masih dia miliki.


Aditya mulai merasa muak dan tidak tahan ketika melihat rakyat Indonesia yang sedang berperang melawan satu sama lain, dia berjuang melawan penjajah dan ini adalah imbalan yang di dapatkan, sungguh era yang cukup mengecewakan bagi Aditya sampai ia dikejutkan oleh tiga polisi yang membidik kepala-nya dengan senapan yang mereka pegang.


"Sepertinya kau adalah sasaran yang empuk."


"Sebenarnya... Kenapa kita rakyat Indonesia harus berperang seperti ini...?! Apa guna-nya konflik ini dan operasi Petrus ini!? Apakah kau ingat tentang perkataan Presiden pertama...!!!" Seru Aditya keras, dia tidak melawan sama sekali karena ketiga kepala polisi itu langsung hancur tertembak oleh Bima dari jarak yang jauh.


"... ...!" Aditya melebarkan matanya, merasa semakin kesal melihat rakyat Indonesia yang dibunuh oleh rakyat yang sama. Walaupun Bima itu teman-nya, Aditya mulai merasa kecewa terhadap dirinya sampai kehormatan-nya kepada Bima telah hilang.


Bima bergerak lebih cepat sehingga ia mampu menembak seluruh kepala pasukan musuh menggunakan kedua senapan-nya yang memiliki amunisi tak terbatas karena kemampuan dari Mana, sayang sekali... Jenderal itu perlahan-lahan mulai kehilangan banyak pasukan-nya hingga ia tidak memiliki pilihan lain selain turun tangan untuk melawan-nya.


"Jenderal Wahyudi, jangan bertindak gegabah...! Presiden akan mengamuk jika kau terbunuh melawan satu Manusia yang memiliki Mana seperti dirinya---" Sebuah peluru menembus leher seorang tentara hingga ia terjatuh di depan Jenderal Wahyudi yang terlihat kesal.


"Kemampuan-mu dalam menggunakan Mana hebat juga, tetapi akan sangat adil jika manusia pengguna Mana melawan manusia pengguna Mana lain-nya 'kan!?" Kedua lengan Wahyudi langsung dipenuhi dengan garis Mana, ia menciptakan dua belati yang dapat membelah semua peluru di hadapan-nya.

__ADS_1


Bima mengerutkan dahi-nya ketika melihat Jenderal itu dapat menggunakan Mana, itu artinya pertarungan ini akan berjalan cukup sulit bagi dirinya yang hampir kehabisan Mana. Wahyudi bahkan dapat menggunakan kedua belati-nya itu cukup mahir sampai seluruh peluru yang melesat menuju arah-nya mampu ia tebas menjadi bagian kecil.


"Keparat...!" Bima melihat Wahyudi yang bergerak menuju arah-nya dengan kecepatan yang tidak normal, kedua kaki Bima segara ia alirkan Mana untuk bisa melarikan diri dari Wahyudi yang mencoba untuk memenggal leher-nya.


Wahyudi melihat Bima yang menembakkan ratusan peluru ke arah-nya, Wahyudi dengan cepat mengalirkan sumber Mana yang berjumlah besar di kedua mata-nya agar ia dapat melihat pergerakan peluru itu menjadi lambat, Bima semakin merasa kesal melihat rakyat Indonesia yang menjalani operasi Petrus akan memiliki kemampuan Mana yang cukup hebat seperti-nya.


Seluruh peluru yang terlihat lambat bagi Wahyudi langsung ia hancurkan menggunakan kedua belati-nya yang sudah ia alirkan Mana, karena peluru dan belati yang sudah di alirkan Mana saling beradu, hasilnya peluru dan belati yang dipegang oleh Wahyudi langsung hancur. Bima tersenyum serius dan ia segera mengayunkan kedua senapan-nya ke arah Wahyudi.


"Ternyata kemampuan Mana-mu untuk meningkatkan daya tahan benda memang lebih menakjubkan dari-ku..." Wahyudi mulai berbicara dengan nada yang pelan ketika sadar bahwa situasi semakin memburuk untuk dirinya, Bima jauh lebih berpengalaman dalam menggunakan Mana dan dia sekarang memunculkan sebuah golok.


"Sungguh menyedihkan ya, Jenderal...! Operasi Petrus-mu gagal sekarang!!!" Seru Bima.


Wajah Wahyudi langsung berlumuran darah, dia sudah pasrah ketika darah-nya keluar dan mengenai wajah-nya karena golok itu telah mengenai leher-nya, tetapi ada yang aneh... Rasa sakit itu tidak bisa ia rasakan sehingga ia menatap ke depan lalu melebarkan matanya-nya ketika melihat kepala Bima yang sudah tidak ada, leher-nya menyemburkan banyak sekali darah hingga mengotori rambut Wahyudi.


"... ..." Aditya menarik baut-nya untuk mengeluarkan peluru Arisaka-nya lalu ia mendorong kembali itu baut itu dengan ekspresi yang terlihat kesal. Wahyudi melebarkan matanya karena tidak menyangka bahwa dirinya akan berkhianat dan membunuh Bima seperti itu.


Wahyudi melihat dibalik wajah kesal-nya itu terdapat sebuah air mata yang mengalir keluar dari mata-nya, "Ini memang menyakitkan, bung..."


"...Sulit untuk memilih siapa dan membela siapa, harga diri-ku terasa hancur karena sudah membunuh rakyat Indonesia yang mencoba untuk membunuh rakyat lain-nya..."


"...Sekarang aku telah menjadi salah satu dari mereka, maafkan aku, bung..."

__ADS_1


__ADS_2