
Aditya memutar Arisaka-nya lalu ia menatap Wahyudi dengan tatapan yang dipenuhi penyesalan, Wahyudi terlihat tercengang sampai ia tidak mempercayai bahwa teman dari Bima mengkhianati dirinya sendiri. Sepertinya Bima sudah benar-benar terbunuh oleh Aditya, itu artinya Wahyudi harus waspada dengan Aditya yang masih menatap diri-nya sambil memegang sebuah senapan.
Harga diri-nya turun drastis ketika ia baru saja membunuh sesama rakyat Indonesia untuk pertama kali-nya, tetapi ia merasa lega, entah kenapa itu... Aditya terus diam dan merenung karena pikiran-nya dipenuhi dengan suara Presiden pertama yang memberitahu dirinya bahwa suatu saat perjuangan-nya akan jauh lebih menyulitkan dibandingkan melawan penjajah.
"Kenapa... Kenapa kau mengkhianati teman-mu sendiri yang sudah melatih-mu?" Wahyudi mulai berbicara.
"Lebih baik kau menatap cermin terlebih dahulu sebelum menanyakan pertanyaan itu kepada diriku, kenapa rakyat Indonesia seperti-mu mau melaksanakan operasi Petrus? Apakah kau ingat perkataan Presiden pertama...? Dia benar-benar takut perang sesama bangsa terjadi dan Presiden saat inilah yang menciptakan operasi sialan itu...!!!" Seru Aditya keras hingga kedua pupil mata-nya memancarkan cahaya biru yang melambangkan sumber Mana-nya.
Cara berbicara Aditya itu sangat berbeda dengan rakyat Indonesia yang berada di era saat ini hingga Wahyudi sekarang mengetahui bahwa Aditya berasal dari zaman dahulu sekali dimana Indonesia masih dijajah oleh negara asing, karena Mana yang ada di dalam tubuh-nya... Ia dapat hidup bertahun-tahun tanpa harus mengkhawatirkan fisik-nya.
"Aku mengerti sekarang... Jadi dia...? Sesosok Manusia yang dicari-cari oleh sang Presiden... Harga diri yang cukup tinggi tentang negara ini, dia benar-benar teman dekat Presiden pertama." Ungkap Wahyudi.
"Aku sudah tidak tahan membunuh rakyat Indonesia lain-nya, aku membiarkan-mu pergi, Jenderal... Dengan syarat, kau dilarang untuk menghadapi-ku dengan wajah-mu itu. Jika aku melihat operasi Petrus yang masih berjalan maka aku akan segera membunuh tangan kotor mereka dengan tangan kotor-ku!" Kata Aditya hingga ia berjalan pergi meninggalkan Wahyudi sendirian.
Wahyudi membiarkan diri-nya pergi karena tujuan pertama-nya yaitu menyerap semua sumber Mana yang tersisa di dalam tubuh Bima, Manusia yang memiliki Mana ketika mencoba untuk menyerang sumber Mana di tubuh Manusia lain akan mendapatkan kemampuan yang berbeda hingga sumber Mana-nya juga semakin besar dan bertambah.
Ketika seluruh Mana yang ia serap mulai memenuhi tubuhnya, Wahyudi hanya bisa tersenyum dan siap untuk menjalankan operasi Petrus-nya lagi, tujuan kedua-nya itu ada di hadapan-nya... Membunuh sesosok Manusia yang berasal dari jaman dahulu dan itu Aditya, dua senapan [Owen] muncul di kedua tangan Wahyudi lalu ia menarik pelatuk-nya.
Kedua telinga Aditya langsung mendengar suara tembakan, ia segera melirik ke belakang lalu mengubah Arisaka-nya menjadi bambu runcing-nya menggunakan Mana hingga ia sempat untuk memantulkan semua peluru itu menggunakan bambu runcing-nya yang sudah dilapisi dengan Mana, Wahyudi tidak terlihat terkejut melihat kemampuan Aditya dalam menggunakan bambu runcing tersebut.
__ADS_1
"Kau memang prajurit yang hebat, tetapi sayang sekali... Kau akan mati sebentar lagi, kekuatan dan juga pengalaman yang kau miliki bisa kau gunakan untuk menjadi tentara di militer kami!!!" Seru Wahyudi, ia mengalirkan peluru selanjut-nya dengan Mana agar daya serangan peluru itu bertambah kuat.
Aditya mundur ke belakang sambil memutar-kan bambu runcing-nya dengan cepat, ia masih bisa bertahan untuk menahan semua peluru yang bergerak lambat di kedua mata-nya. Tidak ada niat bertarung di dalam diri Aditya karena dia benar-benar tidak bisa membunuh sesama rakyat Indonesia walaupun rakyat tersebut mencoba untuk membunuh diri-nya.
"Aku tidak berniat untuk bertarung lagi...!!!" Seru Aditya, ia mengalirkan Mana di kedua kaki-nya untuk melompat tinggi ke atas atap gudang lalu melarikan diri secepat mungkin, Wahyudi melakukan hal yang sama untuk bisa mengejar Aditya sambil menembakkan kedua senapan-nya ke arah Aditya.
Hujan turun deras dan membasahi tubuh mereka, suara tembakan dari senapan Wahyudi mulai tidak terdengar karena suara dari petir yang bermunculan di atas langit yang hitam. Dengan seorang diri saja Wahyudi tidak mampu melukai Aditya, ia segera memanggil bala bantuan hingga Aditya melihat banyak sekali polisi yang datang dan membidik diri-nya menggunakan senapan yang mereka pegang.
"Apa-apaan ini!? Kenapa kita harus bertarung jika kita berasal dari bangsa yang sama...!!!" Seru Aditya keras hingga emosi amarah-nya melonjak di dalam tubuh-nya, perlahan-lahan melupakan janji yang pernah di buat oleh teman baik-nya kepada dirinya yaitu... Jangan coba-coba untuk berperang melawan saudara sendiri.
Aditya dan Wahyudi yang sedang saling mengejar di atas atap rumah mulai dikepung oleh banyak sekali polisi yang menembakkan peluru-nya ke arah Aditya, semua peluru itu mengepung Aditya hingga ia tidak mampu menahan semua peluru itu kecuali peluru milik Wahyudi.
"Dengan ini aku akan mengorbankan semua sumber Mana-ku hanya untuk meningkatkan pertahanan dan fisik-ku sendiri dari semua peluru itu...! Aku masih bisa menahan Jenderal sialan itu...!" Ungkap Aditya yang mulai menatap Wahyudi dengan tatapan terkejut ketika ia sadar bahwa dirinya sekarang berada di hadapan-nya.
"Aku tidak akan membiarkan korban Petrus lolos...!" Wahyudi menghantam wajah Aditya hingga ia terlempar ke belakang dan terjatuh di atas tanah, beberapa polisi menyadari-nya lalu mereka semua menarik pelatuk senapan mereka hingga semua peluru itu memberikan Aditya luka gores sampai darah mengalir keluar dari goresan itu.
Darah yang mengalir keluar itu mengandung sedikit Mana, itu artinya sumber Mana Aditya mulai berkurang. Aditya memaksakan tubuh-nya untuk bangkit dan ia segera menahan semua peluru yang melesat menuju arah-nya menggunakan bambu runcing itu hingga Wahyudi melompat dari atas atap lalu mendarat di depan-nya.
Dengan kedua golok yang ia pegang, Wahyudi mampu menghancurkan bambu runcing Aditya yang sudah dilapisi dengan Mana, "C-Ck...!" Tubuh Aditya terasa berat, garis-garis Mana di tubuhnya perlahan-lahan hilang karena dia sudah mulai kehabisan Mana.
__ADS_1
"Aku bunuh kalian semua...!!! Keparat...!!!" Aditya kehilangan kendali terhadap diri-nya, ia menghabiskan sumber Mana-nya hanya untuk mengeluarkan sebuah senapan [Nambu Type 97] yang sudah dilapisi dengan Mana.
Aditya langsung menarik pelatuk-nya dan menekan-nya hingga senapan itu menembakkan banyak sekali peluru ke arah musuh-nya yang mengepung dirinya, semua polisi itu terkena tembak oleh seluruh peluru yang melesat cepat itu, salah satu dari mereka bahwa terbunuh dengan cara yang tragis seperti daging-daging yang sudah tidak tersisa.
"Graaaggggghhhhhh...!!!!!!" Teriak Aditya keras sambil menembak mereka semua menggunakan senapan yang ia pegang, tidak ada satupun musuh yang mau melawan-nya, bahkan Wahyudi sendiri mundur dan menahan semua peluru itu menggunakan kedua lengan-nya yang dilapisi dengan Mana.
Wahyudi melihat setiap peluru yang tertembak dari senapan itu sudah dilapisi dengan Mana, itu artinya amunisi-nya tidak akan habis sampai Mana Aditya benar-benar habis, tetapi hal yang menyebabkan lain-nya adalah peluru itu terasa sangat menyakitkan karena tingkatan Mana yang Aditya alirkan itu jauh lebih kuat dari sebelum-nya.
"Apakah dia menggunakan Mana tingkatan kedua...!?" Wahyudi melebarkan mata-nya hingga satu peluru dari senapan itu masuk ke dalam lengan kanan-nya, "Uaggghhh...!!!" Untungnya lengan Wahyudi masih bisa menahan peluru itu yang hampir saja menembus dada-nya.
Aditya berhenti menembakkan senapan-nya, semua prajurit Wahyudi terbantai habis oleh diri-nya yang tidak bisa mengontrol emosi amarah-nya ketika dikepung seperti itu... Harga diri-nya terus menurun hingga ia terus melupakan janji-nya. Aditya melepas senapan-nya lalu ia berlutut di depan Wahyudi dengan tatapan kosong.
"Keberuntungan-mu sudah habis..." Wahyudi membidik senapan-nya ke arah kepala Aditya, "Aku akan memberitahu Presiden tentang diri-mu, lawan yang cukup tangguh---"
Wahyudi melebarkan mata-nya ketika melihat sebuah bom asap di sebelah Aditya mulai mengeluarkan banyak sekali asap yang menghalangi dirinya, "Bom asap 'kah!? Uhuk! Uhuk!" Bom asap lain-nya mengeluarkan asap tebal yang mampu menghalangi pemandangan Wahyudi.
"Ck...! Ternyata dia masih memiliki bantuan lain ya...!? Itu artinya kau masih di dekat sini!!!" Seru Wahyudi yang mulai menarik pelatuk senapan-nya yang mampu melepaskan dorongan besar hingga semua asap itu hilang, tetapi ia tidak bisa melihat Aditya di depan-nya karena dia benar-benar sudah melarikan diri bersama seseorang.
"Kau bisa lari, tetapi kau tidak akan bisa bersembunyi. Aku akan melapor ini kepada Presiden dan seluruh orang akan mencoba untuk memburu-mu..."
__ADS_1
"...keparat!!!"