
Setelah bertemu kembali dengan Daisy dan Henzie, Aditya tidak lupa untuk memperkenalkan mereka berdua kepada Wilhelm dan juga Satria. Mereka saling berjabat tangan sehingga dalam waktu beberapa menit saja mereka semua sudah langsung akrab, Satria awalnya tidak menyangka bahwa Aditya yang dulunya membenci orang Belanda sekarang dia malah bersama dua wanita Belanda, mungkin wanita mengubah segalanya.
"Ini pertama kali-nya aku melihat teman yang dekat sekali dengan, Aditya. Apakah kamu benar tentang sahabat sejak jaman dahulu?" Tanya Daisy kepada Satria, "Tentu saja, dulu-nya dia itu sangat tegas dan keras bahkan ia juga mengerikan sejak itu tetapi sekarang... aku bisa melihat beberapa perubahan dari-nya."
"Oi... jangan terlalu banyak membicarakan tentang diri-ku, kau sendiri tidak memiliki perubahan apapun, Satria." Aditya terlihat kesal ketika Satria selalu saja membicarakan diri-nya kepada Henzie dan Daisy, Satria dan Wilhelm terkejut ketika mereka melihat perkembangan sikap Aditya dimana ia menunjukkan sikap malu dan kesal ketika diri-nya dibicarakan di depan kedua gadis itu.
Satria mulai menepuk punggung Wilhelm beberapa kali karena rasa senang yang tidak bisa ia tahan ketika melihat Aditya memiliki dua bini yang berasal dari negara luar, "Henzie dan Daisy ya...? Apakah kalian istri atau pacar, sang Raden tampan dan gagah ini?" Tanya Satria sambil menunjuk Aditya yang sedang melihat sekeliling kota Yogyakarta yang terlihat ramai sekali.
Ketika Satria berbicara seperti itu, wajah Henzie dan Daisy mulai berubah menjadi merah bahkan ekspresi mereka juga terlihat seperti menyembunyikan rasa malu juga canggung, tidak ada satupun kata yang keluar melalui mulut mereka sehingga Satria menahan tawa-nya karena mereka sepertinya sama-sama mencintai Aditya, "Pffftt... Uhugh... ngakak sumpah..." Kata Satria pelan.
"Sudahlah, karena kita sudah mengalami perjalanan yang cukup panjang, mari kita sarapan. Eat Breakfast!" Wilhelm melihat warteg yang berada di seberang jalan, "Bagaimana kalau kita makan disana?" Tanya Wilhelm sambil menunjuk warteg itu, mereka semua mulai setuju lalu mereka pergi menghampiri warteg itu untuk sarapan.
Setelah mereka tiba di warteg tersebut, Satria memesan beberapa makanan karena mereka terserah ingin memakan apapun asalkan sehat dan bergizi untuk tubuh. Aditya terlihat sangat waspada dengan sekitar-nya karena terdapat banyak sekali rakyat Indonesia yang sedang melakukan aktivitas mereka, Henzie mulai menatap Aditya dan bisa membaca pikiran-nya.
"Kau tidak harus bersikap waspada seperti itu, Aditya. Aku bisa mencari orang yang memiliki Mana, jika aku merasakan salah satu-nya maka biarkan aku yang menjaga-mu dari belakang, sekarang kau hanya perlu istirahat sejenak saja. Kau pasti diserang 'kan?" Tanya Henzie.
"Begitulah... selama ini aku mengerti kenapa Wahyudi menyerang-ku dan aku juga mengetahui identitas asli-nya juga kebenaran dibalik topeng yang selalu ia gunakan." Aditya mulai menceritakan identitas Wahyudi secara rinci kepada Henzie sehingga ia sekarang mengerti, Wahyudi benar-benar mengincar rakyat Indonesia yang memiliki kemampuan Mana hebat... itu artinya Aditya bisa saja dipaksa untuk menjadi tentara militer atau dibunuh dengan ditembak secara misterius.
"Tetapi setidaknya kau selamat ya, Aditya, aku juga ikut senang ketika melihat-mu memiliki teman yang lama-mu dan juga teman yang berasal dari Amerika." Henzie tersenyum.
Sarapan yang dipesan oleh Satria lumayan berlebihan karena ia memesan lima [Gudeg], gudeg adalah makanan khas dan yang terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan perlu waktu berjam-jam untuk membuat masakan ini. Warna coklat biasanya dihasilkan oleh daun yang dimasak bersamaan. Gudeg dimakan dengan dan disajikan dengan kuah santan kental, ayam kampung, telur, tempe, tahu, dan sambal goreng .
Terlihat cukup lezat sampai mereka mulai mengambil sendok mereka lalu memakan Gudeg itu, reaksi dari wajah mereka terlihat sama... merasakan kenikmatan dari makanan tersebut, Aditya yang tadi ekspresi-nya terlihat serius langsung berubah menjadi tenang ketika melihat Daisy dan Henzie sedang menikmati rasa dari Gudeg itu.
__ADS_1
"Jadi ini 'kah... yang dimaksud oleh Satria...? Santai sedikit... tenangkan diri..." Ungkap Aditya, ia mulai memakan Gudeg itu sehingga kedua mata-nya terbuka lebar lalu ia mulai memakan-nya sampai habis.
Ketika mereka sudah memakan sarapan mereka, mereka langsung pergi meninggalkan warteg itu, Wilhelm memberitahu Daisy dan Henzie bahwa sekarang semuanya akan pergi untuk berlibur seperti mengunjungi berbagai wisata, Daisy dan Henzie tentu-nya langsung setuju karena ia ingin menjelajahi seluruh wisata yang ada di negara Indonesia.
Wilhelm sengaja menyuruh Satria untuk duduk di depan bersama diri-nya, Satria tidak perlu diberitahu soal itu karena dia sudah merencanakan-nya sejak awal. Wilhelm membuka pintu depan lalu ia duduk di atas kursi-nya dan mulai menyalakan mesin, Satria duduk di sebelah-nya lalu ia menatap kaca spion dimana ia melihat Aditya duduk di tengah sedangkan Daisy di sebelah kanan-nya dan Henzie di sebelah kiri-nya.
"Untungnya kau membeli mobil yang cukup besar ya..." Satria terkekeh, "Mobil ini pantas-nya untuk berlibur dan berkunjung ke berbagai tempat wisata sih." Wilhelm mulai menginjak gas-nya dan perjalanan mereka menuju Keraton Yogyakarta dimulai, entah kenapa rasa canggung muncul untuk Daisy dan Henzie karena mereka duduk terlalu dekat dengan Aditya.
Satria tidak bisa menahan tawa-nya jadi ia terus tertawa ketika melihat ekspresi Aditya yang terlihat biasa saja walaupun dia duduk di sebelah para gadis yang terlihat malu, "Ayolah, jangan tertawa seperti itu, kau terlihat seperti orang yang tidak waras." Kata Wilhelm.
"Hayang seuri, nyaho teu?" Lagi-lagi Satria mulai mengeluarkan bahasa Sunda yang mengartikan [Ingin ketawa, tahu tidak?]. Satria berhenti tertawa lalu ia mengeluarkan bungkus rokok-nya dan mulai merokok, ia tidak lupa untuk menawarkannya kepada Henzie atau Daisy, siapa tahu mereka suka merokok.
"Apakah kalian para wanita ingin merokok?" Tanya Satria.
"Kau ini ***** atau gimana sih? Menawarkan rokok kepada seorang gadis, mana mungkin mereka seperti itu 'kan..." Aditya mulai menatap Satria dengan ekspresi yang terlihat serius, "Ya... siapa tahu mereka ingin mencoba, lagi pula istri-ku suka merokok."
"Ehh...? Istri-mu suka merokok, apakah beliau baik-baik saja?" Tanya Daisy.
"Tenang saja, dia selalu aman kapanpun karena kemampuan Mana-nya yang hebat."
"Jika Satria memiliki istri... apakah kamu sudah mempunyai anak atau semacamnya?" Tanya Daisy.
"Tentu saja, empat... tiga sudah kerja dan satunya lagi masih balita. Mereka juga memiliki kemampuan Mana tersendiri tetapi sayang sekali, ketika aku ingin mengajak mereka... mereka malah menolak-nya." Mereka mulai berbicara di perjalanan menuju Keraton ini agar perjalanan mereka bisa terasa menyenangkan, menghabiskan waktu selama setengah jam lebih untuk tiba di Keraton Yogyakarta karena kemacetan jalan.
__ADS_1
"Kota yang cukup ramai ya..." Kata Aditya.
"Tentu saja, Yogyakarta itu dipenuhi dengan wisata hebat loh." Kata Satria, ia mulai membuang puntung rokok-nya sembarang, untungnya tidak ada yang melihat tetapi tindakan tersebut langsung Aditya tindak dengan mengetuk ujung kepala Satria, "Kau ini ingin maju atau gimana? Selalu saja membuang sampah sembarangan..."
"Ahahaha, maaf-maaf, masih galak seperti biasanya kau ini, Aditya."
Wilhelm mulai mencari tempat parkir, ia menemukan-nya dalam sekejap tetapi seorang pria yang menggunakan kacamata hitam mulai menghampiri mobil tersebut, pria itu langsung mengetuk jendela pintu bagian depan dan Wilhelm mulai membuka-nya lalu menatap pria tersebut, "Ada apa ya, pak?"
"Tujuan kalian datang ke sini untuk apa? Apakah kalian hanya ingin berwisata di Keraton Yogyakarta? Tidak ada tujuan aneh 'kan...?" Ketika pria tersebut berbicara seperti itu, Henzie langsung menarik baju Aditya pelan-pelan untuk memberitahu diri-nya bahwa pria yang sedang berbicara dengan Wilhelm adalah seorang manusia yang memiliki Mana juga.
Aditya mulai menepuk bahu Wilhelm sehingga ia menatap-nya, "Ada apa...?"
"Kami datang hanya untuk berlibur dan berwisata kok, tenang saja... kami tidak akan membuat keributan apapun." Pria itu langsung sontak kaget ketika melihat Aditya, ekspresi-nya yang berubah itu membuat Henzie yakin bahwa pria itu pasti mengenal Aditya atau tidak ia membaca sebuah berita dimana terdapat Aditya disana.
"Kau... ikut dengan-ku sekarang!" Pria itu menunjuk Aditya, "Tidak mungkin, jangan dia saja. Ajak kami juga untuk ikut bersama-mu." Kata Satria karena ia mulai mencurigai pria itu, jika dia mengajak Aditya sendirian maka situasinya akan berbahaya untuk Aditya sendiri.
Pria itu mulai menatap mereka semua lalu menghela nafas-nya panjang, "Sepertinya Sultan tidak akan keberatan untuk bertemu dengan pengguna Mana lain-nya, sebelah sini... biar aku ajak kalian menuju ruang VIP." Kata pria tersebut, Aditya dan Henzie mulai membaca pikiran-nya, mereka tidak membaca sesuatu yang mencurigakan jadi sepertinya mereka aman untuk pergi.
Pria itu mulai mengantar mereka menuju sebuah ruangan yang terlihat sangat mewah sekali, terdapat banyak sekali emas di dalam-nya bahkan Aditya yang berjalan paling debat bisa melihat sebuah tahta dan terdapat seorang pria yang sedang duduk disana sambil menunggu kedatangan Aditya bersama yang lain-nya.
"... ..." Aditya berhenti berjalan lalu ia menyuruh mereka semua untuk berhenti juga, "Tidak apa... majulah beberapa langkah lagi dan berhadapan lah dengan-ku." Pria yang sedang duduk di tahta-nya itu mulai menatap Aditya dengan ekspresi yang terlihat serius.
"Selamat datang di Keraton Yogyakarta,Aditya Loka... perkenalkan nama-ku adalah..."
__ADS_1
"...Sultan Andrian Purwira."