
Pedagang itu mulai menatap tajam Aditya dan Satria yang saat ini sedang mendekati Andrian, tidak salah lagi keempat orang ini adalah seseorang yang sangat dibenci oleh Wahyudi karena fotonya sudah ditandai dengan warna merah bahkan informasi yang terdapat di foto itu juga menjelaskan semua tentang kemampuan dan identitas asli mereka.
"Sangat tidak disangka... saya disini yang menjalani pekerjaan biasa sebagai tukang bakso akan bertemu langsung dengan musuh utama. Apa yang harus aku lakukan, apakah saat ini adalah kesempatan yang pas untuk memasukkan racun ke dalam bakso-bakso ini...?" Ungkap Agus, ia mulai berpikir untuk menyingkirkan keempat orang itu selagi sempat.
Agus mencoba untuk mengingat kembali perkataan Wahyudi, sebenarnya ia sendiri memiliki masalah dengan ingatannya tetapi ia sudah mencatat semua informasi penting yang wajib ia ketahui, diam-diam ia mengeluarkan buku catatan kecil dari dalam laci gerobak itu lalu membukanya.
Agus sekarang mengingat tentang informasi yang Wahyudi bicarakan sejak itu, ia diijinkan untuk melawan Aditya dan yang lainnya jika sudah siap tetapi melawan mereka dengan cara diam-diam itu adalah pilihan yang tepat, ia mungkin harus bisa bersikap seperti pedagang biasa karena Wahyudi juga memperingati sesuatu.
Pengguna Mana terkadang akan berpapasan dengan pengguna Mana lainnya secara tidak langsung, biasanya orang yang memiliki Mana akan dicurigai dan ditakutkan terutama untuk pengguna Mana yang melihat pengguna lainnya, mereka akan waspada dan mencoba untuk mencari tahu identitas aslinya.
Aditya saat ini sudah beberapa kali membaca koran dan mengumpulkan informasi dari berbagai macam warga, ia meminjam mobil Wilhelm untuk mengunjungi setiap tempat yang berada di Yogyakarta untuk menanyakan beberapa korban dan pelaku tentang operasi ini, kebetulan ia juga sudah mengetahui tentang hujan Mana itu.
Uap yang keluar dari panci itu membuat keringat Agus bertambah banyak, ia sepertinya harus mundur karena siang hari ini bukanlah waktu yang tepat untuk dirinya bergerak dan melakukan operasi itu, meracuni mereka juga bukan pilihan yang baik karena warga sekitar akan mengetahuinya.
"Hah... hah... hah... entah kenapa aku merasakan tekanan dan firasat yang aneh ketika mereka berada di dekatku... jangan-jangan ini yang dimaksud oleh Wahyudi...? Pengguna Mana dapat mendeteksi pengguna lainnya melalui firasat dan tekanan yang mereka rasakan." Agus menghapus semua keringat itu lalu ia memasukkan beberapa sayuran ke dalam panci itu.
Andrian melihat Satria dan Aditya yang sudah datang, kebetulan ia tadi baru saja mengunjungi toko untuk membeli minuman dingin, ia memberikan minuman dingin itu kepada mereka karena cuaca hari ini bertambah semakin panas, bukan juni sudah masuk musim panas.
"Cuacanya gila sekali... biasanya di jakarta sore-sore akan hujan besar, Yogyakarta panasnya minta ampun." Kata Satria, ia mulai menatap pedagang itu yang sedang memasukkan beberapa bakso ke dalam panci itu.
"Kita juga harus tetap waspada, teman-teman. Mana yang kita miliki ini, jangan sampai dikeluarkan dengan sia-sia karena pengguna Mana lainnya dapat melihat dan merasakannya, kita hanya perlu menunggu sampai hujan Mana itu mempengaruhi seluruh warga biasa menjadi pengguna Mana." Kata Andrian, mereka setuju dengan perkataannya itu.
Wilhelm mulai tersenyum kecil ketika melihat Aditya yang seperti biasanya melakukan kegiatan sehari-hari yaitu membaca koran, berita, dan informasi yang selalu ia kumpulkan. Mereka sudah tidak bisa lagi menghentikan Aditya karena itu bisa dibilang sebagai pekerjaannya, mencari pelaku dan keberadaan Wahyudi.
"Aditya, kau ini di hari perayaan ini masih saja bekerja... bersantai dikit lah, Relax, dude."
__ADS_1
"Hanya sebentar... kemarin malam terdapat berita yang begitu panas, banyak sekali preman yang mati dengan beberapa anggota tubuh yang menghilang dan lepas tetapi di tempat yang berbeda." Aditya membuka lebar koran kecil itu lalu ia menunjuk sebuah gambar yang menunjukkan gang kosong, terdapat banyak sekali mayat dengan anggota tubuh yang menghilang dan terpisah.
"Melihatnya saja... tidak mungkin orang biasa melakukan hal seperti ini... preman yang sudah terpengaruh saja bisa terbunuh seperti itu, pelakunya pasti seseorang yang menjalankan operasi itu." Kata Andrian.
"Kau benar... sepertinya dia sangat kuat, kemampuan yang dia miliki sampai saat ini aku selalu mempelajarinya, aku ingin bertemu dengan orang ini... mati atau hidup, apapun itu aku ingin berpapasan langsung dengan pengguna Mana satu ini." Aditya kembali membaca koran itu dengan serius.
"Sudahlah, Raden... beristirahat lah dulu untuk hari ini, pengguna Mana akhir-akhir ini sangat cerdik dan licik berkat Mana yang mereka dapatkan, kau harus ingat bahwa Mana dapat meningkatkan kecerdasan dan IQ seseorang dengan mengorbankan sendiri sumber Mana itu..." Satria mulai mengambil beberapa koran dari Aditya lalu membereskannya.
"Kau ada benarnya... aku juga masih tidak mengerti darimana datangnya hujan Mana itu, Mana sebenarnya kesalahan... sumber energi satu ini sungguh menakutkan karena dapat mengubah seseorang bahkan mampu meraih apapun yang pengguna itu inginkan." Aditya baru saja selesai membaca, ia melipat seluruh koran itu menjadi kecil lalu memasukannya ke dalam saku.
"Nah, seperti itu bagus, Aditya. Relax saja dulu, pekerjaanmu juga sekarang bertambah besar bukan? Daisy dan Henzie hamil bahkan nanti kelahiran anakmu juga, kau akan bertambah sibuk."
"Begitulah... semoga saja aku sanggup melakukan semuanya sekaligus." Aditya melihat Agus yang datang membawa empat mangkuk dan botol saus lainnya, ia mulai menempati semua itu di atas meja dan aroma bakso itu mulai membangkitkan nafsu makan mereka semua.
"Wah... Aromanya boleh juga..." Kata Andrian.
"Wah, terlihat menjanjikan nih... bakso seperti ini, ukuran yang begitu besar bahkan aku sampai bisa melihat urat yang menonjol di sekitar bakso itu..." Satria mengambil sendok dan garpunya lalu ia menatap Aditya yang sedang memperhatikan pedagang itu.
"Raden, kenapa melamun begitu, ayo cepat makan, itu makanan kesukaanmu 'kan?"
"Ahh... maaf, aku hanya terkejut saja melihat pedagang seperti dirinya yang begitu kekar, seperti pelatih saja." Aditya mulai mencicipi kuahnya dan itu terasa begitu nikmat bahkan matanya terbuka lebar seketika, ia memasukkan beberapa sambel untuk menambahkan kenikmatan dari makanan tersebut.
Bakso adalah jenis bola daging yang lazim ditemukan pada masakan Indonesia, dalam penyajiannya, bakso umumnya disajikan panas-panas dengan kuah kaldu sapi bening, dicampur mi, bihun, taoge, tahu, terkadang telur, dan ditaburi bawang goreng dan seledri.
Satria merasa tidak sabar ketika melihat jumlah jenis bakso yang berbeda-beda di mangkuknya, Wilhelm dan Andrian terkejut ketika melihat Satria dan Aditya memesan porsi yang begitu banyak.
__ADS_1
"Makan banyak itu boleh saja sih... tapi ini bakso loh, kalian tidak takut berat bedan naik?" Tanya Andrian.
"Sudah terlambat, Satria malah meminta pedagang itu untuk mempersiapkan porsi bakso besar, aku sampai terseret dan terpaksa harus memakan porsi besar ini..." Aditya menghela nafas panjang, Satria hanya bisa tertawa karena ia tahu bahwa Aditya akhir-akhir ini jarang makan jadi ia perlu memakan porsi yang besar agar tubuhnya tetap sehat.
Satria memilih bakso daging, ia memakannya dan rasa yang begitu kaya meledak di dalam mulutnya seolah-olah ia merasakan makanan dari surga, mereka mulai menatap reaksi Satria yang begitu kaget.
"O-Oi... apakah aku sudah mati...? Apakah aku sebenarnya berada di surga...? Bakso daging ini edan pisan... nikmat pisan!" Satria menatap bakso daging yang setengahnya sudah di gigit olehnya.
"Ada apa?" Tanya Aditya.
"Aku tidak pernah merasakan bakso nikmat seperti ini... rasanya seperti semua daging di campur menjadi satu menghasilkan rasa kenikmatan yang meledak di lidahmu itu loh..." Satria menghabiskan semua bakso daging itu lalu ia tersenyum lebar kepada teman-temannya.
"Aku bisa merasakan surga...! Edan pisan...! Kenikmatan yang tidak bisa di sia-siakan ini bakso...! Dagingnya terasa sangat murni, seperti di olah dengan benar...!"
"Bakso daging yang sepertinya sudah ditaburi dengan bumbu yang benar juga, satu bakso daging dicampur dengan kepedasan dari sambal menghasilkan kenikmatan besar yang terasa seperti surga, walaupun pedas... lidahku terus merasakan rasa yang begitu kaya...!"
"Mantap pisan...! Rasanya aku baru saja pertama kali makan sesuatu yang begitu lezat...!" Mendengar perkataan Satria yang begitu berlebihan, mereka semua langsung melahap bakso itu dan tidak merasakan hal yang dirasakan oleh Satria.
"Iya, enak juga, bukan main." Kata Andrian.
"Kau tidak perlu menunjukkan reaksi yang berlebihan seperti itu, Satria... apa kau ini? Bocah...?" Aditya menatap Satria dengan tatapan penasaran, ini pertama kalinya ia melihat Satria yang tergila-gila dengan sebuah makanan dan itu adalah bakso.
"Benar-benar mengharukan... sungguh... ini adalah makanan yang disukai oleh ibu-ibu... jadi ini perasaannya...? Aku tidak tahu kenapa tapi... air mataku mengalir keluar karena merasakan rasa yang begitu nikmat..."
"Aing teu nyangka... hanjakal momoyok ibu-ibu nu beuki bakso... (Aku tidak menyangka, menyesal juga mengejek ibu-ibu yang suka bakso)," Satria mulai menangis sambil memakan bakso daging itu pelan-pelan.
__ADS_1
"Nikmat...!!! Sangat nikmat...!!!"