
Wilhelm dan Satria berhasil keluar dari medan pertempuran itu dengan selamat tetapi Satria dipenuhi dengan luka, Wilhelm mencoba untuk membawa-nya ke dokter tetapi Satria menolak karena luka seperti ini tidak terlalu melukai-nya, "Luka seperti ini sudah terbiasa aku alami... lebih baik kita pulang saja sebelum melihat preman lain atau tentara militer Wahyudi. Masalah kita mulai bercabang sekarang..."
"Aku tidak menyangka akan terjadi seperti ini juga di Indonesia, preman yang memiliki kemampuan Mana berbeda dan kuat sehingga mereka semua menggunakan Mana Battlefield itu dengan cara yang salah. Indonesia sudah mulai menjadi medan pertarungan untuk pengguna Mana sama seperti di luar negara termasuk Amerika yang sudah banyak sekali pertarungan pengguna Mana bahkan terdapat juga permainan-nya." Kata Wilhelm, Satria langsung terkejut ketika mendengar itu.
Satria mulai berpikir bahwa Indonesia semakin maju akan semakin banyak pengguna Mana yang berkeliaran, mungkin saja seseorang yang masih sekolah memiliki-nya, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan nanti, "Perkembangan terkadang cukup menyakitkan jika dilihat dan diingat... aku benar-benar takut generasi baru apa yang akan dihadapi Indonesia..."
"Semoga saja baik... aku harap banyak orang yang dapat menggunakan Mana dengan tujuan yang baik seperti melindungi negara mereka masing-masing, bukan untuk saling membunuh." Kata Wilhelm, Satria mulai merasa sedikit tenang mendengar-nya sehingga ia mulai menyalakan rokok-nya lalu menghisap-nya, "Aku benar-benar harus berbicara dengan Aditya."
"Sepertinya urusan penting ya."
"Begitulah."
Mereka mulai mengalami perjalanan yang sangat aman sampai rumah, saat ini masalah mereka mulai bertambah karena geng yang memiliki kemampuan Mana. Era orde baru ini sudah cukup menyusahkan dan dipenuhi dengan beban bagi seorang rakyat Indonesia yang berasal dari era penjajahan, perubahan yang tidak dapat diprediksi dan juga dilihat begitu saja, semua perubahan itu mau tidak mau harus diterima.
Beberapa menit kemudian, mereka telah tiba di keraton Yogyakarta dan Andrian bisa melihat Satria yang dipenuhi dengan darah dan luka di tubuhnya, beberapa pelayan mencoba untuk membantunya tetapi Satria menolak karena ia tidak ingin merepotkan mereka semua, ia lebih memilih untuk menanggung semua rasa sakit itu sendiri, "Andrian... apakah kau punya perban? Sekali lagi, jangan biarkan mereka merepotkan diri mereka sendiri untuk mengurus-ku."
"Kau sendiri kenapa... kembali dengan luka dan darah itu?" Tanya Andrian sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, "Seperti biasanya... para preman pengguna Mana. Jadi, dimana perban itu?" Tanya Satria dan Andrian mulai menunjukkan jalan-nya sehingga berjalan pergi meninggalkan Andrian.
"Apa yang terjadi...?" Tanya Andrian kepada Wilhelm yang baru saja mengunci mobil-nya, "Langsung ke inti-nya saja, kami diserang oleh para preman yang memiliki pengguna Mana di dalam Mana Battlefield, sepertinya kota Yogyakarta ini dipenuhi dengan geng yang berdarah dingin ya."
Ketika mendengar itu dari Wilhelm, Andrian sudah mengetahuinya karena ia tinggal di Yogyakarta jadi ia sudah tau semua kejahatan yang ada di Yogyakarta, pengguna Mana di Yogyakarta juga bisa disebut banyak dan sebagian dari mereka menggunakan kekuatan mereka hanya untuk menculik, membunuh, dan mendapatkan uang. Geng yang dimaksud oleh Wilhelm ia sudah mengenal-nya sehingga ia langsung berbicara.
"Geng topeng Kelana dan geng topeng Bapang. Kedua geng itu memang sudah bermusuhan sejak Indonesia memasuki era orde baru... Mana muncul di dalam diri manusia setiap hari-nya untuk membantu mereka yang tidak memiliki Mana bisa bertahan hidup, teori yang aku ketahui tentang Mana adalah karena alam di sekitar kita yang kadang melepaskan Mana itu sehingga merasuki beberapa manusia yang tidak memiliki Mana." Kata Andrian, ia mendapatkan teori itu dari beberapa dokter dan profesor yang tinggal di negara lain.
"Teori itu... aku juga pernah mendengar-nya." Wilhelm mengangguk, "Entah apa yang akan terjadi di masa depan nanti, pasti seluruh Manusia sudah memiliki Mana dan sebagian dari mereka akan menggunakan Mana untuk melakukan sesuatu yang baik dan buruk." Andrian berjalan pergi meninggalkan Wilhelm dan ia mulai mengambil barang makanan yang ada di dalam mobil-nya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, pertunjukan tarian itu masih berlangsung dan Satria mulai masuk ke dalam ruangan VIP untuk mengajak Aditya berbicara, "Raden!" Panggil Satria kepada-nya sehingga mereka semua mulai menatap Satria yang dipenuhi dengan perban.
"Satria...? Kenapa kau dipenuhi perban seperti itu?"
"Aku ingin berbicara dengan-mu."
***
Aditya dan Satria berdiri di tengah lapangan sambil melihat matahari yang akan terbenam, Aditya sejak awal menatap-nya dengan ekspresi yang terlihat serius karena ia dipenuhi dengan perban... sesuatu pasti terjadi ketika ia pergi berbelanja bersama Wilhelm. Satria meminum secangkir kopi-nya lalu ia menghembus asap rokok keluar melalui mulutnya, "Kopi dan rokok dinikmati saat melihat matahari terbenam itu cukup nikmat."
"Apa yang kau ingin katakan? Apakah sesuatu yang penting?" Tanya Aditya.
"Jadi begini, Raden... sepertinya aku tidak bisa lagi menjaga rahasia ini sendirian, beritahu aku... apakah kau diberi kesempatan hidup untuk kedua kali-nya oleh seorang wanita yang berambut merah?" Tanya Satria sehingga Aditya terkejut mendengar-nya, tidak mungkin orang lain akan mengetahui rahasia tetapi Satria dapat menebak-nya dengan wajah yang santai seperti itu, "Tidak perlu menjawab-nya, aku sendiri diberi kesempatan kedua juga kok."
"Kita sebenarnya tinggal di dunia asli tetapi dengan keajaiban dan fantasi yang ada di sekeliling kita, contohnya Mana yang kita dapatkan sehingga semua orang memanggil kita sebagai pengguna Mana. Aku mati ketika melawan penjajah dari Jepang sedangkan diri-mu sudah mati terlebih dahulu ketika melawan Belanda 'kan?" Aditya langsung mengangguk ketika mendengar itu dari Satria.
"Walaupun aku diberi kesempatan hidup kedua ini, setidaknya aku masih bisa bersyukur untuk bisa tinggal di tanah air-ku ini, aku juga dapat melindungi-nya dengan semua kekuatan yang aku miliki. Aku senang bahwa teman--- tidak, sahabatku bisa diberi kesempatan hidup yang sama tetapi aku bisa melihat dunia ini... dunia ini akan memiliki sejarah sama yang tidak akan bisa kita ubah dengan mudah."
"Aku tahu itu... makanya aku ingin berbincang dengan diri-mu tentang masa depan... kau sendiri tidak memiliki keturunan ketika Indonesia sudah merdeka, aku kira kau akan menikah dengan Henzie dan Daisy sehingga kau sudah memiliki keturunan seperti-ku. Generasi yang baru itu hebat, Aditya, anak-anakku memiliki beberapa kemampuan Mana yang sangat hebat dibandingkan kita yang sudah tua seharusnya."
"Tujuan hidupku hanyalah bertarung dan memperjuangkan Indonesia... melihat perkembangan apa saja yang akan terjadi dengan tanah air-ku ini, sebagian dari perkataan-mu aku kurang mengerti tetapi generasi yang kau maksud itu, aku yakin di masa depan nanti... aku berharap Indonesia bisa maju dengan beberapa pemuda pengguna Mana yang ingin melindungi tanah air ini." Aditya tersenyum tipis, Satria mulai menepuk punggung-nya dengan sangat keras ketika melihatnya tersenyum seperti itu.
"Aku tidak pernah melihat senyuman itu sebelum-nya, kau memang sudah berubah... setidaknya kau menunjukkan emosi-mu sedikit demi sedikit."
"Tidak juga, aku masih Raden Aditya Loka yang kau kenal itu, Satria. Mulai dari sekarang kau juga harus bisa membuat bung yang sedang berada di atas sana bangga dengan melindungi tanah air ini."
__ADS_1
"Sayang sekali, Aditya... luka-luka ini aku dapatkan ketika bertarung melawan bangsa-ku sendiri yaitu Indonesia, era orde baru ini saja sudah semakin buruk walaupun kita memiliki operasi Petrus tetapi karena Mana. Preman yang memiliki Mana dapat melakukan apapun yang mereka inginkan sehingga tadi aku bersama Wilhelm masuk ke dalam medan perang yang diciptakan oleh Mana!" Ketika mendengar itu, Aditya langsung terkejut. Ia mengepalkan kedua tinju-nya.
"Jadi inikah? Perjuangan yang beliau maksud? Melawan bangsa kita sendiri?"
"Begitulah... kita sudah tidak bisa lagi diam dan menyadarkan mereka karena pikiran mereka sudah terpengaruh dengan kekuatan dan uang. Uang semakin maju akan mengubah segala-nya, Raden! Kau harus bisa menjalani hukum dengan benar, siapa yang harus kau masukan penjara dan siapa yang seharusnya kau lakukan hukum mati itu?!" Awalnya Satria ingin membicarakan tentang preman dan juga perubahan mengerikan yang akan terjadi di masa depan, ia mencoba untuk menyadarkan Aditya agar ia bisa mengerti.
Pikiran dan perasaan-nya terus bertentangan dan Satria membantu agar ia bisa membawa-nya menuju jalan yang seimbang... gunakan-lah hukum dengan benar, "Walaupun kita melawan bangsa kita sendiri, kita seharusnya memberi hukuman mati untuk mereka yang sudah mengorbankan banyak nyawa, Raden!"
"Kau tidak perlu memberitahu-ku tentang itu, Satria. Aku sedang mencoba untuk bisa mengerti hukum, sekarang... berhentilah berbicara tentang omong kosong dan langsung saja ke inti-nya, siapa yang menyerang-mu?" Tanya Aditya.
"Masalah kita mulai bercabang sekarang, preman dan tentara militer Wahyudi... kita sudah tidak bisa lagi mempercayai siapapun asalkan kau memiliki kemampuan Mana untuk membaca kebohongan atau membaca pikiran, kota Yogyakarta ini dipenuhi dengan geng yang memakai topeng, topeng itu untuk menyembunyikan jati mereka sendiri." Satria menghisap rokok-nya sampai habis.
"Geng...?"
"Ya... geng yang memakai topeng Kelana, mereka sudah memberontak dan membunuh banyak sekali nyawa di kota Yogyakarta ini. Dengan menggunakan Mana Battlefield, mereka dapat membunuh pengguna Mana pemula yang tidak mengerti apapun." Aditya menundukkan kepala-nya, masalahnya mulai bercabang dan sepertinya Wahyudi seharusnya mengincar mereka, "Tidak ada pilihan lain bukan...? Ini adalah perkembangan, perkembangan yang akan kita hadapi."
"Ujian..." Satria mulai menatap Aditya lalu ia bisa melihat jati diri-nya yang sebenarnya ketika melawan para penjajah, setidaknya ia dapat membuat Aditya yakin. Ia harus bisa menjalani hukum dengan sendiri tetapi hukum yang harus ia jalani adalah hukum yang adil, "Jika kau sudah mengerti maka bagus, mulai dari sekarang mari kita bertambah kuat, Raden."
"Ya, kita juga harus bisa bertahan hidup untuk melihat perkembangan apa yang akan dialami Indonesia di tahun selanjutnya dan seterusnya." Aditya melihat matahari yang ia lihat mulai terbenam, Satria mengangguk lalu meninju pelan lengan Aditya seperti biasanya, "Kebiasaan-mu masih tetap sama sepertinya."
"Tidak apa... mau ngudud?" Tanya Satria.
"Beri aku satu batang."
***
__ADS_1
Hai~ Author disini mau promosi novel seseorang loh~ Nama-nya [Power of Garuda]. Bisa dicek di Mangatoon ya~ Ceritanya menceritakan tentang seorang manusia yang berasal dari negara Indonesia dan latar cerita-nya juga bahkan di Indonesia sendiri~ Apa yang kalian tunggu? Jangan lupa cek ya~