
Yuhendra menatap sendu map yang ia pegang, tatapannya terus melihat pada isi dari map tersebut yang tertuju pada nilai nominal di sana. Air matanya nyaris keluar ketika harga yang harus ia bayar untuk nominal tersebut adalah anaknya tersayang, ini sama saja menjual anaknya kepada pria di hadapannya itu yang masih setia diam menunggu jawaban darinya.
Suara ketukan jari terdengar dari pegangan sofa yang di duduki pria berjas hitam rapi itu. Tatapan elangnya masih setia menatap lurus dengan tajamnya kepada pria berumur di hadapannya itu.
"Saya tidak memiliki banyak waktu hanya untuk menunggu keputusan anda tuan Yuhendra Alterio !!"
Pria di hadapannya lantas mengangkat wajah ketika anak muda di depannya ini memanggil namanya beserta marga lengkapnya itu. Ia menutup map tersebut dan menaruhnya di meja yang ada di sana membuat sosok pria muda di depan Yuhendra hanya mengangkat sebelah alisnya saja.
"Bagaimana mungkin harga untuk penanaman saham anda adalah putri saya? itu sama saja saya menjualnya!"
Pria di depan Yuhendra hanya menyatukan kedua tangannya sambil memiringkan kepalanya ke kiri seolah itu bukanlah masalah bagi dirinya.
"Saya tidak mencantumkan hal itu di surat perjanjian tersebut tuan Yuhendra. Saya sudah mencantumkan sesuai aturannya di map tersebut, saya hanya memberikan tawaran tambahan kepada anda yang nantinya juga akan membangun simbiosis mutualisme antara perusahaan kita berdua."
"Apa tujuan anda sebenarnya tuan Alvendra !"
Alvendra Alvarez, pria itu semakin menajamkan tatapannya terhadap pertanyaan lancang pria berumur di depannya.
"Tujuan? apakah anda pikir saya mengincar putri anda sedari lama?"
Yuhendra semakin memiringkan kepalanya tidak paham dengan ucapan Alvendra.
"Sebenarnya daripada saya mengajukan kontrak kepada anda lebih baik saya langsung meminang putri anda untuk menyelamatkan saya dari urusan kakek saya yang menyuruh saya untuk segera menikah."
Yuhendra sedikit terkejut mendengar penjelasan tersebut, dengan secepatnya ia merubah ekspresinya dan menatap curiga kepada pria dihadapannya ini. Karena baginya Alvendra itu adalah pria yang berbahaya, ia tidak bisa diprediksi untuk itulah mengapa ia harus selalu waspada terhadap nya.
"Mengapa harus putri saya? bukankah banyak wanita yang menyukai anda tuan Alvendra !!"
"Saya juga harus menyeleksi wanita tersebut sebelum saya memperkenalkan nya pada kakek saya tuan Yuhendra. Dan di kota ini nama andalah yang paling dihormati setelah keluarga Elvero bukan?"
Yuhendra menatap lantai, pikirannya begitu kalut sekarang dengan penawaran yang diajukan oleh alvendra. Ia masih bimbang, haruskah ia mengorbankan putrinya untuk menikahi alvendra yang hanya dijadikan alat alvendra untuk menyelamatkan dirinya dari keluarganya? apakah harga diri keluarga nya begitu rendah di mata alvendra sampai anaknya harus dijadikan penyelamat baginya yang bisa saja dibuang kapan saja sewaktu dia bosan?
"Anda memiliki dua putri tuan Yuhendra mengorbankan salah satunya tidak akan membuat kiamat terjadi."
"Apakah....apakah anda baru saja mengatakan jika putri saya adalah sebuah tameng bagi anda tuan Alvendra?"
"Memang seperti itulah tawaran saya bukan? kapan lagi anda akan memiliki menantu seseorang dari Alvarez?"
"Jika anda berpikiran demikian maka saya menolak bantuan anda tuan Alvarez. Saya rela menjadi miskin daripada harus melihat putri saya yang bisa saja anda buang setelah masalah anda usai dengan kematian kakek anda."
Alvendra terdiam, ini kali pertama kalinya ada seseorang yang cukup berani menggali lubang kematian dengan meragukan keluarga alvarez.
"Ha..hahahahaha...hahahahaha"
__ADS_1
Ruangan tadi seketika terpenuhi gelak tawa Alvendra yang membuat Yuhendra semakin dilanda kebingungan kala melihatnya.
"Ini kali pertama saya mendengar seseorang begitu berani kepada saya, jadi anda memikirkan hal tadi? tapi apakah saya sebajingan itu untuk merusak nama baik keluarga saya?"
Benar juga, Yuhendra lupa jika keluarga alvarez adalah keluarga terpandang di kota ini. Ia juga berpikir dengan yakin jika tak mungkin dia membuat masalah yang dapat merusak citra nama baik keluarganya yang sudah tersohor itu selama lebih dari empat generasi tersebut.
"Jadi anda menerimanya?"
Yuhendra mendongak menatap wajah alvendra
yang datar tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
Malam tiba, Yuhendra datang dengan mengendurkan setelan dasinya yang terasa mencekik lehernya. Sesampainya di dalam rumah ia melewati makan malam membuat Camilla istrinya dan kedua putrinya menatap khawatir kepada sang kepala rumah tangga tersebut.
"Ma, sepertinya ada masalah besar yang menimpa papa." ucap rayya anak tertua Yuhendra.
"Kalian makan saja mama mau nemuin papa dulu ya !!" tersenyum kemudian segera beranjak dari meja makan.
Kini di dapur hanya tinggal rayya dan reisya yang diam membatu, mereka sangat tawu apa yang menimpa keluarganya itu untuk itulah mengapa raut kebahagiaan yang biasanya mengisi meja makan di sana hilang seketika.
"Apakah papa akan baik-baik saja?" tanya reisya kepada sang kakak.
Rayya tersenyum, "Semua akan baik-baik saja rei, kau hanya perlu fokus pada pendidikan jenjang SMA mu yang tinggal satu tahun lagi."
Benar, reisya masihlah kelas 3 SMA yang baru menginjak usia 17 tahun bulan lalu dan di saat usianya menginjak usia tersebut seketika kemalangan seakan datang menghantam keluarganya silih berganti dimulai dengan kematian kakeknya kemudian neneknya hingga puncaknya adalah kabar kebangkrutan perusahaan ayahnya. Sementara rayya saudarinya adalah seorang mahasiswi semester akhir yang juga akan segera lulus bulan depan.
Kembali kepada acara makan malam keluarga itu, di dalam ruang kerja Yuhendra. Camilla datang ke sana hanya untuk melihat keadaan sang suami, di sana Yuhendra duduk sambil menyangga kepalanya. Dilihatnya tubuh sang suami bergetar membuat Camilla melangkah mendekati sang suami dan memeluknya.
"Sayang ada apa? kau menangis !!"
__ADS_1
"Hiks...hiks..." isak Yuhendra
"Sayang katakan sesuatu ada apa? apakah permintaan mu untuk meminta bantuan Alvarez gagal?"
Yuhendra terdiam, ia mengangkat kepalanya hingga bersitatap dengan sang istri.
"Tidak Camilla, aku tidak gagal sebagai seorang pengusaha."
Camilla mengernyit bingung dengan ucapan sang suami yang menurutnya terasa begitu aneh.
"Kenapa? ada apa? tidakkah kau mau membagi duka mu pada ku?" menyentuh pipi sang suami.
Yuhendra kembali memegang tangan Camilla yang berada di pipinya, "Apakah kau akan membenci tindakan ku sebagai seorang ayah Camilla?"
Seketika Camilla yang merasakan aura berbeda dari ucapan suami pun ikut merasakan suatu perasaan yang tidak meng enakkan muncul. Sebuah ucapan Yuhendra membuat degup jantung Camilla ikut berpacu, namun sebisa mungkin ia akan mencoba untuk tegar dan mengerti akan keputusan yang akan di ucapkan oleh sang suami kepadanya.
"Tidak akan aku berjanji sayang !!"
Yuhendra memejamkan matanya hingga liquide bening terakhir turun, ia melepas tangan Camilla yang berada di pipinya dan menggenggamnya erat.
"Putri kita rayya akan segera menikah dengan Alvendra alvarez. Dia akan menjadi menantu dari keluarga alvarez, pernikahan nya sudah di tetapkan oleh Vendra dan besok malam dia akan datang untuk bertamu kemari ."
Seketika waktu berjalan begitu lambat bagi Camilla, ia menatap suaminya dalam. Ucapannya tadi bagaikan sebuah melodi kematian bagi keluarganya. Dan tak dirasa air mata seketika turun tanpa permisi dari salah satu pipi Camilla yang masih tetap diam membisu di tempat tak bergerak sama sekali.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
...Bonjour reader's everyone, bagaimana nih cerita saya? maaf ya kalau awalannya terkesan agak gimana hehe soalnya rada bingung mau buat awalan kaya gimana. Untuk chapter selanjutnya bakalan di bikin lebih menantang hehe, untuk itu butuh dukungan dari kalian ya happy reading....