PRISON

PRISON
0:16 emosional


__ADS_3

Alvendra dibuat bingung dengan keadaannya saat ini, tubuhnya memanas aroma malam itu kembali memenuhi indera penciumannya. Dan yang membuat alvendra kebingungan adalah aroma itu tercium dari tubuh reisya selama ini. Alvendra berjalan mundur selangkah kemudian segera meneliti seluruh isi kamar milik sang adik iparnya, dengan langkah lebar ia berjalan menuju ke meja rias yang menjadi pusat perhatian nya. Disana dilihatnya dengan seksama barang-barang yang tertata rapi namun ia tak menemukan kejanggalan apapun hingga ekor matanya menangkap sesuatu di salah satu botol yang berada di pojok meja itu. Dibukanya penutup itu dan kemudian diciumnya aroma tersebut yang membuatnya semakin dirundung kebingungan. Setelahnya ia berjalan menuju ke arah almari dan membukanya dengan kesetanan, namun tak ada hal yang mencurigakan sama sekali hingga ia menghembuskan nafasnya lelah.


Kepalanya menoleh menatap kembali reisya yang tertidur pulas hingga sebuah pintu putih di ujung sana menyita perhatian alvendra, tertarik dengan pintu itu dengan langkah pelan namun pasti ia mendekati pintu tersebut untuk mengeceknya. Sekilas tidak ada yang aneh dengan ruang kamar mandi tersebut, katakanlah alvendra mesum namun rasa penasaran telah menggerogoti dirinya hingga ia nekat untuk menginspeksi kamar mandi milik adik iparnya itu. Matanya menatap kepada bilik mandi yang ada di sana, dengan langkah pasti ia mendekat. Tangannya terulur untuk membuka pintu yang ada di sana dan seketika itu ia berjalan dengan tergesa keluar dari sana, dari depan pintu kamar mandi ia menatap datar dan dingin kepada reisya yang masih tertidur lelap dan setelah nya ia pergi dari sana.


.


.


.


.


.


.


Keesokannya reisya terbangun dari tidurnya, ia duduk mengumpulkan nyawanya. Sekilas ia diam sebelum dirinya dibingungkan dengan keberadaan nya yang sudah berada di dalam kamarnya sendiri.


"Bukannya semalam aku tidur di sofa?" Ucapnya dikala dia ingat, langsung saja ia turun dari ranjangnya dan keluar dari sana untuk mengecek sesuatu.


Setibanya di meja ruang tamu ia menatap keberadaan earphone miliknya yang tertinggal di atas meja, itu menandakan jika semalam ada yang memindahkan dirinya. Larut dalam pikirannya reisya langsung disuguhkan pendengaran dari arah dapur, ia menoleh kemudian berjalan perlahan menuju kesana. Sesampainya ia melihat alvendra yang tengah memasak? ya reisya terkejut ketika melihat alvendra yang mengenakan celemek memasak dan tengah menggoreng sesuatu entah apa itu ia tidak tahu. Merasa jika ada orang lain di ruangan dapur tersebut alvendra langsung menatap keberadaan reisya yang berdiri mematung disana tengah menatapnya.


"Sarapannya belum siap lebih baik kau mandi saja terlebih dahulu !" Suruhnya tanpa memandang reisya membuat sang empu yang tadi hanyut dalam imajinasinya kini kembali tersadar.


"Ap, apakah kau yang semalam memindahkan ku?" Tanya reisya tiba-tiba.


"Hm" Balasnya yang masih sibuk dengan kegiatan memasaknya.


"Kenapa kau tak membangunkan ku saja?" Tanyanya lagi yang membuat alvendra menatap reisya.


"Bukankah seharusnya kau berterima kasih padaku?"


"Aku tidak memintanya"


"Lantas kubiarkan kau yang merengek kedinginan di sana?" Sarkas alvendra yang membuat reisya langsung terdiam.


"Pergilah bersiap sebentar lagi kita akan berangkat !"


"Kita?"


"Kau tanggung jawab ku mulai sekarang itu atas dasar permintaan kakakmu !" Tegas alvendra kembali sebelum reisya protes.

__ADS_1


Dengan kesal reisya pun berbalik hendak mandi menuju kedalam kamarnya, berbarengan dengan hal tersebut alvendra teringat akan sesuatu. Ia menatap reisya yang belum jauh dan kembali memanggil nya membuat reisya berhenti di tempat dan berbalik ketika suara alvendra menginterupsi dirinya.


"Tunggu !"


"Ada apa?"


"Apakah sabun mandi dan parfummu habis?" Tanyanya yang membuat dahi reisya berkerut.


"Ya tinggal sedikit" Jawabannya karena ingat.


"Apa varian yang kau inginkan biar dibelikan oleh sean!"


"Citrus !!" Jawabnya.


"Hm"


Setelah gumaman itu alvendra melanjutkan aktivitas nya dan reisya pun sama. Setelah bersiap reisya pun juga turun untuk sarapan, disana juga sudah ada alvendra yang menunggu dirinya untuk melakukan sarapan makan bersama tersebut. Dengan ragu reisya berjalan mendekat untuk duduk dan sarapan bersama, sementara itu alvendra yang sudah melihat kedatangan reisya pun segera melahap makanan yang telah ia buat. Reisya dengan ragu pun juga ikut untuk memakan makanan itu hingga acara sarapan bersama itu pun selesai, alvendra berdiri mengambil semua sisa piring kotor tersebut untuk ia cuci sementara reisya hanya diam membatu menatap bagaimana alvendra mencuci piring tersebut dengan gampang meski ia sudah berpakaian formal.


Alvendra berbalik dan berjalan mendahului reisya membuat reisya mendengus malas yang kemudian juga ikut berdiri untuk menyusul sang kakak iparnya tersebut. Di luar Sean sudah tiba, ia juga sudah membukakan pintu untuk si tuan muda. Reisya yang melihatnya hanya memutar bola mata malas, ia berjalan berputar untuk naik di bagian seberangnya. Di dalam mobil mereka berdua duduk dengan jarak yang terbilang jauh, katakan saja jika reisya masih trauma dengan alvendra. Mobil mereka berjalan meninggalkan apartemen mewah milik alvendra untuk menuju ke SMA Bhakti tempat reisya belajar untuk menimba ilmunya. Di tengah-tengah perjalanan itu tak ada satupun yang berucap hanya ada keheningan saja, alvendra melirik sekilas kearah reisya yang nampak menjauh dengan perlahan dari dirinya membuat alvendra mengerutkan dahinya heran.


Sesampainya di SMA Bhakti reisya hendak turun dari dalam mobil yang menurutnya sungguh menyesakkan itu, namun saat hendak membuka mobilnya ia dikagetkan dengan salah satu motor yang hampir saja menabrak pintu mobil yang hendak reisya buka sebelum suara sean memperingatkan nya. Alvendra dengan gesit langsung menarik tubuh reisya dan segera menutup pintunya hingga kecelakaan itu tidak terjadi.


"Apakah kau tidak menggunakan matamu untuk melihat sebelum kau membuka pintu !" Bentak alvendra yang membuat reisya kaget.


"Apa yang kau takutkan dariku hingga kau seperti ingin lari hah !!" Sentaknya yang membuat tubuh reisya langsung membeku seketika.


"Huft!! dasar keras kepala" Gumamnya yang kemudian melepas pelukannya, namun dikejutkan dengan sesuatu yang lain dari reisya.


Dengan perasaan campur aduk reisya segera turun dari sana dan berjalan menjauh dari mobil alvendra. Sementara itu di dalam alvendra membenahi dasinya yang terasa sesak tiba-tiba.


"Sean aku ingin kau mencari tahu apa aroma favorit rayya dan reisya!!" Titahnya yang membuat sean kebingungan dengan permintaan tuannya yang terasa aneh.


"Baik tuan !!" Dan setelah itu mobil alvendra pun pergi dari halaman sekolah tersebut.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Di perjalanan menuju kedalam kelasnya reisya mengelus kedua lengannya, ia masih ingat dengan bentakan alvendra yang terakhir kali dia ucapkan. Apakah selama ini alvendra curiga dengan sikapnya yang begitu menjaga jarak dengannya? tentu saja bukan karena ia melakukan itu secara tidak sadar agar alvendra tak curiga. Namun mengapa tadi ia tiba-tiba membentak nya apakah ada gelagat darinya yang salah?


"Asih dasar reisya bodoh !! Untuk apa juga kau ingin keluar buru-buru !!" Rutuknya pada dirinya sendiri.


Sesampainya di dalam kelas ia langsung menidurkan kepalanya diatas meja yang mana membuat ailin sahabatnya menatapnya dengan heran.


"Lo kenapa?" Tanyanya pada reisya yang menatap sahabatnya.


"Gue juga nggak tahu, kadang gue seneng, kadang biasa, kadang ketakutan tapi kadang gue sedih !!"


"Hah?!!"


"Coba kasih tau gue, lo kan bijak gejala kaya gitu gue lagi kenapa sih?"


"Hmm kalau lo kadang seneng tapi juga sedih lalu perasaan lo campur aduk sih lo lagi emosional."


"Emosional?"


"Yoi, biasanya itu kepicu karena sesuatu yang hampir nyangkut masalah yang coba lo sembunyiin !!" Jelas ailin yang mana langsung membuat reisya diam membeku seketika.


.


.


.


.


.


.


"Kau yakin Sean?" Tanya alvendra kepada sang sekertaris yang mengangguk pasti terhadap apa yang baru saja ia katakan.


Alvendra menyenderkan punggungnya, jemarinya bermain di mejanya sesekali mengetuknya secara seirama. Alvendra menggerakkan giginya hingga urat diwajahnya terlihat, hingga ia menyentuh pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri karena isi pikirannya yang sudah terlalu banyak yang membuatnya hampir pecah.


"Anda tidak apa-apa tuan?" Tanyanya karena khawatir melihat alvendra yang sepertinya frustasi akan sesuatu.

__ADS_1


"Panggilkan ****** kemari sean dan pastikan mereka menutup tubuhnya saat datang ke dalam kantor !!" Perintahnya yang masih memijit pelipisnya yang pusing seperti rasa itu tak ingin pergi dari sana.


Terkejut akan permintaan tuannya sean hanya mengangguk patuh kemudian membungkuk hormat sebelum ia pergi dari dalam sana meninggalkan alvendra sendiri didalam ruangan pribadinya.


__ADS_2