PRISON

PRISON
0:03 bertemu


__ADS_3

Malam tiba, tepat pukul 7 itu keluarga alterio langsung menyiapkan makan malam yang cukup mewah untuk menyambut kedatangan seorang alvarez sebentar lagi. Camilla sibuk menyiapkan semua persiapan tersebut dengan para pelayan sementara Yuhendra menyiapkan diri untuk bertemu untuk memberitahunya bahwa ia bersedia untuk menyerahkan putrinya kepada dirinya. Sementara di dalam kamar bercatkan hijau itu reisya membantu sang kakak bersiap dengan meriasnya secara natural dan membantunya memakai gaun yang indah untuk malam ini.


Tangannya gemetar ketika memoleskan make up di wajah rayya, karena ia tidak tega melihat kakaknya yang sedari tadi hanya diam saja tak mengeluh sedikitpun ketika reisya membantunya bersiap.


"Kenapa kakak setujui permintaan pria alvarez itu? apakah kakak ingin meninggalkan aku sendirian di sini?"


Rayya tersadar dari lamunannya ketika sang adik berujar demikian, ditatapnya reisya dari pantulan cermin yang masih sibuk menata rambutnya.


"Hei...kakak sudah mencapai usia matang rei jadi wajar jika kakak menikah di usia sekarang."


"Jangan bohong padaku kak, aku bisa melihat semuanya !! kakak bisa saja menolak permintaan tersebut bukan?"


"Lantas apakah kakak sanggup melihat ayahmu tertekan seperti itu Rei?" Penjelasan itu membuat reisya terdiam, ia menunduk sedih dan tak lama air mata keluar.


"Maafkan aku kak!!" Jawab reiya sambil menangis.


"Aku rasa ucapan nenek di taman tempo hari adalah kenyataan!!" Tambahnya lagi.


Melihat adiknya menangis membuat rayya tertohok, ia berdiri dan berbalik untuk memeluk saudari kesayangannya.


"Sssh tenang Rei, kakak tidak apa-apa. Ini juga merupakan tanggung jawab kakak sebagai seorang anak yang berbakti pada keluarga dan juga ucapan nenek waktu itu janganlah kau ambil hati, dia cuman seorang tunawisma hm?"


"Tapi tanggung jawab seperti apa yang membuat kakak harus tersiksa dan juga terpaksa menikahi orang yang bukan kakak suka?"


"Perjodohan adalah hal yang biasa rei, bahkan di agama sudah ada. Kau jangan khawatir kakak akan baik-baik saja selama rei selalu ada untuk kakak!!. Jangan sedih lagi rei sebentar lagi akan ada tamu yang datang, apakah kamu mau berwajah menyeramkan seperti itu?"


Reisya diam, ia tersenyum dan segera mengusap air mata diwajahnya. Ia langsung menghambur di pelukan rayya, di saat seperti ini pun kakaknya masih sempat untuk menggoda dirinya, bukankah hal itu malah membuat batin reisya semakin tertekan lagi dan merasa amat bersalah?


Selang beberapa waktu kemudian sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki pekarangan kediaman Alterio, di sana seorang penjaga tergopoh-gopoh berlari untuk membukakan pintu mobil tersebut. Sejenak tak ada tanda-tanda seseorang akan turun, hingga membuat penjaga tadi sedikit heran namun saat hendak mengintip sepasang sepatu fantofel pria mengkilap keluar dari sana di ikuti dengan silhuet pria berbadan tegap dan rapi keluar dari dalam sana.


Penjaga tadi menunduk dalam ketika merasakan aura intimidasi yang menguar dari pria tersebut, mata pria itu menatap tajam setiap jengkal rumah besar di hadapannya sebelum dirinya berjalan dengan agung untuk memasuki kediaman Alterio tersebut. Di depan pintu sana terlihat Yuhendra dan Camilla sudah datang menyambut kedatangan seorang alvendra yang malam ini terlihat begitu rapi dengan setelan jasnya.


"Selamat datang tuan alvarez!!" sapa Camilla seramah mungkin meski itu dengan keterpaksaan.


Pria itu hanya mengangguk kemudian berjalan memasuki meja makan yang sudah tersaji banyak makanan mewah di sana. Ia duduk dengan agung tanpa menghilangkan kharisma nya sama sekali, dan menatap kepada Yuhendra yang duduk di sebrang nya.

__ADS_1


"Jadi dimana putri anda tuan Yuhendra?" tanya alvendra to the point karena ia tak suka membuang waktunya.


Yuhendra mengangkat kepalanya menatap alvendra yang juga menatap padanya.


"Dia sedang bersiap mohon tunggulah sebentar lagi sambil menikmati hidangan pembuka kami !!" Tawar nya yang mana mendapatkan decikan dari alvendra.


Mau tidak mau alvendra terpaksa mengambil gelas berisi wine asli Perancis yang mahal harganya itu dan menikmatinya sedikit demi sedikit. Suasana di meja makan begitu hening tak ada yang membuka suara sama sekali baik itu alvendra, Camilla ataupun Yuhendra mereka sibuk dengan perasaan masing-masing.


Setelah beberapa menit menunggu, sepasang suara sepatu yang menggema itu membuyarkan keheningan mereka di meja makan. Yuhendra, Camilla dan alvendra sama-sama mengangkat kepala ketika melihat kedatangan rayya. Alvendra tersentak beberapa detik sebelum ia kembali menormalkan raut wajahnya, ia sedikit tertarik akan seseorang yang pasti bukan rayya. Melainkan gadis di belakang rayya yang menatap dirinya tajam, setajam bilah pisau yang siap menusuk siapapun. Rayya dan reisya duduk bersampingan ikut bergabung dalam acara makan malam tersebut.


Di sisi lain reisya menatap pria di depannya, pria itu begitu tampan. Pria dengan blasteran spanyol itu terlihat begitu gagah dan seksi dengan rahang tegas dan hidung mancung serta mata tajamnya, namun aura yang berada di sekitar pria itu membuat reisya ketakutan sungguh. Ada sesuatu yang tiba-tiba saja membuatnya merasa amat ketakutan terhadap pria dihadapannya ini. Pria itu Alvendra alvarez, berusia 25 tahun investor terkenal dan pebisnis handal memiliki wajah tampan dan otak cerdas namun kesempurnaan miliknya yang diminati para wanita di luar sana justru ditakuti oleh reisya seorang.


"Jadi tuan Yuhendra apakah anda sudah memberitahukan mengenai permintaan saya itu terhadap Putri anda?" tanya Alvendra sambil memotong steik di piringnya.


"Itu...."


"Apa alasan sebenarnya anda ingin menikahi saya tuan alvendra?" itu adalah suara rayya yang langsung saja memotong ucapan sang ayahanda.


Mendengar pertanyaan sang calon istri alvendra terdiam sejenak mengunyah steik yang berada di dalam mulutnya sebelum ia menelan nya secara habis. Ia mendongak menatap rayya yang juga menatapnya dengan air mata yang akan tumpah sebentar lagi.


"Bukankah ayahmu sudah memberitahukan nya padamu nona rayya?" tanya balik alvendra.


Alvendra mengambil serbat yang berada di pahanya dan mengelap kedua tangannya, dengan santai ia mengambil gelas berisi wine di sebelahnya. Menggoyangkan sebentar isi wine di dalam gelas tersebut dan tertawa kecil yang mana membuat reisya menatap pria itu heran seolah bertanya dimana hal lucu dari pertanyaan sang kakak itu.


"Permisi tuan dari mana hal lucu yang saudari saya katakan?" kini giliran reisya yang berucap dengan nada sedikit tajam kepada alvendra yang mana membuat pria itu menatapnya lekat.


Sementara itu alvendra langsung berdalih menatap wajah Yuhendra merasa jika itu adalah sebuah kelancangan.


"Kupikir anda sudah memberitahukan nya tuan Yuhendra?. Baiklah karena calon istriku..(menatap rayya) dan adik iparku (menatap reisya) sangat ingin tahu kebenarannya secara langsung dariku maka akan kuberi tahu."


Baik Yuhendra, Camilla, rayya dan reisya serempak mengangkat wajah menunggu alvendra berkata.


"Aku benar-benar ingin meminang mu nona rayya dan memberikan anda gelar menantu seorang alvarez karena saya juga dipaksa untuk menikah oleh kakek saya. Dan saat bertemu dengan ayah anda saya mendapatkan kesempatan secara langsung daripada saya harus mencari wanita lain, dan terlepas dari itu keluarga anda adalah kandidat terbaik yang dikenal oleh keluarga saya. Jadi daripada hanya hubungan kontrak kerja biasa antara perusahaan akan lebih menguntungkan jika kedua keluarga bisa bersatu bukan?"


Semua terdiam, benar-benar terdiam hanya reisya saja yang menatap khawatir kepada sang kakak yang menangis dalam diam. Di lihatnya rayya yang memejamkan matanya erat, kemudian kembali terbuka dengan nafas panjang rayya mengambil berusaha untuk menormalkan dirinya kembali dan menatap kepada alvendra.

__ADS_1


"Baik saya terima hal itu, lantas kapan pernikahan nya dimulai?" Ucapan sepihak itu membuat reisya memejamkan matanya dalam ia ingin menangis dengan sekencangnya.


Brak...suara kursi terdorong membuat atensi yang ada di meja makan menoleh kepada reisya.


"Aku...ingin ke toilet sebentar" Katanya yang mana langsung berlari dari sana dengan derai air matanya yang sudah turun.


Di belakang rumah lebih tepatnya di tepi kolam, reisya menangis menatap pantulan dirinya dari dalam air. Ia merasa bersalah kepada keluarganya, ya sangat merasa bersalah kepada mereka semua. Setelah beberapa menit lamanya menangis, reisya langsung menurunkan kakinya di dalam air kolam renang yang dingin itu. Seketika dirinya langsung tenang walau sementara saja, tanpa di sadari oleh reisya ada seseorang yang berjalan menuju ke arahnya dan berhenti tepat di belakangnya.


"Aku akan segera kembali kak, tidak perlu khawatir. Tanggal pernikahan nya sudah di tentukan bukan? selamat, sekarang Kaka bisa kembali aku ingin di sini terlebih dahulu" Ucapnya, rupanya reisya sadar jika ada orang lain selain dirinya di sana.


Hening tidak ada jawaban yang menyahut dari belakang nya membuat reisya bingung dan segera menolehkan kepalanya. Seketika rasa panik menyergapnya membuatnya langsung berdiri dari tepian kolam.


"Tuan alvendra !!" Paniknya namun albert hanya mengangkat sebelah alisnya.


"Apa yang anda lakukan disini? ini jauh dari meja makan malam untuk anda !!"


Alvendra hanya memiringkan kepalanya, "Aku sedari lama ingin menanyakan ini."


reisya mengernyitkan dahi, "Maksud anda?"


"Kakakmu rayya yang akan menikah dengan ku tapi, mengapa kulihat kaulah yang sedih seperti itu hm?" Tanya alvendra.


Hening tercipta beberapa saat yang ada hanya angin malam yang berhembus menerpa mereka berdua. Reisya bingung mengapa alvendra tiba-tiba bertanya seperti itu, apakah itu artinya sedari tadi alvendra melihatnya? memperhatikan dirinya yang memang tidak menyukai akan keberadaannya dan juga tidak menyukai soal acara pernikahan sepihak itu? lantas saja reisya tersenyum remeh dan membuang mukanya


ke samping yang mana hal itu membuat harga diri alvendra terasa seperti di hempaskan.


"Anda anak tunggal?" Tanya reisya yang mana mendapatkan tatapan tanya dari Alvendra.


"Rupanya benar. Jika anda adalah anak kedua atau memiliki saudara pastinya anda akan memahami perasaan saya." Ucapnya sambil menahan isakan tangisnya.


"Saya sedih harus melihat saudari saya tersiksa karena harus menikah dengan anda"


"Tersiksa? kau pikir menjadi menantu alvarez akan membuat ia tersiksa? justru kehormatan lebih tinggi, apresiasi serta kebanggaan yang akan ia terima nantinya?"


"Apakah barusan anda mengucapkan tentang diri anda tuan?" Sela reisya sedikit ketus.

__ADS_1


"Seberpengaruhnya anda saya tetap merasa kasihan kepada saudari saya karena ia harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai dan tidak mencintai nya. Lantas apresiasi dan kebanggaan apa yang akan ia dapatkan? apakah ia bisa membanggakan hubungan paksaan itu? anda memang sempurna dalam segala hal tapi satu hal yang anda tidak miliki yaitu perasaan. Anda bicara bahwa saudari saya akan mendapatkan kebanggaan dan apresiasi dari banyak orang karena memangku nama alvarez bukan? tapi nyatanya semua itu hanya akan terjadi lewat media bukan di kehidupan nyata. Karena jika di kehidupan nyata ia hanya akan menanggung kesedihannya serta kesengsaraan karena tidak dapat membanggakan nama alvarez dalam arti yang sebenarnya !!!"


Seketika ucapan pedas reisya menampar harga diri alvendra, ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang berujar begitu berani kepadanya. Ini adalah pertama kalinya ada seorang gadis kecil yang menantang dirinya dengan menghancurkan egonya, ia terdiam dengan wajah dinginnya lantaran tak bisa membantah ucapan gadis di hadapannya itu. Sebuah ucapan yang memiliki tanda bahwa kibaran perang akan terjadi, reisya tak tahu jika saja dia sudah membuat lubang nerakanya. Ia tidak sadar karena butannya ia dalam kuasa amarah membuatnya lupa akan kesalahan fatal yang baru saja ia katakan tadi, sungguh ucapan itu menorehkan sebuah arti tantangan kepada alvendra.


__ADS_2