
Seusai reisya bersiap dia segera turun menuju ke meja makan. Saat tengah berjalan menuruni anakan tangga langkah reisya berhenti sejenak menatap kakaknya dan juga alvendra yang hanya diam menunggu kedatangan reisya agar bisa melakukan makan malam bersama. Di manik hitam reisya ia menatap sendu kepada rayya saudarinya, dia merasa hina karena perbuatannya yang masih ia pendam. Sementara disaat ia berdalih menatap alvendra seketika tangan reisya langsung menaikkan ujung leher sweater yang ia kenakan, entah mengapa setiap memandang alvendra sekelebat ingatan di malam itu bermunculan secara terpotong-potong membuat leher reisya serasa dicekik hingga membuatnya kesulitan bernafas. Digenggamnya erat sweater yang menutupi lehernya hingga saat ia sudah mulai tenang kembali segera reisya turun menuju ke meja makan yang ada di sana.
Ketibaan reisya langsung disambut senyuman oleh rayya, ia pun lantas berdiri dan mulai menyiapkan menu makan malam buatannya. Alvendra pria itu hanya diam saja dengan raut jutek miliknya tak minat menatap kegiatan sang istri, namun disaat ia menoleh ke arah kiri langsung saja ia berpapasan dengan reisya yang juga melewatinya. Seketika adegan slowmo terjadi, mata alvendra menggelap. Denyut jantung nya berdebar dengan tubuhnya mulai meremang, desiran darahnya memanas meski suhu di situ bisa dibilang biasa saja, indera penciuman nya menangkap sesuatu yang sama di malam itu. Aroma yang membuat dirinya bisa lepas kendali dan kehilangan kontrol akan kewarasannya dalam menahan diri, aroma yang membuatnya candu begitu menguar meskipun terasa samar.
"Aroma ini......??" Batin alvendra yang mana langsung menatap tajam kepada reisya yang berlalu duduk di kursi tak jauh darinya.
"Bagaimana mungkin?" Tambahnya lagi, yang masih saja tenggelam dengan pikirannya tanpa tahu rayya yang menatap penuh tanya kepada alvendra yang diam saja menatap reisya adiknya.
"Kau tak apa?" Tanya rayya sambil menuangkan lauk makanan di piring alvendra.
Alvendra langsung tersadar begitu rayya membuyarkan pikirannya. Reisya yang mendengar itu lantas menoleh kepada alvendra yang segera menormalkan ekspresi wajahnya.
"Ya aku baik-baik saja !!" Katanya yang mana segera mengambil air putih di dekatnya dan menenggaknya habis dalam sekali teguk.
Rayya pun hanya mengangkat bahu acuh kemudian segera duduk di tempat untuk menikmati makan malam bersama tersebut. Di tengah-tengah acara makan malam bersama keluarga itu, tak sengaja rayya melirik reisya yang menurutnya sedikit aneh.
"Rei kau sakit?" Tanya rayya di sela-sela makan malam tersebut membuat seluruh orang yang dimeja makan langsung menatapnya.
"Aku...?" Tanyanya lagi.
"Iya kau, apakah kau demam sampai memakai pakaian tertutup seperti itu?" Jelasnya yang mana membuat reisya langsung memegang ujung leher sweater yang menutupi lehernya.
Benar!! mengapa alvendra baru sadar jika reisya sedikit terlalu aneh karena memakai pakaian tertutup seperti itu di cuaca yang bisa dibilang tidak terlalu dingin itu. Seketika kepanikan menyerang reisya, ia meneguk ludah gugup ketika semua pasang mata menatap kearahnya terutama alvendra.
"Jika kau sakit kau bisa bilang pada kakak hm !!"
"Tidak !! aku tidak sakit!!" Jawabnya spontan yang mana semakin membuat rayya terlebih alvendra menatap curiga kepadanya.
"Rei..."
__ADS_1
"Maksud ku, aku hanya kedinginan karena tadi mandi pakai air dingin. Dan juga tadi aku naik sepeda motor mungkin karena itu aku kedinginan." Jelasnya rumit membuat keduanya yaitu rayya hanya mengangguk paham sementara alvendra hanya diam menatap tajam reisya sebelum melanjutkan aktivitas makan malam tersebut.
.
.
.
.
.
.
Seusai acara makan malam tersebut, alvendra tidak segera menuju ke dalam kamarnya melainkan memasuki ruang kerjanya. Di dudukinya kursi mahal itu, ia hendak menyiapkan sesuatu mengenai pekerjaan nya sebelum dirinya teringat akan kejadian tadi, kejadian dimana ia mencium aroma citrus itu. Ia yakin dan ia juga tidak salah bahwa dia mencium aroma itu, meski terasa samar namun dia tidak salah. Namun masalahnya mengapa aroma itu harus tercium dari tubuh reisya?.
"Ada yang aneh?" Ucapnya sambil menyenderkan punggungnya di kursi. Alvendra begitu bingung atas ini semua hingga setelah itu alvendra pun lekas berdiri duduknya berjalan menuju ke arah kamarnya yang tak jauh dari ruang kerjanya itu. Sesampainya di dalam kamar alvendra menatap kearah sang istri yang tengah merapikan rambutnya itu, dengan langkah tegapnya ia berjalan mendekat kepada rayya. Rayya yang menatap kedatangan alvendra pun sontak langsung berdiri dan berbalik menatap suaminya yang menatapnya tajam dan dingin.
"Kenapa kau terkejut?" tanya alvendra
"Aku terkejut karena kau tiba-tiba datang mendekat." Jelasnya berusaha menghindari kontak mata dengan alvendra.
"Kita adalah suami istri." Kata alvendra sambil berjalan maju menghimpit rayya yang sedikit tak nyaman dengan suasana itu.
"Wajar jika aku ingin selalu dekat dengan istri ku..." Jedanya sejenak sambil salah satu tangannya yang menyelipkan beberapa helai rambut rayya.
"Bahkan jika aku ingin meminta hakku lagi padamu !!" Tegasnya sambil menatap wajah rayya dengan datar.
"Bukankah itu kewajiban rayya?" Tanyanya yang mana membuat rayya hanya terdiam saja sambil mencoba menghindari tatapan mata alvendra.
__ADS_1
"Coba katakan apakah aku salah?" Ucapnya sambil mengendus perpotongan leher sang istri. Rayya memejamkan mata, tangannya terkepal karena berusaha mati-matian menahan rasa tidak nyaman tersebut.
Alvendra yang melihat tidak ada perlawanan pun lantas mencoba untuk melepaskan sweater yang dikenakan sang istri sebelum rayya langsung menghentikan aksi alvendra dan mendorong nya agar menjauhi dirinya. Sementara itu alvendra hanya menaikkan sebelah alisnya pertanda bahwa ia menanyakan alasan kenapa rayya menolaknya.
"Aku....belum siap untuk saat ini" Jawabnya sambil membenahi sweater yang tadi sempat alvendra lepas.
"Itu kewajiban mu rayya."
"Dan aku bilang aku masih belum siap tidakkah kau memahaminya saat itu maupun sekarang?" Bentaknya yang mana membuat alvendra sedikit mengernyitkan dahinya bingung dengan apa yang baru saja rayya ucapkan.
"Maaf karena membentak mu." ucapnya lagi setelah sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
"Kau mengganti parfum mu?" Tanya alvendra yang mana dibalas tatapan mata kosong dari rayya.
.
.
.
.
.
.
Di kamar reisya saat ini, tampaknya gadis itu tengah mengerjakan PR miliknya terlihat bagaimana dia sedikit frustasi dengan soal terakhir di bukunya. Berulang kali ia mencoba memecahkan soal tersebut namun sepertinya otaknya sedang sulit untuk diajak berkompromi dalam hal pelajaran sehingga reisya terpaksa harus menutup seluruh buku tersebut dan kembali memasukkan nya ke dalam tas. Ia mengambil ponsel miliknya, mengecek beberapa pesan terbaru jika ada informasi penting namun nihil. Ia kembali menaruh ponsel tersebut ke atas meja dan berdalih menuju ke meja rias yang berada di sebrang tempat tidurnya, reisya duduk hendak membersihkan wajahnya sebelum tidur sebelum netra matanya menatap lamat pantulan wajahnya di cermin itu.
Salah satu tangannya terulur untuk memegang lehernya hingga ia menarik perlahan leher sweater yang dikenakannya hingga terdapat bercak ruam ungu di sekitarnya yang masih membekas. Begitu banyak dan tanpa celah bekas kissmark tersebut hingga membuat reisya terdiam, di pegangannya perlahan bekas-bekas itu dengan ingatan yang masih ada bagaikan mimpi buruk tersebut benar-benar menghantui pikiran reisya.
__ADS_1
"Maafkan aku kak....aku bodoh, aku kotor....aku sungguh hina" Ucapnya dengan menggaruk bekas-bekas tersebut hingga memerah.