
Alvendra terhanyut dalam pikirannya, semuanya terasa semakin mungkin ketika ia melihat bekas di leher reisya. Pria itu kini berada di dalam kamarnya, untung saja rayya pulang setelah dua hari ia tidak pulang karena tugas yang harus ia selesaikan itu. Di lihatnya rayya yang sudah tertidur pulas di atas ranjang, ia mendekat duduk di sebelahnya kemudian tangan nya terulur untuk mengecek leher sang istri. Meski remang alvendra tetap masih bisa melihat dengan jelas melalui bantuan cahaya matahari dari jendela kamar nya, di ceruk leher rayya begitu bersih tidak ada noda sama sekali. Alvendra kembali dibuat berpikir, ia pun segera mengambil serbet yang tadi ia masukkan kedalam kantong celananya dan berusaha untuk mengusapnya di area leher rayya namun tidak ada hal yang sama.
Ia kembali duduk dengan tegak, ia melihat keseluruhan kamarnya hingga dirinya pun memutuskan untuk menuju kedalam kamar mandinya. Bukan untuk mandi hanya saja di sana ia tengah mencari sesuatu untuk membuktikan kebenaran yang sedang ia pikirkan. Di sana di dalam bilik mandi tangannya terulur untuk memegang sabun mandi kepunyaan rayya yang bersebelahan dengan miliknya, diambilnya untuk sengaja ia cium dan seketika itu alvendra pun keluar dari dalam sana menuju kedalam ruangan pribadinya. Di dalam ruangan pribadi itu alvendra langsung berubah menjadi sedingin es, ekspresinya begitu tidak terbaca sehingga setelah itu ia mengeluarkan ponsel miliknya dan menelfon seseorang kepercayaannya.
"Aku ada tugas untuk mu sean, aku ingin dalam lima menit kau harus mengirimkan jawabannya padaku !" Ucapnya dengan nada membunuh dan setelah itu ia menatap datar layar komputer di depannya.
"Pemikiran yang briliant!" Gumam alvendra dengan tatapan tajamnya.
.
.
.
.
.
.
Keesokannya seperti biasa reisya bangun pagi, bersiap hendak mandi sebelum ia sadar jika sabun mandi miliknya habis. Ia berjalan keluar dari dalam kamarnya hendak mencari sesuatu jika saja alvendra menyetok barang di gudang apartemennya, namun ia dikagetkan dengan keberadaan rayya yang membuat senyumannya mengembang saat itu juga.
"KAKAK !!" Pekiknya yang kemudian langsung berhambur menuju ke pelukan hangat sang saudari. Rayya yang dikagetkan ketika tengah menyiapkan sarapan tadi pun lantas berbalik dan langsung dikagetkan dengan reisya yang berlari untuk memeluknya.
"Reisya !!" Ucapnya.
"Kapan kakak kembali? aku merindukan mu saat kau tidak pulang waktu itu !" Ujarnya kepada rayya, sementara rayya yang mendengarnya pun tersenyum lembut dan membelai pipi sang adik.
"Maaf ya soal itu, kakak terlalu sibuk sehingga kakak tidak sempat pulang kemari dan meninggalkan mu dirumah."
"Kau tahu aku selalu merindukan keberadaan mu disini kak." Katanya yang mendapatkan pelukan hangat dari rayya.
"Kenapa belum bersiap? cepatlah bersiap saat kau turun nanti makanannya akan selesai." Suruhnya kepada sang adik.
"Masalahnya sabun mandiku habis, aku ingin mencarinya di gudang ini siapa tahu suamimu memiliki stok yang banyak"
"Kurasa dia tidak pernah menstok seperti itu"
"Benarkah?" Tanya reisya sementara rayya hanya mengangguk.
"Setahuku setiap kebutuhan alvendra selalu terpenuhi dengan baik oleh sekertaris nya, jika barang pribadi seperti itu pasti disiapkan secara khusus olehnya dan jika habis pasti ia akan menyiapkannya dengan mengirimkannya sendiri barang itu !!"
"Lalu aku harus bagaimana sekarang?"
"Ambillah milik kakak"
"Eh?"
"Kenapa? ambil saja dan cepatlah bersiap sebelum kau terlambat !!" Pinta rayya yang membuat reisya mematung di tempatnya.
Ia tidak masalah jika menggunakan sabun milik rayya akan tetapi mengambilnya sendiri di dalam kamar alvendra itulah yang menghantuinya sekarang. Jujur saja semenjak kejadian waktu itu reisya tak pernah menyambangi kamar itu, bahkan untuk melirik saja takut. Trauma? sudah pasti, ingatan itu masih menghantuinya bagaikan mimpi buruknya setiap malam dan kini reisya harus kembali ke dalam sana untuk mengambil sesuatu yang ia butuhkan dan itu artinya ia sama saja merangkul kembali mimpi buruk yang ingin ia lupakan. Merasa jika reisya tidak bergerak sama sekali dari tempatnya membuat rayya menoleh dan mendapati wajah pucat sang adik yang tengah melamunkan sesuatu.
"Reisya, kau tak apa?" Tanya rayya karena khawatir melihat kebisuan sang adik.
"Ah ya aku baik-baik saja." Jawabnya ketika sadar.
"Kenapa tidak diambil? kau akan terlambat nanti !!" Ucap rayya yang membuat reisya mau tidak mau harus berjalan menuju kearah kamar alvendra.
Dengan langkah kaku perlahan ia menaiki anakan tangga yang menuju kedalam kamar rayya. Jujur badannya sudah bergemetar takut, keringat dingin pun sudah membasahi pelipisnya meski suasana pagi itu terasa dingin. Sesampainya di depan kamar reisya tidak langsung membuka pintu tersebut, ia terlalu takut hanya untuk memegang kenop pintu itu apalagi isi yang di dalamnya benar-benar hari sial untuknya. Namun kini reisya dikejar oleh waktu hingga dengan hembusan nafas berkali-kali akhirnya ia mengetuk pintu itu berjaga jika saja alvendra masih ada di salam bukan? namun tidak ada sahutan apapun dari sana membuat reisya dengan terpaksa sekali membuka pintu itu.
Semuanya terasa lambat, ruangan yang sama ranjang yang sama serta aroma maskulin yang kentara begitu kental menyapu indera penglihatan reisya. Hanya saja motifnya berbeda, di kamar itu terang dan seprai ranjang berganti warna menandakan jika nuansa kamar itu tidak terlalu menyeramkan bagi reisya. Namun seketika pandangan mata reisya bertemu dengan manik jelaga hitam kepunyaan alvendra yang menatapnya dingin seperti es melalui cermin dihadapan nya.
"Apa yang kau butuhkan?" Ucap alvendra dengan dingin membuat nyali reisya menciut seketika.
"Ak-aku hanya ingin mengambil sabun milik saudariku." Jelasnya dengan menahan ketakutannya kepada alvendra, bahkan ia sampai meremas kuat baju yang dikenakan olehnya.
Sejenak alvendra terdiam kemudian memasang jam tangan yang tergeletak di bawahnya untuk ia kenakan, sementara reisya masih sama diam membatu di depan pintu.
"Apa yang kau lakukan? ambillah !" Kata alvendra dengan melihat reisya melalui cermin di depannya.
Reisya bernafas lega, dengan langkah kaku ia berjalan masuk kedalam kamar tersebut dan berjalan cepat menuju kedalam kamar mandi yang ada di sana. Setelah mendapatkan apa yang ia mau segera saja ia pergi dari sana, disaat ia keluar dari dalam sana alvendra tengah memakai jas hitam miliknya dan bersiap hendak turun. Reisya hanya melirik sekilas sebelum ia berjalan pergi dari sana, namun saat hendak melangkah keluar suara bariton alvendra menginterupsi langkah kakinya hingga membuat reisya terpaksa berhenti.
"Bukankah kau menyukai aroma citrus?" Tanya alvendra tiba-tiba yang membuat reisya entah mengapa dibuat merinding.
Dengan gerakan patah-patah ia berbalik dan menatap alvendra yang juga berbalik menatapnya lamat.
"Benar !!"
"Lalu mengapa kau mengambil sabun rayya? yang tidak beraroma Citrus?"
"Aku kehabisan sabun"
"Apakah tidak masalah jika itu tidak Citrus?"
"Memang tidak tapi setidaknya aku masih memiliki parfum dengan aroma yang sama!" Ucapnya sedikit jengah dengan pertanyaan yang menurutnya sedikit menganggu reisya.
Alvendra tersenyum miring dan hal itu membuat reisya sedikit terheran kala menatapnya.
"Kau memang memiliki selera yang unik."
"Apa?"
"Kau menyukai aroma citrus, aroma yang begitu memikat !!" Ucap alvendra yang entah kenapa terasa aneh bagi reisya.
"Permisi aku harus bersiap." Ucapnya dengan nada acuh kemudian lantas pergi dari sana tanpa tahu bahwa alvendra tersenyum miring setelah itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Setelah itu reisya pun berangkat dengan diantar oleh sean namun kali ini alvendra tidak ikut karena ia akan berangkat lebih siang. Setelah memakan sarapan buatan rayya tadi alvendra mengelap bibirnya dan meneguk air putih yang sudah ada di depannya, sementara itu rayya hendak mengambil kembali piring suaminya untuk ia cuci.
"Aku ingin malam ini kau melayaniku !" Tukas alvendra tiba-tiba yang sontak membuat rayya menyenggol air minum sang suami. Melihat hal itu alvendra hanya menatap rayya yang nampak gugup sekaligus ketakutan.
"Kenapa? itu sudah menjadi hak ku bukan?" Jelasnya yang membuat rayya memegang erat piring yang berada di tangannya hingga memutih, ia sudah muak. Muak karena tidak berani jujur untuk menolak keinginan alvendra hingga kini ia mencapai batasnya.
"Mengapa diam itu sudah hak mu".
"Cukup !!" Teriaknya yang membuat alvendra hanya menaikkan satu alisnya.
"Bukankah waktu itu aku sudah bilang? tidak bukan hanya itu. Apakah kau lupa jika reisya sudah menyampaikan pesanku padamu?" Ujarnya yang masih ditatap datar alvendra.
"Kumohon aku masih belum siap !! setidaknya berikan aku waktu lagi. Jika aku siap maka aku akan menyerahkan diriku sendiri !!!" Jelasnya yang kemudian langsung berlalu pergi dari sana meninggalkan alvendra sendiri di meja maka tersebut.
Ia bersikap santai tidak merasa bersalah akan apapun, yang ia lakukan hanyalah kembali meneguk air putih yang berada di gelas dekatnya.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu di sekolah reisya, gadis itu tengah makan siang bersama dengan ailin tentu saja. Keduanya makan dengan nyaman sebelum arsen tiba di sana, matanya berpendar menyapu seisi kantin hingga ia menemukan keberadaan reisya yang tengah memakan makanannya dengan santai bersama dengan ailin. Dengan langkah riang ia berjalan mendekat kepada reisya.
"Hai rei lin !!" Sapa arsen yang membuat keduanya menatap kepada arsen.
"Arsen !!" Sapa keduanya yang dibalas senyuman dari sang empu.
Melihat kedatangan arsen reisya segera menghabiskan makanannya dan meminum habis minuman tersebut membuat arsen dan ailin menatap heran kepadanya. Ia lekas berdiri dan berjalan memutar menuju arsen, dengan tegas ia langsung menarik tangan arsen untuk berdiri dari tempat duduknya.
"Bisa ikut gue ar?" Tanya reisya yang dijawab anggukan oleh arsen.
"Lin gue minta maaf banget ya ada hal yang perlu gue omongin sama arsen!" Jelasnya yang langsung pergi begitu saja dengan menarik tangan arsen.
Hingga mereka pun tiba di taman sekolah yang sepi, mereka berdua duduk di sebuah gazebo yang tersedia. Arsen menatap khawatir kepada reisya yang nampak diam dengan raut wajah sendunya.
"Rei lo nggak papa kan?"
"Sorry banget ya ar tentang sore itu !!" Ucapnya yang mana membuat arsen mengerti tentang alasannya menariknya hingga membawanya sampai kemari.
"Nggak papa kok rei, tapi lo nggak papa kan?" Tanyanya memastikan.
Reisya mengangguk, "Gue nggak papa kok !"
Arsen tersenyum lega setelahnya, ia begitu khawatir saat itu. Bahkan di malam harinya setelah ia pulang ia mencoba untuk menghubungi reisya namun tidak mendapatkan balasan hingga membuatnya khawatir sepanjang pagi ini.
"Soal itu maaf ya waktu itu gue ketiduran!" Sesalnya.
"Iya nggak papa, gue lega lo nggak kenapa-kenapa."
"Sekali lagi gue minta maaf ya soal kejadian sore itu."
"Udah lupain, gue aja udah lupa. Tapi emang bener dia itu kakak ipar lo rei?" Tanya arsen kepada reisya, dengan berat hati reisya mengangguk ia sudah menduga cepat atau lambat orang-orang terdekatnya pun akan tau.
"Iya dia suami kak rayya !!"
"Wah, nggak gue kira kak rayya udah nikah aja"
"Pernikahannya dilakuin tertutup cuman ada kerabat dekat aja yang dari kak rayya." Jelasnya yang hanya mendapatkan anggukan mengerti dari arsen.
"Tapi gue kaya heran sama kakak ipar lo" Kata arsen tiba-tiba yang membuat reisya mendongak menatapnya.
"Maksud lo?"
"Dia kayak posesif banget sama lo rei !!" Ucap arsen yang seketika membuat reisya terdiam.
"Mungkin dia berpikir kalau gue tanggung jawabnya sebagai adik dari istrinya." Jelas reisya kembali yang membuat arsen hanya ber 'oh' ria saja.
"Jadi apartemen itu.......?"
"Iya. Sorry ya karena udah bohongi lo, gue cuman nggak mau ada yang tau ataupun ada yang sadar kalau gue ikut tinggal sama Kaka ipar gue."
"Kenapa lo tinggal bareng rei?" Tanya arsen yang sontak membuat reisya sedikit terganggu. Mengerti jika arsen salah bertanya akhirnya pun ia memutuskan untuk menghindari topik tersebut.
"Sorry gue nggak bermaksud..."
"Nggak papa" Ujarnya kemudian tersenyum, arsen pun kembali tersenyum kala melihat reisya yang tersenyum dengan manis.
"Jadi lo ada waktu kan nanti pulang sekolah?"
"Sorry banget ya ar gue nanti mau ngerjain tugas kelompok sama ailin." Ucapnya dengan sedikit merasa bersalah, mendengar hal itu pun arsen hanya mengangguk paham.
"Yaudah kalau gitu lain kali aja, gue pergi dulu ya mau ada rapat OSIS".
Arsen pun segera pergi dari sana meninggalkan reisya yang duduk di sana sendiri menatap kepergian arsen yang menjauh darinya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Hari pun menjelang sore, reisya pulang terlambat. Ia juga mengabari rayya bahwa ia akan pulang telat, ia dan ailin tengah menyelesaikan tugas sosiologi dari gurunya hingga menjelang petang.
"Rei mungkin kita lanjutin Minggu depan aja udah mau malam ini, lagipun besok kita kan libur kita santai aja yuk!!" Ujar ailin yang kemudian disetujui oleh reisya. Keduanya pun sepakat untuk menyudahi tugas mereka dan beranjak pulang.
"Rei nanti mampir di kedai yang lagi trend yuk?" Ujar ailin sambil berjalan menuju ke tempat yang di inginkan.
"Boleh aja" Katanya setuju kemudian mereka berdua berjalan menuju ke tempat yang di inginkan.
.
.
.
.
.
.
Keduanya sampai di kedai yang ailin maksud, disana terlihat begitu ramai membuat wajah keduanya masam.
"Kayak nya bakalan antri lama deh lin" Ujarnya ketika melihat kedai tersebut yang ramai oleh pengunjung.
"Yah....masa harus ditunda sih !!" Jelasnya menatap kecewa kearah kedai tersebut.
Reisya melirik sahabat nya kemudian mengelusi pundaknya berusaha untuk memberikan pengertian.
"Nggak papa kok kalau lain kali" Kata reisya yang membuat ailin menoleh kemudian memegang tangan reisya.
"Beneran nggak papa?" Tanya ailin yang dibalas anggukan oleh reisya.
Keduanya pun memutuskan untuk pulang ke rumah dan menunda rencana mereka untuk makan berdua bersama. Setibanya reisya di rumah ia sudah dikagetkan dengan keberadaan alvendra yang duduk manis di sofa ruang tamu seperti tengah sengaja menunggu dirinya? karena sejak tadi alvendra terus melirik kearahnya. Dengan ragu reisya berjalan mendekat kearahnya hendak bertanya kepada alvendra meski sebenarnya dia sedikit takut dengan nya.
"Apakah....apakah kakakku belum kembali?" Tanyanya kepada alvendra yang hanya diam sambil menatapnya.
"Kenapa ruangan ini sedikit temaram?" Tanyanya curiga karena lampu utama ruangan tamu ini dibiarkan padam oleh alvendra.
"Karena aku suka suasana seperti ini, itu membuat ku déjà vu !" Ujar alvendra yang entah kenapa terasa begitu menyeramkan bagi reisya. Alvendra berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat kearah reisya yang reflek membuat reisya melangkah mundur, ada sesuatu yang tidak beres yang tengah reisya rasakan saat ini.
"Kenapa kau takut? ayo makan malam bersama." Ucap alvendra yang kemudian berjalan pergi.
Reisya terduduk di sofa, ia merasa aneh dengan alvendra yang tadi tiba-tiba berjalan mendekat meski sebenarnya ia hendak pergi menuju ke arah meja makan namun bagi reisya itu seperti aneh apalagi tatapan alvendra yang menatap tajam kepadanya. Karena tak mau hanyut dalam pikirannya reisya pun segera berjalan menuju ke arah dapur, di sana alvendra sudah menikmati makanan nya. Dengan ragu reisya duduk dan memakan makanan tersebut dengan tenang meski sesekali ia melirik kearah alvendra yang diam saja menikmati makanannya.
"Kau sudah tahu jika rayya tidak pulang kemari?" Tanya alvendra tiba-tiba yang membuat reisya berhenti memakan makanannya.
"T-tidak !" Ucapnya yang kemudian mengecek ponselnya.
"Baguslah! dia mungkin tidak sempat memberitahu mu untuk itulah aku menyampaikan pesan tersebut darinya."
"Apa?" Ujar reisya yang merasa aneh dengan ucapan alvendra barusan.
"Kenapa apa kau takut?" Kata alvendra yang membuat reisya meneguk ludahnya.
"Bukankah suasanannya seperti ini saat itu?" Reisya langsung melihat alvendra tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan olehnya.
"Maksud mu?" Tanyanya tidak paham, namun alvendra hanya memiringkan kepalanya saja.
"Tidurlah...." Ucapnya yang kemudian entah kenapa mata reisya pun terasa berat hingga semuanya pun menggelap.
.
.
.
.
.
.
Kedua bola mata reisya terbuka, cahaya terik matahari langsung menyapu indera penglihatannya. Ia mengerjap perlahan sebelum retinanya menyesuaikan cahaya tersebut. Disaat sudah menyesuaikan matanya berpendar menelisik seluruh ruangan tersebut, seketika tubuhnya merinding ruangan yang sama bahkan seprei yang sama pun menjadi tempat reisya tidur. Namun sedetik berikutnya reisya pun sadar jika ia tidak mengenakan pakaian sama sekali, ia terduduk di ranjang kemudian menyingkap selimut tebal yang membalut tubuhnya dan benar saja ia tidak mengenakan pakaian sama sekali. Seketika pikiran buruk menyerangnya, apalagi ditambah dengan ruangan kamar yang sama seperi di malam itu hingga.
"Sudah bangun rupanya." Suara rendah seseorang di sebelah kirinya membuat nya lantas menoleh dan mendapati alvendra yang menatapnya dengan dingin.
Hilang sudah isi pikirannya ketika melihat alvendra yang memakai piyama yang sama di malam itu, pikiran buruk seketika mendatangi nya. Dari yang terakhir kali ia ingat ia makan dengan alvendra namun setelahnya ia tiba-tiba tertidur dan di saat bangun ia sudah berada di kamar alvendra !!
"Apa maksudnya ini !!" Teriaknya kepada alvendra yang masih diam menatapnya.
"Apa maksudnya? tentu saja membuktikan kebenaran nya. Kebenaran di malam pertama ku dengan mu !!" Tegasnya di akhir kalimat dan dari situ reisya sadar jika ia akan terlibat dalam masalah yang lebih besar dengan alvendra.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
......Next or stop?......